Menembus Batas Kemampuan Berfikir

Seringkali seseorang mengeluh untuk melakukan suatu tugas ataupun suatu pekerjaan. Belum mencoba menyerah terlebih dahulu. Mereka beranggapan tidak mampu melaksanakannya.

Benarkah dari keterbatasan sebagai makhluk yang manusiawi, maka kemampuan yang dimiliki juga benar-benar terbatas? Terlepas dari semua itu banyak hal yang perlu dikaji, lebih- lebih menyangkut otak. Hasil kerja dari otak itu adalah berpikir. Lalu bagaimana cara berpikir jika dihadapkan pada ketebatasan serta ketidakmampuan?

Awalnya berpikirlah bawha diri ini sanggup. Sanggup dalam artian untuk melakukan suatu tugas tertentu dan sanggup pula menanggung segala kemungkinan risiko yang ada. Adanya perasaan bahwa diri sanggup menjadikan pikiran, utamanya alam bawah sadar, akan mencari cara-cara dalam penyelesaiannya.

Sebenarnya apa yang terjadi adalah tergantung pada bagaimana cara berpikir kita di dalam setiap menghadapi segala sesuatunya. Woodroe Wilson, seorang Presiden Amerika, jika menghadapi suatu kesutitan atau permasalahan yang harus diselesaikannya, ia memanfaatkan kemampuan alam bawah sadarnya. Menjelang tidur, apa-apa yang menjadi permasalahannya dituliskannya sebagai pernyataan untuk dibacanya dengan penuh keyakinan. Dengan harapan ia menemukan penyelesaian yang tuntas dari persoalan yang mengganggu pikirannya.

“Biasanya pada saat-saat yang sangat darurat; kata Woodroe Wilson, “juga pada tekanan emosi yang intens, petunjuk-petunjuk yang saya perlukan cepat datangnya. Namun jika ada keraguan di dalam pikiran saya, maka, hasil yang saya peroleh juga negatif!”

Dari apa yang dikatakan Wilson, maka ada satu hal yang bisa kite ambil, yaitu tanamkan bahwa diri ini memiliki kemampuan melebihi dari apa yang kita ketahui sekarang ini.

Di Prancis, ada pendapat yang dikemukan oleh seorang gadis. Umumnya,untuk bisa menguasai hal baru atau kepandaian yang baru, tiap orang diibaratkan sebagai sosok yang berjalan di dalam terowongan. Mereka berusaha mencari jalan keluar dengan mengikuti alur terowongan yang belum tentu ujungnya. Selain memboroskan waktu, kemungkinan menemukan jalan keluar juga kecil. Sementara, dalam pendapatnya, gadis Prancis itu lebih memilih untuk memecahkan dinding goa untuk menemukan jalan keluar. Gadis Perancis ini adalah penemu komputer yang dikendalikan secara lisan

Istilah memecah dinding goa adalah upaya serta kerja keras untuk menutupi keterbatasan yang dimiliki. Jika istilah memecah dinding goa dipakai untuk pengendalian alam pikiran bawah sadar, itu adalah saat-saat pengenalan bagi alam bawah sadar kita terhadap hal-hal yang harus dikerjakannya.

Misalnya yang paling sederhana adalah keinginan untuk bangun pagi menjelang waktu subuh, Ada kiat, yang diistilahkan mental trick untuk menggunakan alam bawah sadar guna membangunkan diri ini tepat pada waktu subuh. Sebagaimana cara yang dilakukan Wilson, membaca keras-keras dan penuh keyakinan pernyataan yang mengusik pikirannya. Maka katakan dengan penuh keyakinan pula keinginan untuk bangun di waktu pagi. Tentukan pula kapan waktu yang diinginkan untuk bangun. Misalnya jam 03.30,1akukan cara sederhana ini terus sampai alam pikiran bawah sadar terbiasa dengan tugas yang lebih berat 1agi.Ciptakan sampai hal itu menjadi kebiasaan sehari-hari

Pemberian tugas secara kontinyu kepada alam pikiran bawah sadar menjadikannya sadar akan tugas tersebut. Satu hal, buang jauh-jauh perasaan berputus asa atau mudah menyerah.

Konon Abraham Lincoln mengalami banyak kegagalan sebelum ia benar benar menduduki kursi ke Presidenan di Amerika Serikat. Demikian juga Thomas Alfa Edison, is harus mengalami kegagalan sebanyak 200 kali dalam usahanya untuk menyalakan lampunya, sebelum ia berhasil membuat lampu yang benar-benar bisa dinyalakan. Juga banyak tokoh-tokoh terkenal dunia ini mengalami kegagalan pula, sebelum benar-benar meraih kesuksesan.

Dari.beberapa contoh itu mengingatkan bahwa segala usaha harus didasarkan pada pikiran bahwa sebenarnya kemampuan yang ada pada diri ini melebihi dari apa yang sudah diketahui sekarang ini. Di dalam kesulitan,pasti ada kemudahan.

Memecah dinding goa memang tidak semudah jika hanya berjalan menelusuri lorong goa Memecah dinding goa perlu kerja keras ekstra, juga kesabaran yang tinggi, kaena di dalam melakukannya penuh dengan berbagai kesulitan-kesulitan. Namun jika pikiran diingatkan pada ayat 5 dan 6 dari surah Al- Insyirah :”Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan”. ini akan memberikan masukan yang positif ke dalam alam pikiran bawah sadar. Ditambah dengan keyakinan yang mantap, akan kebenaran janji Allah SWT.

Dalam ayat 5 dan 6 itu ditegaskan, setelah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Jika makna kedua ayat tersebut dicamkan dalam pikiran kemudian diteruskan ke alam pikiran bawah sadar, maka, akan mengokohkan kejiwaan sehingga menjadi suatu sikap dan pendirian hidup yang teguh.

Suri tauladan yang diberikan Sayyidina Umar bin Khathab, tertulis didalam kitab Al-Muwaththa, karya imam Malik : “Dari Zaid bin Aslam, berkata dia :”Abu Ubaidah bin Jarrah menulis surat kepada Umar bin Khathab yang isinya menerangkan bahwa suatu tentara Rum (Persia) yang sangat besar telah siap akan menyerang mereka, kekuatan tentara itu amat mencemaskan”.

Surat itu dibalas oleh Sayidina Umar bin Khathab, di antara’ isinya :”Amma Ba`du ; Bagaimanapun jua kesulitan yang diahadapi oleh orang yang beriman, namun Allah akan melepaskannya juga dari kesulitan itu, karena satu ‘usrin (kesulitan) tidaklah akan dapat me­ngalahkan dua yusra (kemudahan):

Keteguhan jiwa yang terbentuk pada diri SayyidinaUmar, tentunya telah,mengalami tempaan yang demikian keras. Dalam sejarah Tarikh Islam bagaimana Rasullullah membentuk jiwa-jiwa pengikutnya telah banyak tercatat. Dari awal perjuangan dengan hanya sedikit pengikut hingga menjadi besar, benar-benar di luar batas kemapuan berpikir manusia biasa.

Dalam hadist di atas, disebutkan orang yang beriman. Beriman dalam artian memiliki keyakinan yang mendalam. Sebab dengan adanya keyakinan akan membuka peluang bagi manusia, untuk dapat berhubungan dengan kekuatan dan kecerdasan dari alam kosmis yang tak terbatas.

PENYELEKSIAN PIKIRAN

Diakui atau tidak, pikiran yang dibiarkan menganggur akan cenderurg menyerap hal-hal yang bersifat negatif. Jika dibiarkan pikiran akan melayang ke tempat-ternpat yang menawarkan kesedihan atau sikap pesimistis. Akibat selanjutnya adalah menimbulkan reaksi berantai yang berupa rasa sakit dan kepedihan di dalam hati. oleh karenanya, jangan biarkan pikiran berkeliaran semaunya tanpa kontrol.­ Jadi, gunakan hanya untuk berpikir pada hal-hal yang bermanfaat. Atau berpikirlah tentang segala sesuatu dari sisi positifnya.

Jika menginginkan hasil terbaik darinya, maka, pengontrolan terhadap pikiran mutlak diperlukan Pengontrolan dan penyeleksian pikiran ini menyangkut pula kebenaran dari pikiran itu sendiri. Kini permasalahannya, sudah benarkah pikiran yang selama ini dimiliki? Atau dengan kata lain; sudah benarkah persepsi yang dimiliki selama ini terhadap suatu hal?

Sesungguhnya apa yang ada di dalam pikiran itu lebih banyak hal yang bersifat prasangka. Akibatnya, timbul keragu-raguan akan segala sesuatu yang bermuara pada kekurangpastian terhadap kebenaran pikiran itu sendiri.

Lantas apa saja yang mesti dilakukan untuk penyeleksian pikiran itu? Pertama; bersikap jujur pada diri sendiri. Sikap ini perlu ditanamkan sejak awal untuk mencari kebenaran terhadap segala persoalaan. Adanya sifat jujur, nantinya akan membawa ketentraman dalam pikiran.

Berikutnya, berpikir secara utuh. ini menyangkut bagaimana cara kita berpikir terhadap suatu obyek. Berpikir secara untuh amat berguna dalam memecahkan. problem.  Dengan cara pemikiran seperti ini menolong seseorang untuk tidak bersikap bingung. Karena jika berpikir bagian demi bagian seolah-olah menimbulkan pertentangan­-pertentangan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Yang akhirnya akan mengakibatkan kelemahahn berpikir dan kurangnya rasa percaya diri.

Terakhir, memiliki wawasan yang luas. Utamanya, memiliki pemahaman terhadap segala sesuatu yang akan dilakukan. Pemahaman terhadap sesuatu itu terjadi karena pengalaman, bacaan juga dari proses perenungan.Jadi, dengan banyaknya pemahaman terhadap sesuatu baik berupa pengalaman, bacaan, juga dari proses perenungan, maka, akan bisa menjadi bahan perbandingan karena banyaknya alternatif yang disimpan di dalam pikiran.

Jika wawasan yang dimiliki luas maka, Insya Allah hasil penyeleksian pun merupakan intisari dari berbagai kebenaran pikiran yang ada.

Dari berbagai contoh juga suri tauladan yang diambilkan dari tokoh-tokoh terkenal yang tersebut di atas, maka sebagai mahluk yang manusiawi harus diakui betapa manusia memang memiliki keterbatasan. Namun akankah keterbatasan itu mengurung atau memenjarakan kemampuan berpikir lantas melupakan kekuatan yang maha dahsyat yang ada di alam ini?

(dari berbagai sumber)

%d bloggers like this: