Ihwal Penciptaan Penyakit Dan Penyebab Kematian

Tidak sedikit dari kita yang tak henti-hentinya memanjatkan doa agar berumur panjang, bahkan setiap orang lain mendoakan kita kebanyakan isinya agar kita senantiasa sehat wal afiat dan panjang umur…

Bisa dibilang jarang sekali orang yang berdoa mengharap kematian. Meskipun, diharapkan atau tidak, cepat atau lambat, kematian akan menjemput juga. Kematian senantiasa menjadi rahasia kehidupan sepanjang masa Tak seorang pun yang mampu menyingkap ihwal kapan dan dimana kematian akan terjadi. Baik untuk dirinya atau orang lain. Karena kematian merupakan perkara gaib yang hanya diketahui Allah SWT.

Sebab-sebab kematian seseorang memang beragam. Dari mulai terkena penyakit, kecelakaan atau musibah, bunuh diri, serta bencana alam, bahkan sampai kematian yang tidak diketahui sebab musababnya. Tidak jarang terjadi, ada orang yang sehat tiba-tiba meninggal dunia saat tengah duduk sendirian. Atau orang yang sedang tidur lalu tidak bangun lagi.

Keragaman sebab meninggalnya seseorang itu merupakan keterangan dari Allah SWT, jika Allah SWT telah menetapkan ajal bagi seseorang maka tak sedetik pun bisa dipercepat atau ditunda. Kendati ilmu kedokteran telah mampu memprediksi kapan kematian merenggut nyawa seseorang yang menderita penyakit tertentu, namun semua itu hanya sekadar prediksi semata. Pada akhirnya, kematian seseorang tetap minjadi hal yang gaib. Hanya Allah SWT yang mengetahui, karena Dia-lah yang menggenggam setiap nyawa makhluk-Nya.

Sakit Sebagai Penyebab Kematian

Di antara .sebab kematian adalah datangnya penyakit. Sifat penyakit ini sama halnya dengan kematian. la datang seperti. pencuri, merenggut kesehatan, sebagaimana kematian merenggut hidup seseorang. Dan hanya Allah SWT yang berkehendak kapan suatu penyakit ditimpakan kepada seseorang, dan kapan ia diangkat kembali (disembuhkan). Manusia, terutama para ahli_dalam hal ini hanya mampu menganalisa penyakit apa yang diderita oteh seseorang, dan mencoba untuk menyembuhkannya. Soal hasil Dia-lah yang menjadi penentu paling akhir, apakah seseorang akan sembuh dari penyakitnya, atau justru penyakit itu menggiringnya menuju kematian.

Menurut sebuah riwayat, bukan tanpa alasan jika Allah SWT menciptakan berbagai jenis penyakit yang dapat mendera hidup seseorang hingga kemudian menemui ajalnya. Hal ini erat kaitannya dengan awal mula pertunjukkan malaikat pencabut nyawa.

Dalam kitab At Tadzkirah fi ahwal al‑maut wa umur al-akhirah, imam al-Qurthubi mengutip sebuah riwayat dari az-Zuhri, Wahab bin Munabbih dan lainnya, yang menceritakan bahwa ketika itu Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawakan tanah kepada-Nya. Ketika diambil oleh Jibril, tanah memohon perlindungan kepada Allah dari Jibril, sehingga Jibril tidak jadi rnembawanya , dan hal yang sama juga terjadi pada malaikat kedua yang diutus.

Namun, tidak demikian halnya terjadi pada malaikat yang ketiga. Ia berhasil membawakan tanah kepada Allah SWT. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Apakah tanah itu tidak memohon perlindungan kepada-Ku dari kamu?” Malaikat menjawab, “Ya.” Allah bertanya lagi “Kenapa kamu tidak merasa kasihan kepadanya, seperti kedua temanmu? “Malaikat menjawab, “Aku lebih mengutamakan taat kepada Engkau daripada mengasihani ia (tanah).” Allah berfirman, “Pergilah! Kamu adalah malaikat maut, yang Aku beri kuasa untuk mencabut nyawa seluruh mahkluk.” Mendengar itu malaikat maut menangis.

Allah bertanya lagi, “Kenapa kamu menangis?” Malaikat pun menjawab, “Ya Tuhan, dari tanah ini Engkau ciptakan para nabi dan mahkluk pilihan lainnya. Dan Engkau tidak menciptakan mahkluk yang lebih mereka benci daripada kematian. Jika mereka mengenali aku, mereka pasti membenci dan mencaci maki aku”

Lalu Allah berkata kepada malaikat maut itu, “Sesungguhnya Aku akan menjadikan penyakit dan sebab-sebab lain yang mengantarkan pada kematian”. Allah SWT lalu menciptakan berbagai jenis penyakit dan berbagai macam sebab kematian.

Memang tidak ada keterangan tentang kesahihan riwayat di atas. Prof. Dr. Quraish Shihab dalam buku Yang Tersembunyi malah menyebutkan bahwa nama malaikat yang popular sebagai penyabut nyawa, Izrail, tidak ditemukan dalam al-Qur’an maupun hadits sahih.

Menurutnya, mengenai malaikat yang bertugas mencabut nyawa itu hanya disebut dalam al-Qur’an:

“Katakantah: “Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan (QS.As :Sajdah:21).

Dalam ayat lain, al-Quran hanya menamainya rasul-rasul (pesuruh-pesuruh Allah) untuk mencabut ruh.

“Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya, dan diutus­-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, ia diwafatkan oleheh Rasul-Rasul Kami, dan mereka (malaikat-malaikat itu) tidak melalaikan kewajibannya.” (QS: An`am: 61).

Namun demikian, riwayat di atas ada benarnya, jika Allah SWT menciptakan penyakit serta sebab-sebab kematian sebagai penghibur bagi malaikat maut karena bertugas sebagai pencabut nyawa, apalagi harus mencabut nyawa orang-orang yang dikasihi Allah serta para Nabi dan sebagainya adalah tugas yang tidak ringan. Tidak heran jika malaikat itu sempat menangis di hadapan Allah SWT. Dan pada kenyataannya, berbagai jenis penyakit serta sebab-sebab kematian yang lain dapat menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan bagi penderitanya. Maka wajar jika ini menjadi alasan yang bijak bagi malaikat pencabut nyawa untuk mengakhiri hidup seseorang. Karena dengan kematian, penderitaan yang disebabkan oleh penyakit atau sebab lainnya itu akan dihilangkan. Namun jangan dilupakan, semua proses itu tentu semata-mata atas kehendak Allah SWT.

Penyakit Sebagai Kafarat

Quraish Shihab dalam buku yang sama menguraikan bahwa pada dasarnya ada dua macam cara malaikat maut ini mencabut nyawa seseorang. Pandangan ini dipahami dari firman Allah SWT dalam al-Qur’an, Surat an-Nazi`at, ayat 1-2. Dalam hal tersebut Allah bersumpah:

“Demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan demi (malaikat malaikat) yang giat mengambil (nyawa) dengan lemah lembut”

Cara pertama adalah mencabut nyawa dengan cara keras, dan kedua mengambilnya dengan lemah lembut. Orang yang dicabut nyawanya dengan cara yang keras adalah orang-orang kafir yang.durhaka, sedangkan yang dicabut dengan lemah lembut adalah nyawa orang-orang yang taat kepada Allah.

Ada pula sebagian kalangan yang berpendapat, bahwa orang yang  nyawanya diambil dengan lemah lembut, meninggal dengan perlahan dan melalui proses tertentu. Sedangkan yang dicabut dengan keras adalah mereka yang meninggal mendadak, seperti karena serangan penyakit jantung, dan sebagainya.

Dalam hadits lain, yaitu riwayat Abu Daud dengan sanad yang sahih menurut Abu Hasan bin Hishar dari Ubaid bin Khaliud as Salmi, salah seorang sahabat Nabi, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “K.ematian mendadak  adalah hukuman yang .menyedihkan bagi orang kafir.” Namun, dalam hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, dari Aisyah ra: disebutkan bahwa, “Sesungguhnya kematian mendadak adalah kesenangan bagi orang mukmin dan menyedihkan bagi orang kafir.

Dengan demikian, jelas bahwa penyakit atau serangan penyakit memang menjadi, satu media yang memang mengantarkan seseorang kepada mati, selain sebab-sebab kematian yang lain. Cepat atau lambat, penyakit menjadi penyebab bagi kematian seseorang.

Lagi pula penyakit atau sebab-sebab kematian lain, seperti bencana, musibah, kecelakaan dan sebagainya diciptakan Allah SWT bukan semata-mat untuk membuat penderitaan bagi manusia. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu`aim, dari Ashim dan Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.”

Imam al-Qurthubi dalam kitab yang sama menjelaskan, bahwa sesungguhnya kematian adalah kafarat atau pengganti bagi segala penderitaan dan rasa sakit yang dialami seseorang. Bahkan dijelaskan pula dalam hadist riwayat Muslim; bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang Muslim yang ditimpa penderitaan berupa sakit dan lainnya, niscaya karenanya Allah akan menurunkan kejahatan-­kejahatannya seperti pohon yang menurunkan daun-daunnya.”

Juga disebutkan dalam hadist ma`tsur bahwa Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku tidak mengeluarkan seseorang dari dunia sedang Aku ingin mengasihinya, sebelum Aku cukupkan padanya atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan dengan sakit di tubuhnya, musibah yang menimpa keluarga dan anaknya, kesempitan kehidupannya, kesulitan rezekinya, sampai hal-hal yang terkecil lainnya. Apabila masih ada sisa dosanya, Aku akan memberinya dengan kematian, sampai akhirnya ia datang kepada-Ku seperti pada hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.”

Memang, hanya Allah SWT Yang Maha Berkehendak dengan apa yang diciptakan-Nya. Termasuk tujuan dari penciptaan penyakit dan musibah yang dapat menimbulkan kematian sebagaimana dipaparkan di atas. Keterangan di atas, sedikitnya mendorong kita agar mampu bersikap jernih memandang penyakit dan musibah yang menimpa kita selama ini. Ada hikmah yang mungkin jauh dari jangkauan pengetahuan kita.  Sebuah jawaban yang gaib yang hanya Allah saja yang mengetahui. Sebagaimana gaibnya kapan dan dimana penyakit, musibah, dan kematian itu akan menghampiri dan merenggut diri kita. Wallahu a`lam bi shawab.

%d bloggers like this: