Syarifah Nafisah

Seorang syekh sufi menuturkan, ada seorang pejabat kerajaan yang hendak menyiksa seseorang dari kalangan rakyat biasa. Orang ini lalu mencari perlindungan kepada seorang wanita yang zuhud, zahidah, putri keturunan Rasulullah SAW, Syarifah Nafisah binti Al-Hasan bin Zaid bin Al-Hasan, putra Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fatimah Azzahra. Wanita yang rajin ibadahnya itu kemudian mendoakan tamunya. Kepada orang itu, Syarifah Nafisah berpesan, “Allah, yang Maha­kuasa, akan menutupi mata orang yang zalim sehingga ia tidak bisa melihatmu

Orang itu lalu pergi. Sampai di tengah keramaian orang, di sana sudah ada pe­jabat kerajaan bersama para pengawalnya. Pejabat itu bertanya kepada para penga­walnya, “Di mana si Fulan?”.”Dia ada di hadapanmu, Tuan,” mereka menjawab.”Demi Allah, aku tidak melihatnya,” ujar pejabat itu.

Berulang kali ia mencoba meyakinan diri, tapi ia memang tidak melihat si Fulan. Para pengawalnya lalu menceritakan ke­pada pejabat itu bahwa orang itu sebe­lumnya telah mengunjungi Syarifah Nafi­sah dan minta didoakan olehnya. Setelah berdoa, Syarifah Nafisah mengatakan bah­wa Allah SWT akan menutupi penglihatan orang yang akan berbuat zalim kepadanya.

Mendengar cerita itu, si pejabat merasa malu, dan menyadari kesalahannya. la me­nundukkan kepala seraya berkata, “Kalau begitu, kezalimanku telah mencapai tingkat sedemikian rupa, sehingga karena doa manusia saja Allah te­lah menutupi mataku dari melihat orang yang terzalimi! Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu.”

Ketika pejabat itu mengangkat mukanya lagi, dia melihat orang yang dicarinya itu ber­diri di hadapannya. Dia pun lalu mendoakan orang itu, mencium ke­palanya, dan mengha­diahi seperangkat pa­kaian bagus. Dan, ten­tu saja, membebaskan­nya dengan rasa kasih.

Sang pejabat kemudian mengumpulkan kekayaannya dan menyedekahkannya kepada orang-orang miskin. la juga mengirimkan seratus dirham kepada Syarifah Nafisah, sebagai tanda syukur, karena telah membuat dirinya bertobat. Syarifah Nafisah menerima uang itu dan membagi-bagikannya kembali kepada orang-orang miskin.

Salah seorang wanita yang menemani­nya berkata, “Wahai lbu, kalau Ibu mau mem­beri saya sedikit uang, saya akan membeli sesuatu untuk berbuka puasa kita.”

“Ambillah benang ini dan juallah. Kita akan berbuka puasa dengan uang hasil penjualan itu,” jawab Syarifah Nafisah, yang bermata pencaharian memintal dan menjual benang-benang untuk kain. Wani­ta sahabatnya itu kemudian pergi menjual benang. Uang hasil penjualan dibelikan roti untuk berbuka puasa Syarifah Nafisah dan sahabat-sahabatnya. Ya, zahidah itu tidak menggunakan uang hadiah pejabat itu un­tuk kepentingan pribadi.

Kisah yang dikutip Dr. Javad Nurbakhsh dalam bukunya Sufi Women itu Baru se­penggal kisah hidup Syarifah Nafisah yang penuh dengan puasa, salat malam, dan ke­zuhudan. la juga terkenal luas tingkat ka­ramah dan kemampuan karismatisnya. Menurut sejarah, Syarifah Nafisah lahir di Mekah, menikah dengan Ishaq Mu’tamin bin Imam Ja’far As-Shadiq. Kemudian hi­jrah ke Mesir, negeri tempat ia mengha­biskan waktunya selama sekitar tujuh ta­hun, sebelum akhirnya meninggal dunia pada tahun 208 H/788 M.

Diceritakan, menjelang wafatnya Sya­rifah Nafisah sedang berpuasa, dan orang­-orang menyarankan agar ia membatalkan puasanya. la berkata, “Alangkah anehnya saran kalian ini. Selama tiga puluh tahun ini aku telah bercita-cita hendak meng­hadap Tuhanku dalam keadaan berpuasa. Apakah sekarang aku harus membatalkan puasaku? Tidak, tidak mungkin!”

Beliau lalu membaca ayat AI-Quran su­rah AI-An’am. Ketika sampai pada ayat’Ba­gi mereka Darussalam (rumah kedamaian) di sisi Tuhan mereka dan Dia-lah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang mereka kerjakan” (ayat 127), zahidah ini menghembuskan napas terakhir.

Semasa kehidupannya di Mesir, terli­hat, orang-orang di sana sangat menghor­mati dan mengaguminya. Diceritakan, ke­tika Imam Syafi`i pergi ke Mesir, beliau men­dengar Syarifah Nafisah menuturkan ha­dis-hadis Nabi, dan selanjutnya meriwa­yatkan hadis dari Syarifah Nafisah itu. Ketika Imam Syafi’i wafat, Syarifah Nafisah melakukan salat Jenazah di hadapan je­nazah sang imam. Kemudian ia mendirikan tempat tinggalnya tidak jauh dari makam Imam Syafi’i, dan sampai meninggalnya beliau tetap di sana, demikian dikutip Dr. Javad Nurbakhsh dari ThabagatAl Awliya, karya Sya’rani.

Sebelum wafat, Syarifah Nafisah me­nyuruh orang menggali kubur untuknya, dan membacakan di atasnya Al-Quran sebanyak enam ribu kali tamat. Dan, ketika dia meninggal dunia, seluruh Mesir diliputi suasana berkabung yang sangat menda­lam: ratap dan tangis serta doa terdengar dari setiap rumah. Jenazah Syarifah Nafi­sah dikuburkan di rumahnya di Darb Sa­mah, dekat Kairo, Mesir.

Makam Syarifah Nafisah termasyhur, karena orang-orang yang menziarahinya dan bertabaruk kepadanya merasakan doanya terkabul. Diceritakan, pernah sua­minya, Sayid Ishaq, menginginkan agar je­nazah istri tercintanya dibawa ke Medinah untuk dikuburkan di sana. Namun orang­orang Mesir memohon agar jenazah zahi­dah itu tidak dipindahkan. Sayid Ishaq akhirnya mengalah. Masyarakat Mesir, ru­panya, menginginkan agar mereka bisa se­nantiasa berdekatan dengan beliau, yang memiliki maqam keberkatan dan karamah tinggi.

Disebutkan dalam Jami’Karamat Al-Aw­liya, karya Syekh Nabahani, sang suami sendiri ternyata sempat Bermimpi ditemui Nabi Muhammad SAW, yang mengatakan kepadanya, “Wahai Ishaq, janganlah eng­kau berdebat dengan orang-orang Mesir karena Nafisah. Sebab, melalui makamnya, rahmat Allah akan tercurah kepada me­reka.”

%d bloggers like this: