Archive for May 20th, 2010

Legenda Danau Maninjau

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat.

Continue reading

Advertisements

Legenda Batu Gantung

Batu gantung adalah salah satu objek yang sering di kunjungi orang yang datang ke DANAU TOBA atau kota Parapat,letak nya tepat di pinggiran danau toba.

Continue reading

Rabiah al-Adawiyah

Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?” “Tidak,” jawab Rabiah dengan suara tegas. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?” “Pasti,” jawab Rabiah tak kalah tegas. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Tuhan tidak berkenan menerima tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti dari dosa, jangan simpan kata “akan” atau “andaikata” sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu.”

Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, “Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?” Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada di samping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.

Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pun dari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismail pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan. Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.
Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan siapa-siapa. “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.” Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tidak punya apa-apa kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dirinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.

Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, “Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.

Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismail diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.

Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, “Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu gerbang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapi, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu.”

Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.

Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isya, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, “Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu.”

Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, “Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu.”

Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, “Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.

Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.”

(disarikan dari :http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=52)

Imam Hasan Ibn Ali

Imam Hasan Ibn Ali

Cucu Kesayangan Rasulullah

Kehidupan dan kematiannya merupakan gambaran yang indah dari figur yang mulia, penuh pengorbanan, iffah, suci, jiwa yang tentram dan bersih. Patut baginya memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat, karena dia adalah cucu Rasulullah Saw. putra Imam Ali ra. dan Fatimah Az-Zahrah, ser­ta saudara kandung Husein, penghulu para syuhada.

Continue reading

Imam Husein Ibn Ali

Imam Husein Ibn Ali

Pemuka Para Pemuda Ahli Surga

Sejak saat kelahirannya, seisi langit menyambut kehadirannya. Seisi bumi di sekitarnya memancarkan sinar kesucian, diliputi dengan rahmat dan semerbak bau wangi yang ditaburkan oleh para malaikat. Ketika kakeknya, Rasulullah Saw mendengar bahwa putrinya Fatimah Az-Zahrah dikaruniai putra, beliau bergegas menuju ke rumahnya. Nabi Saw menjumpainya dengan raut wajah yang bersinar, bak purnama. Begitulah kebiasaan beliau begitu mendengar berita gembira. Kemudian Nabi men­dekat kepada bayi yang masih suci, mengumandangkan azan di telinganya seperti azan salat. Itulah kalimat pertama yang dide­ngar oleh Imam Husein setelah kelahiran beliau di dunia pada tanggal 5 Sya’ban 4 H. Sebelum Rasulullah Saw berangkat ke rumah putrinya, Fatimah, beliau sudah mempersiapkan nama untuk bayi tersebut dengan nama “Husein”, suatu nama yang belum dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu.

Husein ra. hidup di rumah ayahnya di Madinah. Rasulullah Saw pun mencintainya, dan mencintai saudaranya, Hasan ra., dengan cinta yang amat dalam. Kecintaan beliau itu digambarkan oleh Usamah Ibn Zaid dalam suatu peristiwa yang disaksikannya sendiri. Usamah berkata, “Aku mengetuk pintu rumah Rasulullah Saw. sambil membawa sesuatu yang tidak tahu apa iu. Setelah selesai dengan tujuan yang saya inginkan, aku bertanya kepada beliau, “Engkau sedang membawa apa?” Beliau pun membu­kanya. Ternyata itu adalah Hasan dan Husein. Beliau bersabda,

“Kedua anak ini adalah anakku, dan anak putriku. Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya. Maka cintailah keduanya, dan cintailah orang yang mencintai keduanya.”

Apabila Hasan dan Husein datang kepada kakeknya, Rasu­lullah Saw, beliau memeluk mereka dengan kasih sayang dan menciumnya satu per satu, kemudian memangkunya di atas pa­hanya. Para sahabat di sekitar beliau segera mengucap, “Sesungguhnya keduanya adalah pemuka para pemuda ahli surga.” Sebagian dari ucapan Rasulullah yang mencerminkan gelora kasih sayangnya pada Imam Husein adalah, “Husein itu dariku dan aku dari Husein. Semoga Allah mencintai orang yang mencintai Husein. Husein adalah cucuku.”

Husein ra. tumbuh dalam lingkungan yang paling bersih dan mulia dari sifat manusiawi. Kakeknya adalah Rasulullah Saw., pemuka sekalian makhluk. Ayahnya adalah Ali Ibn Abi Thalib, karramallahu wajhahu, memiliki peringkat teratas dari sifat der­mawan, penuh pengorbanan, berjuang dan loyal kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibunya adalah Fatimah Az-Zahrah, seutama-­utama perempuan pada masanya. Maka memadailah jika dika­takan bahwa dia adalah putri Rasulullah Saw., istri bagi pemimpin para pejuang, dan ibu dari pemuka para pemuda ahli surga.

Dalam mileu yang berbau kenabian yang bersinarkan wahyu serta sarat dengan peristiwa jihad inilah Husein ra. menghabiskan masa kanak-kanaknya yang pertama. Di sekitar rumah ayahnya, Ali Ibn Abi Thalib, dan rumah kakeknya Rasulullah Saw. sampai beliau menginjak 6 tahun 7 bulan 7 hari, Rasulullah Saw. pun wafat. Peristiwa wafatnya Rasulullah itu disaksikan oleh Husein ra. Bagaimana penduduk kota Madinah diliputi dengan rasa duka, dan bagaimana duka yang dialami oleh kaum muslimin yang sangat mendalam itu bisa menghilangkan akal sebagian dari mereka. Sehingga orang genius seperti Umar Ibn Al Khatthab diliputi dengan pikiran kosong. Umar berseru kepada orang‑

orang, Barangsiapa berkata bahwa Muhammad telah mati, akan aku bunuh dengan pedangku ini!”

Semua itu disaksikan oleh Husein ra. Kemudian dia mende­ngar perihal ayahnya dan kaum muslimin yang bercakap-cakap tentang perang Riddah. Beliau hidup semasa peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam keadaan jiwanya yang bersih. Tatkala mencapai usia remaja, ia menjadi anggota barisan para pejuang. la ikut bersama ayahnya dalam perang Jamal, Perang Shiffin dan perang melawan kaum Khawarij. Ayahnya, Ali Ibn Abi Thalib, adalah komandan perang yang berwawasan jauh. Allah memberinya ilham terhadap perkara-perkara yang ghaib dan tidak dapat di­jangkau oleh semua orang. Ketika beliau keluar dari Madinah menuju ke Kufah dan sampai di Karbala, beliau mengarahkan pandangannya di tanah tersebut dengan pandangan yang amat duka cita, beliau berkata, “Di sinilah tempat pemberhentian per­jalanannya dan disinilah tertumpah darahnya”.

Orang- orang di sekitarnya tidak mengerti ungkapan sedih dan mengharukan tersebut. Baru setelah beberapa tahun kemu­dian terjadilah disitu peristiwa berdarah dalam peta dunia Islam. Rebutan kekuasaan dan transisi kepemimpinan khalifah menjadi raja yang bengis,sebagaimana hal tersebut pernah di beritakan oleh Rasulullah Saw, yaitu ketika Muawiyah membai`at putranya Yazid dengan paksa. Seandainya tidak karena kebijaksanaan Husein ra., tentu darah kaum muslimin akan makin membanjir. Pendiriannya bisa mencegah pecahnya perang antara golongan pembai`at dan penentangnya. Akan tetapi pertentangan tetap ada, meskipun secara sembunyi-sembunyi dalam tiap pribadi dan tidak nampak kecuali setelah kematian Muawiyah. Para pemuka Kufah mengirim surat kepada Husein ra. Meminta kepadanya agar bisa hadir di Kufah untuk dibai’at. Husein me­nanggapi perkara ini dengan cermat. Beliau mengutus anak pamannya Muslim Ibn Aqil. Tapi ketika Ubaidillah Ibnu Ziyad menjadi penguasa Bashrah, Muslim Ibn Aqil dibunuhnya. Peris- tiwa itu terjadi pada 9 Dzulhijjah 60 H.

Peristiwa pembunuhan Muslim Ibn Aqil tersebut terjadi sebelum keluarnya Husein ra dari Makkah ke Kufah selang satu hari, Oleh karena itu Husein ra tidak tahu tentang terbunuhnya Muslim Ibn Aqil sampai beliau tiba di Qadisiyah. Beliau mengu­tamakan kembali ke Makkah, namun saudaranya, Muslim Ibn Aqil, bersiteguh melanjutkan perjalanan menuntut balas atas kematian saudaranya. Pengikut Husein ra. ketika itu sekitar 70 orang, terdiri dari keluarga dan pendukungnya, baik dari kalangan laki-laki, perempuan maupun anak-anak.

Kejadiannya sangat cepat. Ketika dua utusan Husein terbu­nuh lagi, saat mengingatkan penduduk Kufah tentang syarat dan ajakan mereka untuk membai’atnya, dua utusan tersebut di­bunuh oleh Ubaidillah Ibn Ziyad. Perkaranya kian serius, sampai pada puncaknya berakhir di tempat pembantaian di Karbala, di mana kepala-kepala keluarga Rasulullah dipenggal, lalu kepala tersebut dibawa di atas ujung tombak menuju ke Ubaidillah Ibn Ziyad, kemudian diserahkan kepada Yazid Ibn Muawiyah di Damaskus. Husein terbunuh oleh orang yang bernama Syamr Ibn Dzi Jausyan, yang kemudian ia mendapat murka Allah, para malaikat dan kaum muslimin seluruhnya.

Kepala Husein yang mulia tersebut dipindahkan dari satu kota ke kota yang lain, seperti terbawa ke kota Asgalan. Di situ­lah penguasa setempat menguburkannya. Lalu ketika bangsa Eropa berkuasa pada waktu perang Salib, Thalaih Ibn Raziq me­nebusnya dengan uang 30.000 dirham agar kepalanya tersebut bisa dipindahkan ke Kairo dan dapat dikubur di tempat di mana ia mati syahid semasa hidupnya.

Tentang eksistensi kepala Husein ra. di tempat syahidnya itu, para ahli sejarah berpendapat bahwa ketika Abd Rachman hen­dak memperluas bangunan masjid Al-Husein, tempat tersebut banyak dikunjungi oleh orang-orang, termasuk di antaranya dua ulama populer, yaitu Syekh Al-Jauhary As-Syafi’i dan Syekh Al­-Malwi Al-Maliki. Keduanya menyaksikan apa yang terdapat di dalam kuburan Husein. Diketahui bahwa kepala Husein ra. dibungkus dengan kain sutera berwarna biru yang diletakkan dalam pundi emas di atas tempat ebonit. Demikian pula banyak petunjuk-petunjuk lain tentang keberadaan kepala Husein ra. dalam makam tersebut.

Allah menghendaki agar peristiwa yang menimpa pada cucu Rasulullah itu berlaku adil. Tiga tahun kemudian Yazid Ibn Mua­wiyah mati dengan cara yang hina, yaitu jatuh dari kudanya ketika sedang mengejar monyet. Lehernya patah, kuku kaki ku­danya patah dan meringkik tidak karuan. Adapun Syamr Ibn Dzi Jausyan, si pembunuh Husein ra., terbunuh oleh Mukhtar Ibn Abi Ubaid As-Tsaqafi, pelopor gerakan Tawwabin. Ia melem­parkan jasad Syamr Ibn Dzi Jausyan agar dimakan anjing. Begitu pula nasibnya Ubaidillah Ibn Ziyad, terbunuh lalu dibakar. Sedang sisa-sisa pengikut Yazid Ibn Muawiyah mati terbunuh di tangan kelompok Tawwabin lainnya.

Allah memuliakan Kairo dengan dimakamkannya kepala Husein dan dikuburkannya beberapa Ahl al-Bait di sana. Semoga Allah meridhai mereka dan memberinya tempat yang mulia dan derajat tertinggi di dunia dan akhirat.

(sumber : Hayat Ash Shalihin , Syekh Abdul Mun`im Qindil)

Muhammad Ibn Hanafiyah

Muhammad Ibn Hanafiyah

Penyeru Perdamaian, Cinta dan Persaudaraan

Cukuplah kiranya jika dikatakan bahwa beliau termasuk dalam tokoh muslim, sebab beliau adalah putra Imam Ali ra. yang pada lintasan sejarah Islam saat itu ia berusaha mencegah pertumpahan darah antara kaum muslimin yang telah berlangsung lama, tiada hentinya.

Continue reading

Sofyan Tsauri

Sofyan Tsauri – Sang Pencinta Sejati

Untuk mengendalikan diri di dalam dunia, maka manusia harus mampu mengendalikan nafsu dan memperkuat akhlak dalam dirinya.

Sofyan Tsauri, nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Sofyan bin Said al-Tsauri dilahirkan di Kufah pada tahun 97 H dan meninggal di Baghdad tahun 161 H.

Continue reading