Khadijah

KHADIJAH
isteri tercinta

Bila Aminah, Si Bunga Quraisy adalah pemimpin ka­um ibu, maka kini diketengahkan contoh seorang isteri teladan yang tercinta. Khadijah binti Khuwailid, isteri Mu­hammad bin Abdullah.

Nafisah binti Munabbih menuturkan kisah perkawinan Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah. Ia mengatakan: “Khadijah mengutusku untuk menyelidiki kepribadian Mu­hammad. Kemudian aku katakan kepada Muhammad: “Me­ngapa engkau tidak segera menikah?” Jawab Muhammad: “Aku tidak mempunyai apa-apa.” Lalu aku bertanya lagi: “Bagaimana bila kehidupanmu dicukupi, mendapat harta melimpah, kecantikan serta pendamping yang sangat se­tia?” Maka kemudian Muhammad bertanya: “Siapa dia?” Lalu aku menegaskan, “Dia adalah Khadijah binti Khu­wailid!” Maka Muhammad pun kemudian menyetujui tawaranku.”

Ketika menjadi janda lantaran ditinggalkan dua orang suaminya, Khadijah masih sangat muda. Parasnya cantik, hartanya banyak. Lagi pula bemasab mulia. Berdagang dan mengirim kafilah-kafilah ke negeri Syam, merupakan usaha bisnisnya. Setiap kali kafilah itu pulang, tentu membawa makanan dan pakaian. Lalu dibagikan kepada para hamba sahaya serta sejumlah karyawan yang menjadi tanggung ja­wabnya.

Sebagai seorang pedagang yang kaya raya, Khadijah tertarik pada cerita seorang pemuda Bani Hasyim, yang dikatakan sangat jujur. Ia adalah Muhammad bin Abdullah. Khadijah mendengar cerita itu dari penuturaan orang-orang Quraisy. Mereka sering sekali membicarakan tentang kejuju­ran dan keluhuran budi pemuda Muhammad. Pada dasamya, Khadijah sudah percaya terhadap kepribadian pe­muda Muhammad. Tapi, perlu untuk mengadakan penyelidikikan lebih jauh lagi, agar bertambah yakin.

Pada suatu hari, Khadijah meminta agar pemuda Mu­hammad berkenan ikut dalam rombongan kafilah yang diki­rim ke Syam. Kepadanya dijanjikan upah berlipat ganda. Untuk itu, ia menyuruh Maisarah (seorang lelaki yang menjadi hamba sahaya Khadijah) untuk menemani Muhammad, dengan tugas melaporkan apa yang didengar dan apa yang dilihat tentang Muhammad. Ketika kafilah kembali, mem­bawa keuntungan yang luar biasa serta penuh berkah dari perdagangan itu. Tapi, perhatian Khadijah bukan tertuju kepada hasil perdagangan, melainkan kepada kisah kemu­liaan budi Muhammad.

Kepada sang juragan, Maisarah menuturkan tentang segumpal awan yang selalu menaungi Muhammad dari se­ngatan terik matahari selama dalam perjalanan. Juga diceri­takan tentang pertanyaan pendeta Nastura mengenai suku bangsa Muhammad. Lalu dikatakan bahwa ia datang dari suku Quraisy, penduduk Makkah. “Sesungguhnya ia adalah Nabi yang terakhir,” tutur Maisarah menirukan pernyataan pendeta Nastura. Pemuda Muhammad, sebelumnya memang pernah pergi ke Syam bersama Abi Thalib, pamannya. Di tengah perjalanan, berjumpa dengan pendeta Buhaira yang mengenali tanda-tanda kenabian pada wajah Muhammad. Pendeta Yahudi itu lalu menasihati Abi Thalib agar segera membawa Muhammad kembali ke Makkah, sebelum dilihat dan diganggu oleh orang-orang Yahudi. Tanda-tanda kenabian itu diutarakan kembali oleh pendeta Nastura ketika Muhammad mengadakan perjalanan ke Syam yang kedua bersama Maisarah.

Mendengar kesaksian Maisarah, hati Khadijah menjadi terpana. Khadijah sangat kagum melihat seorang pemuda Quraisy tetap berakhlak mulia, padahal pemuda itu tinggal di tengah masyarakat yang dicemari kejahiliyahan dan kese­satan. Khadijah terpengaruh oleh kesaksian Maisarah ter­hadap ramalan pendeta Nastura dan Buhaira tentang tanda-tanda kenabian Muhammad. Ia menjadi yakin, bahwa Muhammad adalah orang yang diharapkan umat untuk membenahi masyarakat Quraisy yang sedang dilanda keja­hiliyahan. Memang, ketika itu masyarakat Arab baru dilanda dekandensi moral yang luar biasa..

Keyakinan Khadijah diperkuat dengan mimpinya tentang matahari yang bersinar terang, indah dan agung. Sinar itu kemudian turun ke rurnahnya, menerangi setiap penjuru. Pendeta Waraqah bin Naufal (saudara sepupu Khadijah) me­nafsirkan mimpi itu sebagai tanda bahwa kemunculan seorang nabi dari suku Quraisy sudah dekat. Turunnya sinar matahari di rumah Khadijah, ditafsirkan sebagai lambang perkawinannya dengan sang Nabi itu.

Kasih Sayang Isteri

Menurut adat kebiasaan dalam pernikahan, pihak Iaki­ lakilah yang seharusnya meminang wanita untuk dipersun­ting sebagai isteri. Tapi, yang terjadi pada kali ini adalah se­baliknya. Yakni seperti ketika Ruqayah, Laila dan Fatimah meminang pemuda Abdullah. Hanya saja Allah tidak men­jodohkannya. Khadijahlah yang meminang Muhammad un­tuk menjadi suaminya. Sebagaimana halnya ketika Allah memilih Aminah sebagai istri Abdullah, hingga kemudian Aminah menjadi pemimpin kaum ibu, maka Allah pun me­milih Khadijah sebagai istri Muhammad untuk menjadi istri teladan yang tercinta.

Sebelumnya, banyak tokoh Quraisy yang kaya raya dan berkedudukan tinggi meminang Khadijah. Namun ditolak. Alasannya, Khadijah mendambakan seorang suami yang bi­sa mengungguli lelaki dan suami-suami lain. Bagi Khadijah, pemuda Muhammad adalah lelaki yang istimewa, karena memiliki keunggulan budi dan akhlak. Sebagai calon seo­rang Rasul. Karena itulah, ketika Nafisah binti Munabbih menawarkan agar mengawini Muhammad, Khadijah pun langsung setuju. Maka berlangsunglah perkawinan suci lagi penuh berkah itu.

Dari hasil perkawinan selama lima belas tahun dengan Muhammad, Khadijah memperoleh tiga orang putera. Yak­ni Qasim, Thahir, dan Tayyib. Dan memperoleh pula empat orang puteri. Yakni Zaenab, Ruqayah, Umi Kultsum, dan Fatimah Zahra’. Sampai pada usia empat puluh tahun, Muhammad tumbuh menjadi seorang suami dan sekaligus seorang bapak yang sangat bijak dan penuh kasih. Ia selalu menjauhi pergaulan dengan masyarakat yang sesat lagi jahil. Ia lebih suka menyendiri (berkhalwat), tafakur, serta memikirkan kerajaan langit dan bumi.

Gua Hira, adalah tempat pelariannya untuk me­nenangkan diri dari polusi akhlak masyarakat yang menye­satkan. Masyarakat berhala yang berlumur dosa. Dan Muhammad mendapatkan Khadijah, disamping sebagai is­teri juga sebagai teman akrab yang senantiasa memban­tunya dalam beribadah dan mengasingkan diri menunggu petunjuk Ilahi di gua nan gelap itu.

Bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, telah datang menjelang di hadapan Muhammad. Seperti biasa, Muham­mad pergi menyendiri di gua Hira. Berkhalwat, berdoa dan memuji Tuhannya. Tiba-tiba datanglah seorang malaikat kepadanya, sebagaimana yang pernah dialami nabi Musa dan Isa. Malaikat datang membawa permulaan wahyu Ilahi:

“Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, Tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan galam. Dia menga­jarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.” (Al-Alaq : 1-5)

Sebuah pernyataan .Ilahiah pertama atas terpilihnya Muhammad sebagai seorang Rasul untuk memberi sesuluh dan bimbingan kepada kaum yang sesat dan bingung. Tapi pelajaran pertama di gua Hira itu begitu hebatnya menekan jiwa Nabi Muhammad. Tubuhnya menggigil, bermandikan peluh. Ia merasa bimbang dan ragu, apakah yang baru saja terjadi pada dirinya itu sebagai khayalan karena keterasing­an dirinya di gua selama ini, ataukah peristiwa yang benar­benar tarjadi.

Tidak Betah

Bergegaslah Muhammad pulang ke rumah. Kedatangannya membuat heran hati Khadijah. Biasanya, Muhammad betah berbulan-bulan tinggal menyendiri di gua Hira’. Tapi, kali ini ia begitu cepat kembali. Tubuhnya gemetar, dan ketakutan. “Selimuti aku, selimuti aku,” ujar Muhammad setiba di rumah Khadijah. Sebagai seorang isteri yang bijak­sana, Khadijah tidak merasa ikut panik. Dicobanya me­nenangkan pikiran suaminya, dan menanyakan apa yang baru saja terjadi atas diri suaminya.

Kepada Khadijah, Muhammad menceritakan peristiwa di gua Hira’, hingga kemudian membuat dirinya ketakutan. Tapi, Khadijah justru menanggapinya dengan tenang. Ia berkata dengan nada menghibur, “Wahai putera paman, demi Allah. Dia tidak akan menghinakan dirimu untuk se­lama-lamanya. Karena engkau termasuk orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, berkata benar, setia memikul beban, menghormati tamu, dan suka menolong orang.”

Mendengar kata-kata Khadijah, hati Muhammad men­jadi tenang. Tutur kata Khadijah yang lemah lembut lagi berwibawa, pujian dan dorongan serta kasih sayang yang diberikannya, membuat Muhammad lebih percaya diri.

Di saat-saat kritis, Khadijah sebagai isteri tercinta mampu menenangkan Muhammad. Setelah tumbuh rasa percaya diri pada diri Muhammad, maka lalu Khadijah membawa suaminya menghadap kepada Waraqah bin Nau­fal. Seorang pendeta Nasrani yang mengetahui tentang ramalan dan tanda-tanda kenabian yang terdapat di dalam kitab-kitab yang telah dibacanya. Khadijah kemudian menceritakan semua peristiwa yang dialami suaminya, se­mentara Muhammad melengkapi dengan perkataan yang benar dan jujur.

“Wahai puteri paman,” kata Waraqah. “Demi Zat yang nyawa Waraqah berada dalam kekuasaan-Nya. Andaikan benar ceritamu, maka sesungguhnya yang dilihat Muham­mad di gua Hira itu adalah malaikat teragung, seperti yang pernah turun kepada Musa dan Isa sebelumnya. Muham­mad adalah nabi akhir zaman`. Ia adalah nabi yang meru­pakan perwujudan dari doa Ibrahim, dan sebagai khabar gembira bagi Isa. Sungguh para ahli kitab telah mengetahui semua itu, karena telah ditegaskan di dalam kitab Taurat dan Injil ”

Malaikat yang datang kepada Muhammad menurunkan wahyu Ilahi itu adalah Jibril. Kedatangannya untuk mem­persiapkan Muhammad, yang pada suatu saat nanti akan memikul tugas besar. Mengajak umat manusia mengenal Tuhan Yang Maha Pemurah. Tuhan yang menciptakan ma­nusia dari tidak ada menjadi ada. Dan mengajarinya tentang apa-apa yang tidak diketahuinya. la adalah Tuhan yang patut diesakan, patut disembah tanpa sekutu bagi-Nya

Setelah itu, datang lagi wahyu yang kedua. Menugasi Muhammad untuk menyiarkan agama Allah kepada umat manusia. Menyiarkan agama yang mengajarkan kepada mereka keimanan kepada Allah, dan beribadah kepada-Nya dengan meninggalkan penyembahan terhadap berhala, se­bagaimana yang mereka lakukan sebelumnya.

Ketika menerima wahyu kedua, tubuh Muhammad Ra­sulullah kembali gemetar. Jantungnya berdetak keras. Keri­ngatnya mengucur keluar dari dahi sebesar manik-manik. Ia mendengar Malaikat Jibril membacakan wahyu Allah:

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu, agungkanlah. Dan pakaianmu, bersihkanlah. Dan perbuatan dosa, tinggal­kanlah. Dan janganlah kamu memberikan dengan maksud untuk memperoleh balasan yang lebih ba- nyak. Dan untuk memenuhi perintah Tuhanmu, bersabarlah.” (Al-Mudatsir 1-7)

Sebagai seorang istri yang ideal, Khadijah memperhati­kan semua urusan Muhammad, dan segala tugas yang dibe­bankan kepadanya. Ia selalu bersabar, dan dengan penuh lemah-lembut membantu suaminya. Dan sekaligus menghibur serta memberi dorongan kepada Muhammad sejak sebelum menjadi Rasul maupun sesudahnya. Khadijah termasuk orang yang pertama kali mengimani (mempercayai) kerasulan Muhammad, serta mengorbankan harta benda miliknya untuk kepentingan perjuangan Islam.

Karena Khadijah mempakan isteri yang sangat besar jasanya, maka Muhammad tidak pernah bisa melupakan­nya, sekalipun beliau telah menikah dengan isteri yang lain. Pernah suatu hari, Aisyah begitu cemburu mendengar Mu­hammad Rasulullah selalu menyebut-menyebut nama Kha­dijah, “Ya Rasulallah, mengapa engkau selalu menyebut­ nyebut wanita Quraisy tua dan sudah wafat itu? Bukan­kah Allah  telah memberi ganti bagimu wanita yang lebih baik dan lebih cantik daripada dia?”

Mendengar pemyataan Aisyah, Muhammad sangat ter­singgung. “Demi Allah, tidaklah pemah Allah mengganti buatku isteri yang lebih baik daripada Khadijah. Ia telah ber­iman kepadaku di saat orangorang rnasih kafir. Ia telah membenarkan aku di saat orang-orang mendustakan aku: Ia telah menolongku dengan hartanya di saat orang-orang ti­dak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku sesuatu darinya, bukan dari isteri-isteri yang lain”.

Maka pantas sekiranya Rasulullah bersabda, “Khadijah adalah wanita penghuni sorga yang paling utama bersama Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah isteri Fir’aun. Karena itu, ketika Khadijah meninggal, Rasu­lullah merasa kehilangan orang besar. Khadijah adalah isteri tercintanya, sekaligus sebagai teman akrab dalam senasib dan seperjuangan. Khadijah adalah penolong Muhammad yang berani mengorbankan jiwa dan hartanya. Sungguh kehidupan Khadijah layak menjadi suri teladan bagi isteri-­isteri yang shalihah. Khadijah, adalah pemimpin para ibu.

%d bloggers like this: