Zainab binti Muhammad

ZAINAB DAN KALUNG PENEBUS SUAMINYA.

Ketika Zainab menikah dengan Abil Ash bin Rabi’, Khadijah ibunya menghadiahi seuntai kalung. Tapi, kali ini ia harus rela melepaskan kalung itu untuk menebus suaminya yang menjadi tawanan perang kaum muslimin dalam perang Badar. Suatu hal yang sangat dilematis, suami Zainab menjadi tawanan di pihak Muhammad Rasu­lullah, ayahnya sendiri.

Karena didorong kesetiaannya kepada suami, Zainab mengirim kalung itu kepada Rasulullah untuk membebaskan. sang suami yang menjadi tawanan perang. Itulah kesetiaan seorang isteri tercinta.

Nama lengkapnya adalah Zainab Al-Kubra binti Mu­hammad Rasulullah. Anak hasil pernikahan dengan Khadi­jah. Suaminya adalah Abil Ash bin Rabi’, putera bibinya. Seorang lelaki mulia dengan kekayaan harta yang melim­pah. Seorang asli Quraisy yang nasabnya dari pihak ayah bertemu dengan Rasulullah pada Abu Manaf bin Qushay. Dari pihak ibu, bertemu nasab dengan Zainab binti Muham­mad pada sang kakek, Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay.

Halah binti Khuwailid (ibu Abil Ash), adalah saudara perempuan Khadijah binti Khuwailid. Dan Khadijah inilah yang memelihara Abil Ash seperti anak kandung sendiri sehingga diizinkan keluar masuk rumah Rasulullah seperti ru­mah sendiri.

Karena itu, sejak kecil ia bergaul dengan Zainab puteri Rasulullah seperti saudara kandung sendiri. Zainab sangat senang mendengar cerita perjalanannya dan cerita lain yang menarik. Suatu hari Abil Ash meminang Zainab, dan diterima oleh Rasulullah maupun Khadijah. Sejak itu Zainab tinggal di rumah suaminya, hidup bahagia sampai dikaruniai dua anak. Yakni Ali dan Umamah.

Ketika Khadijah pertama kali mengakui kerasulan Mu­hammad setelah menerima wahyu pertama di gua Hira’, maka kemudian disusul pula oleh puteri-puteri Nabi yang mulia. Yakni Zainab, Ruqayah, Umi Kultsum, dan Fatimah. Mereka memeluk Islam.

Begitu Abil Ash kembali dari perjalanan niaganya, Zainab menceritakan tentang kerasulan Muhammad ayahnya dengan risalah Islam yang dibawanya. Sebagai seorang isteri, ia berharap agar suaminya ikut mengakui kerasulan Muhammad yang mertuanya sendiri. Tapi, Abil Ash menanggapinya dengan dingin.

Sekali lagi Zainab meyakinkan suaminya, agar mengikuti jejak Khadijah bibinya, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Ali bin Abi Thalib. Kepada isterinya, Abil Ash malah menjawab: “Demi Tuhan, ayahmu bukanlah seorang yang tertuduh. Tetapi aku tidak ingin di­katakan bahwa aku meninggalkan kaumku, dan menjadi kafir mengingkari agama nenek moyangku hanya demi menyenangkan isteri.” Bisa dibayangkan, betapa sakit hati Zainab.

Dilematis.

Saat itu datanglah cobaan dari Allah kepada Muham­mad, para sahabat, dan kaum muslimin lainnya. Orang Quraisy mengepung Bani Hasyim pimpinan Rasulullah. Mereka memutuskan hubungan dan mengusirnya ke Syi’ib Abi Thalib. Selama tiga tahun Muhammad dan pengikutnya terisolasi dan menderita karena embargo ekonomi orang Quraisy.

Untuk menyelamatkan diri, Rasulullah dan para sa­habatnya terpaksa hijrah ke Madinah, yang kemudian di­terima oleh kaum Anshar. Menyusul kemudian pecah perang terbuka pertama antara kaum muslimin dengan orang Quraisy, yang kemudian dikenal dengan perang Badar. Tragisnya, perang itu terjadi di saat Zainab binti Mu­hammad tinggal di Makkah bersama suaminya. Ia berada dalam posisi yang dilematis. Di satu pihak terdapat ayah dan ibunya, tapi di pihak lain yang menjadi lawan ayahnya terdapat Abil Ash suaminya tercinta. Ayah dari dua orang anaknya yang bernama Ali dan Umamah.

Zainab sangat gembira menerima khabar kemenangan berada di pihak ayahnya, meski pengikutnya relatif jauh le­bih kecil dibandingkan kaum musyrikin. Tapi ia juga merasa susah suaminya di pihak yang kalah, sampai kemudian menjadi tawanan perang pasukan Islam. Untuk membe­baskan suaminya, ia menyuruh Amr bin Rabi’ saudaranya membawa kalung penebus kepada Rasulullah.

Menerima penyerahan kalung itu, Rasulullah tertegun. Bukankah kalung itu kalung Khadijah isterinya yang di­hadiahkan kepada Zainab dalam pesta perkawinannya. Se­jenak Rasulullah tak bisa berucap. Kenangannya melayang pada almarhum isteri tercinta Khadijah, dan puteri tunggal­nya Zainab yang berada di Makkah. Dengan suara berat karena rasa ibanya, Rasulullah berkata kepada para sahabat: “Jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan itu dan mengembalikan tebusannya, maka aku yang akan melakukannya.” Dengan patuh para sahabat menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.”

Berkat usaha Zainab, Abil Ash dibebaskan dari tawanan perang, dan kembali ke Makkah menemui isteri serta kedua orang anaknya yang merindukan kehadirannya. Sementara Zainab menyambutnya dengan gembira. Tapi, ia dikejutkan oleh perintah Rasulullah kepada Abil Ash, supaya ia men­ceraikan Zainab. Alasannya, isteri sudah memeluk agama Is­lam, sedangkan suami tetap bertahan kepada kemusyrikan. Pernikahan seperti itu adalah haram.

Sebagai isteri yang sangat mencintai keutuhan rumah tangga, Zainab selalu berupaya membujuk suaminya agar masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah. Tapi sang suami ti­dak berubah dari pendiriannya. Dengan berat hati Zainab menerima keputusan Allah dan takdir-Nya, menyusul ke Madinah.

Kepergian Zainab ke Madinah bukanlah perjalanan yang mulus. Orang-orang Quraisy selalu menterornya. Ketika Zainab berada di punggung unta, akan berangkat pergi ke Madinah, Hubar bin Aswad Al-Asadi menusuk pe­rut unta dengan lembing, hingga Zainab terlempar jatuh mengeluarkan darah. Janinnya telah gugur di atas gurun pasir. Tapi ketabahan dan kemantapan hatinya yang dilandasi rasa iman serta Islam, membuat keberaniannya se­makin membara, hingga tetap mantap hijrah ke Madinah.

Berpisahlah ibu itu dengan suami dan kedua orang anaknya.

Datang Menyusul.

Ketika pulang dari perjalanan niaga, Abil Ash terbirit-­birit dari kejaran sekelompok pasukan muslim. Karena ter­desak, larilah ia menyelamatkan diri ke Madinah, dan meminta perlindungan kepada Zainab isterinya. Sebagai is­teri yang sangat mencintai suami, Zainab pun melindung­inya.

Ketika Rasulullah bersama para sahabat berada di mas­jid, Zainab berseru: “Wahai orang-orang, aku telah melin­dungi Abil Ash bin Rabi`.” Mendengar seruan itu Rasulullah menyahut: “Kami telah melindungi orang yang dilindungi.”

Rasulullah lantas keluar dari masjid, pergi menuju ru­mah Zainab untuk menemui menantunya. Berkatalah Zainab kepada ayahnya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya jika Abil Ash ini dianggap keluarga dekat, ia masih putera paman. Jika dianggap jauh, ia bapak dari anakku, dan aku telah melindunginya.”

Keluar dari rumah Zainab, lalu Rasulullah mendatangi para anggota pasukannya, kemudian bersabda; “Sesung­guhnya Abil Ash adalah kelurga kami. Sebagaimana kalian ketahui, bahwa kalian telah mendapatkan hartanya. Jika ka­lian berbuat baik dan mengembalikan harta itu, aku lebih menyukainya. Jika kalian menolak, maka itu adalah harta rampasan perang yang dianugerahkan Allah kepada kalian, dan kalian lebih berhak atas harta itu.” Jawab mereka: “Ya Rasulullah, kami akan mengembalikan harta itu.”

Bukan saja jiwa Abil Ash yang diselamatkan. Tapi, har­tanya pun dikembalikan kepadanya. Itu semua berkat jasa Zainab isterinya, lewat tangan Rasulullah ayahnya. Keluarga yang pernah berpisah enam tahun lamanya itu akhirnya kembali bersatu dalam satu atap rumah tangga bersama anak-anak mereka. Suami kini tinggal dalam satu atap, satu iman dan satu perjuangan dalam Islam.

Sayangnya, suasana bahagia itu tidak berlangsung lama. Zainab meninggal mendahului suaminya, setahun setelah kembali berkumpul dalam satu atap rumah tangga dengan suaminya.

(sumber : Namadzijul Mar-atil Muslimah, Prof.DR.Ahmad Muhammad Jamal)

%d bloggers like this: