Ziarah Rasul

Ketika Muawiyah bin Abu Sofyan menjadi khalifah, Marwan bin Hakam menjadi gubemur Madinah. Pada suatu hari ia mendapatkan seseorang yang membenamkan wajahnya di kuburan Rasulullah SAW. Seketika itu ia membentaknya,”kamu menyadari apa yang kamu kerjakan?”. Tapi, ternyata orang yang dibentaknya  adalah sahabat Nabi, Abu Ayub Al-Anshari. Kata Abu Ayub, “Aku sedang mengunjungi Rasulullah SAW. Aku sedang tidak berhadapan dengan sebongkah batu pusara. Saat ini aku sedang  merintih di hadapannya ketika aku meng­ingat sabdanya, ‘Tangisilah agama jika diserahkan kepada bukan ahlinya.’ Aku menangisinya.”

Ucapan Abu Ayub itu merupakan cambuk bagi Marwan bin Hakam, yang dengan keterbatasan ilmu pengetahuannya langsung memarahi mereka yang mengunjungi makam Nabi dan minta syafaat. Sejarah memang mencatat betapa indah kecintaan Abu Ayub Al-Anshari yang rumahnya pernah disinggahi Nabi SAW saat hijrah ke Madinah. Rumah Abu Ayub dua Iantai. Di malam hari, Nabi SAW beristirahat di Iantai bawah, sementara Abu Ayub dan istrinya di Iantai atas.

Sepanjang malam Abu Ayub dan istrinya membekukan badan, tidak bergerak dan selalu terjaga, jangan sampai gerakan tubuh mereka dapat menjatuhkan debu dari langit­-langit rumah yang terbuat dari_tanah dan mengenai wajah Nabi yang suci. Apa yang dilakukan Abu Ayub dan istrinya merapakan bukti cinta mereka kepada Nabi SAW.

Belakangan ia membenamkan kepalanya di pusara Nabi SAW dan menyiraminya dengan air mata kerinduan, semua itu atas nama cinta. Apa yang dilakukan Abu Ayub itu disebut “tabarak” (mengambil berkah), sebagai salah satu ungkapan kecintaan. Bukankah, jika mencintai seseorang, kita akan menganggap segala sesuatu yang dipakai, disentuh, disukai, dan yang ditinggalkan seseorang nan terkasih itu, punya nilai yang sangat tinggi?

Sofwan bin Qudamah mengisahkan, “Ketika aku berhijrah ke Madinah dan

menemui Nabi, aku katakan kepadanya: “Wahai Rasulullah, ulurkan tanganmu dan baiatlah aku. Kemudian aku katakan lagi padanya: “Ya Rasulullah, aku mencintai­mu. Lalu ia pun bersabda: “Manusia akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.”

Cintailah Rasul, beliau akan menjadi figur dalam kehidupan Anda. Kapan

saja Nabi dibicarakan orang, Anda akan serius menyimaknya, bersemangat mengikuti sejarah dan sunahnya. Anda akan bahagia menyaksikan atau mendengar orang memujinya, menyanjungnya, memuliakan­nya. Dan akan marah, geram, sedih, mende­ngar orang meremehkannya.

Untuk meneladani Nabi, tidak cukup hanya dengan mempelajari sejarahnya. Kita harus memasukkan cinta ke dalam relung hati kita. Begitu cinta tertanam dan bersemi, dengan mudah kita akan meneladani Nabi dalam setiap aspek kehidupan kita. Banyak orang berziarah ke pusara Nabi SAW di Madinah. Ada yang datang dengan rasa rindu dan cinta. Mereka menyadari, di balik pintu dan pagar besi pusara di Masjid Nabawi itu terbaring jasad suci. Terkadang ada orang yang bagaikan anak kecil ingin tahu, mencoba mengintip dari balik lubang pintu atau pagar. Ada pula yang lalu-lalang di area

makam Nabi dengan langkah ringan dan santai. Ada pula yang tertawa melihat tingkah laku orang-orang yang mereka anggap aneh.

Namun, ada juga yang datang dengan sejuta kerinduan dan cinta. Sejenak mereka berhenti di pintu masjid. De­ngan penuh kerendahan hati, mereka memo­hon perkenan Nabi SAW untuk menerimanya sebagai tamu. Malu yang begitu besar mere­ka rasakan karena mereka datang dengan beban dosa yang begitu banyak. Mereka mengaku sebagai umatnya, tapi setiap hari mempermalukan Rasul SAW yang suci de­ngan kekotoran akhlak. Hati mereka rapuh, dada mereka berdetak ketika berucap, “Assalamualaika, ya Rasulullah.” Dan air mata kerinduan pun membanjir tak terbendung.

Lalu masuklah mereka ke dalam masjid dengan langkah berat. Mereka benar-benar merasakan, di balik pintu besi itu ada Rasu­lullah SAW yang menatap mereka dengan penuh kasih. Mereka tak berani mengangkat kepala. Jantungnya berdetak dengan keras. Sebentar lagi mereka akan berjumpa dengan sang kekasih, sebentar lagi mereka akan melepas rindu pada manusia suci yang telah membimbing mereka ke jalan Allah. Keri­duan bercampur rasa malu

Mereka adalah orang yang keimanannya kepada Rasul telah mencapai tingkatan syuhud (tingkatan keimanan yang tinggi), bukan hanya percaya, tapi juga merasakan. Bukan hanya yakin, namun juga menyak­sikan.Iman, mereka rasakan sebagai kelezat­an. Nabi SAW bersabda, “Umat yang paling besar kecintaannya kepadaku adalah yang datang sesudahku. Setiap orang ingin selalu berjumpa denganku, walaupun harus me­ngorbankan keluarganya.”

Berbahagialah mereka yang berjumpa dengan Nabi di dunia, walaupun dalam mimpi. Bergembiralah mereka yang dijemput oleh Nabi ketika meninggalkan dunia ini. Bersenang-senanglah mereka yang diberi minum di Telaga Kautsar oleh Nabi dengan tangannya sendiri yang suci, hingga tak pernah haus selama-lamanya. Berbahagialah mereka yang sangat merindukan Rasulullah. Ya..Allah, jadikan kami salah satu dari mereka.

%d bloggers like this: