Kisah Legendaris Perang Banjar

Banyak kisah legendaries pada masa Perang Banjar yang berlangsung sejak 1859 sampai 1865. salah satunya terdapat pasukan berani mati yang dinamakan Pasukan Perang Beratib Ba-mal. Sampai sekarang, nama Pasukan ini masih sangat melegenda….


Awal mula terjadinya konflik di Keraton Banjar adalah ketika Sultan Tahmudiah I wafat. Beliau mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Oleh sebab itu, untuk sementara kekuasaan dipegang oleh Pangeran Tamjidillah I, saudara, Sultan Tahmidillah I. Namun pada kenyataannya, Pangeran Tamjidillah I bukan hanya menjadi wali kemenakannya yang masih kecil, tetapi mengambil alih kekuasaan dengan halus dan tak mau mengembalikan

kepada anak Sultan Tahmidillah I. Bahkan untuk memperkuat kedudukannya sebagai Sultan beserta anak cucunya dikemudian hari, Tanah Banjar diserahkan kepada Belanda. Kemudian oleh Belanda hakPemerintahan pun diberikan kepada Sultan Tamjid I dan keturunannya.

Oleh sebab itu terjadilah perlawanan bersenjata dari Pangeran Amir(Kakek pahlawan Pangeran Antasari), keturunan Sultan Tahmidillah I. Namun perlawanannya dapat dipatahkan oleh Belanda. Dia kemudian diasingkan ke Ceylon atau Srilanka.

Untuk mendamaikan kedua keturunan tersebut, maka, Sultan Adam Al Wasique Billah yang merupakan keturunan Sultan Tamjidillah I menikahkan puterinya dengan Pangeran Antasari. Namun sayang, Ratu Antasari keburu wafat sebelum memberi keturunan.

Di samping itu, Sultan Muda Pangeran Abdurrahrnan juga mempunyai seorang selir bangsa Cina. Pada 1817 sang selir melahirkan seorang putera. Sultan Muda Pangeran Abdurrahman menginginkan putera tersebut menjadi putra mahkota. Oleh sebab itu maka ibunya dimerdekakan dan dinikahi secara sah dan diberi nama Nyai Besar Aminah. Sedangkan puteranya diberi nama Pangeran Tamjidilllah,

Keinginan Sultan Muda Pangeran Abdurrahman tersebut ditentang oleh Kakek dan Ayahnya yaitu Sultan Sulaiman dan Sultan Adam Al Wasiqu`Billah. Mereka memaksa Sultan Muda Pangeran Abdurrahman menikah dengan saudara sepupu sendiri yaitu Ratu Siti, Puteri Mangkubumi Nata.

Mangkubumi Nata besedia menikahkan puterinya dengan Sultan Muda Pangeran Abdurrahman dengan syarat, putera yang lahir nantinya akan menjadi raja apabila Sultan Muda wafat. Syarat ini disetujui, dan Sultan Muda pun membuat surat wasiat tentang siapa-siapa yang berhak atas singgasana Kesultanan Banjar.

Pada 1822Iahirlah Pangeran Hidayatutlah. Beberapa tahun kemudian Mangkubumi Nata wafat sehingga jabatan’tersebut. kosong. Kesempatan ini dipergunakan oleh Pangeran Tamjid dengan sebaik-baiknya, yaitu meminta agar Belanda mengangkatnya sebagai Mangkubumi di Kesultanan Banjar.` Dengan senang hati, tentu saja pihak Belanda menyetujui karena akan menguntungkan’ mereka.’

Pada 1852 Sultan Muda Pangeran Abdurrahman wafat secara tiba-tiba. Sehari kemudian dengan diam-diam Pengeran Tamjid mengirim surat kepada Residen Belanda di Banjarmasin agar mengangkatnya sebagai putera mahkota Kesultanan Banjar dengan menjanjikan penyerahan wilayah-wilayah yang diminta Belanda asal permintaannya disetujui. Sekali lagi Belanda mengabulkan permintaan Pangeran Tamjid, karena bagi Belanda ini adalah kesempatan menangguk ikan di air keruh, sekaligus menjalankan politik devide et empera: pecah belah lalu jajah.

Pada 10 Juni 1852 Belanda menobatkan Pangeran Tamjid menjadi putera mahkota. Tentu saja pengangkatan ini menimbulkan reaksi kemarahan bagi para kaum bangsawan, ulama dan masyarakat terhadap Pangeran Tamjid beserta sekutunya, terutama orang-­orang Belanda.

Pada April 1853, Sultan Adam, Putera Sultan Muda Pangeran Abdurrahman mengirim utusan ke Betawi untuk menemui Gubernur Jenderal Hindia Belanda guna meminta keadilan pembatalan pengangkatan PangeranTamjid menjadi putera mahkota dan Menetapkan Pangeran Hidayatullah menjadi putera mahkota sesuai dengan testamen Sultan Adam. Tetapi permintaan ini ditolak oleh Gubemur Hindia Belanda. Hal ini menambah semakin panasnya suhu politik di Kerajaan Banjar sehingga Pangeran Tamjid tidak berani tinggal di Keraton Banjar yang terletak di­Ibukota Permata Pura (Kota Permata) yang oleh orang Banjar disebut Kota Martapura sekarang Martapura ibukota Kabupaten Banjar.

Pangeran Tamjid mengungsi ke Keraton Banjarmasin. Untuk mendinginkan suasana politik yang semakin panas, akhimya .Belanda mengangkat Pengeran HidayatuIlah menjadi Mangkubumi yang sebelumnya dijabat oleh PangeranTamjid dan menetapkan PangeranTamjid sebagai putera mahkota. Selain itu Belanda menangkap Pangeran Prabu Anom serta mengasingkannya ke Banjarmasin karena dianggap sebagai provokator yang menentang keputusan­-keputusan Belanda.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terhadap puteranya, maka, Sultan Adam pun ikut mendampingi Pangeran Prabu Anom pindah ke Banjarmasin. Ketika gering, atau sakit keras, beliau pun dibawa ke Keraton Banjar di Martapura. Pada 01 Nopember 1857 beliau wafat dan dimakamkan di Martapura

Pada 3 Nopember 1857 Belanda menobatkan Pangeran Tamjid sebagai raja pengganti Sultan Adam, dan dengan serta merta Pangeran Tamjid memerintahkan penangkapan terhadap Pangeran Prabu Anom kemudian membuangnya ke Bogor, Jawa barat.

Pada 1858, timbul suatu gerakan rakyat yang ingin mengembalikan kebudayaan dan konsesi kerajaan yang sudah rusak akibat masuknya kekuasaan penjajajah Belanda.

MUNCULNYA TITISAN PUTERI JUNJUNG BUIH

Disebutkan, puteri gaib yang muncul dari buih pusaran air, kemudian oleh Lambung Mangkurat dinobatkan sebagai ratu di Kerajaan Nagara Dipa, dan kemudian dinikahkan dengan bangsawan Keraton Majapahit yang bernama Raden Putra

Setelah nikah dengan Puteri Junjung Buih, Raden Putra menjadi raja di Kerajaan Nagara Dipa dengan nama Pangeran Surya Ananta (anak matahari). Menurut legenda masyarakat Banjar, mereka berdua-pada akhirnya mokswa atau menghilang ke alam gaib dan menjadi penguasa di Keraton Gaib Gunung Pamaton

Menurut kepercayaan masyarakat, mereka berdua bisa menitis atau merasuki raga orang yang mereka inginkan.

Demikianlah, pada waktu suhu politik di Kerajaan Banjar semakin panas karena turut campur tangan Belanda pada penobatan Pangeran Tamjid sebagai raja di Kerajaan Banjar untuk menggantikan Sultan Adam karena Sultan Muda Pangeran Abdurrahman sudah wafat terlebih dahulu. Padahal, kaum bangsawan, alim ulama dan masyarakat Banjar menghendaki Pangeran Hidayatullah menjadi Sultan, sesuai dengan testamen atau wasiat Sultan terdahulu

Salah seorang ulama yang shaleh di Kumbayau Tambarangan, Rantau (Kabupaten Tapi sekarang), bernama Datu Aling merasa prihatin akan kemelut di dalam Keraton Banjar tersebut. Oleh,sebab itu beliau salampah atau tirakat dengan menyepi seorang diri, melakukan puasa, sholat, wirid dan zikir, serta amalan-amalan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, disertai permohonan agar diberi petunjuk dan jalan keluar atas kemelut yang sedang terjadi di dalam Keraton Banjar. Tirakat Datu Aling_dilaksanakan selama sembilan bulan sembilan hari, dimulai pada April 1858 sampai. dengan Februari 1859.

Pada 2 Februari 1859 bertepatan dengan 10 Rajab 1275 H; Datu Aling didatangi oleh raja-raja gaib Kerajaan Banjar dan meminta Datu Aling untuk mendatangkan Pangeran Antasari ke daerah Muning. Dia akan memulai kerajaan Baru sampai raja yang sah terpilih.

Pada 13 Rajab 1275 H, Puteri Datu Aling yang bernama Saranti, dirasuki oleh Puteri Junjung Buih. Dia minta dinikahkan dengan seorang pemuda kampung yang bernama Dulasa karena di dalam tubuhnya benemayam ruh gaib Pangeran Surya Ananta.

Mendengar semua itu, maka, Datu Aling pun Melaksanakan seluruh keinginan puterinya tersebut. Setelah dinikahkan dengan Dulasa, maka, Saranti diberi nama Puteri Junjung Buih dan suaminya Dulasa diberi nama Pangeran Surya Ananta. Kemudian Datu Aling mengumumkan kepada masyarakat tentang penobatan Saranti, raja titisan Puteri Junjung Buih. Daerah Kumbayau namanya diganti menjadi Kerajaan Tambay Mekah. Sebagai raja di Kerajaan Tambay Mekah, Saranti titisan Puteri Junjung Buih mengangkat ayahya, Datu Aling, sebagai panembahan, kakaknya Sambang diberi gelar Sultan Kuning, kakak Perempuannya Nuramin diberi gelar Ratu Keramat, sedangkan suami Nuramin diberi gelar seperti Mangkubumi Kusuma Nagara, Bayan Sampit, Garuntung Waluh, Garumung Manau, Kindaui Aji, Kindui Mu`l, Pembelah Batung, Panimba Sagara, ada pula Panglima Juntai Di Langit dan lain sebagainya.

Kerajaan Tambay Mekah terpisah dari Kesultanan Banjar dan tidak tunduk kepada penjajah Belanda. Saranti titisan Junjung Buih menjadi ratu di KerajaanTambay Mekah hanya sebagai simbol kepala negara, sedangkan urusan pemerintah dipegang,oleh Penembahan Muda Datu Aling. Sebagai seorang Panembahan, yang shaleh, adil dan bijaksana dia bekerja sama dengan Segera Banua Ampat, yaitu: Banua Halat, Banua Gadung, Banua Padang dan Banua Parigi. Mereka ini tunduk kepada Datu Aling. Kemudian mengikuti pula Banua Atas, Batang Hulu, Jambu, Amandit dan Pangabau

Kepada para pengikutnya, Datu Aling selalu menanamkan semangat jihad demi melawan ketidakadilan dan penjajahan. Seruan Datu Aling untuk melakukan jihad yang mendapat respon luar biasa dari masyarakat, ternyata membuat Pangeran Tamjid beserta Belanda merasa teracam kedudukannya. Untuk itu Residen Belanda di Banjarmasin mengirim sebuah tim yang terdiri dari Jaksa Kepala. Pangeran Suryadinata dan Penghulu Kepala Pangeran Muhammad Seman disertai 120 pengikut

Mengetahui Akan kedatangan mereka, maka, Datu Aling pun memerintahkan anaknya Sultan Kuning menyiapkan pasukan jihadnya sebanyak 700 orang lengkap dengan senjata terhunus

untuk menjaga segala kemungkinan yang bakal_terjadi.Tentu saja utusan Residen Belanda tersebut terkesiap menyaksikan begitu banyak jumlah pasukan jihad Datu Aling yang stap tempur jika mereka berbuat macam-rnacam. Karena mereka hanya ingin menyaksikan keadaan yang sebenarnya di Kerajaan Mekah maka mereka pun dipersilahkan menemui Datu Aling di Istana Tambay Mekah.

Setelah mendengar laporan utusannya, sekali lagi Residen Belanda memerintahkan Mangkubumi Pangeran Hidayatullah untuk menangani masalah Kerajaan Tambay Mekah. Kemudian Pangeran Hidayatullah mengutus Pangeran Antasari,. Pangeran Jantera Kesuma serta Pangeran Umar Syarif untuk menemui Datu Aling, Dalam pertemuan tersebut Datu Aling menjelaskan maksud dan tujuan didirikannya Kerajaan Tambay Mekah. Ternyata apa yang disampaikan oleh Datu Aling seiring sejalan dengart apa yang diinginkan oleh Pangeran Antasari. Hingga akhimya terjadilahn kesepakatan perjodohan antara anak Pangeran Antasari yang bernama Pangeran Muhammad Said dengan Saranti titisan Puteri Junjung Buih yang telah menjanda.

Dengan demikian bertambah kuatlah kedudukan Datu Aling karena setelah 30 hari pernikahan Pangeran Muhammad Said dengan Saranti, si titisan Puteri Junjung Buih, maka, Pangeran Antasari pun mulai aktif memimpin gerakan rakyat di Banua Ampat dan Banua lima yang diarahkan langsung kepada Belanda.

Puncaknyapada 28 April 1859 pasukan jihad Datu Aling yang berasal dari Banua Ampat dan Banua lima dibawah pimpinan Pangeran Antasari, menyerang benteng pertahanan Belanda Oranye Nassau di Pengaron. Penyerangan ini berhasil dengan gemilang. Itulah awal meletusnya Perang Banjar. Akhirnya, pertempuran pun meluas ke berbagai daerah di Kalimantan Selatan

Sebagai pembalasan atas jatuhnya benteng pertahanan Oranye Nassau di Pengaron, maka, pada 16 November 1859, secara tiba-tiba pasukan Belanda menyerang pertahanan Sultan Kuning. Serangan ini disambut dengan teriakan Allahu Akbar oleh pasukan jihad Datu Aling dibawah komando Sultan Kuning. Dalam pertempuran tersebut, pemimpin pasukan Belanda Kapten Benschop tewas terkena tombak. Hari itu juga datang lagi satu pleton pasukan Belanda yang lebih besar, namun semuanya berhasil dipukul mundur.

Pada malam harinya, datang lagi pasukan Belanda yang lebih besar menggempur benteng pertahanan Datu Aling yaitu di Masjid Muning. Pertempuran terjadi semalam suntuk. Datu Aling, Saranti Beserta beberapa orang pengikut setianya tetap bertahan di dalam masjid. Datu Aling tidak mau menyerah kepada Belanda meski api telah menjilat seluruh masjid yang terbuat dari kayu. Akhirnya, Datu Aling dan Saranti pun gugur sebagai syuhada.

Dengar gugurnya Datu Aling dan Saranti, maka, Pangeran Antasari mengeluarkan semboyan yang berbunyi “Heram manyareh, waja sampai ka putting:(haram menyerah kepada Belanda sampai tetesan darah terakhir)”

MUNCULNNYA PASUKAN PERANG BERATIB BA-AMAL

Penyerangan terhadap benteng-benteng, tambang-tambang batu bara, kapal perang dan lain-lain milik Belanda membuat si penjajah tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga pada 25 Juni 1859 Belanda memaksa Pangeran Tamjid turunt ahta dan membuangnya ke Bogor. Sedang Pangeran Hidayatullah lari dari Keraton Martapura bergabung dengan Pangeran Antasari.

Peperangan terjadi tidak hanya di daerah Kalimantan Selatan tetapi meluas sampai ke Kalimantan Tengah. Wilayah pertempuran Kalimantan Tengah yaitu Barito, Kapuas dan­ Katingan dipimpin oleh Pangeran Antasari didampingi oleh Tumenggung Surapati yang asli Suku Dayak. Daerah Martapura dan Tang Laut dipimpin oleh Demang Lehman, Daerah Banua Lima dipimpin oleh Jalil bergelar Kiyai Adipati Anom Dinding Raja.

Setelah Belanda meminta bantuan ke Batavia, maka, berdatanganlah kapal-kapal perang lengkap dengan serta serdadu-serdadu dan meriam-meriamnya. Kapal Perang Onrust berlayar ke Barito untuk menangkap Pangeran Antasari metalui Tumenggung Surapati. Namun Tumenggung Surapati tidak mau berkhianat meskipun Belanda menjanjikan hadiah beberapa ribu Gulden jika Tumenggung Surapati bisa menyerahkan Pangeran Antasari.

Pada 26 Desember 1859, tiba-tiba Tumenggung Surapati bersama anak buahnya menyerang kapal Onrust Dalam peristiwa ini Komandan kapal perang Onrust tewas beserta 93 anak buahnya. Senjata-senjata dan meriam meriamnya diangkut ke darat sedangkan kapalnya ditenggelamkan. Sementara itu, kapal perang Tjipanas yang mengarungi Sungai Martapura mendapat serangan dari Demang Lehman beserta anak buahnya sehingga buru­-buru kembali ke Banjarmasin.

Pada 11 Juni 1860, Belanda memproklamirkan dihapuskannya Kerajaan Banjar dan menjadikan wilayah itu sebagai jajahan Belanda. Dengan demikian perang melawan Belanda bukan lagi karena Belanda ikut campur tangan di dalam wilayah Keraton Banjar, tetapi perang melawan penjajahan Belanda yang ingin menghancurkan umat Islam. Oleh karena itu, pada 1861 muncullah pasukan berani mati demi membela agama Islam. Pasukan ini dinamakan Pasukan Perang Baratib Ba-amal. Landasan perjuangan mereka adalah Kalimah Allah, Hadist Nabi Muhammad SAW, minta syafa’at 40 nabi, keramat para Datu dan ilmu Pahlawan. Sebelum maju ke medan perang,terlebih dahulu, mereka mensucikan badan dari hadast dengan mandi dan wudhu, kemudian memakai pakaian putih-putih seperti pakaian perang zaman Rasullullah. Mereka juga berpuasa kemudian beratib ba amal (mengamalkan/mewiridkan salah satu amalan: Pen) hingga sampai lupa diri. Kemudian maju ke medan laga untuk menghadapi musuh. Mereka yakin, jika mereka gugur dalam pertempuran melawan orang-orang kafir Belanda dan sekutu­-sekutunya, mereka mati Syahid.

Pimpinan dari gerakan Perang Beratib Ba`mal ini adalah guru-guru agama dan penghulu. Di antara para pemimpin Pasukan Perang Baratib Ba-amal ini adalah Haji Badar dari Banua Lawas, Penghulu Rasyid, Penghulu Buyasin dan Abdul Gani dari kampung Selasih Amuntai.

Sementera itu Pula, Pangeran Hidayatullah yang telah dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Banjar di Amuntai berulang kali mendapat tawaran berdamai dari Belanda, namun tawaran itu selalu ditolaknya. Dengan tipu muslihatnya. Belanda memperdayai Pangeran Hidayatullah agar datang ke-Martapura atas perintah ibu Suri Ratu Siti. Ibu Suri Ratu Siti yang tidak bisa membaca huruf  latin percaya begitu saja kepada Belanda sehingga mau menandatangani surat yang ditulis Belanda serta dibubuhi stempel Kerajaan Banjar. Sebagai orang yang sholeh, tentu Pangeran Hidatullah takut kepada ibunya. Pangeran Hidayatullah datang ke Martapura pada 3 Maret 1862. Padas aat itu pula, beliau ditangkap dan dibuang ke Cianjur.

Pangeran Antasari meneruskan perjuangan menentang Belanda. Namun sayang beliau yang mulai sakit-sakitan akhirnya berpulang ke Rahmatullah pada 11 Oktober 1862.

Meski demikian, perang masih berlanjut. Panglima Pasukan Perang Beratib Ba-Amal Haji Buyasin gugur dalam pertempuran, menyusul kemudian Ketua Penghulu Rasyid, Panglima Bukhari,Tumenggung Macan Negara, Tumenggung Naro, dan lain-lainnya,

Demang Lehman, pemimpin Perang gerilya untukwilayah Martapura dan Tanah Laut tertangkap oleh penipuan Belanda di daerah Batu Licin kemudian diangkut ke Martapura dan dihukum gantung sampai mati di alun-alun III (sekarang halaman Masjid Agung Al-Karomah­Pen) Martapura. Setelah itu kepalanya dipotong dan dikirim ke negeri Belanda. Dan di lehernya terdapat kalung ajimat. Ketika ajimat tersebut dibuka di dalamnya terdapat kertas putih bertulis huruf Arab yaitu Mim yang artinya merdeka atau mati.

(dari berbagai sumber)

%d bloggers like this: