Tenggelamnya Kerajaan Lambu Garang

Dalam legenda dunia tersebutlah cerita tentang kerajaan Atlantis yang telah tenggelam ke dasar lautan. Sampai sekarang tempat sebenarnya kerajaan Atlantis tersebut masih diperdebatkan, walaupun banyak ahli yang menyebutkan bahwa lokasinya berada di Indonesia.

Terlepas dari masalah tersebut, dalam legenda masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, pun terdapat suatu legenda tentang tenggelamnya sebuah kerajaan ke dasar bumi. Kerajaan dimaksud dikenal dengan nama Kerajaan Lambu Garang. Seperi apa kisahnya?

Konon menurut cerita, pada zaman dahulu kala di daerah Tabalong terdapat sebuah kerajaan dengan rajanya yang bernama Lambu Garang, sehingga nama karajaannya juga disebut Kerajaan Lambu Garang.

Raja Lambu Garang adalah seorang raja yang bengis dan zolim. Apa yang menjadi keinginan sang raja harus dituruti. Jika ada yang berani membangkang, maka nyawa pembangkang pun akan rnelayang.

Begitu kejamnya sang raja, rakyatnya yang sebagian besar adalah petani diharuskan menyerahkan separuh hasil panennya kepada raja, meskipun tanah yang mereka garap adalah tanah mereka sendiri.

Raja Lambu Garang juga sangat doyan dengan wanita-wanita cantik, baik yang masih gadis, janda, bahkan istri orang sekalipun. Kalau raja menghendaki, maka masyarakat harus menyerahkannya untuk dijadikan gundik atau selir. Konon menurut cerita, gundik raja Lambu Garang mencapai 40 orang, sedangkan yang menjadi permaisurinya adalah seorang wanita cantik bernama Singkap Siang.

Sebagaimana raja-raja di kerajaan lain di nusantara yang mempunyai kesenangan berburu binatang ke dalam hutan, maka, raja Lambu Garang pun mempunyai kesenangan yang sama. Dia kerap berburu binatang seperti kijang dan lain-lain ke dalam hutan. Acara berburu tersebut sudah menjadi agenda bulanan raja lambu Garang dan hutannya pun berpindah- pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain.

Dalam perjalanan menuju hutan perburuannya tersebut raja Lambu Garang beserta rombongan pengawal-­pengawalnya sering melewati desa dan dusun, atau rumah-rumah terpencil yang ada di pedalaman. Dan pada saat itulah raja Lambu Garang dan pangawal- pengawalnya memasang mata, mencari wanita-wanita cantik untuk diboyong ke istana secara paksa guna dijadikan gundik raja Lambu Garang. Orang tua gadis atau si janda tidak bisa mencegah keinginan raja Lambu Garang karena takut nyawa mereka sekeluarga bakal melayang. Demikian juga kalau wanita tersebut sudah jadi istri orang. Kalau tidak ingin nyawanya melayang maka sang suami harus membiarkan istri-istrinya d bawa ke istana untuk dijadikan gundik raja Lambu Garang

Nafsu syahwat raja Lambu Garang rupanya tidak ada habis-habisnya, meskipun telah mempunyai permaisuri Singkap Siang serta 40 orang gundik yang cantik-cantik, tetapi dia masih terus saja berburu wanita cantik.

Suatu hari dalam acara berburu ke hutan Harung, raja Lembu Garang bertemu dengan seorang wanita yang kecantikannya melebihi Para wanita yang telah menjadi gundiknya. Bahkan lebih cantik dari permaisuri Singkap Siang. Karena itu, terbersitlah keinginan raja Lambu Garang untuk menjadikannya sebagai gundik ke-41. Namun kali ini dia ketemu batunya. Betapa tidak, wanita yang bernama Diang Sasar tersebut adalah isteri dari tokoh masyarakat Harung yang bernama Datu Magat.

Datu Magat adalah tokoh masyarakat Desa Harung, selain mempunyai sawah dan ladang yang sangat luas, dia juga seorang yang pemberani sehingga raja Lambu Garang yang terkenal bengis pun tidak berani menyentuhnya.

Di Desa Harung itulah Datu Magat tinggal bersama istrinya yang cantik jelita yang bernama Diang Sasar serta adik ipar perempuannya bernama Diang Wangi, Diang Wangi juga memiliki kecantikan yang luar biasa, hingga tidak salah jika disebut sebagai bunga Desa Harung yang menyebarkan aroma harum kemana­-mana.

Namun sungguh amat disayangkan, keharuman Diang Wangi tercemar oleh ulah seorang lelaki misterius yang pada malam-malam tertentu datang dan pergi tanpa diketahui oleh orang lain. Bahkan, Diang Wangi sendiri pun tak tahu siapa lelaki yang menggaulinya hingga hamil itu. Hal inilah yang menimbulkan kegemparan.

Menurut pengakuan Diang Wangi kepada kakaknya, Diang Sasar, bahwa dia sudah beberapa bulan terakhir tidak mendapatkan tamu bulanan. Hal ini membuat hati Datu Magat marah besar kepada orang yang telah membuat adik iparnya hamil tanpa nikah itu. Namun kemarahannya saat itu tidak dapat tersalurkan karena Diang Wangi sendiri tidak tahu siapa lelaki yang telah menggaulinya itu. Menurut Diang Wangi, pada malam-malam tertentu, dalam keadaan gelap gulita dan setengah sadar, dia merasa ada seseorang yang menggaulinya. Ketika kesadarannya telah pulih kembali, lelaki tersebut sudah tidak tampak batang hidungnya Dan begitulah yang terjadi berulang-ulang

Datu Magat termenung mencari akal bagaimana cara menangkap lelaki misterius yang telah menghamili adik iparnya. Setelah itu Datu Magat mencari bamban sebanyak-­banyaknya, diambil kulitnya dan disambung-­sambung menjadi gulungan tali yang sangat panjang. Pada malam-malam tertentu yang diperkirakan lelaki misterius tersebut datang, maka Datu Magat berjaga-jaga di luar rumah tanpa sepengetahuan orang lain karena tempatnya tersembunyi.

Benar saja!, malam itu Datu Magat tiba-­tiba melihat di sekitar rurnahnya terserang kabut. Mula-mula Datu Magat mengira kabut itu hanyalah kabut biasa berupa embun karena hari sudah menjelang pagi. Namun lama kelamaan kabut tersebut semakin tebal, dan bersamaan dengan itu perasan ngantuk mulai menyerang. Berulang- ulang Datu Magat mengucek- ngucek matanya untuk menghilangkan kantuk yang datang menyerang, namun kantuk nya malah semakin hebat. Sejurus kemudian barulah Datu Magat sadar bahwa kabut dan kantuk yang datang menyerang adalah kiriman ilmu sirep dari orang misterius yang ingin menggauli Diang Wangi. Maka, dengan seketika Datu Magat duduk bersila sambil mensedekapkan kedua tangannya ke dada, mulutnya komat- kamit merapalkan mantera untuk melawan serangan gaib tersebut.

Sejurus kemudian perlahan tapi pasti, sinar kuning memancar dari dalam tubuh Datu Magat. Sinar kuning tersebut dengan perlahan mengusir kabut hitam yang rnenyelimuti sekeliling rumahnya, dan ketika itulah terlihat sekelebat bayangan orang tinggi besar bertubuh telanjang. Hanya bagian alat vitalnya saja yang tertutup cawat yang terbuat dari kulit kayu Daluang.

Sekejap kemudian, entah bagaimana orang tersebut sudah berada di dalam bilik Diang Wangi yang tergolek pulas­. Lelaki misterius tersebut segera melepas cawatnya kemudian mendekati Diang Wangi dengan penuh nafsu, sehingga tidak mengetahui kalau Datu Magat telah berada di tempat yang sama. Bahkan, Datu Magat telah mengikatkan tali dari kulit bamban ke cawat lelaki misterius tersebut. Setelah itu Datu Magat kembali ke persembunyiannya.

Kabut malam mulai hilang hingga cahaya bulan purnama menerobos lewat jendela yang terbuka. Di dalam bilik Diang Wangi, si lelaki misterius mulai panik, takut Diang Wangi menyadari kehadirannya. Dia sendiri tak sadar bahwa cawatnya sudah diikat dengan tali bamban. Setelah puas melampiaskan nafsunya, secepatkilat pula dia meninggalkan tempat tersebut.

Besok paginya, Datu Magat berjalan mengikuti tali bamban yang telah diikat dicawat di lelaki misterius itu. Maka dengan mudah akhirnya dia dapat menemukan si lelaki misterius yang memiliki tubuh tinggi besar itu sedang tertidur pulas di bawah sebatang pohon besar. Sosok tubuhnya yang besar seperti raksasa, tentu saja tidak seimbang dengan ukuran tubuh Datu Magat. Namun sebagai seorang lelaki sejati Datu Magat tidak mau dikatakan sebagai seorang pengecut, yang hanya bisa membunuh orang yang sedang tidur. Datu Magat ingin bertarung secara jantan meskipun secara fisik dia kalah besar dan kekar.

Untuk itu Datu Magat berusaha membangunkan si lelaki misterius. Tetapi

sialnya meskipun Datu Magat sudah berteriak berulang kali, lelaki misterius itu tetap tertidur pulas. Melihat hal demikian Datu Magat tidak putus asa, karena lelaki misterius bertubuh tinggi besar tersebut memiliki bulu-bulu tubuh yang lebat dan panjang, maka dengan sekuat tenaga dia mencabut bulu di kakinya sehingga si lelaki tarsebut tersentak kaget dan terbangun.

Menyaksikan keberadaan Datu Magat dihadapannya si lelaki misterius segera mengakui kesalahannya, memohon maaf dan minta dikawinkan dengan Diang Wangi sebagai tanggungjawab atas perbuatannya

Ternyata Datu Magat mau memaafkan lelaki tersebut kemudian mengawinkannya dengan Diang Wangi. Karena kebaikan Datu Magat pula maka si lelaki misterius yang sepertinya berasal dari golongan bangsa jin tersebut berjanji aka membantu Datu Magat jika kelak sang

datu membutuhkan bantuannya, maka panggil namanya 3 kali dan diapun segera datang memberi bantuan.

Buah Limpasu dan Terbenamnya Kerajaan Lambu Garang

Sebagaainana telah diceritakan di atas bahwa raja Lambu Garang terpesona dengan kecantikan Diang Sasar, istri Datu Magat, tokoh Desa Harung. Karena Datu Magat adalah seorang tokoh yang dihormati dan disegani, maka raja Lambu Garang tidak mau gegabah mengambil Diang Sasar dengan kekerasan, sebagaimana selama ini dia lakukan. Dia sadar sepenuhnya, kalau dia mengambil dengan menggunakan kekerasan, maka bukan hanya mendapat perlawanan dari Datu Magat, tetapi juga dari masyarakat Harung dan sekitarnya, bahkan bisa meluas sampai kemana-mana. Tindakannya ini bukan tindak mungkin juga akan membangkitkan perlawanan dari orang-orang yang selama ini diambil paksa anak gadis dan istrinya. Mereka akan terpicu semangatnya melakukan perlawanan bersama Datu Magat.

Oleh karena itulah, raja Lambu Garang mencari akal bagaimana caranya

menjadikan Diang Sasar sebagai selir ke 41-nya dengan tanpa kekerasan. Akal licik raja Lambu Garang segera jalan, Dengan serta merta seolah penuh harap raja Lambu Garang meminta agar Datu Magat bersedia diangkat menjadi Patih di kerajaan Lambu Garang.

Tanpa sadar akan perangkap raja Lambu Garang, Datu Magat yang ahli pertanian tersebut menerima tawaran tersebut.

Oleh karena kedudukannya sebagai Patih Baras, maka Datu Magat harus

tinggal di dalam keraton, menempati salah satu.rumah yang disediakan olah raja untuk para pejabat kerajaan. Dengan demikian, maka hubungan raja Lambu Garang dengan Datu Magat beserta istrinya Diang Sasar menjadi semakin dekat , dan keinginan untuk menjadikan Diang Sasar sebagai gundik ke 41 pun semakin membuncah di dada raja Lambu Garang. Oleh sebab itulah sang raja segera menjalankan rancana berikutnya.

Raja Lambu Garang mengadakan pesta meriah selama 7 hari 7 malam. Seluruh anggota masyarakat diundang untuk menghadiri pasta meriah yang sebelumnya tidak pernah dilaksanakan itu. Tentu saja masyarakat menghadirinya dengan sukacita karena selama ini mereka selalu merasa ketakutan berada di dalam cengkraman raja Lambu Garang yang bengis dan kejam, serta selalu memeras mereka, namun tiba-tiba berubah menjadi sangat dermawan dengan mengadakan pesta meriah. Rakyat makan , minum gratis serta dihibur dengan berbagai macam pertunjukan yang mempesona.

Di kemeriahan pesta tersebut, raja Lambu Garang tiba-tiba ingin minum madu tawon. Dia pun segera memanggil Datu Magat yang telah Menjadi Patih Baras kerajaan Lambu Garang untuk menemaninya mencari madu lebah. Maka, berangkatlah raja Lambu Garang bersama Datu Magat mencari madu lebah ke dalam hutan disertai beberapa orang pengawal.

Sayang disayang, hutan yang dahulunya banyak sarong tawon ternyata sudah tak ada lagi sarang tawonnya. Satu-satunya sarang tawon yang ada hanya di atas satu pohon yang sangat tinggi dan sangat besar, tidak mungkin dengan cara,biasa dapat dipanjat, kecuali dipanjat memakai tangga. Oleh sebab itu dibuatlah tangga sambumg menyambung hingga sampai puncak pohon di mana sarong tawon berada.

Haripun mulai menjadi gelap karena malam mulai tiba. Sebagaimana kebiasaan masyarakat setempat, pada waktu itu kalau mengambil madu lebah waktunya malam hari.

Malam itu, atas perintah raja Lambu Garang dengan obor di tangan, Datu Magat naik,ke atas pohon besar tersebut untuk mengambil madu lebah. Sesampai Datu Magat di puncak pohon, maka mulailah dia mengambil madu lebah dimaksud.

Sementara itu raja Lambu Garang yang ada di bawah mulai melancarkan akal busuknya. Dia memerintahkan para pengawalnya agar memotong tangga hingga tidak tersisa lagi. Setelah itu, dan pada malam itu juga mereka segera kembali ke kerajaan Lambu Garang.

Setelah menjalankan siasat busuk ini, harapan untuk menjadikan Diang Sasar sebagai gundik ke 41 terbentang di depan mata karena secara akal sehat, tidak mungkin Datu Magat bisa turun dari pohon besar tersebut tanpa tangga. Kalaupun bisa bertahan tidak mungkin bisa hidup di atas pohon yang sangat tinggi tanpa makan dan minum dalam beberapa hari tentu akan menemui ajalnya.

Kepada Diang Sasar raja Lambu Garang mangatakan bahwa Datu Magat telah menemui ajalnya di dalam hutan sewaktu mencari madu tawon. Oleh karena itulah Diang Sasar diminta kesediaannya untuk dijadikan gundik yang ke 41.

Sementara itu, Datu Magat yang tidak bisa turun dari atas pohon besar karena tangganya sudah ditebang oleh Para pengawal raja Lambu Garang harus menjaga diri jangan sampai jatuh. Meskipun matanya sudah sangat berat karena mengantuk tetapi di paksa untuk tetap terjaga

Malam itu bisa dilewatinya dengan selamat. Keesokan harinya Datu Magat masih beiada di atas pohon dan mengharap pertolongan dari orang yang lewat di bawahnya, tetapi harapan tersebut sia- sia belaka karena hutan belantara tersebut sangat jarang dimasuki orang.

Di saat yang semakin genting, Datu Magat teringat dengan lelaki misterius yang memiliki tubuh tinggi besar seperti raksasa yang telah memperistri Diang Wangi, adik Diang Sasar. Bukankah lelaki tersebut telah berjanji akan membatu Datu Magat jika mengalami kesusahan?

Setelah menemukan akal ini, dengan penuh konsentrasi kemudian disalurkan lewat getaran batin, Datu Maga memanggil nama Ipra Maruwai, nama suami adik iparnya tersebut sebanyak tiga kali.

Surgguh aneh, tak lama kemudian Ipra Maruwai memang datang. Karena tubuhnya tinggi besar serta tenaganya sangat kuat, maka pohon yang tinggi besar tersebut dengan mudah dapat dipanjatnya, kemudian turun dengan menggendong Datu Magat dipundaknya.

Setelah sampai di bawah, Datu Magat menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.Menurut Ipra Maruwai kezholiman raja Lambu Garang sudah saatnya untuk diakhiri.

“Bagaimana cara mengakhiri kezholimannya, sebab dia raja yang sangat kuat?” tanya Datu Magat.

Kemudian , Ipra Maruwai memberi 3 biji buah limpasu, dengan pesan agar buah limpasu tersebut di lempar satu persatu ke tengah pesta yang masih berlangsung di kerajaan Lambu Garang. Apabila buah limpasu tersebut dilempar kemudian terdengar bunyi ledakan, maka Datu Magat dianjurkan untuk melarikan diri secepat mungkin sejauh-jauhnya.

Setelah menerima tiga butir biji buah limpasu serta menerima pesan dari Ipra Maruwai, Datu Magat segera kembali ke kerajaan Lambu Garang dengan berjalan kaki seorang diri, sedangkan Ipra Maruwai kembali ke tempat asalnya.

Datu Magat mencari jalan sepi agar tidak bertemu dengan orang-orang kerajaan Lambu Garang yang mengira dia sudah mati. Sampai akhirnya dia sampai di pusat pesta keramaian kerajaan Lambu Garang pada malam hari berikutnya.

Dengan melakukan penyamaran sebagai rakyat biasa yang ingin menonton pesta keramaian, Datu Magat dengan leluasa melihat raja Lambu Garang didampingi permaisuri beserta gundik-gundiknya berada di atas panggung kehormatan sedang menyaksikan pertunjukan kesenian. Datu Magat menjauh dari tempat tersebut. Dicarinya tempat yang sepi, kemudian dikeluarkannya sebutir biji buah limpasu dari tempat penyimpanannya terus dilemparkan ke tengah pesta yang sedang berlangsung

Namun aneh, tidak terdengar bunyi apapun. Diambilnya lagi buah itu dan dilemparkannya. Namun, lagi-lagi tidak terdengar bunyi ledakan seperti yang disebutkan oleh Ipra.

Suasana pesta semakin hingar bingar. Dengan rasa cemas, Datu Magat mengambil biji buah limpasu yang terakhir, serta dilempar dengan sepenuh tenaga dan sepenuh hati. Seketika terdengar ledakan. Mendengar ini, secepat kilat Datu Magat berlari bagaikan terbang meninggalkan tempat tersebut

Mendengar suara ledakan ditengah pesta meriah itu, raja Lambu Garang dan permaisuri Singkap Siang serta para gundik, pejabat-pejabat istana serta rakyat yang sedang larut dalam kegembiraan mengira ledakan tersebut hanyalah bunyi petasan yang dipesan dari negeri Tiongkok. Namun ternyata dampak bunyi ledakan tersebut sangat kuat, bangunan-bangunan pada ambruk, semua orang

panik berlari tidak tentu arah, saling bertabrakan, bahkan saling injak. Pokoknya, suasana sangat kacau balau.

Kejadian  berikutnya sungguh sangat dahsyat. Betapa tidak! tiba-tiba bumi bergoncang hebat. Seluruh tanah di Kerajaan Lambu Garang longsor, dan semua bangunan beserta para penghuninya terbenam ke dalam perut bumi. Kerajaan Lambu Garang rata dengan tanah, raja Lambu

Garang, permaisuri Singkap Siang, para gundik termasuk Diang Sasar, istri Datu Magat, para pejabat kerajaan serta rakyat kerajaan Lambu Garang semua menemui ajalnya. Mereka terkubur hidup-hidup dalam perut bumi.

Adapun Datu Magat yang lolos dari maut karena berhasil keluar dari kerajaan Lambu Garang kembali ke kampung Harung menemui adik iparnya yaitu Diang Wangi beserta suaminya yang telah memberi Datu Magat tiga butir biji buah limpasu. Dan dengan perantaraan buah limpasu tersebutlah riwayat kerajaan Lambu Garang berakhir.

%d bloggers like this: