Khansa

SYAIR KHANSA’ BUAT SYUHADA

Namanya diabadikan lewat syair-syair karyanya, baik di zaman jahiliyah maupun di zaman Islam. Syair yang dilan­dasi rasa iman dan tawakal setelah kehilangan empat putera­nya di medan jihad. Mati syahid pada jalan Allah dalam pe­rang Qadisiyah. Suatu manifestasi dari rasa syukurnya, karena telah berhasil mempersembahkan putera- puteranya yang terbaik untuk menjunjung tinggi dan menegakkan agama Allah.

Dia adalah Tumadhir binti Amru bin Syarid As Sula­miah Al-Mudhariah. Atau lebih akrab dengan panggilan Khansa’. Seorang wanita Arab bernasab tinggi, berakhlak mulia, dan berbakat menggubah syair-syair bermutu. Dua saudara lelakinya yang bernama Mu’awiyah dan Shakhr adalah lelaki tampan, pemberani, lisannya sangat fasih, dan akhlaknya sangat terpuji.

Kedua saudara lelaki itu tewas dalam peperangan melawan Bani Murrah. Mu’awiyah tewas terbunuh, dan se­lang beberapa saat Shakhr menyusul sebagai syuhada’ karena tusukan tombak di tubuhnya. Khansa’ merasakan kedukaan yang sangat dalam, hingga kemudian ia me­nangis. Kedukaannya memenuhi dunia Arab, karena diaba­dikan dalam sebuah syair. Dan, memang karya sastra dari syair-syairnya senantiasa mendendangkan duka dan ke­manusiaan.

Naiknya mentari mengingatkan aku pada Sakhr

Aku mengingatnya setiap mentari terbenam

Kalau bukan karena banyaknya orang-orang yang menangisi mayat-mayat mereka di sekitarku tentu telah terbunuh diriku

Tidaklah perlu mereka menangisi

orang seperti saudaraku

tapi kan kuhibur diriku dengan bersabar

Masuk Islam

Khansa’ telah banyak meneteskan duka hati lewat sya­irnya. Kedukaannya menjadi ringan, dan hatinya menjadi damai setelah dia bersama kaumnya datang menghadap ke­pada Rasulullah, menyatakan bai’at masuk Islam. Keluarlah dia dari tempat duduk Rasulullah dengan rasa penuh kei­manan dan kesabaran, sekalipun masih harus meratapi kedua saudaranya. Cuma, kini tidak meratap sambil me­nampar pipi dan merobek baju seperti yang dulu dilakukan. Islam sebagai agama yang baru saja dipeluknya, mengha­ramkan hal tersebut.

Di zaman pemerintahan Umar bin Khathab, pernah Khansa’ datang kepada khalifah sambil menangisi kedua saudara lelakinya yang telah tewas di medan laga itu. Dan Umar pun marah kepadanya. Lalu Khansa’ dinasehati, ba­hwa kedua saudara lelakinya telah binasa di zaman jahili­yah, yang tentu saja telah menjadi kayu neraka.

Mendengar kata-kata khalifah Umar bin Khathab, Khansa’ lalu berkata, “Memang itulah yang memperlama kesedihanku. Jika dulu aku menangisi mereka untuk mem­balas dendam, sekarang aku tangisi mereka karena masuk neraka.” Dan Khansa’ pun terus menangis di hadapan Umar sampai khalifah merasa kasihan, kemudian menoleh kepada para sahabatnya seraya berkata, “Biarkan dia de­ngan urusannya.”

Keluar dari menghadap khalifah Umar, kemudian Khansa’ datang kepada Aisyah Umil-Mukminin. Di sana ia menumpahkan segala kesedihannya. Ia merasa memperoleh obat dan hiburan dari Aisyah, hingga menambah kesabaran dan ketakwaannya. Bahkan kemudian Khansa’ ikut bersama para wanita muslimah lainnya menyiarkan ajaran Islam dan berjihad di jalan Allah.

Nasib malang masih juga menyelimuti Khansa’. Empat orang puteranya sama-sama tewas dalam satu peperangan. Yakni perang Qadisiyah, pada tahun ke empat Hijrah. Tapi, bagi Khansa’ hal itu bukanlah suatu kemalangan. Bah­kan suatu kebahagiaan, karena ia dapat menyumbangkan puteranya untuk kepentingan Allah.

Pada suatu hari, Khansa’ pernah menasehati anak-­anaknya. Dengan lantang ia berkata, “Wahai anak-anakku, kalian masuk Islam dengan taat dan berhijrah atas kema­uanmu sendiri. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, se­sungguhnya kalian adalah putera seorang lelaki dan seorang perempuan. Aku tidak mengkhianati ayah kalian dan tidak mencemarkan saudara ibu kalian. Aku tidak menjelekkan asal keturunanmu, dan tidak pula merubah nasabmu. Kalian tahu, bahwa Allah menyediakan pahala yang banyak bagi kaum muslimin dalam memerangi orang-orang kafir. Dan ketahuilah, bahwa negeri yang kekal (akhirat) jauh lebih baik daripada negeri yang fana (dunia) ini. Maka bersabarlah dan tetaplah bersiap siaga, serta takutlah kepada Allah agar kamu beruntung. Wahai anak-anakku, bila kalian melihat perang telah berkobar, maka bersiaplah dan bertarunglah dengan gigih agar kalian mendapat kemenangan dan ke­muliaan. Masuk ke dalam sorga yang serba kekal.”

Dengan kobaran semangat ibunya, keempat putera Khansa’ maju ke medan laga dengan semangat jihad yang tinggi. Kaum muslimin berhasil memukul mundur tentara Persi, tetapi keempat putera Khansa’ semuanya tewas di medan perang Qadisiyah. Sebagai ibu yang beriman dan bertawakal, ia merelakan putera-puteranya gugur sebagai syuhada’. “Segala puji bagi Allah yang memuliakan aku de­ngan terbunuhnya anak-anakku. Dan aku berharap kepada Allah, agar mengumpulkan aku dengan anak-anakku di bawah naungan rahmat-Nya yang kekal.” Ujar Khansa’ lirih.

Adakah kini seorang wanita yang begitu tabah dan rela menyerahkan keempat puteranya mati syahid di jalan Allah sebagaimana Khansa’? Jawabnya, tinggal bagaimana kita mampu melandasi hidup dan kehidupan ini dengan iman yang kuat.

(sumber : Namadzijul Mar-atil Muslimah, Prof.DR.Ahmad Muhammad Jamal)

%d bloggers like this: