Sifat-sifat yang Boleh dan yang Tidak Boleh Dinisbahkan kepada Allah

Allah SWT sekali-kali tidak boleh disifati dengan sifat kebodohan, ragu-ragu, berprasangka, berpraduga, lupa, lalai, mengantuk, tidur, terkecoh, lemah, mati, bisu, buta, tuli, bersyahwat, mempunyai kecen­derungan, marah, sedih, menyesal, merugi, bangkrut, sakit, merasakan kenikmatan, patuh (taat), mengambil manfaat, mengalami mudharat, berangan-angan, dan berbohong.

Tidak boleh mengatakan bahwa Allah SWT itu terbatas dan berke­sudahan, mendekat atau menjauh, berada di bawah, di atas, atau di belakang, dan tidak boleh juga mengatakan bahwa Ia ber-cara dalam berbuat, karena syari’at tidak pernah mengatakan demikian. Yang ada hanyalah keterangan yang mengatakan bahwa Dia bersemayam di atas ‘Arasy, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an dan beberapa hadits; Dia­lah Pencipta segala arah. Tidak boleh kita menentukan kuantitas tertentu bagi-Nya.

Tidak boleh menamai-Nya dengan fadhil (yang suka memberi), `atiq (yang memerdekakan budak), faqih (yang mengerti), fahim (yang faham), fathan (yang pandai), kuhaqqiq (yang meluruskan), aqil (yang berakal), thayyib (yang baik)–ada pendapat yang membolehkan nama ini—dan muthiq (yang memberi kekuatan atau potensi), sebab kekuatan dan potensi itu adalah ciptaan-Nya.

Tidak boleh menamai-Nya mahfuzh (yang dijaga), sebab Dia adalah hafizh (yang menjaga). Tidak boleh menyifati-Nya dengan mubasyarah (yang turun tangan langsung secara fisik). tidak boleh menyifati-Nya dengan muktasib (yang berusaha atau berupaya), sebab itu menunjuk­kan sifat yang baru, sedangkan Dia Mahasuci dari segala sifat yang baru.

Tidak boleh menamai-Nya dengan ‘adam (yang Tidak Ada), sebab Dia adalah Dzat yang qadim (Maha Ada tanpa didahului oleh ketiadaan). Dia adalah kekal, dan kekekalannya bukan dengan kekekalan yang lain. Dia Maha mengetahui segala sesuatu, dan pengetahuan-Nya itu tiada batas. Dia Mahakuasa, dan kekuasaan-Nya tidak terbatas.

Adapun sifat-sifat yang boleh disandarkan kepada Allah SWT adalah sebagai berikut: farh (yang bahagia), dhahak (yang tertawa), ghadhab (yang marah), sukhth (yang murka), dan ridha (yang ridha atau rela).

Boleh menamai-Nya maujud (yang Ada), seperti firman-Nya, “… dan ia dapati Allah itu ada di sisinya ….” (QS. an-Nur [24]: 39)

Boleh juga menyifati-Nya dengan ‘arif (yang mengerti), matin (yang kuat atau kokoh), dan darin (yang mengetahui), sebab semua itu se­makna dengan kata Alim (Yang Mengetahui) yang merupakan salah satu sifat-Nya, dan tidak bertentangan dengan syari’at maupun pe­makaian dalam bahasa Arab.

Boleh menyifati-Nya dengan ra`in (yang melihat), sebab kata itu semakna dengan kata Alim (Maha Mengetahui). Boleh menamai-Nya dengan jamil dan mujmil (yang indah dan yang mengindahkan cipta­annya). Boleh menyifatinya dengan dayyan (yang membalasi), dalam arti bahwa dia akan membalasi seluruh amal perbuatan hamba-hamba­nya di akhirat kelak.

Boleh juga menyifati-Nya dengan muqaddir asalkan bermakna “yang menakdirkan” sebagaimana firman-Nya berbunyi, “Sesung­guhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut kadarnya,” (QS. al-Qamar [54]: 49) dan, “Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberinya petunjuk.” (QS. al-A’la [87]: 3) Atau, bermakna “memberitakan” seperti disebutkan di dalam firman-Nya, “… kecuali istrinya, Kami telah memberitakan bahwa dia termasuk orang-orang yang tertinggal [dibinasakan].” (QS. an-Naml [27]: 57)

Boleh kita menamai-Nya nazhir asalkan bermakna “melihat dan mengetahui segala sesuatu”, bukan bermakna “berpikir atau me­mikirkan sesuatu”; Mahasuci Dia dari sifat itu.

Boleh menamai-Nya dengan syafiq asalkan bermakna rahmah (menyayangi dan mengasihi) terhadap makhluk-Nya, bukan bermakna khauf dan hazan (takut dan sedih). Boleh menyifati-Nya dengan rafiq asalkan bermakna rahmah dan taaththuf (kasih dan sayang) pada makhluk-Nya, bukan bermakna “mengukuhkan” dan “meluruskan segala urusan” serta “selamat dari akibat buruknya”.

Boleh juga menyifati-Nya dengan sakhi, karim dan jawwad asalkan semuanya bermakna tafadhdhul dan ihsan (memberi karunia dan kebaikan) kepada makhluk-Nya, bukan bermakna “lembut” atau “lunak” yang secara etimologi biasa digunakan untuk menunjukkan tanah atau kertas yang lunak atau lembut.

Boleh menamai-Nya dengan amir (yang memerintah), nahi (yang melarang), mubih (yang membolehkan), hazhir (yang mencegah), mu-hallil (yang menghalalkan), muharrim (yang mengharamkan), faridh (yang memfardhukan atau mewajibkan), mulzim (yang mengharus­kan), mujib (yang mewajibkan), nadib (yang menyunatkan), mursyid (yang menunjukan), qadhi (yang memutuskan perkara), dan hakim (yang mengadili atau hakim).

Boleh juga menyifati-Nya dengan wa’id (yang berjanji), mutawa’id (yang mengancam), mukhawwif (yang menakut-nakuti), muhdzir (yang memberi peringatan), dzâm (yang mencela), madih (yang me­muji), mukhathib (yang menyeru), mutakallim (yang berbicara), dan qa`il (yang berkata). Sebab, semua kata itu semakna dengan kata Kalam yang merupakan salah satu sifat-Nya.

Boleh menyifati-Nya dengan mu’dim (meniadakan) asalkan ber­makna “tidak mengadakan” dan “tidak melakukan”, atau pun bermakna “meniadakan apa yang sebelumnya telah diadakan-Nya”. Boleh me­namai-Nya dengan fa’il (yang berbuat atau yang melakukan) asalkan bermakna mukhtari’ (yang menciptakan) apa yang Dia buat dengan kekuasaan-Nya, bukan bermakna mubasyarah (turun tangan langsung secara fisik). Sebab kata mubasyarah memberikan pengertian adanya persentuhan langsung secara fisik; Mahasuci Allah dari sifat seperti itu.

Boleh juga menyifati-Nya dengan jâ`il (yang menjadikan) asalkan bermakna fâ`il (yang melakukan) dan perbuatan-Nya itu terwujud, seperti firman-Nya: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda.” (QS. al-Isra’ [17]: 12) Boleh mengartikan kata ja’ala (men­jadikan) dengan al-hukm (memastikan). Firman-Nya berbunyi, “Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab.” (QS. az-Zukhruf [43]: 3)

Boleh menamai-Nya dengan tarik (yang meninggalkan) asalkan tidak bermakna menahan diri dari melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan-Nya. Boleh menamai-Nya dengan mujid (yang mengadakan) dalam arti “menciptakan”. Boleh menamai-Nya dengan mutsbit (yang mengukuhkan, atau meneguhkan ). Allah SWT berfirman,”Allah mene­guhkan [iman] orang-orang Mukmin dengan ucapan yang teguh,” (QS. Ibrahim [14]: 27) dan, “Allah menghapuskan apa yang Dia ke­hendaki dan menetapkan [apa yang Dia kehendaki], dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) ” (QS. Ar-Ra`d [13]: 39)

Boleh menamai-Nya dengan `âmil shni (yang melakukan dan yang membuat) karena keduanya semakna dengan kata khaliq (pencipta) yang merupakan sifat Allah SWT.

Boleh menyifati-Nya dengan mushîb (yang menimpakan dengan tepat) asalkan mengandung pengertian bahwa segala perbuatan-Nya menimpa (mengenai) sasaran yang Dia maksudkan dan Dia kehendaki, tanpa ada kekeliruan, tidak kurang dan tidak lebih, bukan yang berarti bahwa Dia sejalan dengan seseorang yang Dia perintahkan untuk melakukan suatu perbuatan. Kata ini (mushîb), jika diberikan kepada seorang hamba, maka pengertiannya adalah muthî (taat) kepada Tuhannya, mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Boleh menyifati perbuatan-perbuatan-Nya dengan shawâb (benar atau tepat) bila itu dimaksudkan bahwa perbuatan-perbuatan-Nya itu haqq dan tsabit (benar dan tetap). Boleh menyifati-Nya dengan mutsîb dan mun`im (yang memberi pahala dan memberi nikmat) bila di maksudkan dengannya bahwa Dia menjadikan orang yang Ia beri pahala mendapatkan nikmat dan kehormatan. Boleh menamai-Nya dengan mu`aqib (yang membalas dengan siksa) dan mujâzin (yang membalasi), dalam arti bahwa Dia menghinakan dan memberi rasa sakit kepada orang yang durhaka karena kemaksiatannya. Boleh menyifati-Nya dengan qadîm al-ihsan (berbuat baik sejak azali) bila dimaksudkan dengannya yang berarti bahwa Dia mempunyai sifat penciptaan dan memberi rezeki sejak zaman azali, sebagaimana firman-Nya berbunyi, “Bahwasanya orang-orang yang yang telah ada ketetapan yang baik dari Kami untuk mereka ….” (QS. al-Anbiya’ [21]: 101).

Boleh kita menyifati-Nya dengan dalîl (dalil). Boleh kita menamai-Nya thabîb (yang menyembuhkan) sebagaimana diriwayatkan bahwa Abu Ramtsah at-Tamimi pernah menceritakan bahwa suatu kali ia dan ayahnya berada di dekat Nabi SAW. Waktu itu, ia melihat ada sesuatu seperti apel di pundak Nabi, maka berkatalah ayahnya kepada beliau SAW, “Wahai Rasulullah, aku adalah seorang tabib. Bolehkah aku mengobatimu?” Beliau menjawab, “Sungguh thabib (yang menyembuhkan)-nya adalah Dzat yang menciptakannya (Allah).” Diriwayatkan juga bahwa ketika Abu Bakar jatuh sakit, datanglah orang-orang menjenguknya, lalu mereka berkata kepadanya, “Bagaimana seandainya kami panggilkan seorang tabib untukmu?” Abu Bakar menjawab, “Sungguh tabibnya (maksudnya adalah Allah) telah ada dan sedang melihat kepadaku.” Apakah yang Ia katakan kepadamu?” Tanya mereka. Abu Bakar menjawab, “Ia berkata, “Sesungguhnya Aku Maha Melakukan apa yang Aku kehendaki.”

Diriwayatkan pula bahwa ketika Abu ad-Darda’ jatuh sakit, datanglah para sahabat menjenguknya, seraya bertanya kepadanya, “Apakah yang terasa, wahai Abu Darda’?” Ia menjawab, “Aku merasakan ada jin di dalam tubuhku.” “Lalu, apakah yang engkau inginkan?” tanya mereka lagi. Ia menjawab, “Aku menginginkan surga.” Mereka berkata, “Bagai­mana seandainya kami panggilkan seorang tabib untukmu?” Ia men­jawab: “Tidak usah, karena Dia-lah yang telah membuatku sakit.”

Demikianlah nama-nama dan sifat yang boleh diberikan kepada Allah SWT selain dari nama-nama-Nya yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Berdoa dengan dengan nama-nama-Nya yang 99 itu adalah lebih utama. Namun demikian, seandainya ingin berdoa dengan nama-nama dan sifat-sifat yang baru saja kita sebutkan, yakni nama­-nama dan sifat-sifat yang boleh diberikan kepada Allah, boleh-boleh saja. Hanya saja, perlu dicatat bahwa ketika kita berdoa itu, janganlah sekali-kali menyebut nama-nama seperti ya sakhir (yang mencemooh­kan), ya mustahzi’ (yang melecehkan), ya makir (yang membuat tipu daya), ya khadi’ (yang menipu), mubghidh atau ghadhban (yang marah), muntaqim (yang membalas dendam), mu`ad (yang mengancam dengan siksa), mu’dim (yang meniadakan), dan muhlik (yang membi­nasakan). Nama-nama ini, meski boleh disifatkan kepada Allah, tidak boleh dipergunakan atau disebutkan ketika berdoa kepada-Nya. Sebab nama-nama itu adalah nama-nama Allah yang secara khusus diper­gunakan untuk memberikan pengertian balasan bagi orang-orang yang durhaka serta untuk menunjukkan bahwa Allah menghinakan dan melecehkan mereka.

(sumber : Al-Ghuniyyah Li Thalibi Thariq al-Haq , Syekh Abdul Qadir Jailani)

%d bloggers like this: