Umi Salamah

UMI SALAMAH- Pelopor Hijrah

Dengan disetujuinya perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke enam Hijrah, kaum muslimin harus menangguhkan hak­nya memasuki kota Makkah, dan kembali ke Madinah, Per­janjian dengan oranq Quraisy ini sangat memberatkan perasaan para sahabat dan kaum muslimin, sampai-sampai Umar bin Khathab berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulul­lah, mengapa kita diberi kerendahan di dalam agama kita?.” Maka Rasulullah menjawab, “Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia tidak pula akan menyia-nyiakan aku,”

Jawaban Rasulullah ini menegaskan, bahwa sekalipun dirasa sangat pahit, persetujuan terhadap perjanjian Hudaibiyah, yakni untuk mengadakan perdamaian dan gencatan senjata, itu bukan kemauan nafsunya. Melainkan semata-mata karena perintah Allah.

Sebagai tanda ketaatan dan rasa syukur atas tercapainya persetujuan damai itu, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat agar menyembelih hewan qurban dan mencukur rambut kepala. Karena memang sejak awal para sahabat sudah merasa berat hati umtuk menerima perjanjian damai itu. Tidak ada seorangpun yang mengikuti perintah Rasulullah.

Hati Rasulullah menjadi sangat sedih dan marah terhadap sikap para sahabat. Maka kemudian Rasulullah datang menemui Umi Salamah, seorang wanita muslimah yang ikut dalam rombongan itu. Kepada Umi Salamah Rasulullah mencurahkan segala kekecewaan yang sangat mendalam terhadap para sahabat.

“Ya Rasulullah, apakah anda menyukai hal itu?”, Tanya Umi Salamah. “keluarlah, dan jangan engkau berkata kepada siapapun, hingga engkau menyembelih kambing qurban. Dan suruhlah agar seseorang mencukur rambut kepalamu.”

Atas nasehat seorang wanita itu, Rasulullah kemudian keluar dari kemah, dan menjalankan apa yang disarankan Umi Salamah. Begitu para sahabat melihat Rasulullah menyembelih qurban dan mencukur rambut, hati mereka menjadi luluh. Dan satu persatu mereka mengikuti jejak Rasulullah. Sebagian mereka menangis karena menyesal atas kekhilafan yang terlanjur dilakukannya.

Peristiwa mah penting itu kemudian diabadikan dalam Al-Quran,

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu dibawah pohon. Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka,lalu menurunkan ketenangan atas mereka, dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath : 18)

Janji Allah menjadi kenyataan. Dua tahun setelah kaum muslimin menerima perjanjian Hudaibiyah, pasukan muslimin berhasil menaklukkan kota Makkah, dan mem­peroleh kemenangan sebagaimana yang telah dijanjikan. Kemenangan dalam menaklukkan kota Makkah, tidak lain karena kaum muslimin menerima perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian itu bisa diterima kaum muslimin secara rela, setelah kasus penyembelihan kurban dan memotong rambut yang dilakukan Rasulullah itu.

Siapakah sebenarnya tokoh wanita di balik peristiwa itu? tidak lain adalah Hindun binti Abi Umayyah, atau yang lebih dikenal dengan nama Umi Salamah. Seorang muhajir pertama dari kalangan muslimah ketika Rasulullah berhijrah ke Habasyah.

Menyusul Hijrah .

Umi Salamah adalah puteri Abi Umayyah bin Mughi­rah, salah seorang dermawan Arab yang tiada tandingan­nya pada saat itu. Ia memperoleh panggilan bekal pengendara. Karena bila bepergian, tidak pernah mem­biarkan kawan-kawannya membawa bekal sendiri-sendiri. Ia yang mencukupi segala kebutuhan mereka. Yakni dengan bekalnya yang sangat banyak.

Ibunya bernama Atikah binti Amir bin Abi Rabi’ah Al-­Kinaniyah, dari Bani Firas yang terkenal dengan kemulian­nya sejak turun temurun. Suami pertamanya bernama Abi Salamah, seorang sahabat besar dari golongan muhajirin pertama. Dan sekaligus sebagai seorang mujahidin yang tulus. Abi Salamah, adalah putera bibi Rasulullah. Yakni Barrah binti Abdul-Muthalib, dan saudara sepersusuan dengan Rasulullah pada Tsuwaibah, bekas hamba sahaya Abu La­hab.

Umi Salamah dikenal sebagai salah seorang periwayat sejumlah hadist. Pada akhirnya, setelah janda kemudian menjadi isteri Rasulullah, setelah suaminya gugur sebagai syuhada dalam peperangan. Sebagaimana halnya Aisyah, Umi Salamah juga merasa bangga atas diturunkannya wah­yu di rumahnya kepada Rasulullah. Yakni Surat At Taubah ayat 102 mengenai sahabat Abi Lubabah.

“Dan ada pula orang-orang lain yang mengakui dosa­-dosa mereka. Mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah­-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguh­nya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”

Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah mengawini Umi Salamah, aku merasakan kecemburuan dan kesedihan yang sangat. Karena beliau menyebut-nyebut kecantikannya. Aku pun berusaha melihat Umi Salamah dari dekat, hingga bisa menyaksikan kebenaran kecantikan paras wajah Umi Sala­mah. Ternyata, demi Allah, kecantikannya luar biasa. Le­bih cantik dari apa yang digambarkan Rasulullah.”

Umi Salamah dan Abi Salamah suaminya, termasuk kaum muslimin pertama yang ikut hijrah ke Habasyah. Ke­mudian hijrah ke Madinah Al-Munawarah. Hijrahnya ke Madinah, adalah kisah iman yang tulus dengan pengorba­nan yang besar, serta ketabahan dalam memandang pen­deritaan.

Ketika Abi Salamah bertekad hijrah ke Madinah ber­sama rombongan Rasulullah, maka segera menyiapkan se­ekor unta. Lalu meletakkan Umi Salamah dan anaknya yang bernama Salamah ke atas punggung unta. Bani Mu­ghirah, kelurga Umi Salamah berusaha mencegah mereka berhijrah. Yakni dengan merebut tali unta dan mengambil Umi Salamah.

Peristiwa ini membuat marah Bani Asad dari keluarga suami Umi Salamah. Dan terjadilah tarik menarik di antara mereka. Saling berebut. Abi Salamah berhasil ditahan oleh Bani Asad, keluarganya. Sedang Umi Salamah sendiri ber­hasil ditahan oleh Bani Mughirah sampai setahun lamanya. Umi salamah harus ikhlas berpisah dengan anak dan suaminya.

Selama satu tahun berpisah, Umi Salamah setiap pagi pergi menuju Al-Abtah di Makkah. Di sana ia duduk me­nangis hingga sore hari. Suatu hari, lewat seorang lelaki yang menaruh kasihan kepadanya. Lelaki itu berkata kepa­da Bani Mughirah, “Tidakkah kamu keluarkan wanita yang malang ini? Kamu telah memisahkannya dengan anak dan suami.”

Bujukan lelaki itu akhirnya meluluhkan hati Bani Mughi­rah, hingga mengizinkan Umi Salamah menyusul suaminya ke Madinah. Itulah penderitaan seorang wanita yang tetap kukuh pendiriannya untuk berhijrah bergabung dengan Rasulullah memperjuangkan agama Islam.

Di Madinah, Umi Salamah melahirkan putera-puteranya. Yakni Umar, Durrah, dan Zainab. Selain tekun mendidik anak-anaknya, Umi Salamah tidak pernah absen ikut berperang bersama kaum muslimin yang lain, mengibarkan bendera Islam dan menyiarkan dakwahnya.

Umi Salamah adalah seorang wanita yang ikut terlibat dalam perang Badar, perang pertama kali yang menentukan sejarah Islam. Bahkan Rasulullah pernah mengangkat Umi Salamah sebagai wakilnya di Madinah ketika beliau keluar melancarkan perang Al-Asyirah. Beliau menyerahkan panji perang kepada Bani Asad, dan Rasulullah pun ikut berperang bersama mereka hingga memperoleh kemenang­an. Setelah mendapatkan kemenangan, mereka kembali ke Madinah. Abi Salamah selaku panglima perang, kembali ke Madinah dengan mengeluhkan luka lamanya sewaktu ikut perang Uhud.

Dipinang Rasulullah

Akibat luka yang diderita pada perang Uhud, Abi Sala­mah wafat. Dan Umi Salamah kini menjadi janda. Ketika janda tua itu sudah habis masa iddahnya, Abu Bakar datang meminang. Namun ia menolaknya secara halus. Datang Pula Umar bin Khathab untuk meminang, tapi juga ditolak. Baru ketika Rasulullah mengirim seorang utusan untuk meminang, Umi Salamah menerimanya secara ikhlas.

Sebelumnya, Umi Salamah mengirim seorang utusan kepada Rasulullah untuk menyampaikan isi hatinya. Di katakan, bahwa ia sangat pecemburu sehingga khawatir akan membuat Rasulullah marah dengan kecemburuannya itu. Selain itu dikatakan, bahwa ia sudah lanjut usia, lagi pula banyak anak.

Rasulullah memberikan jawaban, “Jika engkau sudah lanjut usia, aku pun jauh lebih tua daripada kamu. Tentang kecemburuanmu, aku akan berdoa kepada Allah agar menghilangkannya dari dirimu. Tentang anak-anakmu, maka mereka adalah tanggungan Allah dan Rasul-Nya.”

Maka kemudian muhajir wanita pertama ini menikah secara resmi dengan Rasulullah, sebagai ibu kaum muk­minin.

Tentang ketabahannya menerima musibah, bisa dilihat dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim, bahwa Umi Sala­mah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw ber­sabda: “Tidaklah seorang hamba ketika mengalami musibah lalu mengucapkan kalimah: Inna lillahi wa inna ilaihi ra­ji’un (Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam mu­sibahku, dan gantilah aku dengan yang lebih baik darinya), melainkan Allah akan memberinya pahala dan menggan­tinya dengan yang lebih baik.” Umi Salamah berkata: “Ke­tika Abi Salamah (suamiku) meninggal, aku mengucapkan doa itu. Maka Allah kemudian mengganti dengan yang lebih baik daripadanya. Yakni diganti dengan Rasulullah.”

Tentang kecemburuan antara suami isteri, bisa disimak dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad. Umi Salamah pernah berkata kepada suaminya: “Kemarilah sa­yang, aku berjanji padamu untuk tidak menikah sesudahmu. Dan jangan pula kamu menikah sesudahku.” Abi Salamah menjawab:”Apakah engkau taat kepadaku?” “Ya,” jawab Umi Salamah.

Lalu Abi Salamah berkata lagi: “Jika aku meninggal, maka menikahlah.” Selanjutnya Abi Salamah memanjatkan doa: “Ya Allah, karuniailah Umi Salamah sepeninggalku nanti seorang lelaki yang lebih baik daripada aku. Yang ti­dak menyusahkan dan tidak mengganggu kehidupannya.”

Umi Salamah lalu berkata: “Ketika Abi Salamah wafat, aku berkata: “Siapa gerangan orang yang lebih baik dari­pada Abi Salamah?” Aku menunggu dan menunggu. Ter­nyata kemudian Rasulullah menikahi aku.” Suatu kisah ka­sih atas kesetiaan pasangan suami istri yang pantas dijadi­kan suri teladan pasangan-pasangan suami istri yang lain.

Serahkan Puteranya.

Sebagai prajurit muslimah, Umi Salamah bukan saja ikut dalam perang Badar dan penaklukan kota Makkah. Tapi, ikut pula bersama Rasulullah mengepung Thaif dan menyerbu Hawazin. Ia juga ikut menyerbu Tsaqif dan menaklukkan Khaibar bersama pasukan muslim lainnya.

Kepada seorang wanita, Umi Salamah pemah berkata: “Seandainya Allah mewajibkan jihad atas kita kaum wanita sebagaimana kaum lelaki, niscaya kita akan mendapat pa­hala seperti mereka.” Maka kemudian turunlah ayat:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di­karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari yang lain. Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan.” (QS.An-Nisa’: 32).

Suatu saat terjadi fitnah besar. Peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah. Umi Salamah menyerahkan Umar (puteranya) kepada Ali bin Abi Thalib, dengan alasan ia tidak bisa keluar bersamanya karena sebagai ibu kaum mukminin. Kemudian ia pergi kepada Aisyah, dan memper­masalahkan hingga mengapa ia berperang dengan Ali bin Abi Thalib. Sebab yang demikian termasuk menentang kepada khalifah.

Umi Salamah berkata: “Untuk apa keluar? Allah di be­lakang umat ini. Seandainya aku mengikuti jejakmu ini, ke­mudian dikatakan: “Masuklah ke sorga Firdaus”, tentu aku malu berjumpa dengan Muhammad. Karena telah mendengar hijab yang dipasangnya kepadaku.” Itulah sikap dari pendirian Umi Salamah, seorang prajurit muslimah dan isteri Rasulullah.

(sumber : Namadzijul Mar-atil Muslimah, Prof.DR.Ahmad Muhammad Jamal)

%d bloggers like this: