Asal-usul Kerbau Rawa di Tanah Banjar

Menurut tutur yang berkembang, kerbau-kerbau rawa yang ada di tanah Banjar berasal dari lesung dan alu yang dikutuk oleh seorang nenek sakti. Nini Rancak, demikian namanya…


Konon pada zaman dahulu kala, ketika tanah Banjar (Kalsel) masih berada di bawah kekuasaan para raja yang bertahta di Kerajaan Negara Dipa, pernah hidup seorang nenek tua yang sangat ditakuti. Nama nenek tua itu adalah Nini Racak, yang kala itu usianya diperkirakan sudah 80 tahun.

Nini Racak hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot di Desa Tampulung sekitar satu hari perjalanan naik perahu dari ibukota kerajaan yang teletak di kota Amuntai. Dia ditakuti bukan karena apa-apa, tetapi karena kutukannya yang sangat bertuah. Jika dia sedang marah-marah, maka tidak ada seorang pun yang berani mendekat. Orang-orang takut jika nenek ini mengeluarkan sumpah serapah yang berisi kutukan maut. Siapa yang tidak takut jika dirinya tiba-tiba berubah wujud menjadi monyet karena dikutuk oleh Nini Rancak yang dilakukannya secara serampangan?

Konon, suatu ketika ada sejumlah pedagang asing menggelar barang dagangannya di pasar desa Tampulung. Mereka menjual barang- barang pecah belah seperti piring,cangkir, mangkok teko, dan kendi. Barang dagangan mereka laku keras Para pembeli lokal seperti adu cepat membeli barang pecah belah yang ditawarkan para pedagang asing tersebut. Mungkin karena kualitas barang yang mereka tawarkan memang terjamin mutunya.

Entah bagaimana mulanya, salah seorang di antara pedagang keramik asing itu ada yang terlibat adu mulut dengan Nini Racak. Para calon pembeli lokal sudah lari menjauh dari tempat kejadian perkara begitu mendengar Nini Racak mulai mengomel tidak karuan. Mereka takut terkena kutukan nyasar yang dilontarkan Nini Racak secara serampangan..

Namun, para pedagang asing yang belum tahu reputasi Nini Racak sebagai tukang kutuk bertuah tetap tenang di tempatnya berjualan. Bahkan, pedagang asing yang menjadi lawan adu mulut Nini Racak mulai mengeluarkan jurus olok-olok. Dia tertawa cengar-cengir sambil menunjuk dahinya sebagai isyarat Nini Racak adalah orang sinting.

“Dasar bodoh. Monyet…monyet… monyet…monyet…monyetl” Kutuk Nini Racak sambil menunjuk satu persatu pedagang asing itu.

Blap..! Aneh bin ajaib. Seperti disulap para pedagang asing itu berubah wujud menjadi lima ekor monyet.

Begitu berubah wujud menjadi monyet,mereka langsung pergi berloncatan. meninggalkan keramaian pasar desa Tampulung Menuju ke kawasan hutan alam yang ada di sekitar tempat kejadian perkara.

Gubuk reyot yang didiami Nini Rancak dikelilingi dengan aneka jenis pepohonan yang berbatang besar. Salah satu di antaranya adalah pohon Tangkalupa. Tanga setahu Nini Racak dan orang-orang sekampungnya, pohon Tangkalupa itu didiami oleh keluarga jin yang bernama Garuhuk Laki.

Garuttuk Laki sekeluarga adalah makhluk sejenis jin pemakan hewan. Sejak Garuhuk Laki sekeluarga tinggal diatas pohon Tangkalupa di samping gubuk reyot Nini Racak, banyak warga desa Tampulung yang kehilangan hewan peliharaannya, Mereka mengira hewan peliharaannya itu dimangsa binatang buas yang banyak hidup di dalam hutan yang tak jauh dari desa mereka.

Suatu ketika Nini Racak menumbuk padi di bawah pohon Tangkalupa. Bunyi alu yang menumbuk padi di lesung terdengar gaduh, duk…duk…duk.., Akibatnya, Jin Garuhuk sekeluarga menjadi terganggu karenanya. Jin Garuhuk Laki sangat kesal kepada Nini Racak. Dia tak bisa tidur karenanya. Padahal dia sedang diserang kantuk berat Maklumlah, hampir semalam suntuk dia berkeliaran ke seantero desa mencari.hewan peliharaan untuk makanan anak istrinya.

“Huh, nenek peot itu tampaknya harus diberi pelajaran. Saban pagi kerjanya menumbuk padi melulu,”.gerutu Jin Garuhuk Laki sambil melayang turun.

Tanpa setahu Nini Racak, Jin Garuhuk Laki memakani padi yang sedang ditumbuk Nini Rancak. Akibatnya dalam tempo singkat, padi itu habis tak bersisa.

“Hah, mana padiku. Mengapa habis tak bersisa seperti ini. Ke mana hilangnya?” Pekik Nini Racak begitu melihat lesungnya sudah kosong melompong tanpa padi sama sekali     . “Aduh, bagaimana ini? Berasku sudah habis, aku belum makan. Aduh, bagaimana ini?” Si nenek . kebingungan

“He…he…he…baru tahu rasa kau nenek peot.” Sinis Jin Garuhuk Laki sambil terkekeh-kekeh melihat tingkah laku Nini Racak yang begitu kebingungan akibat ulah usilnya itu.

Sementara itu, Nini Rancak masuk ke dalam gubuk reyotnya untuk mengambil padi sebagai ganti padinya yang hilang entah ke mana. Tapi, kejadian yang sama terulang lagi. Padi yang sedang ditumbuknya di lesung kembali hilang tak tahu entah kemana.

Nini Rancak jadi sedemikian jengkel karenanya. Sebaliknya Jin Garuhuk Laki yang sedang memantau kejadian itu dari atas pohon Tangkalupa sudah terkencing-kencing karena terlalu banyak tertawa.

“Ha..ha..ha.. lucu juga permainan ini!” katanya sambil terus terkekeh-kekeh.

“Dasar lesung sialan. Mengapa kau makan padiku, hah?” geram Nini Rancak.

Rupa-rupanya, Nini Racak menduga padinya habis karena dimakan oleh lesung miliknya. Dia sama sekali tidak mengira jika yang memakan padinya itu adalah Jin Garuhuk yang memang tidak kasat mata..

“Semakin lama alu dan lesungku ini semakin dungu saja. Sekarang dungunya sudah setara dengan kerbau. Huh, jadilah kau kerbau” Kutuknya Pula.

Slap! Aneh bin ajaib. Seperti disulap alu dan lesung itu berubah wujud menjadi kerbau. Lesung berubah wujud menjadi tubuh dan alu berubah wujud menjadi tanduk.

Pagi berikutnya, Nini Rancak sudah kembali menumbuk padi, di bawah pohon Tangkalupa itu. Rupanya dia telah meminjam alu dan lesung milik Ning Imar tetangganya. Bunyi gaduh: duk…duk..,duk…kembali mengganggu Jin Garuhuk Laki yang baru saja merebahkan dirinya untuk beristirahat setelah semalam suntuk mencari hewan peliharaan milik warga desa sebagai bahan makanan untuknya sekeluarga.

Akan kucuri padinya seperti kemarin,”ujar Jin Garuhuk Laki sambil melayang turun dari atas pohon. Dia pun segera melangsungkan aksinya. Sementara itu, Nini Rancak terkejut bukan main. “Hah…!, padiku hilang lagi” Jeritnya. “Lesung tetanggaku ini juga sama dungunya dengan lesung milikku kemarin. Lesung ini telah memakan padiku secara diem-diam. Lesung tak berguna. Lesung pengkhianat.Terkutuklah kau, jadilah kerbau..!”

Blap! Aneh bit ajaib lagi, seperti disulap lesung itu berubah wujud menjadi kerbau seperti yang terjadi kemarin pagi.

“Hah, celaka. Lesung ini bukan milikku. Aku harus minta maaf kepada Ning Imar.”

Ning Imar sebenarnya kesal sekali kepada Nini Racak, tapi dia tak berani mengungkapkan kekesalannya. Ning imar takut menjadi korban kutukan Nini Rancak.

“Ooo….begitukah, NI? Biarlah,tak usah kau ganti.”ujar Ning Imar.

“Wah, terima kasih banyak, Ning!”

Ketika Nini Rancak kembali dari rumah Ning lmar, dia mendapati kerbau yang tercipta dari lesung yang dikutuknya itu masih berada di tempatnya semula. Melihat itu tentu saja Nina Rancak menjadi marah karenanya.

“Pergi kau kerbau dungu. Sana berkubang di rawa-rawa..!”Teriaknya sambil mengambil potongan kayu lalu melemparkannya ke arah kerbau jelmaan lesung itu.

Begitulah yang terjadi berulang kali dari hari ke hari. Setiap pagi Nini Racak meminjam alu dan lesung kepada tetangganya.Tapi alu dan lesung pinjaman itu tak pernah dikembalikan lagi kepada pemiliknya. Bagaimana mau dikembalikan, sebab pada siang harinya alu dan lesung pinjaman itu sudah berubah wujud menjadi kerbau karena dikutuk oleh Nini Rancak

Tidak sampai sebulan, semua alu dari lesung yang ada di Desa Tampulung sudah berubah wujud menjadi kerbau. Warga desa Tampulung menjadi kalang kabut karenanya. Mereka tidak bisa lagi menumbuk padi. Tapi mereka tak berani meminta pertanggungjawaban kepada Nini Rancak, sebab mereka khawatir akan dikutuk Nini Rancak menjadi binatang.

“Hingga suatu ketika terbetik berita Nini Rancak meninggal dunia, Warga Desa Tampulung lalu berbondong-bondong menuju ke rumahnya. Pada saat itulah mereka melihat puluhan ekor kerbau sedang berkubang di rawa-rawa tak jauh dari rumah Nini Rancak, itulah kerbau jelmaan dari alu dan lesung mereka.

Setelah jenazah Nini Rancak dimakamkan warga desa bersepakat untuk menebang pohon Tangkalupa yang tumbuh di samping rumah Nini Rancak, Mereka bersepakat untuk menjadikannya sebagai bahan untuk membuat puluhan lesung baru sebagai pengganti lesung-lesung mereka yang sudah berubah wujud menjadi kerbau itu.

Jin Garuhuk Laki yang menguping pembicaraan warga desa langsung menggigil ketakutan, begitu mendengar kesepakatan warga desa yang akan menebang pohon Tangkalupa tempatnya bermukim selama ini bersama keluarganya.Tapi Jin Garuhuk sekeluarga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan keberadaan pohon Tangkalupa, karena proses penebangannya dipimpin langsung oleh seorang dukun yang sakti mandraguna. Tidak ada pilihan lain. Jin Garuhuk sekeluarga terpaksa menerima nasib buruk digusur tanpa ganti rugi apa-apa.

Konon, sejak itulah warga desa Tampulung mulai memelihara kerbau. Kerbau jelmaan dari alu dan lesung milik mereka itu kemudian berkembang biak dari waktu ke waktu hingga jumlahnya menjadi tak terhitung lagi karena begitu banyaknya. Pada masa sekarang ini, kerbau menjadi hewan peliharaan yang bernilai ekonomis paling tinggi di desa Tampulung.

%d bloggers like this: