Kisah Terjadinya Danau Kawar

Danau Kawar di lereng gunung Sinabung merupakan danau yang sangat indah. Terjadinya danau dilatarbelakangi sebuah kisah yang sangat mengharukan perasaan….


Suatu hari ratusan tahun yang silam, seorang anak lelaki bernama Tungkir terus berjalan mernbawa makanan dan lauk pauk yang istimewa untuk ukuran masyarakat Tanah Karo pada zaman itu. Lauk yang ada dalam bakul ini adalah berupa sepotong daging dada ayam, lengkap dengan kuah cipera (terbuat dari tepung jagung). Sudah tentu pula disertai nasi yang teramat harum baunya. Selain itu, ibu si Tungkir pun tak lupa menaruh Cimpa (sejenis kue Karo) di dalam bakul tersebut.

Semua makanan ini maksudnya akan dipersembahkan kepada mertua si ibu atau nenek dari si Tungkir, yang Sudah tak mampu lagi ikut aron (kelompok pekerja di ladang), karena terlalu tuanya. Ibu Tungkir telah mempersiapkan makan ini dari ladang, karena mereka sedang Merdang (menanam padi),

Sesuai dengan kepercayan masyarakat, jika orang Karo merdang biasanya beberapa ekor ayam sengaja dipotong. Sebagian dipersembahkan untuk tendi (roh) juma, sedangkan sebagian lagi untuk, dimakan.Tetapi sebelum makan di ladang, meskipun pekerjaan telah selesai, maka orang tua bérusia lanjut yang tinggal di rumah mesti dihormati dan didahulukan, karena dari dialah kehidupan berasal. Setetah nasi dan lauk dirnakannya di rumah, barulah acara makan di ladang boleh dimulai.

“Tungkir, antarkanlah bakul berisi makanan ini untuk nenekmu. Awas, jangan sekali-kali berani mencicipinya itu dosa besar. Untukmu sendiri telah disediakan jatah makan yang cukup”, pesan sang ibu.sebelum anaknya pergi. Tungkir pun mengangguk.penuh horrnat

“Kau dengar,pesan ibumu anakku,ya, kau tak boleh memakannya. Bahkan sekadar mencicipinya saja pun tak boleh”. “Dan ingat, jangan minta bagian kepada nenekmu.”pesan ayahnya ikut mengingatkan pula.

Tungkir kembali mengangguk, sebagai pertanda bahwa akan mematuhi segala petuah kedua orang tuanya. Setelah menerima pesan itu, Tungkir pun berangkat. Dia terus berjalan di pinggiran hutan yang amat senyap bak tak ada kehidupan. Maklum, pada waktu itu pendudukmasih teramat jarang. Sementara kampung Tungkir sendiri terletak di lereng Gunung Sinabung, termasuk daerah yang sunyi dan terpencil. Begitu jauh dari keramaian. Di tengah perjalanan si Tungkir berhenti untuk beristirahat, sambil menyaksikan pemandangan alam Tanah Karo Simalem (tanah Karo yang indah, tenang, dan damai). Bersamaan dengan itu, sepoi angin gunung tak hanya membelai wajahnya yang bercucuran keringat, tetapi juga membuat perutnya bernyanyi. Lapar, minta diisi!

Rasa lapar itulah akhirnya yang membuat Tungkir perlahan-lahan melepas kain pembungkus lauk di dalam gumbar (tempat lauk-pauk khas Tanah Karo pada zaman dahulu). Mulanya dia hanya rmemandangi makanan itu. Namun, semakin lama memandangi . makanan yang lezat-lezat itu, nafsunya kian tak tertahankan. Setelah menoleh ke kanan dan kiri ternyata. tak ada manusia lain; Tungkir pun jadi lupa daratan. Pesan kedua. orang tuanya tak diingatnya lagi. Dia hanya teringat kepada perutnya yang keroncongan minta diisi.

Kini tangannya mulai bergerak. Diraihnya daging ayam, terus disuwir sedikit dan langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. Terasa enak luar biasa, apalagi dalam keadan.perut.sangat lapar. Diambilnya Pula cipera, dirasainya betapa lezatnya.Tungkir jadi semakin lupa diri. Kini dicampurnya nasi dengan cipera.

Peribahasa tang mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit,, kini berbanding terbalik. Mulanya memang hanya ingin mencicipinya saja, namun ujung- ujungnya nasi tinggal sedikit, demikian pula gulai cipera yang harum baunya itu. Sedangkan daging ayam, semuanya sudah amblas ke dalam perut si Tungkir. Yang tersisa hanya tulangnya belaka.

Gangguan rasa lapar yang dirasakan Tungkir, sekarang memang telah terobati. Tetapi seiring dengan itu, timbul gangguan baru yakni rasa penyesalan yang tiada terkira,. Yang telah membuatnya puling tujuh keliling. Dia bingung memikirkan jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah yang disebabkan oleh ulah perutnya itu.

Tungkir akhirnya mengambil suatu keputusanyang dianggapnya terbaik, yakni membungkus sisa makanan yang masih ada untuk diserahkan kepada neneknya. Dia berharap semoga sang nenek yang sangat menyayanginya itu tak marah akan perbuatannya.

Setelah berharap demikian, bergegas Tungkir pun meneruskan perjalanan sambil membawa bakul. Tak lama kemudian sampailah dia di tempat yang dituju.

Dari pintu gerbang kampung,Tungkir melihat neneknya yang sudah sangat tua dengan rambut putih semuanya, sedang berbaring santai di atas tikar yang sudah usang dan sobek di sana-sini. Diam-diam hatinya sangat tersentuh. Timbul perasaan tak tega dan takberani untuk membohongi neneknya, dengan bungkusan yang kelihatan masih rapi ini. Namun karena merasa tak ada jalan lain, dikuatkannya hatinya untuk berbohong.

Tungkir terus berjalan, mendekati neneknya yang nampak sedang asyik berjemur di bawah sinar mentari pegunungan, dengan mata terpejam-pejam menikmati kesegaran udara.

Singkat cerita, Tungkir pun segera menyerahkan apa yang.dibawanya, yang diterima sang nenek dengan penuh suka cita. Setelah itu dia buru-buru berpamitan, dengan alasan perutnya sudah sangat lapar sedang jatah makanannya ada di ladang. Padahal alasan yang sebenarnya, dia merasa sangat tak tega menyaksikan neneknya nanti tiba-tiba jadi kecewa, saat menyaksikan isi bakul yang sudah berubah.

Kepada kedua orang tuanya,Tungkir mengaku telah melaksanakan tugasnya sesuai pesan. Dia pun berbohong dengan mengatakan bahwa sang nenek tercinta nampak makan dengan sangat nikmatnya.

Sementara itu sepeninggal Tungkir, neneknya langsung membuka bungkusan yang ada di dalam bakul dengan tangan menggeletar karena tua dan sangat lapar. Tetapi seketika tangannya seperti kaku, matanya melotot seakan tak percaya terhadap apa yang tarsaji hadapannya. Pasalnya: yang ada hanya sedikit cipera dan tulang belulang ayam. Dia menduga bahwa semua itu tak lain adalah perbuatan menantunya, ibu si Tungkir.

Sesaat kemudian membahanalah perasaan yang teramat lara di dada nenek yang sudah sangat uzur itu. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang keriput Tak hanya itu, kata-kata yang merupakan ungkapan kepedihan hati yang tiada terkira, juga berloncatan keluar dari bibir yang bergetar menahan sesak di dada.

“Ya, Debata (Tuhan), betapa teganya menantuku berbuat seperti ini.” Katanya di sela isaknya yang menyayat. Semakin lama bertambah histeris, bahkan kemudian dia menangis dengan hebatnya.

“Durjana! Durjaina! Alangkah durjananya menantuku. Anakku.tega pula membiarkan istrinya berbuat sangat kurang ajar kepadaku. Dan cucuku pun tega mengantarkan lauk tulang belulang kepadaku.” katanya lagi dengan suara yang kian menggetarkan.

Ratap tangiss ang nenek ini,benar-benar menghancurluluhkan perasaan orang yang mendengarnya. Dan mungkin juga termasuk alam raya. Sebab tiba-tiba saja langit yang tadinya sangat cerah, mendadak berubah, menjadi mendung. Bukan mendung wajar, kali ini sangat menakutkan.Orang-orang yang hari itu sedang menanam padi, semuanya diterkam kecemasan yang tiada terkira.

Sang nenek yang hatinya seperti diiri-iris, berjalan tertatih-tatih meninggalkan pekarangan rumahnya. Dia ingin pergi ke tengah hutan untuk mengadukan perihal nasibnya kepada Debata atau keramat-keramat yang menghuni lereng-lereng gunung Sinabung.

Di suatu tempat yang sangat sepi, nenek itu merasa kehabisan napas. Dia Menghentikan langkah kakinya dan serta merta sujud ke tanah. Air matanya tiada henti mengalir membasahi pipinya yang cekung dan keriput.

“Debata! Debata! Lihatlah nasibku ini, tua renta tidak terpakai lagi, setelah berbakti seumur hidup membanting tulang. Dengarlah ratapan si tua bangka yang tidak berguna ini.” ratapnya sendu.

Tiba-tiba angin bertiup dengan kencangnya, langit pun semakin gelap gulita. Gumpalan awan hitam yang berarak, seolah menelan puncak Gunung Sinabung yang gagah perkasa bak benteng Tanah Karo Simalem.

“Debata..! Mengapa kau ciptakan menantu,, anak, dan cucuku sedemikian durhakanya,Wahai Debata, tunjukkanlah kekuasaanmu untuk menghukum mereka yang durhaka itu. Tunjukkanlah Debataaa…!.” Ratapnya lagi.

Pada kegelapan langit mendadak hujan turun dengan sangat derasnya, disertai guntur saling bersahutan, dihiasi pula kilat sambung menyambung bagaikan ingin memecah belah bumi yang sudah tua.

“Debata, teruskan peringatanMu kepada mereka yang berkelakuan durjana.”teriak sang nenek seperti mencoba menandingi hebatnya suara guruh.Lalu tulang-tulang ayam yang diberikan,cucunya, ditancapkannya ketanah.

“Debata, lewat tulang ayam ini pun engkau sanggup menunjukkan kemurkaanMu terhadap insan-Mu yang durhaka,” ratapnya lagi, disambut ledakan dahsyat guruh di langit, yang serasa menggoncangkan bumi.

Pada ledakan ketujuh, dari tulang-tulang ayam yang ditancapkan nenek itu, tiba-tiiba memancar air dengan derasnya. Semakin lama lubang tempat keluar air bertambah besar, sehingga akhirnya berubah bagaikan mata air raksasa.

Berhari-hari hujan tiada berhenti, dan mata air yang menjelma dari bekas tusukan tulang ayam si nenek; juga kian membesar.Tempat dimana si nenek meratap pun kini berubah menjadi hamparan air layaknya kolam raksasa, yang kemudian menelan seisi kampung terpencil di lereng Gunung Sinabung itu.

Harta tak ada yang tersisa lagi. Korban nyawa juga berjatuhan kecuali beberapa orang yang selamat karena berhasil melarikan diri. Si nenek sendiri menjadi korban kebuasan air yang maslh terus meluap bahkan kemudian mengisi sebagian besar lereng gunung Sinabung yang dikeramatkan.

Setelah seminggu guyuran air dari atas dan bawah berlangsung, tempat ini berubah menjadi sebuah danau yang cukup besar. Seiring dengan itu hujan mulai berhenti, dan beberapa hari kemudian sang mentari memperlihatkan sinar jingganya di ufuk sebelah barat gunung Sinabung.

Penduduk sekitar yang berhasil menyelamatkan diri ke puncak gunung atau bukit pulang kermbali ke kampung halamannya untuk melihat harta bendanya, kalau-kalau ada yang masih bisa dimanfaatkan.

Namun yang mereka temukan sekarang adalah sebuah danau yang telah memangsa segalanya. Mayat manusia, bangkai kerbau dan binatang peliharaan lainnya, nampak terapung­-apung di atas permukaan air. Orang-orang itu lalu mencoba mengambil galah (kawar) dan mengukur kedalaman danau tersebut. Ternyata sangat dalam.

“Terus kawari, kawari (ukur dengan galah)” kata beberapa orang penduduk yang penasaran. Di antara mereka, ada yang ingin menyelam untuk menyelamatkan atau mengambil benda-benda yang sekiranya masih bisa digunakan.

Konon, kata tetua Karo itulah sebabnya maka danau tersebut di belakang hari dinamakan Danau Kawar.

(Disarikan dari sumber terpilih)

%d bloggers like this: