Irfan

Irfan adalah satu diantara disiplin ilmu yang berasal dari bidang kebudayaan Islam dan dikembangkan untuk mencapai tingkat tertinggi dalam pengalaman duniawi


Berbeda dengan para ulama dari disiplin ilmu lainnya, misalnya penafsir Al Qur’an (mufassirin), ulama hadist (muhadditsun), ulama hidang hukum (fuqoha), teolog (mutakallimun), filosof, sastrawan dan penyair

Para ahli Irfan adalah sekelompok ulama yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan dan telah menghasilkan kitab-kitah penting, tetapi juga memberikan semangat kebangkitan di dunia Islam kepada kelompok sosial tertentu.

Jika  dihubungkan dengan ilmu akademis tertentu, mereka disebut urafa dan jika dihubungkan sebagai kelompok sosial pada umumnya, mereka disebut Sufi (mutasawwifah). Sedangkan orang yang sedang menempuh jalan irfan disebut arif. Urafa dan sufi tidak dipandang sebagai bentuk sekte yang terpisah di dalam Islam. Mereka bisa ditemukan dalam setiap mazhab dan sekte, tetapi pada waktu yang sama mereka bersatu membentuk kelompok sosial yang berbeda.

Faktor-faktor yang membuat mereka mengasingkan diri dari masyarakat umum terutama terkait dengan rangkaian gagasan mereka yang cenderung berbeda dengan pendapat umum. Begitu pula terdapat perbedaan dari caranya berpakaian, cara menata rambut atau jenggot dan kecenderungan mereka yang lebih senang tinggal di komunitasnya, seperti zawiyah, tekkiyeh atau pesantren.

Tetapi memang ada pula yang secara fisik tidak memiliki perbedaan dengan masyarakat umumnya, baik dari cara berpakaian atau pergaulan. Tetapi pola berpikirnya berbeda dengan orang lainnya.

Sebagai sebuah ilmu pengetahuan dan disiplin akademis, irfan sendiri mempunyai dua cabang, yaitu praktek dan teori. Aspek praktek dari irfan menjelaskan dan menguraikan hubungan dan tanggung jawab yang diemban manusia kepada dirinya sendiri, kepada alam semesta dan kepada Allah SWT. Di sini irfan sama artinya dengan etika (akhlak), dan keduanya merupakan ilmu praktek.

Ajaran praktek dari irfan ini disebut rencana perjalanan rohani (sayr wa suluk). Di sini, musafir (salik) yang ingin mencapai tujuan puncak keagungan kemanusiaan, yakni tauhid,,diberi penjelasan dari mana dia harus mulai berangkat, tahap-tahap yang dianjurkan, stasiun-stasiun yang harus dilewati, situasi dan kondisi yang akan dialami di stasiun-stasiun tersebut dan peristiwa-peristiwa yang akan dialaminya.

Tahapan dan stasiun itu harus dilewati dengan bimbingan dan pengawasan dari seorang manusia sebagai teladan yang matang dan sempurna karena bepergian di jalan ini harus waspada akan perilaku dan cara-cara dari setiap stasiun. Jika tidak demikian atau tak ada manusia yang sempurna yang membimbing dia di jalan itu, maka ia berada dalam bahaya menuju kesesatan.

Menurut para ahli irfan (urafa), sosok sempurna yang harus menemani orang baru dalam perjalanan spiritual itu seringkali merujuk pada sosok Khidir dan Burung Suci (Ta’ir al Quds).

Temanilah kegiatanku di jalan ini

Wahai Ta`ir al Quds

Jalan Kearah tujuan itu cukup jauh. Dan baru kali ini perjalananku

Jangan tinggalkan pada tingkatan ini Tanpa ditemani Khidir

Ada kegelapan di depan sana

Aku takut akan tersesat jalan.

Dalam pada itu, terdapat pula perbedaan tauhid para urafa dan tauhid dalam pandangan umum. Bagi seorang arif (orang yang mendalami irfan), tauhid adalah puncak keagungan kemanusiaan dan tujuan akhir perjalanan, artinya kesatuan dasar dari Wajib al Wujud. Bagi arif, tauhid berarti realitas terakhir hanyalah Allah dan segala sesuatu selain Allah hanyalah penampilan luar, bukan realitas.

Tauhid bagi seorang arif berarti bahwa ‘selain Allah ialah tidak ada’. Bagi arif, tauhid artinya mengikuti jalan dan tiba pada tahap ketika dia tidak melihat apa-apa kecuali Allah. Walau demikian, pandangan tauhid semacam ini tidak diterima oleh lawan-lawan urafa’, bahkan sebagian dari mereka menyatakan pandangan semacam itu adalah pandangan ahli bid`ah.

Tetapi urafa yakin bahwa tauhid inilah yang benar dan bahwa tahapan-tahapan selain itu tidak bisa dikatakan bebas dari syirik.

Urafa tidak melihat, dalam mencapai tahapan ideal tauhid, dengan fungsi akal dan renungan. Namun mereka memandangnya sebagai upaya hati dan dicapai melalui usaha keras, melalui perjalanan dan pembersihan serta pendisiplinan diri.

Walaupun demikian, ini adalah aspek praktek dari irfan, yang dalam hal ini sama dengan akhlak, karena keduanya membahas serangkaian hal yang harus dilakukan.

Tetapi ada beberapa perbedaan, yang pertama ialah bahwa irfan membahas hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan alam dan Tuhan, dan perhatiannya yang paling utama ialah hubungan manusia dengan Tuhan. Pada sisi yang lain, tidak semua sistem-akhlak memandang perlu membahas hubungan antara manusia dengan Tuhan. Hanya sistem akhlak agama yang menganggap penting dan memberikan perhatian terhadap masalah ini.

Perbedaan yang kedua adalah bahwa metodologi gerak maju rohani, sayr wa suluk, sebagaimana yang dinyatakan dengan kata-kata sayr (perjalanan) dan suluk (bepergian) merupakan metodologi yang dinamis, sementara akhlak adalah statis. Itulah yang harus dilewati musafir agar sampai pada tujuan akhir.

Irfan berbicara tentang sebuah titik keberangkatan, tempat tujuan, dan tahapan-tahapan serta stasiun-stasiun dalam aturan yang benar.

Dalam pandangan seorang arif benar-benar ada satu jalan di depan manusia, satu jalan yang sebenarnya dan sama sekali bukan metafora, dan jalan ini harus diikuti setahap demi setahap, stasiun demi stasiun. Untuk sampai pada stasiun mana saja tanpa harus melewati stasiun sebelumnya, menurut pandangan irfan adalah tidak mungkin. Jadi, arif memandang roh manusia seagai organisme hidup, seperti benih atau seperti seorang anak, yang kesempurnaannya terletak pada pertumbuhan dan kematangannya sesuai dengan sistem dan aturan tertentu.

Di dalam akhlak subjek yang ditangani hanya serangkaian kebijakan, seperti kewajaran, kejujuran, keikhlasan, kesucian, murah hati, keadilan dan mementingkan orang lain di atas dirinya sendiri, yang dengan semua itu roh harus dihiasi.

Dalam pandangan akhlak, roh manusia layaknya sebuah rumah yang dilengkapi dengan serangkaian perlengkapan yang indah, gambar dan dekorasi, dan tidak ada urutan khusus yang harus dilakukan dan tidak ada keharusan tertentu pada urutan­urutannya.

Tidaklah penting dari mana seseorang memulai atau dari mana mengakhiri. Tak ada konsekuensinya apakah dia memulai dari atap atau dari dinding, dari atas dinding atau dari bawahnya dan seterusnya. Sebaliknya, di dalam irfan unsur-unsur akhlak dibahas di dalam sebuah pandangan dinamis.

Perbedaan yang ketiga diantara dua disiplin ini ialah bahwa unsur-unsur rohani dari akhlak terbatas pada konsep dan gagasan yang pada umumnya biasa, sementara unsur- unsur rohani dari irfan adalah jauh lebih mendalam dan luas.

Di dalam metodologi spiritual irfan, yang banyak disinggung ialah hati serta keadaan dan kejadian yang dialaminya, dan pengalaman-pengalaman ini hanya diketahui oleh musafir yang menempuh jalan itu selama waktu usahanya yang serius dan perjalanannya pada jalan itu, sementara orang lain tidak punya gagasan tentang keadaan dan kejadian ini.

Sumber: Murtadha Muthahhari

%d bloggers like this: