Ali Zainal Abidin

Sejarah hidup beliau penuh dengan kemuliaan, situasi yang serius, idealis, dan diliputi dengan keagungan dan keutamaan. Lintasan sejarah hidupnya sarat dengan fakta-fakta dan sifat manusiawi yang mulia. Dari sekian banyak kemuliaan diri pribadi ahl al-bait tersebut adalah kebersihan dan kesucian jiwanya. Ali Zainal Abidin adalah putra Imam Husein ra. Beliau menyandang banyak julukan, seperti halnya dengan seorang pahlawan yang berhiaskan berbagai macam medali.

Kadang-kadang beliau dijuluki sebagai “Zainal Abidin”, sebab beliau tekun berpuasa di siang hari dan salat sunah di malam hari. Berarti bahwa beliau beribadah sepanjang siang dan malam. Kadang beliau dijuluki sebagai “Syaikhu As-Sajidin”, sebab beliau amat lama ketika sujud ke haribaan Allah Swt. Beliau dijuluki pula sebagai “Syaikhu Al-Baka’in”, sebab beliau sering menangis sehingga air matanya membasahi jenggotnya karena terpenga­ruh dengan ingatannya pada peristiwa Karbala. Beliau dijuluki pula sebagai “Syaikhu Al-Mutashaddiqin”, sebab beliau me­ngangkat gandum di atas pundaknya sendiri ke rumah-rumah para fakir miskin di keheningan malam. Akibatnya nampak bekas tali dan kulit yang tebal menghitam pada punggungnya.

Akhlak dan keutamaan yang mana yang dapat mengungguli derajat manusia ke peringkat atas dari takwa dan zuhud, selain dari akhlak dan keutamaan sebagaimana tersebut di atas? Apabila jiwa telah dipengaruhi oleh rasa ujub, maka perasaan itu akan musnah saat kita mengetahui bila di mana manusia tadi di besarkan dan meninggalkan gema dalam catatan sejarah. Ali Zainal Abidin dilahirkan di Madinah di rumah neneknya, Fatimah As-Zahrah, putrid Muhammad Saw. pada hari Kamis tanggal 7 Sya’ban 17 H.

Ayahnya, Imam Husein ra., mengajarinya berbagai ilmu agama semenjak masa kanak-kanaknya. Oleh karenanya pikiran dan perasaannya berkembang dengan dipenuhi bekal agama. Suatu ketika beliau pergi bersama ayahnya, Husein ra dalam perjalanannya itu ia menyaksikan tragedi Karbala, padahal ketika itu ia masih kanak-kanak. Beliau melihat pembantaian berdarah yang ditumpahkan oleh Ibn Ziyad kepada ahl al-bait. Beliau melihat saudaranya Ali Akbar saat terbunuh lalu mayatnya terge­letak di depan kemah di mana terdapat orang-orang perempuan. Beliau melihat saudaranya, Ali Ashghar, saat terkena panah ketika mendampingi ayahnya yang kemudian dibantai. Beliau melihat pula perbuatan teror terbesar yang dilakukan oleh Syamr Ibn Dzi Jausyan saat menginjak dada ayahandanya, Husein ra., kemudian kepalanya dipisahkan dari badannya. Beliau melihat dan men­dengar perintah untuk membunuhnya, saat ia berbaring di pem­baringan kemah dalam keadaan sakit. Seandainya sebagian orang tidak berkata: “Jangan kau bunuh anak ini! Dia sakit!” apa yang akan terjadi?

Semua itu disaksikannya waktu usianya relatif muda. Hal itu membekas dalam lubuk hatinya, tidak akan pernah pisah dari angannya. Kepedihan tragedi tersebut mendewasakan jiwanya. Karenanya beliau berkembang tanpa diliputi cinta atau bahkan condong kepada kesenangan duniawi meskipun sekecil biji sawi dalam hatinya. Bahkan beliau tenggelam dalam cinta kepada Allah, taat dan tekun beribadah kepada-Nya. Sebagian dari sikap takutnya kepada Allah adalah ketika beliau hendak melaksanakan salat, beliau gemetar, sekujur tubuhnya goncang dan warna mukanya berubah. Saat beliau ditanyai tentang ke­adaannya tersebut, beliau menjawab, “Apakah kau tidak tahu di hadapan siapa aku sedang berdiri ini?” Apabila beliau berdoa kepada Allah, ia tenggelam dalam munajatnya sampai ia lupa segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Dalam peristiwa lain, salah se­orang sahabatnya mendatanginya di sisi Ka’bah. Ia menjumpai beliau sedang berdoa dan menangis di dekat salah satu pojok Ka’bah. Setelah selesai berdoa, ia berkata kepadanya, “Tenanglah, wahai putra Husein, sesungguhnya Allah memberi karunia kepadamu dengan tiga perkara yang bisa membukakan pintu rahmat Nya kepadamu. Pertama, bahwa engkau adalah putra cucu Rasulullah Saw. Kedua, kakekmu adalah orang yang bisa memberi syafaat. Ketiga, engkau adalah ahl al-bait yang dekat dengan rahmat Allah

Setelah orang tersebut selesai dari ucapannya, Ali Zainal Abidin memandanginya seraya berkata, “Sesungguhnya garis keturunanku bersambung kepada Rasulullah itu adalah sebesar-­besar nikmat yang diberikan kepadaku. Tapi Allah berfirman pada hari kiamat, “Pada hari itu tidak berpengaruh garis ketu­runan, dan satu sama lain tidak dapat melimpahkan tanggung jawab.” Adapun kakekmu termasuk pemberi syafaat, maka se­sungguhnya Allah berfirman, “Tidak ada yang bisa memberi sya­faat, kecuali bagi siapa yang mendapat ridha-Nya.” Sedangkan rahmat Allah itu sesungguhnya dekat kepada setiap orang yang berbuat baik.

Disamping itu, Ali Zainal Abidin bekerja dengan cara ber­dagang, sehingga income-nya melimpah. Searah dengan itu, ia amat dermawan kepada orang lain. Di satu sisi ia membelanjakan keuntungan niaganya untuk membebaskan budak, beliau mem­beli dan mendidiknya dengan pendidikan Islam, setelah itu budak tersebut dimerdekakannya. Kisah membebaskan budak ini terma­suk populer. Dikatakan bahwa pada tiap malam Idul Fitri, beliau membebaskan 1000 budak. Di sisi lain dia membelanjakan keun­tungan niaganya untuk membantu para fakir dan miskin. Beliau membelanjai 100 rumah di Madinah yang dilakukannya pada pertengahan malam saat orang sedang tidur, yaitu dengan cara membawa gandum ke rumah-rumah tersebut. Kebiasaan ini di­lakukannya sampai akhir usianya yang mencapai umur 57 tahun.

Imam Sya’rani berpendapat dalam Thabaqat-nya bahwa jasad Ali Zainal Abidin yang mulia dipindahkan ke Kairo pada tahun 529 H, sebab riwayat yang mengatakan bahwa beliau datang ke Kairo menyertai Zainab ra. tidak ditemukan sandaran historis yang kuat,

Kemudian pada saat para pengunjung masuk ke makam beliau, mereka menjumpai dua surban. Yang satu memberi indi­kasi kepada Ali Zainal Abidin, dan yang kedua kepada putranya, Zaid, yang terbunuh di Kufah dan kepalanya dipindahkan ke Kairo.

Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ali Zainal Abidin. Beliau adalah ahli ibadah dan tobat yang yakin terhadap kebe­basan manusia. Oleh karenanya beliau banyak menafkahkan hartanya demi memerdekakan budak.

(sumber : Hayat Ash Shalihin , Syekh Abdul Mun`im Qindil)

%d bloggers like this: