Siapakah Allah itu?

Seorang Muslim haruslah mempunyai pengetahuan yang benar dan memadai tentang Sang Pencipta yang telah menciptakannya dan menciptakan alam ini. Pengetahuan ini bisa didapatkannya melalui ayat-­ayat Al-Qur’an dan dalil-dalil lainnya yang banyak mengungkapkan tentang hal ini.

Hendaklah ia mengetahui, sekaligus meyakini dengan sesung­guhnya, bahwa Sang Pencipta itu adalah esa, menjadi tempat bergan­tung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya. Di dalam Al-Qur’an dise­butkan, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura [42]: 11)

Tidak ada satu pun yang mampu menandinginya dalam hal apa saja. Ia pun tidak butuh kepada penolong yang akan membantu-Nya, dan tidak pula seorang penasehat yang akan menunjuki-Nya.

Dia tidak berupa jasmani yang dapat disentuh, bukan berupa jauhar (essensi) yang dapat dirasa, dan bukan pula suatu materi yang pada suatu saat bisa lenyap. Ia tidak tersusun atas beberapa bagian, bukan berbentuk alat atau satu racikan.

Dia-lah Allah, yang Maha Mengetahui lagi Maha Menyaksikan segala sesuatu. Ia Mahaperkasa, Mahagagah, Maha Mengendalikan, Mahakuasa, Maha Menyayangi, Maha Mengampuni, Maha Menutupi aib, Maha Penolong, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Pencipta, Mahaawal dan Mahaakhir, Mahazhahir dan Mahabatin. Dia­lah satu-satunya yang patut disembah, Dia akan hidup buat selama-­lamanya, tidak akan pernah binasa, menjadi penguasa kerajaan semesta, selalu terjaga dan tidak pernah tidur, memiliki keperkasaan yang tak tertandingi dan kekuasaan yang maha mutlak. Bagi-Nya nama-nama yang agung dan sifat-sifat yang mulia. Dia-lah satu-satunya yang akan tetap abadi, sedang selainnya tidak. Dia berfirman:

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Sedangkan Dzat Tu­hanmu Yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”

(QS. ar-Rahman [55]: 27)

“BagiAllah-lah kemudaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik per­kataan perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya.”

(QS. Fathir [35]: 10)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian [urusan] itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadamya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”

(QS. as-Sajadah [32]: 5)

Dia-lah yang menciptakan makhluk sekaligus perbuatan-perbuat­annya, juga menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada yang dapat mendahulukan apa yang Dia akhirkan, tidak ada yang dapat mengakhir­i apa yang Dia dahulukan. Dia-lah yang menghendaki adanya alam ini dan fenomena apa pun yang terjadi di dalamnya. Dan kalau saja Ia herkehendak untuk menjadikan penduduk alam ini patuh dan taat semuanya, tentulah mereka tidak akan menyalahi aturan-Nya. Dia mengetahui apa yang tersembunyi, Maha mengetahui apa yang ada dalam dada (hati) makhluk-Nya, “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui [yang kamu nyatakan dan rahasiakan]; dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui (QS. al-Mulk [67]: 14) Dia-lah yang menggerakkan dan yang mendiamkan. Dia tidak dapat dibayangkan oleh benak, dan tidak mungkin dipersepsikan oleh pikiran. Tidak dapat dikiaskan (dibandingkan) dengan manusia. Mahasuci Dia dari menyerupai makhluk-Nya, tidak dapat disandarkan kepada apapun yang diciptakan dan dibuat-Nya. Dia mengetahui dengan pasti (jumlah) semua yang bernafas serta mengawasi perbuatan mereka semua, lalu membalasinya. Dia berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan
menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap
mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat sendiri-sendiri.”
(QS. Maryam [19]: 94-95)

“… agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa yang diusahakannya.” (QS. Thaha [20]: 15)

“Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang baik.”
(QS. an-Najm [53]: 31)

Dia tidak butuh kepada makhuk-Nya, melainkan merekalah yang butuh kepada-Nya. Dia memberi mereka rezeki, memberi mereka makan dan tidak diberi makan, memberi rezeki tapi tidak diberi rezeki, menutupi tapi tidak ditutupi. Dia ciptakan mereka, bukanlah lantaran mengharapkan kebaikan dari mereka untuk-Nya, atau untuk menolak mudharat dari mereka. Dia berbuat bukanlah atas suruhan yang lain, bukan karena ada interes atau tendensi tertentu, melainkan atas kehendak-Nya yang Mahamutlak. Dia berfirman, “Yang mempunyai singgasana, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki­-Nya.” (QS. al-Buruj [85]: 15-16)

Dia Mahatunggal dengan kekuasaan-Nya untuk mencipta apa yang dikehendaki-Nya. Dia kuasa untuk menghilangkan kemudharatan dan penderitaan, kuasa untuk mengubah bentuk dan keadaan. “Setiap waktu Dia mempunyai urusan.” (QS. ar-Rahman [55]: 29) Dia meng­giring semua yang telah Dia ciptakan kepada apa yang telah Dia tentu­kan. Dia Mahatinggi, Mahahidup dengan kehidupan-Nya, Maha Menge­tahui dengan ilmu-Nya, Mahakuasa dengan kekuasaan-Nya, Maha Berkehendak dengan kehendak-Nya, Maha Mendengar dengan pende­ngaran-Nya, Maha Melihat dengan penglihatan-Nya, Maha Berbicara dengan pembicaran-Nya, Maha Memerintah dengan perintah-Nya, Maha Melarang dengan larangan-Nya, dan Maha Memberitakan dengan pemberitaan-Nya.

Dia Mahatinggi, Mahaadil dalam setiap keputusan dan ketetapan­Nya, dan Maha Pemurah dengan segala karunia dan nikmat-Nya. Dia­lah yang memulai dan mengembalikan, yang menghidupkan dan mematikan, yang menciptakan dan mengadakan, yang memberi pahala dan siksa, Maha Pemurah; tidak bakhil, Mahalembut; tidak tergesa-gesa, selalu terjaga; tidak pernah tidur, selalu bangun dan tidak pernah tidur.

Dia-lah yang membuat makhluk-Nya tertawa dan bahagia, men­cintai dan membenci, murka dan ridha, marah dan murka, menga­sihi dan mengampuni, memberi dan menahan. Dia mempunyai dua tangan yang kedua-duanya adalah kanan, sebagaimana firman-Nya berbunyi, “… dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. az-Zumar [39]: 67) Ibnu Umar pernah menceritakan bahwa tatkala Rasulullah SAW membaca ayat ini di atas mimbar, beliau berkata, “Langit itu berada di tangan kanan-Nya, lalu dilemparkannya seperti seorang anak melemparkan bola, seraya berkata, ‘Aku-lah Yang Mahaperkasa.”‘ Ibnu Umar meneruskan, “Kala itu aku lihat badan beliau bergetar di atas mimbar hingga hampir jatuh.”

Ibnu Abbas mengatakan, “Jika semua langit dan bumi digenggam oleh Allah SWT dengan tangan-Nya, maka hilanglah kedua ujungnya dari pandangan.” Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang berbuat adil di dunia ini akan berada nanti pada hari Kiamat di atas mimbar­-mimbar dari cahaya yang terletak di atas tangan kanan Allah Yang Maha Pengasih. Kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Anas ibn Malik dari Ibnu Abbas)

Dia-lah yang menciptakan Adam dengan tangan-Nya dengan bentuk yang seperti ini, membuat surga ‘Adn dengan tangan-Nya, dan me­nanam pohon Tuba dengan tangan-Nya. Dia-lah yang menulis kitab Taurat dengan tangan-Nya lalu menyerahkannya kepada Musa dan berbicara secara langsung dengannya tanpa perantara dan tanpa pe­nerjemah.

Hati hamba-hamba-Nya berada di antara dua jari dari jari-jari-Nya; Dia membolak-balikkannya dan menyadarkannya sesuai kehendak-Nya. Langit dan bumi pada hari Kiamat berada dalam genggaman-Nya, sebagaimana diterangkan di dalam hadits. Jika Dia meletakkan kaki­-Nya ke dalam neraka Jahanam, maka bergejolaklah seluruh isinya seraya berkata, “Cukup, cukup!” maka bermunculanlah para penghuninya ke permukaan. Pada saat itu, mereka menjadi amat menyesal dan ber­duka cita lantaran melihat para penghuni surga bersuka cita di dalam surga dengan wajah yang berseri-seri. Allah berfirman, “Bagi orang­-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan (ada lagi) tambahannya.” (QS. Yunus [10]: 26) Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata pahala yang terbaik dalam ayat ini adalah surga, sedangkan kata tambahannya adalah melihat wajah Allah yang Maha Mulia. Firmannya lagi, “Wajah-wajah [orang mukmin] pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat.” (QS, Al-Qiyamah [75]: 21-22)

Pada hari Kiamat nanti, semua hamba akan dihadapkan kepada­Nya. Hisab (penghitungan) amal mereka ditangani sendiri oleh-Nya; tidak ada yang membantu-Nya. Dia menciptakan tujuh langit dengan bertingkat-tingkat, dan tujuh bumi dengan bertingkat-tingkat juga. Jarak antara bumi yang paling atas dengan langit dunia (langit pertama atau langit yang paling bawah) sama dengan jarak perjalanan selama lima ratus tahun, begitu juga jarak antara masing-masing langit itu dengan langit yang lain. Di atas langit ke tujuh terdapat sebuah telaga, dan di atas telaga itulah terletak Arsy, sedangkan Allah berada di sebelah atas dari ‘Arsy tersebut. Antara ‘Arsy dan tempat beradanya Allah SWT terdapat sebanyak 70.000 hijab (tabir) dari cahaya, kegelapan, dan lainnya yang hanya Dia sendiri yang mengetahuinya. “Arsy itu sendiri mempunyai para pemikulnya. Allah SWT berfirman, ” [Malaikat malaikat] yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya ….” (QS. al-Mu’min [40]: 7) ‘Arasy memiliki batas yang hanya diketahui oleh Allah. “Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy ….” (QS. az-Zumar [39]: 75) Arsy ini terbuat dari permata yaqut yang berwarna merah, luasnya adalah seluas tujuh langit dan tujuh bumi. Al-Kursi yang terdapat di dalam Arsy ter­sebut adalah ibarat seonggok tanah yang ada di atas hamparan tanah yang luas.

Allah Maha Mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, berikut jumlahnya serta perbuatan-perbuatannya. Dia Maha Menge­tahui amal perbuatan semua hamba, rahasia-rahasia mereka, serta jiwa dan isi hati mereka. Jelasnya, Dia Maha mengetahui segala sesuatu, tidak satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Dan tidak boleh mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat, melainkan berada di langit di atas ‘Arsy, sebagaimana difirmankan-Nya:

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS.Thaha 1201: 5)

“… lalu Ia bersemayam di atas ‘Arsy.”

(QS. al-A’raf 171: 54)

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya.”

( QS.Fathir [35]: 10)

Diriwayatkan bahwa ketika seorang budak wanita ditanya orang, “Dimana Allah?” Ia tidak menjawabnya melainkan mengisyaratkan telunjuknya ke langit. Sikap budak ini dibenarkan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda, “Setelah Allah SWT selesai menciptakan makhluk, ketika bersemayam di atas Arsy, Dia tuliskan (tetapkan) sebuah ketetapan atas diri-Nya yang berbunyi, “Sesungguhnya rahmat­-Ku mengalahkan (dalam riwayat lain, mendahului) kemarahan-Ku”.

Mengenai bersemayam-Nya Allah SWT di atas Arsy, hendaklah di­pahami begitu saja tanpa ditakwilkan (diartikan kepada makna lain), seperti mentakwilkan maknanya menjadi “menduduki” atau “menyen­tuh” Arsy tersebut seperti yang dikatakan oleh kelompok Mujassimah dan Karamiyah, atau menjadi “berada di atas” sebagaimana diyakini oleh kalangan Asy’ariyah, atau menjadi “menguasai” dan “mengalah­kan” sebagaimana dikatakan oleh kelompok Mu’tazilah. Sebab tidak satu pun nash (dalil-dalil agama) yang menyatakan makna-makna tersebut, tidak ada pula keterangan dari para sahabat, tabi in, dan ulama­-ulama salaf. Mereka mengartikannya apa adanya.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, istri Nabi tentang ayat,

“Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas Arsy,” (QS. Thaha [20]: 5). Ia (Ummu Salamah) berkata, “Cara bersemayam-Nya tidak bisa dicerna oleh akal, walau pun bersemayam itu sendiri tidak asing lagi baginya. Mengimaninya adalah wajib, sedang mengingkarinya adalah kufur.” (HR. Muslim ibn al-Hajjaj)

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal menjelang wafat­nya pernah berkata, “Terimalah ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat­sifat Tuhan seperti apa adanya, tanpa ditasybih (dicari pengertian lain yang mirip dengan pengertiannya), dan tanpa di-ta’thil (mengalihkan­nya kepada pengertian lain yang berbeda sama sekali dengan pengerti­annya) Dalam riwayat lainnya, ia juga pernah berkata, “Aku bukanlah termasuk orang-orang yang suka mempermasalahkan tentang sifat-­sifat Tuhan. Semua perkataan orang tentang sifat-sifat Allah SWT ini tidak akan aku terima melainkan yang sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Al-Qur’an atau hadits Nabi atau keterangan dari para sahabat atau tabi’in. Janganlah sampai mengatakan “bagaimana” dan “mengapa” terhadap sifat-sifat Allah; hanya orang-orang yang hendak menumbuh­kan keraguan-keraguanlah yang mengucapkannya.” Dan dalam topik lain beliau juga pernah berkata, “Kami beriman bahwa Allah SWT bersemayam di atas ‘Arsy dengan cara yang Dia kehendaki tanpa dapat digambarkan sama sekali oleh pikiran siapapun. Sebab, Sa`id ibn al Musayyab menerima dari Ka`ab al-Ahbar bahwa di dalam Taurat Allah SWT berfirman, “Aku adalah Allah; Aku berada di atas hamba-hamba-Ku. `Arsy-Ku berada di atas semua makhluk-Ku, sedangkan Aku sendiri berada di atas ‘Arsy-Ku itu. Di atasnyalah Aku mengatur hamba-hamba-Ku semuanya. Tidak ada satu pun dari hamba-hamba-Ku yang luput dari pengetahuan-Ku.”‘

Bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy, selalu disebutkan-Nya di  dalam semua Kitab Suci yang diturunkan-Nya kepada para nabi, namun tanpa penjelasan sedikit pun tentang cara bersemayam itu sendiri. Hakikat kebersemayaman Allah tidak akan bisa diterjemahkan ke dalam pengertian akal manusia; hanya Dia-lah yang mengetahuinya. Dalam hal ini, manusia dituntut untuk mengimaninya saja, sedangkan mengenai hakikatnya diserahkan saja kepada pengetahuan Allah.

Allah turun setiap malam ke langit dunia sesuai dengan cara dan kehendak-Nya yang hanya Dia sendiri yang mengetahuinya, lalu mengampuni dosa-dosa orang yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba Nya. Mahasuci Allah Yang Mahatinggi. Tidak ada tuhan selain Dia, bagi Nya nama-nama yang indah.

Turunnya Allah ini adalah turunnya dalam arti yang hakiki, bukan sekadar turunnya rahmat dan pahala-Nya seperti yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah dan Asy’ariyah. ‘Ubbadah ibn ash-Shamit berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir, lalu berkata, ‘Tidak seorang pun yang meminta sesuatu kepada-Ku melainkan akan Aku berikan permintaannya. Tidak seorang pun yang meminta ampun kepada-Ku melainkan akan Aku ampuni dia. Tidak ada seorang pun yang mengalami kesulitan hidup, lalu meminta tolong kepada-Ku melainkan akan Aku lepaskan dia dari kesulitannya.’ Kemudian Ia kembali lagi ke langit pada subuhnya.”

Rasulullah bersabda, : “Allah ‘Azza wa Jalla turun pada malam pertengahan bulan Sya’ban ke langit dunia, lalu Dia mengampuni setiap orang selain yang ada rasa dendam dan kemusyrikan di dalam hatinya.” (HR.Abu Bakar ash-Shiddiq) Beliau SAW juga bersabda, “Apabila telah lewat separuh pertama pada suatu malam, turunlah Allah SWT ke langit dunia lalu berkata, “Adakah yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni. Adakah yang meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku beri, Adakah yang bertobat kepada Ku, niscaya Aku terima.” Demikianlah sampai terbit fajar.” (HR. Abu Hurairah)

(sumber : Al-Ghuniyyah Li Thalibi Thariq al-Haq , Syekh Abdul Qadir Jailani)

%d bloggers like this: