Muhammad Ibn Hanafiyah

Muhammad Ibn Hanafiyah

Penyeru Perdamaian, Cinta dan Persaudaraan

Cukuplah kiranya jika dikatakan bahwa beliau termasuk dalam tokoh muslim, sebab beliau adalah putra Imam Ali ra. yang pada lintasan sejarah Islam saat itu ia berusaha mencegah pertumpahan darah antara kaum muslimin yang telah berlangsung lama, tiada hentinya.

Oleh karena itu para sejarawan sulit menggambarkannya. Mereka tidak menempuh cara yang telah dilakukan oleh orang-orang yang berjuang selama hidupnya. Nama dan biografinya disebut dalam sejarah. Maka siapakah pahlawan yang seandainya dikehendaki, bisa menjadi khalifah, suatu kedudukan yang menghimpun kekuatan. Akan tetapi ia menolak mempertajam konflik jabatan khalifah yang berakibat pertumpahan darah antar kaum muslimin, lebih sibuk dalam urusan duniawi daripada ukhrawi, dan perlombaan jabatan yang tinggi, kejayaan, kemegahan, kekuatan dan kekuasaan. Mereka mengejarnya sampai kehabisan napas, dan berusaha keras men­capainya. Mereka menempuh cara yang penuh derita, sehingga sinar pedoman dan prinsip ajaran Islam menjadi pudar dalam akal dan hatinya.

Itulah Muhammad Ibn Imam Ali ra. yang dikenal dengan Muhammad Ibn Hanafiyah, sebab ibunya bukan Fatimah Az ­Zahrah ra. namun Khalah binti Jalar Ibn Qais dari kabilah Hanafiyah. Beliau sangat mendambakan kaum muslimin hidup rukun dan bersatu. Seorang muslim jangan sampai menarik sen­jatanya di hadapan muslim lainnya, sebab Nabi Saw melarang yang demikian itu. Beliau bersabda, “Apabila dua orang muslim saling mengacungkan pedangnya, maka si pembunuh dan terbunuh, keduanya masuk neraka.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, wajar kalau si pembunuh itu masuk neraka. Tetapi apa salah si terbunuh?” Jawab Rasulullah Saw., “Sebab si terbunuh itu pun berusaha mem­bunuhnya.”

Muhammad Ibn Imam Ali ra. saudara Hasan dan Husein, dilahirkan pada masa akhir kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq ra. Sebab Imam Ali tidak kawin lagi selama Fatimah masih hidup. Beliau kawin dengan perempuan lain setelah kematiannya. Fatimah meninggal 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah. Ketika Muhammad dilahirkan oleh istri Ali ra. yang ketiga, beliau mem­beri julukan kepadanya sebagai “Abu Qasim” dengan maksud mengambil berkah dari Rasulullah Saw. Diriwayatkan bahwa Ali ra. pernah meminta izin Rasulullah agar memberi nama julukan tersebut. Rasulullah Saw. membolehkannya. Ketika keduanya sedang duduk-duduk, Ali ra. berkata kepada Rasulullah Saw.: “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu sekiranya aku dikaruniai anak sepeninggal engkau, bolehkah aku memberi nama dengan namamu, dan menjulukinya dengan julukanmu?” Rasulullah Saw. setuju.

Muhammad Ibn Hanafiyah tumbuh dan berkembang dalam naungan ayahnya. Sifat pemberaninya nampak sejak kecil. Ayahnya mengharapkan ia menjadi pahlawan yang hebat dalam medan jihad, dan ternyata harapan serta pemikiran ayahnya itu benar. Hal itu nampak pada waktu terjadi perang Shiffin, di mana dia memegang bendera dengan teguh di medan perang, meskipun sebenarnya dalam batinnya timbul gejolak manusiawi yang mendambakan perdamaian. Dia menyaksikan darah kaum muslimin tercecer di sana-sini. Jiwanya nampak sedih dan duka. Dalam hati kecilnya ia berkata: “Jika sebagian dari kita memerangi sebagian yang lain, lantas siapa yang akan memerangi musuh­-musuh Allah?” Akan tetapi hiruk pikuk senjata tidak berhenti kecuali setelah diadakan tahkim.

Hari-hari pun berlalu. Peristiwa demi peristiwa terjadi di lingkungan Umat Islam, sehingga kaum Khawarij meninggalkan taat kepada Imam Ali ra., bahkan membunuhnya. Di sinilah terlihat adanya perselisihan untuk damai yang terjadi dalam jiwa Muhammad Ibn Hanafiyah. Beliau tidak bimbang membai’at Muawiyah demi menenangkan konflik dan mencegah pertum­pahan darah antar kaum muslimin.

Keluhuran budi pekertinya tercermin dalam setiap tindakan­nya. Ketika beliau berselisih paham dengan saudaranya, Hasan ra., di mana satu sama lain saling beradu argumen, Muhammad Ibn Hanafiyah mengingatkan sabda Rasulullah tentang orang­-orang yang saling berselisih, “Dan sebaik-baik di antara keduanya adalah yang memulai mengajak damai.” Meskipun demikian ia tidak menghendaki agar dianggap lebih baik dari saudaranya, Hasan ra., bahkan dia mengutamakannya atas dirinya sendiri. Beliau menulis surat kepada Hasan ra. yang isinya menyebutkan keuta­maan-keutamaannya sebagai berikut, “Sesungguhnya Allah mem­berikan keutamaan kepadamu lebih dari kepadaku. Ibumu adalah Fatimah binti Muhammad Ibn Abdullah semoga salawat dan salam kepadanya, adapun ibuku adalah perempuan dari Bani Hanafiyah. Kakekmu adalah Nabi Saw. pemuka sekalian makh­luk. Adapun kakekku adalah Ja’far Ibn Qais. Maka marilah datang dan damai denganku, dan bagimu segala keutamaan.”

Ketika Imam Hasan ra. membaca surat tersebut, air matanya menetes karena kesan tersebut membawa pengaruh. Spontan beliau menjumpai saudaranya, Muhammad, lantas saling rukun kembali. Hilanglah perselisihan di antara keduanya.

Dalam kesempatan lain, terjadi pula perselisihan dalam diri Muhammad Ibn Hanafiyah, yaitu ketika terjadi pertentangan antara kekhalifahan Abdullah Ibn Zubair di Hijaz, dan Malik Ibn Marwan di Syam. Satu sama lain berusaha merangkul Muham­mad Ibn Hanafiyah agar ikut dalam kelompoknya. Namun terjadi peristiwa-peristiwa di luar dugaan Muhammad. Abdullah Ibn Zubair mendekatinya dengan paksa, padahal kaum muslimin banyak condong pada pola pikir Muhammad Ibn Hanafiyah. Mereka mengajaknya bersama-sama pergi ke Syam, jauh dari obsesi dan tekanan Ibn Zubair. Setelah sampai di Syam, banyak orang-orang yang mendukungnya, sehingga Abdul Malik Ibn Marwan tidak senang dengan popularitas Muhammad Ibn Hana­fiyah. Beliau juga diminta untuk pergi meninggalkan Syam beserta pengikutnya. Demikianlah penyeru perdamaian yang tidak men­jumpai perdamaian di bumi mana pun.

Peristiwa demi peristiwa silih berganti dengan cepat. Rival Abdul Malik Ibn Marwan yaitu Abdullah Ibn Zubair terbunuh dalam suatu peperangan. Selalu saja sejarah ditulis dengan pena yang diwarnai pertumpahan darah. Muhammad Ibn Hanafiyah mendapat kesempatan untuk menetap dan melakukan perda­maian. Ia mengutus utusan menjumpai Abdul Malik Ibn Marwan untuk membai’atnya. Akibatnya redalah angina ribut yang melanda umat Islam.

Setelah itu Muhammad Ibn Hanafiyah menghabiskan hari-­harinya dengan jiwa yang tenang dan damai. Beliau membaca Al-Qur’an siang dan malam. Beliau menjawab pertanyaan orang yang bertanya, “Bagaimana engkau bisa merubah penderitaan dan sengsara yang engkau alami?”Jawabnya,”Hendaklah kamu salat dan membaca Al-Qur’an. Di dalam keduanya itu terdapat obat penawar bagi penyakit yang ada di dada, dan mengusir derita batin.”

Pada detik-detik akhir hayatnya, beliau mengakhirinya dengan membaca surat Al-Ikhlas, seraya menghadap Allah dalam keadaan suci ibarat pumama. Beliau meninggal dunia, dan me­lihat tempatnya di akhirat di antara orang-orang yang saleh dalam derajat yang tertinggi di sisi Allah.

(sumber : Hayat Ash Shalihin , Syekh Abdul Mun`im Qindil)

%d bloggers like this: