Fatimah Az-Zahra

FATIMAH AZ-ZAHRA
penyayang ayah dan ibu

Khadijah, adalah teladan isteri yang ideal. Kesetiaannya kepada suami dilandasi rasa keimanan yang kuat, di sam­ping kerelaannya untuk berkorban. Sifat itu menurun pula kepada puterinya, Fatimah Zahra’. Satu di antara puteri-puteri Rasulullah.

Kebesaran ayahnya sebenamya sudah cukup menjadi jaminan bagi kemuliaan Fatimah. Dan masih ditambah lagi dengan kemuliaan ibunya. Khadijah binti Khuwailid sudah dikenal sebagai wanita suci di zaman jahiliah sebelum Islam datang. Bahkan ibu kandung Fatimah itu sudah dinyatakan sebagai pemimpin para wanita Quraisy.

Fatimah sangat membanggakan ayahnya yang gigih dan berkemauan keras dalam memperjuangkan agama. Mu­hammad berkedudukan sebagai ayah, sekaligus sebagai gu­ru dalam menempa kepribadiannya, di samping didikan mu­lia dari Khadijah ibunya. Maka benarlah apa yang dikatakan Aisyah, “Tidaklah aku melihat seseorang yang lebih utama daripada Fatimah di mata Rasulullah.”

Dialah yang paling banyak manerima didikan dan kasih sayang dari Rasulullah. Yakni sejak masa bayi hingga de­wasa. Sebab saudara-saudara perempuannya yang bernama Zainab, Ruqayah dan Umi Kultsum, telah meninggal saat usia muda. Dia melakukan apa saja, seperti lazimnya apa yang diajarkan kepada anak-anak perempuan di jazirah Arab pada saat itu. Seperti membalut luka ayahnya di me­dan perang, dan yang lain. Setelah menikah, ia laksanakan sendiri segala urusan rumahtangga. Tidak ketinggalan, di samping merawat suami, juga merawat ayahanda.

Fatimah mendengar kalam Ilahi (ayat-ayat Al-Qur’an) langsung dari mulut ayahnya. Ia mengerjakan shalat ber­sama Rasulullah. Ia mendengar hukum-hukum agama dan memahaminya langsung dari ayahnya. Sebagai gadis yang bernasab mulia, Fatimah didewasakan dalam pangkuan ke­nabian dan pangkuan seorang bapak yang mulia.

Ketika usia delapan belas tahun, ia menangis ketika dinikahkan dengan Ali bin Abi Thalib. Rasulullah bersabda, “Mengapa engkau menangis, wahai Fatimah? Demi Allah, aku telah menikahkan engkau dengan orang yang paling banyak ilmunya. Paling penyantun, dan paling awal keislamannya.” Demikian disebutkan dalam kitab As-Sirah An­Nabawiyah.

Pernikahan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib bukan pernikahan yang lumrah. Tapi suatu pernikahan atas dasar perintah Allah. Yakni sebagaimana di sebutkan dalam khut­bah Rasulullah. Setelah memuji kepada Allah, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menyuruh aku untuk meni­kahkan Fatimah dengan Ali. Aku jadikan kalian sebagai sak­si, bahwa pernikahan ini dengan mahar empat ratus mitsgal perak. Jika is rela menerimanya, berarti telah berdasarkan sunnah yang berlaku dan kewajiban yang telah ditetapkan. Semoga Allah mempersatukan mereka berdua, dan mem­berkatinya. Memberi mereka keturunan yang baik, dan menjadikannya sebagai kunci pembuka rahmat. Sebagai sumber hikmah dan kesejahteraan umat.”.

Maka Ali bin Abi Thalib menjawab, “Aku rela ya Rasulallah.” Kemudian Ali bersujud sebagai ungkapan rasa sukur kepada Allah. Ketika Ali mengangkat kepalanya, Rasulullah berkata, “Semoga Allah mencurahkan berkah dan ke­bahagiaan kepada kalian berdua, serta mengaruniai banyak keturunan.”

Keluarga Miskin

Sebagaimana kehidupan rumahtangga ayahnya yang sederhana, sepasang pengantin baru itu memasuki pintu ru­mahtangga dalam keadaan sangat sederhana. Bahkan ter­golong miskin. Ali bin Abi Thalib, tidak mampu membayar upah pelayan, sehingga semua urusan rumahtangga diselesaikan berdua. Bersama Fatimah.

Suatu hari, Fatimah datang menghadap Rasulullah min­ta pelayan dari hasil rampasan perang. Tapi, beliau menolaknya. Rasulullah malah mengajari beberapa doa, dan me­nyuruh Fatimah agar meminta pertolongan kepada Allah supaya dapat mengurusi rumahtangga, mendidik anak, serta melayani suami  “Ya Fatimah, bersabarlah, sesunggunya sebaik-baik wanita adalah yang bisa memberi manfaat kepada keluarganya,” nasehat Rasulullah.

Dengan saling mengayunkan tangan, suami istri itu mengayuh bahtera rumahtangga, serta mengasuh kelima orang anaknya. Yakni Hasan, Husain, Muhsin, Zainab, dan Umi Kaltsum. Sementara itu Rasulullah selalu mendorong dan ikut membantunya dengan penuh kasih dan sayang.

Bila waktu shalat fajar tiba, Rasulullah selalu mendatangi pintu rumah Ali, sambil mengingatkan, “Waktu shalat telah tiba, waktu shalat telah tiba! Sesungguhnya Allah akan menghilangkan dosa-dosamu hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab:33)

Pernah pada suatu hari Rasulullah pulang dari suatu perjalanan, lalu menemui Fatimah. Dan beliau dapatkan Fatimah tengah memakai kalung, dua anting-anting, dan dua gelang perak. Serta sebuah tirai terpasang di atas pintu. Melihat kejadian itu, beliau langsung keluar. Dalam keadaar marah, beliau langsung naik mimbar. Fatimah pun sangat cepat menangkap isyarat ayahnya. Ia langsung me­lepas kalung, anting-anting, dan gelang yang menempel pada tubuhnya. Dan tirai di atas pintu itu pun dilepasnya Pula. Lalu mengirimkannya kepada Rasulullah yang sedang berada di atas mimbar. “Ayahanda, gunakan ini semua di jalan Allah,” kata Fatimah.

Dengan perasaan sangat gembira Rasulullah menerima penyerahan harta dari Fatimah. Lalu beliau bersabda, “Fati­mah telah melakukannya. Ayahnya menjadi tebusannya, ayahnya menjadi tebusannya, ayahnya menjadi tebusannya. Dunia bukan milik Muhammad, dan bukan pula milik keluarga Muhammad. Andaikata dunia ini di sisi Allah ha­nya selebar sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir seteguk air pun.”

Sebagaimana lazimnya rumahtangga pada umumnya, rumahtangga Fatimah dan Ali pun sekali waktu pernah ter­goncang oleh perselisihan dan kesalah-pahaman antara suami istri. Bahkan hal itu pernah terjadi pula dalam ru­mahtangga Rasulullah. Jika terjadi yang demikian, maka Rasulullah selaku bapak yang penuh kasih sayanglah yang menjadi pendamai. Keluarlah beliau dengan senyum gem­bira setelah suasana suram menyelimuti rumah itu sebelum­nya. Ketika Para sahabat menanyakan, beliau menjawab, “Mengapa tidak? Aku telah mendamaikan orang-orang yang paling aku cintai.”

Suatu pertengkaran antara Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib pemah terjadi. Yakni ketika Fatimah mengetahui Ali bin Abi Thalib ingin kawin lagi dengan wanita lain. Dengan cemberut. Fatimah lari menghadap kepada ayahnya sambil melampiaskan tangis dan amarahnya. Mereka yang melihat beranggapan bahwa Rasulullah sedang marah kepada puteri- puterinya.

Sepintas Rasulullah mengetahui apa yang dimaksud Fa­timah. Karena Bani Hasyim bin Mughirah pernah datang meminta izin kepada Rasulullah untuk mengawinkan puteri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Dengan perasaan hati nan sedih, Rasulullah kemudian naik mimbar. Beliau ber­sabda, “Ketahuilah,, bahwa Bani Hasyim bin Mughirah telah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan puteri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, bahwa aku tidak mengizinkannya. Fatimah adalah darah dagingku. Apa yang membuatnya susah, juga menyusahkan aku.”

Mirip Rasulullah

Fatimah dikenal sebagai seorang yang paling mirip de­ngan Rasulullah dalam cara perjalanan dan pembicaraan­nya. Aisyah berkata, “Tiada aku lihat makhluk Allah lebih mirip cara berbicaranya dengan Rasulullah selain Fatimah.”

Bila Fatimah menemui Rasulullah, maka beliau lalu memegang tangannya dan menciuminya. Menyambut kedatangannya, lalu mendudukkannya diatas tempat duduk beliau. Bila Rasulullah masuk kerumah Fatimah, ia lalu berdiri menyambut kedatangannya. Memegang tangan Rasulullah lalu menciuminya. Dan mempersilahkan beliau duduk diatas tempat duduk Fatimah. Begitulah hubungan akrab yang penuh kasih sayang antara seorang bapak dengan anak wanitanya.

Pada suatu hari Rasulullah datang menjenguk Fatimah, dan beliau dapati Fatimah sedang menggiling gandum dengan batu gilingan. Sementara baju yang dipakai Fatimah tampak terbuat dari bulu onta. Maka menangislah Rasulullah melihat keadaan putrinya. Kemudian beliau bersabda, “Ya Fatimah, rasakanlah kepahitan hidup di dunia, untuk kemudian merasakan nikmat akhirat.”

Suatu hari, Rasulullah menjenguk Fatimah yang sedang sakit. Beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai anakku?” Fatimah menjawab, “Aku sedang sakit dan lapar.” Rasulullah kemudian memberi nasehat, “Tidakkah engkau suka menjadi pemimpin wanita seluruh alam?”

Hubungan Fatimah dengan ayahnya sangat akrab, sehingga ketika Rasulullah sakit mendekati ajalnya, beliau bersabda, bahwa Fatimah termasuk orang yang pertama kali menyusulnya (ke alam baka) diantara keluarga. Benar juga apa yang dikatakan Rasulullah. Enam bulan berselang, Fatimah meninggal menyusul ayahandanya, yakni dalam usia tigapuluh tahun. Inna lillahi wa inna ilahi raji`un.

%d bloggers like this: