Ruqayah binti Muhammad

RUQAYAH – MENANTU ABU LAHAB

Abu Lahab, adalah cermin manusia durhaka yang na­manya diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah swt telah me­negaskan :

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya harta bendanya, dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula isterinya, si pembawa kayu bakar. Yang lehernya ada tali dari sabut.” (QS:Al-Lahab: 1-5)

Ayat diatas cukup menggambarkan betapa jahatnya Abu Lahab dan Umi Jamil, isterinya. Sebutan hamma latal hathab atau Si pembawa kayu bakar, adalah ungkapan dalam bahasa Arab bagi si penyebar fitnah.

Ketika Muhammad sudah diangkat menjadi rasul, Umi Jamil pernah memasang duri-duri dijalan untuk menjebak Rasulullah. Pernah pula pada suatu kali Abu Lahab akan memukul mulut Rasulullah dengan batu yang ada di gengga­mannya, ketika beliau sedang duduk bersama para sahabat di dekat Ka’bah. Untunglah Allah memalingkan penglihatan Abu Lahab, hingga tidak melihat Rasulullah.

Abu Lahab dan Umi Jamil itulah yang pernah menjadi besan Rasulullah dan Khadijah. Yakni dengan mengambil anak menantu Ruqayah dan Umi Kultsum, kakak-beradik puteri Rasulullah. Tapi, hal itu terjadi ketika Muhammad belum diangkat sebagai utusan Allah.

Dilamar Abi Thalib

Suatu hari datanglah utusan keluarga Abdul-Muthalib (kakak Nabi) yang dipimpin oleh Abi Thalib, paman Mu­hammad. Kedatangan mereka ingin melamar Ruqayah dan Umi Kultsum puteri Muhammad untuk dinikahkan dengan kedua anak Abu Lahab (Abdul-Uzza). Yakni Utbah dan Utaibah.

Ketika Khadijah diminta pertimbangan oleh Muham­mad, sebenarnya sudah menyangsikan perkawinan itu. Pasalnya, Umi Jamil calon mertua wanita kedua puterinya itu dikenal sebagai wanita jahat, bengis, keji, angkuh, dan kasar. Tapi, Muhammad dan Khadijah merasa segan ter­hadap Abi Thalib, pamannya yang diutus meminang kedua puterinya.

Barangkali memang sudah ditakdirkan Allah, kedua puteri Muhammad harus menjadi menantu Abu Lahab, musuh kaum muslimin. Ruqayah menikah dengan Utbah, sedang Umi Kultsum menikah dengan Utaibah. Keduanya tinggal bersama para suami masing-masing di rumah mer­tuanya yang jahat. Bisa dibayangkan, betapa penderitaan batin mereka.

Benar juga apa yang menjadi kekhawatiran Khadijah. Sebentar-sebentar Ruqayah dikembalikan kepada Rasulullah, lalu kemudian. Bukan saja karena ulah kebengisan mertua wanitanya, perceraian iatu terjadi. Tapi juga atas kehendak para musuh Rasulullah. Maksudnya agar Rasulullah disibukkan oleh urusan kedua anaknya, dan tidak sempat lagi memikirkan urusan dakwah Islamiah.

Rasulullah menerima takdir Ilahi dengan ridha. Ruqayah kembali ketangan Rasulullah, dan kemudian malah memperoleh suami yang jauh lebih baik daripada anak Abu Lahab. Lelaki itu adalah Utsman bin Affan, pemuda yang termasuk delapan orang pertama masuk Islam. Dan termasuk pula salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan masuk sorga. Nasabnya cukup mulia. Dari pihak ayah bertemu nasab dengan Rasulullah pada Abdul Manaf bin Qushay. Sedang dari pihak ibu, bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdul Muthalib.

Utsman bin Affan disamping dikenal sebagai pemuda yang bernasab tinggi (bangsawan), juga berakhlak mulia dan berharta banyak. Dialah yang menemani Ruqayah hijrah pertama ke Habasyah setelah diteror kaum musyrikin. Lama sekali Ruqayah dan suaminya berpisah dengan Rasu­lullah. Untunglah di Habasyah Ruqayah mendapatkan teman yang baik hati, seperti Asma’ binti Umais, Umi Habibah binti Abi Sofyan dan Saudah binti Zam’ah.

Ashumah, (Najasyi Habasyah) sangat menghormati kaum muhajirin, dan senantiasa melindunginya. Ashumah selalu menolak upeti dari orang-orang Quraisy yang dibawa Amru bin Ash, dengan harapan agar dia bersedia mengusir kaum muslimin dari negerinya.

Setelah situasi aman, Ruqayah kembali ke Makkah berkumpul dengan ayahnya. Ia sangat gembira bisa ber­temu kembali dengan kedua saudara kandunya, Umi Kult­sum yang sudah diceraikan suaminya, den Fatimah adiknya. Tapi, Ruqayah merasa sangat sedih karena tak bisa lagi melihat wajah ibunya. Khadijah telah wafat ketika Ruqayah sedang berhijrah ke Habasyah.

Ruqayah merasa sedih dan menangis. Tapi, hal itu ti­dak bisa bertahan lama. Situasi menghendaki, agar Ru­qayah dan suaminya segera berhijrah untuk yang kedua kalinya. Yakni ke Madinah bersama kaum muslimin yang lain.

Kesedihan Ruqayah sedikit terobati dengan kelahiran puteranya. Tapi, anak itu meninggal ketika masih kecil. Dan akhirnya Ruqayah jatuh sakit, dan meninggal dengan ditunggui suaminya di tempat hijrah. Di kota Madinah. Al­lah memanggil wanita yang suci dan tabah hati ini dalam usianya yang relatif masih muda.

(sumber : Namadzijul Mar-atil Muslimah, Prof.DR.Ahmad Muhammad Jamal)

%d bloggers like this: