Aisyah

Ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai, ya Rasulallah?” Jawab beliau, “Aisyah.” Merasa kurang puas, si penanya mengulangi pertanyaannya Iagi. “Ya Rasulullah, yang aku maksud adalah dari kalangan kaum lelaki” Jawab Rasulullah, “Abu Bakar, ayah Aisyah.”

Jawaban Rasulullah itu sudah cukup memberi gambar­an, siapa sebenamya dan bagaimana kedudukan Aisyah di mata Rasulullah. Abu Bakar (ayah Aisyah) termasuk sahabat Rasulullah yang setia lagi pemurah. Tentang Abu Bakar, Rasulullah telah memberikan pernyataan, “Tiada aku me­nyeru seseorang kepada Islam, melainkan ia bimbang dan ragu, kecuali Abu Bakar. Tidaklah ia menunggu dan bimbang ketika aku ceritakan kepadanya tentang Islam.” Abu Bakar termasuk orang yang paling mantap memeluk Islam sejak ia mendengar berita tentang kerasulan Muhammad bin Abdillah.

Begitu besar peranan Abu Bakar dalam penyebaran Is­lam pertama kali di Makkah. Sampai-sampai Rasulullah me­ngatakan, “Bagiku, tidak ada harta seseorang pun yang le­bih bermanfaat melebihi harta Abu Bakar.” Mendengar pernyataan Rasulullah, Abu Bakar langsung menangis. Ia mengatakan, “Ya Rasulullah, _bukankah aku dan hartaku semata-mata hanya untukmu?”

Ditinjau dari segi nasab, Aisyah dengan Muhammad, bertemu pada kakeknya yang bernama Murrah bin Ka’ab. Aisyah berasal dari Bani Taim, yang terkenal dengan sifat­nya yang pemurah dan pemberani, jujur, tepat berpenda­pat, dan berlaku baik kepada kaum wanita. Sementara itu, Abu Bakar (ayah Aisyah) adalah ahli nasab Quraisy. Se­orang pedagang yang berakhlak mulia dan tersohor. Banyak orang yang terhormat kepadanya karena ilmu, pengalaman, serta pergaulannya yang baik.

Tentang kemurahan hati dan kezuhudan Aisyah, kitab­-kitab tarikh telah memberikan kesaksian. Yakni suatu ketika ia mendapat uang seratus ribu dirham. Uang itu lalu ia bagi­-bagikan, hingga habis. Padahal ketika itu ia sedang dalam keadaan berpuasa. Lalu Umi Burdah bertanya kepadanya, “Ya Aisyah, tidakkah engkau menyisihkan barang satu dir­ham untuk membeli daging Sebagai persiapan berbuka pua­sa?” Jawab Aisyah, “Andaikata engkau ingatkan aku, tentu akan aku lakukan.”

Tentang ilmu dan adab. Aisyah, Abu Musa memberikan kesaksian, “Bila kami para sahabat mengalami kesulitan dalam menghadapi suatu perkara, maka kami menanyakan jawabannya kepada Aisyah.” Musa bin Thalhah juga mem­berikan kesaksian yang sama. “Tidaklah aku melihat orang yang lebih fasih daripada Aisyah.” Abu Dhuha mengete­ngahkan sebuah riwayat yang bersumber dari Masruq, bah­wa para sahabat sering bertanya kepada Aisyah tentang fa­raidh. Sementara itu diketengahkan pula sebuah riwayat dari Atha’ bin Rabah, “Adalah Aisyah termasuk orang yang paling faqih, paling mengetahui, serta paling baik penda­patnya mengenai berbagai masalah secara umum. Adalah Aisyah tempat berguru kaum pria. Dan banyak muridnya yang terkenal, kemudian menjadi guru-guru dan panutan bagi generasi berikutnya.

Jangan Ganggu Aku

Sebagai isteri Rasulullah, Aisyah sering membuat cem­buru isteri-isteri yang lain. “Jangan ganggu aku mengenai Aisyah. Karena, demi Allah, tidaklah turun wahyu kepadaku dalam selimut seorang wanita di antara kamu sekalian, me­lainkan ketika berada di sisi Aisyah,” sabda Rasulullah kepa­da mereka.

Kepada isteri Rasulullah yang lain, Aisyah pernah berkata, “Aku membanggakan diriku kepada para isteri Rasu­lullah yang lain dengan empat hal. Beliau mengawini aku ketika masih perawan. Dan tidak pernah beliau mengawini seorang perawan pun selain aku. Tidak pernah turun wahyu kepada Rasulullah semenjak beliau berumaht angga denganku, kecuali di rumahku. Pernah turun wahyu AI-Qur’an yang memberikan kesaksian atas kesucian dan kebersihanku dari tuduhan berzina yang dilontarkan orang-orang munafik. Jibril pernah datang kepada Rasulullah dengan menyerupai rupaku dua kali sebelum beliau menikah denganku.”

Suatu ketika Aisyah pernah berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, ya Rasulullah. Maka berdoalah kepada Allah agar mengampuni dosaku yang terdahulu dan yang akan datang.” Maka kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya, hingga terlihat kedua ketiaknya yang putih. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Aisyah binti Abu Bakar dengan ampunan lahir batin, yang tidak meninggalkan dosa dan tidak pula menghasilkan dosa sesudahnya.”

Aisyah merasa gembira dengan doa mustajab yang di­panjatkan Rasulullah itu. Dan berprasangka bahwa doa itu khusus baginya. Maka kemudian Rasulullah bersabda, “De­mi Zat yang mengutusku dengan membawa kebenaran. Aku tidak mengkhususkan dengan doa itu kepada se­seorang di antara umatku. Dan, itu adalah doa bagi umatku yang aku panjatkan di sepanjang siang dan malam. Yakni untuk mereka yang sudah meninggal maupun yang kini masih hidup, hingga kiamat tiba.”

Maka Usaid bin Hudhair berkata, “Inilah bukanlah berkahmu yang pertama bagi kami, wahai keluarga Abu Bakar.” Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Usaid bin Hudhair mengatakan perkataan ini ketika Rasulullah dan kaum mus­limin tertahan dalam suatu peperangan karena putusnya ka­lung Aisyah. Sedang mereka tidak mempunyai persediaan air. Maka kemudian turunlah ayat tayamum.

“Hai orang-orangyang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. Dan sapulah kepa­lamu, serta basuhlah kakimu sampai dengan perjala­nan, atau kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Maidah :6)

Panggillah Rasulullah

Perihal pernikahan Aisyah dengan Muhammad Rasulul­lah, maka ikutilah penuturan Khaulah binti Hakim berikut.

“Aku memasuki rumah Abu Bakar dan di situ menjum­pai Umu Ruman (ibu Aisyah). Lalu aku berkata kepadanya, “Apakah kebaikan dan keberkatan telah dicurahkan Allah kepada kalian?” Umu Ruman bertanya, “Apakah itu, ya Khaulah?” Aku menjawab, “Rasulullah mengutusku untuk meminang Aisyah.”

“Ketika Abu Bakar datang,” lanjut Khaulah, “aku ceri­takan pula kepadanya seperti apa yang telah aku ceritakan kepada istrinya. Kemudian Abu Bakar meminta aku me­nunggu hingga Aisyah pulang. Karena Aisyah telah dipinang oleh Muth’im bin Jubair, untuk anaknya yang ber­nama Jubair. Dan pinangan itu. sudah disetujui Abu Bakar. Tapi Muth’im dan, istrinya sangat khawatir bila anaknya be­nar-benar menikah dengan Aisyah. Ia merasa takut dan khawatir bila suatu saat anaknya masuk Islam.”

“Ketika Abu Bakar kembali ke rumahnya, ia berkata kepada aku, lanjut Khaulah. “Panggillah Rasulullah untuk datang menghadap kepadaku,” kata Abu Bakar. “Maka aku segera memanggilnya. Dan beliau datang ke rumah Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar mengawinkan Rasulullah de­ngan Aisyah. Cuma saja beliau belum serumah dengan Ai­syah sampai setelah hijrah ke Madinah Al-Munawarah.”

Untuk lebih melengkapi kesaksian-kesaksian yang ada, perlu pula diperhatikan penuturan Aisyah sendiri tentang pernikahannya. “Suatu hari, Rasulullah datang ke rumahku. Lalu kaum lelaki dan kaum wanita dari kalangan sahabat Anshar berkumpul. Ibu datang menghampiriku, yang saat itu sedang berada di atas bandulan. Lalu menurunkan aku dari bandulan, kemudian merapikan rambutku dan mengu­sap wajahku dengan sedikit air. Aku kemudian dibimbing masuk ke dalam rumah, dan aku melihat Rasulullah berada di atas dipan rumahku. Lalu aku didudukkan di pangkuan­nya. Ibu kemudian berkata, “Inilah isterimu, ya Rasulallah. Semoga Allah memberimu berkah kepadanya, dan mem­berinya berkah kepadamu.”

Alkisah, Aisyah adalah seorang pengantin manis yang memiliki bola mata yang bulat lagi berbinar-binar. Berambut keriting, rona wajahnya kemerah-merahan. Meski saat itu masih muda belia, namun sejak memasuki rumah Rasulul­lah, semua orang merasakan keberadaannya sebagai seo­rang ibu. Ia dibesarkan oleh Rasulullah. Berada dalam bim­bingannya, sejak kanak-kanak hingga menjadi pemudi yang matang dengan pengalaman. Ia sering didatangi para kaum wanita untuk membicarakan berbagai masalah, dimintai pendapat, serta diajak bermusyawarah.

Salah seorang di antara kaum wanita, ada yang ber­tanya tentang masalah perhiasan dan cara berhias. Maka kemudian Aisyah menasihatinya, “Jika engkau mempunyai seorang suami, dan engkau mampu mengganti kedua bola matamu dengan yang lebih baik, maka lakukanlah.”

Pernikahan yang Aneh

Kalangan orientalis Barat menganggap pernikahan Ra­sulullah dengan Aisyah sebagai sesuatu yang aneh. Karena pernikahan itu antara seorang lelaki dewasa dengan pera­wan yang masih bocah. Para orientalis telah keliru dalam beranggapan. Karena mereka mengkiaskan gadis-gadis di jazirah Arab dengan gadis-gadis Barat yang beradab. Gadis Barat biasanya tidak akan menikah sebelum mencapai usia dua puluh lima tahun. Sementara gadis seusia itu di jazirah Arab, dianggap sebagai usia yang terlambat menikah. Dan hal itu berlaku hingga sekarang.

Setelah mengunjungi jazirah Arab dan melakukan ka­jian, para orientalis secara jujur mengakui, “Meski masih kecil, namun Aisyah mengalami pertumbuhan yang sangat cepat, seperti yang dialami wanita-wanita Arab pada umur dua puluh tahun ke atas.”

Boudly (Sejarawan-pen) juga memberikan pernyataan, “Pernikahan se­perti itu merupakan adat kebiasaan bangsa Asia. Dan adat seperti itu masih berlaku juga di bagian timur Eropa. Suatu hal yang sangat lumrah berlaku di Spanyol dan Portugis hingga tahun-tahun belakangan ini. Kebiasaan itu bukanlah hal yang luar biasa di sebagian kawasan pegunungan yang jauh dari Amerika Serikat.”

Wanita Anshar

Aisyah adalah satu di antara isteri Rasulullah yang paling banyak memperoleh didikan langsung dari beliau. Paling menghayati kebesaran dan kemuliaan beliau,serta mene­rima ilmu, hikmah, dan petunjuk dari beliau. Tidak meng­herankan lagi bila sesudah Rasulullah wafat, ia menjadi sum­ber rujukan tentang sunnah-sunnah Rasul, serta perilaku yang diriwayatkan oleh para perawi dan ahli hadis. Terutama sekali mengenai masalah wanita.

Ia pernah menderita tekanan batin, akibat berita bo­hong (fitnahan) yang ditiupkan oleh pemimpin orang-orang munafik, Abdullah bin Ubayin bin Salul. Ia difitnah berbuat serong dengan lelaki lain. Fitnahan itu juga membuat Rasu­lullah menderita, sehingga Allah menurunkan wahyu untuk membersihkan dan menyucikan Aisyah dari tuduhan. Dengan wahyu Al-Qur’an itulah nama Aisyah kembali bersih dan terjaga. Dengan wahyu Al-Qur’an itu, kaum muslimin memperoleh pelajaran, agar tidak biasa menyerang dan menjatuhkan kehormatan orang-orang mukmin, baik laki­laki maupun perempuan.

Nama dan kehormatan Aisyah memang selalu terpeli­hara. Sejak masih usia muda hingga ajal menghampirinya. Ia meninggal dalam usia enam puluh enam tahun. Nama baik itu memang dipelihara Rasulullah dan oleh Al-Qur’an. Namanya selalu tercatat dalam perjalanan sejarah Islam, baik dalam ilmu politik, tasyri’, dan ilmu adab. Banyak hadis-hadis Rasulullah yang diriwayatkan dari Aisyah, ke­mudian menjadi pegangan umat Islam hingga sekarang.

Tentang peranan ilmu, Aisyah mengatakan,” Sebaik-­baik wanita adalah wanita Anshar. Meraka tidak malu-malu untuk belajar agama”. Dan, Aisyahlah yang menjadi pelopornya.

%d bloggers like this: