Khaulah binti Azwar

PRAJURIT BERTOPENG DI MEDAN
PERANG

Perang tengah berkecamuk. Pasukan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid si pedang Allah dengan gigih menyerbu Ajnadin dari Palestina. Pasukan Romawi pimpi­nan Teodore dari sisi utara Syam menghalangi Pasukan Arab.

Dhirar, pahlawan yang dikenal keberaniaannya sehebat seribu prajurit itu mengalami nasib malang. Dhirar yang ke­turunan raja dan penguasa itu tertawan Pasukan Romawi, hingga membuat marah panglima Khalid bin Walid. Ia me­merintahkan pasukannya untuk membebaskan Dhirar yang menjadi komandan pasukan dengan jalan apapun.

Pasukan kaum muslimin terus menyerbu, dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat. Pasukan Romawi disibuk­kan oleh seorang prajurit Islam bertopeng yang bertempur mati-matian, hingga berhasil menewaskan beberapa prajurit Romawi. Prajurit bertopeng itu bertempur dengan gagah berani.

Panglima Khalid sendiri menjadi heran, siapa gerangan prajurit bertopeng yang bertempur habis-habisan itu. Ketika ditanyai namanya, prajurit bertopeng itu mengelak, tetapi Khalid terus mendesak. Barulah prajurit bertopeng itu men­jelaskan.

Wahai panglima, aku tidak menghindar darimu kecuali hanya karena rasa malu terhadapmu. Anda seorang panglima besar, sedang aku hanya seorang wanita bercadar. Tetapi aku terpaksa melakukan hal ini, karena hatiku sakit dan marah. Aku adalah Khaulah binti Azwar. Aku sedang bersama wanita kaumku, kemudian datang seseorang yang memberi kabar bahwa saudara kandungku Dhirar ter­tawan. Maka aku pun kemudian menaiki kuda dan mela­kukan apa yang anda lihat sekarang ini.”

Hati Khalid bin Walid menjadi sedih bercampur heran, hingga mengapa sampai seorang wanita keluar ikut berjihad dengan gigihnya untuk menyelamatkan tawanan perang.

Sejak saat itu, Khalid bin Walid selaku panglima perang bersumpah untuk menyelamatkan Dhirar. Dipersiapkanlah sekali lagi tentara kaum muslimin untuk mendesak pasukan Romawi. Peperangan pun berkecamuk lagi, hingga pada akhirnya kemenangan berada di pihak pasukan kaum muslimin. Dan Dhirar bin Azwar berhasil dibebaskan dari ta­wanan pasukan Romawi.

Demikianlah, dalam sejarah perjuangan Islam memang sering dijumpai srikandi-srikandi Islam yang gemilang bertempur bersama prajurit laki-laki. Mereka berada di be­lakang pasukan melayani keperluan para pasukan yang ber­laga di medan laga. Jika ada prajurit yang luka, merekalah yang merawatnya. Khaulah binti Azwar adalah salah satu di antara kaum wanita yang ikut dalam perang Ajnadin ke Syam di zaman pemerintahan Abu Bakar, di bawah pim­pinan panglima Khalid bin Walid.

Khaulah hidup sampai pada zaman pemerintahan Ustman bin Affan, dan menyaksikan langsung berbagai peris­tiwa dan bencana yang menimpa kaum muslimin. Ke­gigihannya dalam medan perang seringkali menimbulkan kekaguman, sebagaimana yang telah ditunjukkannya pada saat bertopeng menghancurkan pasukan Romawi.

Tiang-tiang Kemah

Masih ingatkah kepada Khansa’ yang mengikhlaskan empat puteranya tewas bersama dalam perang Qadisiyah? Atau masih ingatkah kepada Shafiah binti Abdul-Muthalib bibi Rasulullah ketika mengambil tiang-tiang kemah dan memukulkannya kepada orang Yahudi yang berkeliling di sekitar pingitannya sebagai mata-mata lalu membunuhnya? Hal itulah yang mengilhami keberanian Khaulah binti Azwar memimpin kaum wanita yang bersamanya mengam­bil tiang-tiang kemah, kemudian memukulkannya ke atas kepala-kepala pasukan Romawi.

Peristiwa itu terjadi dalam pertempuran antara pasukan kaum muslimin dengan tentara Romawi di Maraj Dabiq. Sekali lagi, Khaulah berangkat ke medan perang karena kehi­langan Dhirar saudara kandungnya karena ditawan musuh. Kesedihannya dilantunkan pada sebuah syair dan tangisan, yang kemudian mendorong semangat pasukan Islam me­nuntut balas terhadap pasukan Romawi untuk membebas­kan Dhirar.

Beberapa wanita yang suaminya tertawan seperti Dhi­rar ikut memberi semangat agar pasukan Islam lebih berani menyerbu benteng pertahanan musuh. Pasukan muslimin berhasil menyerbu daerah utara Syam dan mengepung An­tarkia. Beberapa tawanan berhasil dibebaskan, termasuk di dalamnya Dhirar. Ironisnya, kini gantian Khaulah binti Azwar menjadi tawanan tentara Romawi bersama beberapa wanita lainnya. Dalam tawanan pasukan Romawi, Khaulah pantang menyerah pasrah. Kepada teman-temannya ia ber­seru, “Hai puteri-puteri Himsyar sisa-sisa keturunan Tubba’, apakah kalian rela menjadi tawanan Romawi, dan anak-­anak kalian menjadi budak mereka? Lebih baik kita mati daripada menjadi tawanan yang hina dan melayani Romawi keparat!”

Dengan semangatnya yang pantang menyerah, Khau­lah mengomando teman-teman tawanan wanita mengambil tiang-tiang kemah. Dengan tiang-tiang itu mereka melawan pasukan Romawi dengan memukul kepala mereka. Berkat keberaniannya, mereka berhasil bebas dari tawanan musuh.

Karena besarnya rasa cinta Khaulah kepada saudara lelakinya, hingga ia sampai nekad menerjang ke gelanggang perang dengan topengnya melawan pasukan Romawi. Ke­cemburuannya terhadap kehormatan wanita Arab yang muslimah membuat Khaulah dan kaum tawanan wanita la­innya nekad melawan pasukan Romawi, dan akhirnya men­dapat keberhasilan yang gemilang. Itulah Srikandi Islam yang bukan hanya terdapat dalam dongengan. Khaulah binti Azwar, adalah wanita teladan yang hadir dalam alam kenyataan. Tampil dinamis dalam menjunjung tinggi kali­mah Allah.

(sumber : Namadzijul Mar-atil Muslimah, Prof.DR.Ahmad Muhammad Jamal)

%d bloggers like this: