Ja`far Bin Abi Tholib

Ja`far Bin Abi Tholib lahir sekitar 25 tahun setelah tahun gajah. Dia adalah saudara dari Imam Ali Bin Abi Tholib, dengan perbedaan usia lebih tua sepuluh tahun. Dan sejak kecil Ja`far tinggal di tempat sepupunya, Al Abbas


Dikisahkan pada suatu hari Abu Tholib merindukan kemenakannya, Muhammad SAW. Bersama Ja’far, Abu Tholib mencari Nabi SAW Akhirnya mereka menemukan Nabi di salah satu bukit di dekat Mekkah. Saat itu Nabi bersama Ali bin Abi Tholib sedang khusyuk dalam doanya

Abu Tholib pun berkata kepada Ja`far, “Sempurnakan Sayap sepupumu (Nabi Muhammad SAW).Ali sudah berada di sebelah kanannya. Engkau harus jadi sayap di sebelah kirinya, karena burung tidak bisa terbang tanpa kedua sayap”. Sejak saat itu Ja’far bin Abi Tholib muncul dalam kejayaan Islam.

Pada saat itu, karena kaum muslimin belum kuat dan masih sedikit, maka, mereka pun sering mengalami banyak siksaan dari kaum kafir Quraisy hingga Nabi pun memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah Habsyi

“Hijrahlah ke Habsyi, di sana ada raja yang arif. Tinggalah di sana sampai Allah SWT menghilangkan kesusahan kalian” ucap Baginda SAW.

Pada gelombang pertama kaum muslimin berangkat menyeberangi laut merah dan sampai ke Habsyi. Pada gelombang kedua kaum muslimin berjumlah lebih delapan puluh orang berangkat ke Habsyi dengan dipimpin oleh Ja’far bin Abi Tholib.

Mereka menumpang sebuah kapal yang hendak menuju Habsyi. Di dalam perjalanan Ja’far dan istrinya, Anna binti Umayyah, sering menengok ke dalam terutama pada wanita dan anak-anak. Setelah  berhari-hari melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal, akhirnya mereka sampai ke Habsyi. Di tempat ini mereka dapat beribadah dengan bebas tanpa gangguan dari pihak manapun.

Namun Abu Jahal dan Abu Sofyan tidak menyukai kaum muslimin yang babas beribadah itu. Mereka mengirim seseorang yang pandai dalam berunding dengan membawa banyak hadiah untuk Raja Habsyi yang bemama Al Najashyi. Untuk itu diutuslah Amr bin Ash dengan dikawal oleh Amrah bin Walid dan beberapa kaum Quraisy lainnya untuk menghadap ke penguasa Habsyi Raja Najashyi.

Setelah beberapa hari menempuh perjalanan dengan menggunakan kapal, akhirnya Amr bin Ash sampai ke istana Raja Najashyi dan memperkenalkan diri sebagai utusan Quraisy, lalu mereka memiberikan hadiah kepada Raja Najashsyi. Sang raja kemudian menanyakan maksud kedatangan mereka.

Ada beberapa orang bodoh datang kesini dari tempat kami. Mereka meninggalkan agama leluturnya. Mereka membawa agama baru dan tidak menerima agama Tuan. Kami datang kemari untuk membawa mereka pulang guna kami didik kembali”jawab Amr bin Ash.

“Aku akan bertanya dahulu kepada mereka Karena mereka datang ke negeriku untuk meminta bantuanku Apabila apa yang kalian katakana benar, maka, aku akan menyerahkan mereka pada kalian. Jika sebaliknya, aku akan membiarkan mereka tetap di negeriku,” balas

Raja Al Najashsyi.

Kemudian raja Najashsyi memerintahkana punggawa istana untuk memanggil kaum muslimin pimpinan Ja’far bin Abi Tholib. Raja  meninggalkan ruangan tersebut untuk sementara. Tak berapa lama kemudian kaum muslimin tiba di istana. Setelah raja diberitahu bahwa kaum muslimin telah datang, maka Raja kembali ke ruangan pertemuan tersebut, ketika raja memasuki ruangan, para punggawa, pemuka agama istana dan para utusan kaum Quraisy  memberikan hormat dengan membungkukkan badan. Tetapi kaum muslimin tetap berdiri tegak lurus dengan. kepala tegak.

“Mengapa kalian tidak membungkuk seperti yang lain di hadapanku” tanya Raja Al Najashyi.

“kaum muslimin membungkukkan badan hanya kepada Allah saja,”jawab Ja’far

“Apa maksud kalian!” tanya Raja Najashyi. Allah SWT mengutus seorang Rosul kepada kami. Dan kami diperintahkan untuk tidak membungkuk kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT. Dan kami diperintahkan untuk mendirikan sholat dan menunaikan zakat,” jawabJa’far

“Mereka telah melanggar agama, Tuan!” Potong.Amr bin Ash

“Diamlah! Kalian belum diperkenankan berbicara. Teruskan penjelasan kalian tadi” Ucap sang raja

“Dahulu kami adalah orang yang bodoh. Mengikuti agama leluhur kami dengan menyembah berhala yang tidak bisa apa-apa. Kami melakukan banyak keburukan. Yang kuat menindas yang lemah. Tidak menyantuni tetangga dan anak yatim. Dan banyak lagi. Lalu datang Rosul yang kejujuran dan keluhurannya telah teruji mengajak kami untuk menyembah satu Tuhan yaitu Allah SWFT. Beliau mengajak kami untuk selalu berperilaku jujur, amanah,menyantuni keluarga, menghentikan perbuatan jahat, bersedekah, mendirikan sholat, berpuasa dan menyantuni anak yatim. Yang Mulia orang-orang Qurays mereka menyerang dan menyiksa kami. Mereka melarang kami beribadah dan memaksa kami untuk menyembah berhala kembali. Untuk itu kami datang ke negeri tuan agar terbebas dari mereka. Maka dari itu kami mohon tuan untuk berlaku adil dan arif”

“Apakah engkau mengetahui sesuatu yang disampaikan oleh Rasulmu?”

“Ya. jawab Ja’far.”

“Bacakan untukku.” Pinta raja kemudian.

Maka, Jafar pun membaca ayat-ayat Al-Qur’an QS Maryam : 16-33. Suara Ja’far terdengar syahdu sehingga membuat raja, petinggi istana dan para pemuka agama menjadi terharu hingga mata mereka bedinangan air mata.

Al Najashsyi mendukung ayat-ayat yang dibacakan Ja’far dan berkata, “Tentu saja apa yang engkau baca dengan yang dibawa oleh Nabi lsa berasal dari tempat yang sama.”

Kemudian raja dengan marah mengusir para utusan kaum Quraisy tersebut, raja pun mengembalikan semua hadiah yang diberikan oleh kaum Quraisy.

Tapi-Amr bin Ash tidak mau menyerah dengan begitu saja, dia dan kawan-kawannya
kembali datang ke istana pada esok harinya.

Kemudian raja, Al Najashsyi memerintahkan punggawa istana untuk memanggil kaum muslimin. Lalu Ja`far dan kaum muslimin datang kembali untuk menghadap raja.

“Apa pendapatmu tentang Isa?” Tanya Raja

“Menurut Allah yang dikatakan melalui Rosul-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah, Roh Allah, Rasul Allah, Firman Allah yang telah diberikan Allah pada perawan Maryam yang suci , jawab Ja’far

Mendengar penjelasan tersebut, raja memerintahkan kaum muslimin tetap tinggal di negerinya dan mengusir utusan kaum Quraisy tersebut. Sejak pertemuan itu, kaum muslimim dapat bebas beribadah dan hidup bahagia di negeri tersebut.

PERANG MU`TAH

Nabi Muhammad SAW mengirim surat ke Raja Al Najashsyi yang berisikan ajakan untuk masuk Islam. Hal ini disambut baik oleh Raja Al Najashsyi dan pejabat maupun pemuka agama lainnya. Ketika surat diterima, raja pun turun dari singgasanannya dan bersimpuh di lantai. Setelah dibaca surat itu diletakkan di antara kedua mata sang raja dan menyimpannya dalam sebuah kotak dengan berkata, “Negeri Habsyi senantiasa sejahtera selama penduduknya menyimpan surat ini.”

Kemudian datang surat lagi yang meminta kepada raja, agar Ja’far dan kelompoknya dapat kembali ke Hijaz. Raja pun mengizinkan mereka pulang. Sementara di Khaibar terjadi pertempuran antara pasukan muslimin dipimpin Ali bin Abi Tholib melawan pasukan Yahudi. Pertempuran dimenangkan oleh kaum muslimin.

Berita kemenangan kaum muslimin diterima oleh Rasullullah SAW bertepatan dengan rombongan kaum muslimin pimpinan Ja’far bin Abi Tholib tiba di Madinah. Mereka disambut gembira oleh kaum muslimin lainnya.

Setelah Perang Khaibar dimenangkan oleh kaum muslimin, maka perang berlanjut ke perang Mu’tah. Dalam perang ini Rasullullah SAW berpesan kepada para Mujahidin, ”Aku nasihatkan kalian agar takut pada Allah. Menyerahlah dengan menyebut nama Allah. Lawanlah musuh Allah dan musuh kalian. Kalian akan menemukan seorang yang kesepian di dalam sel. Maka jangan lawan mereka. Jangan membunuh wanita dan anak-anak, jangan menumbangkan pepohonan, jangan menghancurkan bangunan.

Kemudian Nabi SAW menunjuk Ziad bin Harits sebagai pemimpin pasukan sambil

bersabda “Bila Ziad syahid, maka pimpinannya Ja’far bin Abi Tholib. Dan apabila Ja’far syahid maka pimpinannya adalah Abdullah Rawaha.”

Dalam perang ini kaum muslimin yang berkekuatan tiga ribu orang melawan pasukan Romawi yang bergabung dengan suku-suku Arab yang berjumlah dua ratus ribu orang.

Di daerah Mu’tah kedua pasukan bertemu dan pertempuran pun berlangsung sengit. Pimpinan pertama pasukan muslimin Zaid bin Harits syahid, Ialu Ja’far mengambil alih pimpinan kaum muslimin. Ja’far berhasil mengobrak-abrik pasukan musuh sehingga banyak musuh yang tewas ditangannya. Musuh  pun meningkatkan.penyerangan kearah Ja`far. Akibatnya tangan kanan yang membawa panji bendera perang terputus. Kemudian dengan sigap tangan kirinya mengambil alih bendera tersebut. Tak lama kemudian tangan kirinya pun terputus ditebas pedang.musuh. lalu  dengan lengan kanan bagian atas, bendera diletakkan ke dadanya. Dalam keadaan kritis tersebut, Ja`far terus bertempur. Tapi luka-luka yang parah, akhirnya, membuat Ja’far jatuh ke tanah dan menghembuskan nafas terakhimya sebagai syuhada. Bendera pun segera diambil alih oleh Abdullah Rawaha.

Pertempuran pun terus berlanjut. Dan Abdullah pun syahid. Pasukan segera diambil alih oleh Khalid bin Walid. Sebagai taktik, Khalid bin Walid menarik mundur pasukan muslim pada malam hari. Mundurnya pasukan muslim membuat terkejut pasukan musuh pada pagi harinya. Tak lama kemudian pasukan muslimin membuat debu di gurun seolah-olah ada bala bantuan dengan jumlah pasukan yang cukup besar untuk pasukan muslimin. Strategi tersebut membuat pasukan musuh menjadi panik. Akhimya pasukan musuh pun menarik mundur dari medan pertempuran.

Malaikat Jibril AS rnemberitahukan kepada Nabi Muhammad SAW tentang kemenangan pasukan muslim tersebut dan memberitahukan bahwa ketiga pimpinan pasukan muslimin telah syahid.

Nabi Muhammad SAW rnengunjungi rumah Ja’far dan menemukan anak-anak Ja’far sedang duduk. Beliau SAW menciumi anak-anak Ja`far dan mendudukkan mereka di atas pangkuannya. Air mata Nabi SAW berlinang. Asma, istri Ja’far melihat Nabi SAW berlinang air mata merasa ada sesuatu yang terjadi pada suaminya.

“Wahai Rasulullah apakah Anda mendengar kabar tentang Ja’far dan para sahabatnya” Tanya Asma

“Ya, mereka telah syahid.” jawab Rasul SAW. Jibril telah memberitahuku bahwa Allah telah menganugerahkan Ja’far dua sayap untuk terbang di surga,”tambahnya.

Malam itu, anak-anak Ja’far berbaring di tempat tidur sambil menatap langit. Mereka membayangkan ayahnya terbang dengan kedua sayapnya.

%d bloggers like this: