Abdul Muthalib Ibn Hasyim

Cukup mulia baginya karena keberadaannya sebagai kakek Rasulullah. Kehidupannya memberi indikasi bagi kelangsungan kelahiran Nabi. Dialah yang pertama menerima kabar gembira tentang kelahiran Nabi Saw. Beliau bergegas ke rumah Aminah binti Wahab dengan diliputi luapan rasa senang dan gembira.

Digendongnya bayi yang baru dilahirkan itu yang nampak bersinar cemerlang laksana bintang lagi harum baunya untuk dibawa menuju ke Ka’bah dan thawaf di sekitarnya sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Setelah itu ia kembali ke rumah Aminah, mendengarkannya berkisah tentang keajaiban yang menyertai kelahiran anaknya, dan tentang bisikan yang muncul saat ibunya tertidur. Ia berkata, “Namailah ia Ahmad!” Pemimpin Makkah dan pemuka Quraisy berkata kepadanya, “Ia akan kami beri nama Muhammad, agar terpuji di bumi dan di langit, ia juga akan aku beri nama Ahmad.”

Sejarah hidup Abdul Muthalib penuh dengan gairah, uta­manya setelah kelahiran beliau Saw. Namanya yang sebenarnya adalah Syaibah Al-Hamdi, sebab saat beliau dilahirkan, pada ba­gian dari rambutnya ada yang berwarna putih. Beliau dilahirkan di Yatsrib. Ibunya, Salmah Al-Khuzarjiyah, mengajukan syarat kepada suaminya, Hasyim, agar anak tersebut dilahirkan di rumah keluarganya. Suaminya pun setuju dengan syarat tersebut. Kare­nanya ia tidak dapat menyaksikan kelahiran anaknya. Beliau wafat di saat masa remajanya. Jadi bayi tersebut lahir dalam keadaan yatim bersama ibunya di Madinah.

Salmah adalah orang yang berbangga hati. Beliau sering berkata kepada anaknya bahwa ayahnya adalah termasuk tokoh di kota Makkah. Dengan demikian anaknya merasa mulia karena ayahnya tersebut dan bangga terhadap keluarganya. Ia berkata kepada teman sejawatnya, “Aku putra Hasyim, dan aku putra tokoh Quraisy.”

Suatu hari Abdul Muthalib mendengar bahwa saudaranya, dikaruniai putra di Madinah. Maka pergilah ia ke Yatsrib. Beliau meminta izin ibunya, Salmah Al-Khuzarjiyah, untuk menemani saudaranya ke Makkah dan tinggal bersama keluarganya. Ibunya setuju.

Sesampainya Abdul Muthalib di Makkah dan melihat keluarganya, baliau bertanya tentang anak yang baru dilahirkan. Beliau tidak berkata bahwa anak yang baru dilahirkan itu adalah anak saudaranya, Hasyim, tetapi menyebutnya: “hamba milikku.” Pen­duduk Madinah tidak tahu jika namanya adalah Syaibah Al‑Hamdi. Oleh karena mereka menetapkan nama beliau “Abdul Muthalib.”

Rasulullah Saw. dilahirkan saat Abdul Muthalib berusia 72 tahun. Beliau amat sedih atas kematian putranya, Abdullah, menjelang masa remajanya, dan meninggalkan istrinya, Aminah binti Wahab, dalam keadaan mengandung Nabi Saw. Itulah sebabnya Abdul Muthalib cenderung lebih cinta dan penuh perhatian kepada cucunya sedemikian hingga Nabi Saw. tidak merasakan pahitnya menjadi anak yatim atau merasa kehilangan kedua orang tuanya.

Sebagai tambahan bagi rasa terpautnya Abdul Muthalib kepada cucunya adalah beliau melihat sifat yang mulia pada pribadi Nabi Saw. Akhlak mulia yang tidak dimiliki oleh setiap anak di Makkah. Tidak ada yang dapat menyamai akhlak dan tingkah laku, sifat, popularitas, kemuliaan dan kesempurnaan beliau.

Akibat lain dari kelahiran Nabi Saw. yang dialami oleh Abdul Muthalib antara lain adalah:

1. Beliau menggali sumur zam-zam menerima ilham tentang lokasi                  sumur tersebut. Hal itu merupakan suatu petunjuk tentang perkara abstrak yang diberikan oleh Allah kepadanya.

2.  Binasanya Raja Abrahah dari Najasyi beserta bala tentaranya akibat serangan udara burung ababil. Maka selamatlah Ka`bah dari kriminalitas tentara gajah. Hal itu merupakan suatu petunjuk yang tetap dikenang sepanjang sejarah.

  1. Beliau menebus putranya, Abdullah, dengan 100 ekor unta, demi perkawinannya dengan gadis Quraisy yang paling utama, yang meninggal 2 bulan setelah perkawinannya.

Indikasi-indikasi tersebut terkesan dalam benak Abdul Muthalib yang disadarinya secara penuh. Tepat seperti yang diramalkan oleh para peramal tentang kelahiran Nabi Saw. dengan sifat-sifatnya yang telah tersebut dalam Taurat dan Injil, sesuai dengan ilham yang diterimanya mengenai sifat-sifat cucunya, Muhammad Saw seringkali beliau berangan-angan untuk bisa hidup menyaksikan cucunya yang yatim itu menjadi Nabi. Akan tetapi maut mendahului keinginannya. Tigapuluh dua tahun kemudian, yaitu dari wafatnya, terbukalah pintu langit kepada Nabi, turunlah wahyu dari Allah disampaikan kepada Rasulullah Saw. secara berturut-turut. Karenanya manusia dapat keluar dari kegelapan menuju terang benderang.

(sumber : Hayat Ash Shalihin , Syekh Abdul Mun`im Qindil)

%d bloggers like this: