Sofyan Tsauri

Sofyan Tsauri – Sang Pencinta Sejati

Untuk mengendalikan diri di dalam dunia, maka manusia harus mampu mengendalikan nafsu dan memperkuat akhlak dalam dirinya.

Sofyan Tsauri, nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Sofyan bin Said al-Tsauri dilahirkan di Kufah pada tahun 97 H dan meninggal di Baghdad tahun 161 H.

Sofyan Tsauri belajar pada orang tuanya, kemudian melanjutkan kebeberapa ulama sampai ia belajar ke sufi paling terkenal Hasan Basri. Akhirnya menghantarkannya kejenjang menjadi ulama terkemuka dan, memiliki keahlian dalam bidang hadits, fiqh dan lain-lain.

Ia merupakan seorang tabi’in yang terke­muka dalam zuhud dengan akhlak mulia berpendirian tangguh dan selalu mandiri. Dengan zuhudnya itu, ia tidak berpengaruh dengan dunia dan selalu mengajak orang agar jangan tertipu oleh dunia.

Dalam ajarannya, seorang ulama adalah orang yang mandiri dan tidak mendekati pada penguasa. Mendekati penguasa ,akan melunturkan sifat-sifat kemandirian dan akan merusak agama.

Ajaran Sofyan Tsauri merupakan tembok pemisah antara hal-hal yang konstruktif yang akan menghancurkan pembangunan. Ia selalu memperingatkan akan , bahaya bermegah- megah, mubazir, dan maksiat. Ia sendiri hidup dengan sederhana, disamping sebagai ulama juga berdagang hingga ia benar-benar mandiri tidak tergantung kepada penguasa atau masyarakat.

Suatu hari, Sofyan Tsauri berjalan bersama sahabat melewati jalan di depan rumah seorang terkemuka di kotanya. Sahabatnya terpesona memandang serambi rumah itu karena indah dan amat menarik, Sofyan sendiri tidak menoleh sedikitpun.

Sofyan mencela perbuatan sahabatnya tersebut, “Jika engkau beserta orang-orang seperti engkau terpesona dengan keindahan rumah-rumah mereka,,niscaya mereka akan lebih bermegah-mega dengan rumah mereka. Dengan terpesona seperti itu engkau ikut didalam sikap mereka yang bermegah-megah itu.”

Menurut Sofyan Tsauri lebih lanjut; “Seseorang benar-benar zuhud kalau ia dapat merasakan ajalnya telah dekat, tidak memakan yang enak-enak dan tidak pula memakai pakaian yang mewah-mewah.

Penjelasannya lebih jauh, kemuliaan seseorang dapat dilihat dalam 5 bentuk;

  1. Seorang alim yang hidup zuhud.
  2. Seorang faqih tetapi juga sufi.
  3. Seorang hartawan yang merendahkan diri.
  4. Seorang Fakir yang selalu mensyukuri nikmat Allah
  5. Seorang bangsawan yang selalu melaksanakan sunnah Rasul-Nya.

Sofyan Tsauri sendiri bukan hanya cinta kepada manusia dalam semua tingkatan, tetapi juga, amat cinta kepada binatang terutama kelestariannya. Suatu hari ketika ia berada di pasar, ia melihat seekor burung dalam sangkar Yang indah.

Burung itu meskipun dalam sangkar indah, tetap mencicit-cicit menderita karena tidak dapat terbang dialam bebas. Ia beli burung itu dan segera dilepaskannya. Burung itu sesekali datang menemuinya.

Sebagaimana telah disebutkan bahwa pekerjaan beliau disamping bertugas sebagai ulama juga berdagang. Ia pernah ditanya se­seorang “Bagaimana seorang ulama yang zuhud tetapi usaha berdagangnya tetap?”

Sofyan Tsauri menjawab, “Jika sekiranya tidak ada usaha berdagang, itu tentu akan sudah lama menjadi sapu tangan penguasa Bani Abbas”

Apabila disusul orang perkataan beliau itu dengan menunjukkan bahwa dagang itu mendekatkan orang kepada dunia, Sofyan Tsauri menjawab, “Benar hal itu mendekatkan aku kepada dunia, tetapi juga hal itu menyelamatkan aku dari dunia,”

Ajaran-ajaran Sofyan Tsauri sangat ber­pegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dan beliau sendiri diberi gelar orang dengan sebutan Amirul Mu’minin dalam Hadist.

Tidak ada gunanya hidup zuhud dengan memakai pakaian dari bulu domba kasar kalau batin penuh dengan kotoran dan penyakit. Abu Abdullah Sofyan mampu melenyapkan kotoran dengan penyakit-penyakit batin itu hingga hidup berkeseimbangan (tawasun).

Memang,Abu Abdullah Sofyan menganggap bahwa kotoran dan penyakit batin banyak bersumber dari dunia. Seorang sufi harus berhati-hati melihat dunia dengan segala seluk-beluknya. Kalau kita lengah, dunia akan menipu manusia.

%d bloggers like this: