Abbas Ibn Abdul Muthalib

Kedudukannya sangat mulia di sisi Rasulullah Saw. Pujian dan sanjungan terus mengalir kepadanya, meskipun tinta sejarah telah  mengering. Yang demikian itu karena pribadi manusia tersebut telah diliputi oleh sifat keagungan Rasul.

Ia merasa bahwa jazirah Arab secara total telah mengalami perubahan besar dalam akidah, watak dan akhlak penduduknya. Sedangkan lintasan perjalanan perubahan tersebut berlangsung amat ce­pat, Beliau merasa bahwa keponakannya bakal menghadapi persoalan yang penting dalam sejarah. Beliau membai’at Rasulullah sebelum ia diajak dan diproklamirkan keislamannya. Demikianlah mengenai Abbas Ibn Abdul Muthalib, paman Rasulullah Saw., kemuliaannya di hadapan Rasulullah tergambar dalam beberapa peristiwa yang terekam oleh sejarah secara jelas dan megah. Alangkah mulia dan agungnya peristiwa tersebut!. Alangkah berat/tinggi taraf kepahlawanan dan pengorbanannya!.

Nabi Saw. adalah pemegang pelita Ilahi, yang dengan itu beliau memusnahkan kegelapan akibat penyembahan patung, kesesatan syirik. Islam memulai dengan mendorong orang menuju jamuan Ilahi sejak dahulu hingga masuk Islam. Mereka pada waktu itu .masih sedikit, lalu lambat laun mereka terkumpul menjadi umat yang kuat yang meliputi Timur dan Barat.

Sejarah mengungkapkan dengan jelas tentang pahlawan kita, Abbas Ibn Abdul Muthalib ini, dalam peranannya mencatat persitiwa penting pertama mengenai keponakannya, Nabi Saw. Lokasinya di Aqabah. Di situ terdapat 73 orang laki-laki dan dua orang perempuan. Semuanya menanti beliau Saw. untuk mem­bai`atnya demi kepentingan Islam. Mereka datang dari kota Yatsrib. Mereka sangat berkeinginan memeluk agama Islam. Sampai larut malam hatinya berdebar, diliputi dengan rasa senang dan gembira, utamanya saat mereka menyaksikan Rasulullah Saw. datang bersama pamannya, Abbas, menuju mereka.

Seketika itu pula hilanglah rasa penat dan segala kesusahan yang membebani mereka sejak dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah, lalu ke dusun tersebut. Sebelum mereka duduk di samping Rasulullah untuk membai’atnya, Abbas ra. memulai si­dang tersebut dengan pidato yang dapat menumbuhkan cinta kepada Rasulullah dan memuliakan kedudukannya. Abbas ra berkata:

“Wahai kaum Khawarij, sesungguhnya Muhammad itu adalah dari bangsa kita, sebagaimana yang telah kalian ketahui. Sebagi­an dari kita menolak kehadirannya, padahal beliau merupakan figur utama – sebagaimana yang kita saksikan, beliau mulai di sisi kaumnya dan kuat di negerinya. Semuanya menolak keha­dirannya, selain sebagian dari kamu. Maka jika kalian telah sepa­kat mengenai apa yang telah aku sampaikan kepadamu, atau mengingkarinya bagi yang berselisih, maka terserahlah bagimu. Setelah munculnya, ia kepadamu, ada yang menerima dan ada yang menolak. Sekarang, siapa yang mau mengikutinya?”

Selesai Abbas ra. berpidato, utusan Anshar menemui kesulitan untuk bisa mendengar langsung dari Rasulullah, maka mereka berkata kepada Abbas ra., “Telah kami dengar apa yang anda katakan, kami harap Rasulullah sudi berkata, setelah itu terserah kepadamu.”

Nabi Saw. membacakan beberapa ayat Al-Qur’an seraya mengarahkan pembicaraannya kepada mereka. Beliau bersabda, “Aku menunjuk kalian untuk melindungi aku sebagaimana kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian.”

Spontan seluruh hadirin sepakat membai’at beliau, lalu tam­pillah Barra’ Ibn Ma’rur, pimpinan kaum tersebut, yang telah masuk Islam setelah bai’at yang pertama. Ia mengulurkan tangan kepada Nabi dan membai`atnya. Kemudian berbagai utusan datang mengucap bai`at yang sama satu persatu. Begitu selesai Nabi saw kembali ke Makkah dengan ditemani pamannya, Abbas ra.

Semua di atas terjadi saat kaum Quraisy tenggelam dalam tidurnya yang nyenyak. Bai’at Aqabah yang kedua selesai tanpa diketahui oleh seorang pun dari mereka.

Peristiwa-peristiwa berikutnya muncul di hadapan Abbas ra dan Rasulullah Saw. Yang mendorong beliau bukanlah karena hubungan famili atau hubungan darah sebagaimana yang diduga oleh beberapa sejarawan, akan tetapi motivatornya adalah semangat merealisasikan ajaran agama Islam sehingga meliputi seluruh jazirah Arab dan musnahnya kehidupan jahiliyah dari segala aspeknya, hingga terlupakan.

Sebagian dari peristiwa yang lain adalah ketika kehadiran­nya dalam perkumpulan kaum Quraisy di Dar an-Nadwah dan persiapannya untuk membalas dendam atas kekalahan dalam perang Badar. Abbas ra. mengetahui perbedaan pandangan antara kaum
Quraisy. Beliau mencatatnya dalam surat dan menyuruh
bangsa al-Ghifari untuk menyampaikannya kepada Nabi Saw. Surat tersebut mengungkapkan adanya silang pendapat tentang tentara yang ditunjuk oleh kaum Quraisy. Hal itu menjadikan Rasulullah Saw waspada, sebab serbuan tentara merupakan sarana vital untuk mengalahkan kota Yatsrib secara mendadak.

Dengan demikian kita bisa menempatkan posisi Abbas ra dalam barisan para pejuang. Perbuatannya tadi menunjukkan kiprahnya terhadap agama Islam. Dalam hubungan selanjutnya dengan Rasulullah Saw. beliau menerima kabar mengenai kaum Quraisy secara rutin. Ketika Allah memperkenankan Rasulullah Saw, melakukan penaklukan kota Makkah, Abbas ra Bersama keluarganya keluar menjumpai Rasulullah Saw. di Juhfah. Setelah itu Abu Sufyan muncul sebagai pengikut Rasul. Islam menjadi kuat dan berkuasa, sehingga kaum musyrikin merasa takut dan mencabik-cabik dendam kesumat dalam jiwanya.

Dua minggu setelah penaklukan kota Makkah, akibat siasat tertentu, berkobarlah peperangan baru. Abbas ra berdiri, ikut serta berjuang dengan penuh pengorbanan dan kepahlawanan. Beliau menyatakan keislamannya sebelum peristiwa tersebut. Tatkala kaum muslimin lari kocar-kacir menghadapi panah dan tombak yang dikejutkan oleh musuh saat perang Hunain, tiba­tiba Abbas dan sebagian keluarga Rasulullah serta para sahabat­nya tidak pindah dari posisinya. Mereka berdiri menghadapi se­rangan mendadak tersebut dengan segenap daya dan usaha. Nabi Saw. menyuruh Abbas ra. memanggil orang-orang agar kembali berperang, dan menginstruksikan beberapa kalimat yang harus diucapkan kembali oleh Abbas ra. di medan perang. Beliau berseru: “Hai kaum Anshar yang memberi tempat dan menolong,… Hai kaum Muhajirin yang telah membai`at di bawah pohon, sesungguhnya Muhammad masih hidup, kemarilah!” Suara Abbas sangat lantang, sehingga terdengar oleh kaum An­shar dan kaum Muhajirin. Akibatnya mereka bergegas kemba­li ke medan laga, menyingkirkan musuh-musuhnya dan beru­bahlah situasi, dari kekalahan menjadi kemenangan.

Begitulah Abbas Ibn Abdul Muthalib hidup membawa ben­dera dakwah tanpa diketahui oleh kaum Quraisy. Beliau melan­jutkan hakikat keislamannya, berjuang secara sembunyi maupun terang-terangan. Waktu pun berlalu, beliau berusia 80 tahun. Ia meninggal dunia meninggalkan lembaran sejarah hidup yang suci dan termasuk dalam golongan orang-orang yang suci dan saleh

%d bloggers like this: