Shafiyyah binti Huyay

Shafiyyah binti Huyay – Tawanan yang menjadi isteri

Dia adalah Shafiyah binti Huyay. Seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang dan berparas jelita. Sebelum masuk Islam ia menikah dengan Salam bin Abil Haqiq. Setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abil Haqiq. Keduanya adalah penyair Yahudi. Kinanah terbunuh ketika berhadapan dengan kaum muslimin pada waktu perang Khaibar. Shafiyah termasuk di antara wanita yang ditawan bersama wanita-wania lain.

Usai peperangan, Biial bin Rabah menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. Mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan sedih dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.

Ke­duanya dihadapkan kepada Rasulullah saw. Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam. Sedangkan putri pamannya menabur kepalanya dengan pasir dan merobek bajunya sambil meratap. Rasulullah saw bersabda kepada Bilal, “Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat ketika bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh ini.”

Rasulullah SAW mengulurkan sebuah selendang kepada Shafiyyah. Ini berarti Rasulullah saw memilihnya. Hanya saja kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah diambil sebagai istri atau sebagai budak atau sebagai anak. Selanjutnya Rasulullah SAW menerangkan kepada mereka, bahwa ia akan mengambilnya sebagai istri.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Anas bahwa ketika mengambil Shafiyyah binti Huyay, Rasulullah saw bertanya, “Maukah engkau menjadi istriku?”

Shafiyyah menjawab, “Ya Rasulullah, ketika masih musyrik, sungguh aku berangan-angan untuk menjadi istrimu. Bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu ketika aku memeluk Islam?”

Rasulullah saw segera menikahi Shafiyyah dengan maharnya adalah kemerdekaan Shafiyyah.

Nabi SAW menanti sampai keadaan kembali tenang. Setelah memperkirakan rasa takut istrinya hilang baru Rasulullah SAW mengajaknya pergi kembali ke Madinah bersama bala tentaranya.

Ketika di Shabba’, tak jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah diselenggarakan walimatul urs untuk Rasulullah SAW dan Shafiyyah. Diceritakan bahwa saat itu didatangkanlah Ummu Anas bin Malik. la menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian. Karena kelihaiannya dalam merias Ummu Sinan al Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita lebih putih dan cantik dari Shafiyyah. Pada ada acara itu, kaum muslimin memakan kurma, mentega, dan keju Khaibar hingga kenyang. Pada malam pertamanya  dengan Rasulullah SAW, Shafiyyah menceritakan tentang mimpi yang pernah ia alami.

Syhafiyyah bermimpi bahwa bulan telah jatuh ke kamarnya. Ketika bangun, ia ceritakan mimpi itu kepada Kinanah, suaminya terdahulu. Mendengar mimpi Shafiyyah, ia marah besar. “Engkau berangan­-angan ingin mendapatkan raja Hijaz itu (maksudnya Muhammad SAW),” ujar Kinanah,. Seketika itu juga Kinanah menampar wajah Shafiyyah hingga membekas.

Mendengar kisah itu, Rasulullah SAW tersenyum sambil memandangi wajah isterinya yang baru berusia tujuh belas tahun itu.

Tatkala rombongan sampai di Madinah, Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita langsung diketemukan dengan istri-istri yang lain. Shafiyyah ditempatkan di rumah sahabatnya, Haritsah bin Nu’man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka berdatangan untuk melihat kecantikan Shafiyyah. Rasulullah SAW sempat memergoki Aisyah yang sedang keluar sambil menutupi dirinya agar tidak terlihat Nabi. la masuk ke rumah Haritsah bin Nu’man. Ketika keluar dari rumah Haritsah, Rasulullah memergokinya dan memegang bajunya seraya bertanya samba tertawa, “Bagaimana menurut pendapatmu wahai yang kemerah-merahan?”.

Aisyah menjawab dengan wajah menunjukkan kecemburuan, “Dia tak lebih seorang wanita Yahudi.”

“Dia telah masuk Islam.” Bantah Rasulullah

Selanjutnya, Shafiyyah dipindahkan ke rumah Nabi. Tak dapat dihindari, istri Rasulullah SAW yang lain merasa cemburu dengan kehadiran Shafiyyah. Selain mengucapkan selamat kepada Rasulullah SAW, mereka juga meledek dengan mengatakan, “Kami adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.”,

Bahkan, suatu ketika sampai keluar ucapan Hafshah, “Dia adalah anak seorang Yahudi. Ucapan ini membuat Shafiyyah menangis.

Ketika Rasulullah SAW masuk ke kamarnya, Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

“Hafshah mengatakan aku anak seorang Yahudi,” jawab Shafiyah polos.

Rasulullah SAW bersabda menghibur, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi. Lalu, dengan alasan apa dia mengejekmu?”

Seperti diriwayatkan ahli sejarah, Shafiyyah masih tergolong keturunan Nabi Harun dan Nabi Musa. Dengan kata-kata itu, Shafiyyah menjadi tenang. la tidak lagi merasa rendah di hadapan istri Nabi yang lain. Bahkan, ia merasa bangga. Ketika ada di antara mereka yang coba meledek, dengan berani ia menjawab, “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?

Shafiyyah wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu’awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi’ bersama Ummuhatul Mukminin yang lain. Semoga Allah meridhai mereka.

%d bloggers like this: