Tsabit Bin Ibrahim

Karena kelurusan hati dan jiwanya Tsabit mendapatkan isteri pilihan. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah keseluruh penjuru dunia. Itulah Imam Abu Hanafi An Nu`man bin Tsabit, yang merupakan guru Nabi Khidir AS….


Seorang lelaki saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kuffah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun. Melihat apel yang merah marun itu tergeletak ditanah membuat air liur Tsabit muncul, apalagi dihari yang panas dan kehausan itu. Maka tanpa pikir panjang dipungut dan dimakan nya lah apel yang lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya dimakan dia teringat buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin pemiliknya.

Maka ia segera pergi kedalam kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah yang telah dimakannya.

Di kebun itu ia bertemu seorang lelaki. Maka langsung saja dia berkata, “Aku telah memakan setengah dari buah apel ini, aku berharap anda menghalalkannya.”

Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku khadamnya (pelayan) yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya.” Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah majikanmu?”.

Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam!”

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun. Setibanya disana ia langsung mengetuk pintu. Setelah sipemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur memakan setengah buah apel yang terjatuh keluar dari kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu?”.

Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata,  “Tidak” aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat”.

Tsabit Merasa khawatir dengan syarat itu. Karena takut tidak bisa memenuhinya. Maka segera dia bertanya, “apa syarat itu tuan?”. Orang itu menjawab, engkau harus mengawini putriku!”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata,”Apakah karena aku makan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu,aku harus mengawini putrimu?”.

Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Dia malah menambahkan, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli, lebih dari itu dia juga seorang yang lumpuh.

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalarn hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri.hanya gara-gara setengah.buah apel yang tidak dihalalkan kepadanva?

Pemilik  kebun itu Menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa Menghalalkan apa yang telah kau makan.!”

Tsabit kernudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya. Dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbulalamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan dan hak-hak ku pada-Nya karena aku amat berharap Allah selalu meridhoiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikan disisi-Nya.”

Maka pernikahan pun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka.

Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui isterinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka diapun mengucapkan salam, “Assalamualaikum….!”

Tak dinyana sama sekali, wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit hendak masuk menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut tangannya..

Tsabit sempat terhentak menyaksikan keadaan ini. “kata ayahnya dia wanita bisu dan tuli tetapi ternyata dia menyambut salamku dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan dia buta dan lumpuh, ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula,” kata Tsabit dalam hati.

Tsabit berpikir, memang ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan yang sebenarnya?

Setelah duduk disamping istrinya, dia bertanya lagi, “Ayahmu mengatakan padaku bahwa engkau buta, mengapa?”

Wanita itu berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak melihat apa-apa yang diharamkan Allah.”

Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?”

Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridho Allah. “ Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh bukan?” Tanya wanita itu. Tsabit mengangguk perlahan. Selanjutnya wanita itu berkata, “Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta`ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ketempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta`ala.”

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang memelihara dirinya.

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah keseluruh dunia. Itulah imam Abu Hanafi An Nu`man bin Tsabit, yang merupakan guru Nabi Khidir AS.

%d bloggers like this: