Nuruddin ar-Raniri

Nuruddin adalah ulama berpengetahuan luas dan produktif dalam menulis. Kitab karangannya sebagian berbahasa Melayu dan sebagian berbahasa Arab, hingga, kini masih menjadi bahan rujukan…

Rentang kehidupan Nuruddin ar-Raniri diisi dengan pengabdian, dakwah, dan pencerahan untuk umat Islam. Dia adalah seorang sufi yang paling lengkap julukannya dan paling produktif dalam berkarya mentransfer ilmu pengetahuan. Tak kurang dari 29 buku menjadi warisan yang berharga darinya. Walaupun lahir di Ranir-Gujarat, India, tempat nenek moyang masyarakat Aceh berasal, tapi, berkat adaptasi, reputasi, dan tingginya ilmu pengetahuan yang dimiliki Nuruddin dia pun menjadi pembaharu yang paling disegani di wilayah Melayu Indonesia, khususnya Aceh, pada era 1600-an.

Nama lengkapnya Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisy asy-Syafi’i. Dia ulama terkemuka yang menjadi mufti di Aceh dari 1637 hingga 1644. Banyak sejarawan kesulitan melacak tahun kelahirannya. Namun, diperkirakan, dia lahir pada akhir 1500-an.

Setelah berguru di Gujarat antara lain kepada Syekh Ba Syaiban, Syekh Tarekat Rifa’iyah, dia melanjutkan studinya ke Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan. Nuruddin berhasil menjadi ulama besar yang berpengetahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Tarekat Rifa’iyah dan bermahzab Syafi’i dalam lapangan fikih. Pada 1621 dia berada di Makkah dan Madinah dalam rangka menunaikan ibadah haji.

Tahun berapa dia pertama kali berada di Aceh, masih menjadi pertanyaan dan perdebatan. Melihat kemahirannya menulis dan berbahasa Melayu dan adanya karangan berbahasa Melayu yang ditulis sejak 1633, orang memperkirakan, pada 1620 dia telah pernah masuk Aceh dan menelaah paham Wujudiyah yang sedang dikembangkan oleh Syekh Syamsuddin as-Sumatrani yang menjadi mufti pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Dan begitu juga pada sahabat sang Syekh, Hamzah Fansyuri.

Setelah Syamsuddin wafat dan Iskandar Tsani menjadi sultan, Nuruddin datang lagi ke Aceh. Tidak Iama kemudian dia diangkat menjadi mufti, dan selama tujuh tahun dalam kedudukannya sebagai mufti itu dia sering berdebat dengan pengikut paham Wujudiyah dengan tujuan agar penganut paham tersebut meninggalkan pahamnya. Tidak berhasil membujuk pengikut paham Wujudiyah agar kembali ke akidah yang murni, Nuruddin merekomendasikan hukuman mati untuk setiap pengikut paham Wujudiyah.

Sikap keras Nuruddin ini dilatar belakangi oleh masa kecilnya yang penuh intimidasi. Dia hidup di tengah komunitas Hindu di Desa Ranir, dengan mayoritas Hindu yang tidak sedikit pun mengenal.toleransi dengan penganut agama dan paham apa pun.

SUFI PRODUKTIF

Nuruddin adalah ulama yang berpengetahuan luas dan produktif dalam menulis. Dia menulis dalam berbagai cabang pengetahuan, fikih, akidah, hadist, sejarah, tasawuf, juga perbandingan agama. Kitab karangannya sebagian berbahasa Melayu dan sebagian berbahasa Arab.

Sebagian karangannya itu bertujuan untuk menyerang paham Wujudiyah yang ditegakkan oleh Hamzah Fansyuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Di antaranya, As Sirat Al-Mustaqim (Jalan Lurus), Asrar Al Insan fi Ma’rifat Ar Ruh wa Ar Rahman (Rahasia Manusia dalam mengetahui Roh dan Tuhan) Al Fath Al Mubin  `AllaAl Mulhidin (Kenangan Nyata atas Kaum yang Menyimpang).

Sebelum kedatangan Nuruddin ar-Raniri adalah masa keemasan Islam mistik, ketika aliran Wujudiyah berjaya tidak hanya di Aceh, tapi juga di banyak bagian wilayah­ Nusantara. Banyak telaah menyebutkan, Nuruddin lebih tepat disebut sebagai tokoh sufi dibanding sebagai pembaharu mujaddid, padahal dia juga merupakan tokoh pembaharu paling penting dalam abad ke-17.

Guru Ar-Raniri yang paling terkenal dari India adalah Abu Hafs Umar bin Abdullah Ba Syaban Al-Tarimi Al-Hadhrami, yang juga dikenal di wilayah Gujarat sebagai Sayid, Umar Alaydrus. Ba Syakban, seperti juga Nuruddin, berasal dari keluarga Hadhrami. Menurut Nuruddin, Ba Syakban­lah yang membaiatnya ke dalam Tarekat Rifa’iyyah, sebuah tarekat Arab. Dia menunjuk Nuruddin sebagai khalifahnya dan bertanggung-jawab menyebarkannya di wilayah Melayu Indonesia. Tapi Tarekat Rifa’iyyah bukan satu-satunya yang dikaitkan dengan Nuruddin, dia juga masuk Tarekat Alaydarusiyyah dan Tarekat Qadariyah.

Nuruddin jelas merupakan perintis paling menonjol dari keluarga ulama Alaydarussiyyah di kepulauan Melayu Indonesia. Tidak ada informasi kapan Nuruddin menetap dan mengadakan perjalanan pertama kalinya ke wilayah Melayu.

SERBA BISA

Nuruddin adalah seorang ahli teologi, fakih, dan ahli hukum. Dia juga seorang sastrawan dan politisi. Kepribadiannya yang menguasai banyak bidang menimbulkan kesalah-pahaman, terutama jika kita memandang pemikirannya hanya dari satu aspek tertentu. Akibatnya sampai saat ini dia lebih sering dianggap sebagai seorang sufi yang hanya disibukkan dengan praktik- praktik mistik, padahal dia juga seorang fakih yang perhatian utamanya adalah penerapan praktis aturan-aturan paling mendasar syariat. Oleh karena itu untuk memahaminya secara benar kita harus mempertimbangkan semua aspek pemikiran, kepribadian, dan aktivitasnya.

Meski masa kejayaan Nuruddin di Nusantara relatif sebentar, tetapi perannya dalam perkembangan Islam di wilayah Melayu Indonesia tak bisa diabaikan. Dia memainkan peranan yang amat penting dalam membawa tradisi besar Islam ke wilayah ini dengan menghalangi kecendrungan kuat percampuran tradisi lokal ke dalam Islam. Tanpa mengabaikan peranan pembawa Islam dari Timur Tengah atau dari tempat lain, Nuruddin dapat dikatakan sebagai mata rantai yang sangat kuat menghubungkan tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam di Nusantara. Jelas, dia merupakan penyebar terpenting pembaharuan Islam di Nusantara.

Nuruddin adalah ulama sufi pertama di Nusantara yang mengambil inisiatif menulis bermacam buku pegangan standar mengenai kewajiban-kewajiban agama yang mendasar bagi semua orang. Meskipun atura-aturan syariat atau fikih dalam batas tertentu telah dikenal dan dipraktikkan sebagian kaum muslimin Melayu Indonesia, tidak ada satu pun karya Melayu yang dapat diacu sebelum munculnya karya Nuruddin. Karena itu tidak sulit memahami mengapa karya ini menjadi sangat populer dan masih digunakan sampai hari ini di beberapa bagian dunia Melayu Indonesia.

Kepedulian Nuruddin mengenai penerapan aturan-aturan terperinci fikih mendorongnya menyarikan bagian-bagian karyanya, Shirath Al Mustaqim, dan mengeluarkannya sebagai karya terpisah.

Peranan Nuruddin dalam mengintensifkan proses Islamisasi juga jelas dalam bidang politik. Selama mengemban tanggung jawab sebagai syekh al-Islam kesultanan Aceh, di antara tugas-tugasnya adalah memberi nasihat kepada Sultan Iskandar Tsani dalam berbagai masalah, baik yang bersifat religius maupun politis.

Dalam karyanya Bustan Al Salathin, dia mengungkapkan bagaimana dia menasihati sultan dalam fungsinya sebagai penguasa serta tanggung jawab dan kewajibannya kepada rakyat untuk melindungi yang lemah dan mendatangkan kebaikan bagi rakyat, yang akan membuatnya dilindungi dan dirahmati Tuhan. Barangkali karena nasihat-nasihatnya, Sultan Iskandar Tsani menghapuskan hukuman-hukuman yang tidak Islami bagi para penjahat, seperti “mencelup minyak” dan.. “menjilat besi”. Sultan juga melarang umatnya membahas masalah-masalah seperti wujud , dan Dzat Tuhan.

Menurut Nuruddin, penerapan syariat tidak dapat ditingkatkan tanpa pengetahuan lebih mendalam mengenai hadis Nabi, karena itu dia mengumpulkan hadis dalam karyanya Hidayat Al Habib fi Al Targih wa Al Tartib. Sejumlah hadist diterjemahkannya dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu agar penduduk muslim mampu memahaminya secara benar. Dalam risalah ringkas ini dia menginterpolasikan hadis-hadis dengan ayat-ayat Al-Quran untuk mendukung argumen-argumen yang melekat pada hadis­-hadis tersebut. Karyanya ini merupakan rintisan dalam bidang hadis di Nusantara dan menunjukkan pentingnya hadis dalam kehidupan kaum muslim.

Di samping menjelaskan perbedaan antara tasawuf yang menyimpang dan tasawuf ortodoks dan menekankan pentingnya syariat, Nuruddin pun mengambil alih tugas lain yang juga berat, yaitu membuat kaum muslimin memahami secara benar pokok-pokok keyakinan, akidah.

Nuruddin tidak hanya memainkan peranan penting dalam menjelaskan kepada kaum muslim Melayu Indonesia dasar-dasar pokok keimanan dan ibadah Islam, tetapi juga mengungkap kebenaran Islam dalam suatu perspektif perbandingan dengan agama-agama lain. Dialah alim ulama pertama di wilayah Melayu yang menulis sebuah karya mengenai perbandingan agama yang dinamai Tibyan fi Ma’rifat Al Adyan, serta bagian tertentu yang menyinggung subyek yang sama dalam karya-karyanya yang lain.

Pengaruh Nuruddin dalam bidang sejarah tidak kalah besamya. Dialah penulis pertama di tanah Melayu yang menyajikan sejarah dalam konteks universal dan memprakarsai bentuk baru penulisan sejarah Melayu. Buku sejarahnya yang berjudul Bustan Al ‘ Salathin merupakan karya terbesamya yang mencerminkan minat khusus pengarangnya terhadap sejarah.

Karya ini, yang terdiri atas tujuh buku, menunjukkan bagaimana dia berhasil memanfaatkan beberapa tradisi historiografi Islam dan memperkenalkan kepada khalayak Melayu. Dua buku pertama karyanya ini merupakan sejarah dunia dari sudut pandang teologis, sementara buku pertama ditulis dengan mengikuti poIa karya Al-Thabari Tarikh Al Rusul wa Al Muluk. Di sini pembahasannya mulai dari sejarah bangsa Persia, Yunani, dan Arab di masa pra-Islam, diikuti dengan sejarah analitis Islam. Buku kedua selanjutnya meluruskan sejarah para raja India dan Melayu Indonesia. Lima buku selebihnya dari Bustan Al Salathin mengikuti poIa karya Al-Ghazali, Nashihat Al Muluk, dan karenanya dimaksudkan sebagai buku petunjuk bagi keluarga-keluarga kerajaan.

Karyanya ini merupakan salah satu buku terpenting tentang sejarah awal Melayu Indonesia. Dia merupakan sumber yang tak tergantikan untuk rekonstruksi sejarah awal Islam di wilayah Melayu Indonesia.Makna pentingnya semakin jelas mengingat kenyataan bahwa sejarah Islam di wilayah ini kebanyakan ditulis berdasarkan sumber-sumber Barat. Keahlian Nuruddin menyangkut sejarah Nusantara jelas luar biasa. Dia ahli dalam penggambaran terperinci sejarah Melayu.

Tidak kalah penting adalah peranan Nuruddin dalam mendorong lebih jauh perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa utama di wilayah Melayu Indonesia.. Dia bahkan diklaim sebagai pujangga Melayu pertama. Meskipun bahasa Ibu Nuruddin bukanlah Melayu, tapi, penguasannya atas bahasa ini tak diragukan.

Dan yang juga tidak kalah penting adalah keikhlasan Nuruddin dalam menyikapi kehidupan. Setelah sultan berganti dan roda kehidupan berputar, dia keluar dari lingkaran kekuasaan. Paham Wujudiyah kembali berkibar setelah sultan yang baru mengangkat Samsurijal Al-Minangkabau menjadi mufti.

Nuruddin memutuskan pulang ke Ranir dan mengasuh pesantren di sana. Tapi produktivitasnya dalam menulis buku tidak pernah surut.

Disarikan dan sumber terpilih

%d bloggers like this: