Pemahaman Tasawuf Menurut Ahlul Bait

Kalangan Ahlul Bait mempunyai pandangan berbeda mengenai seorang pesuluk sufi atau pengikut tasawuf. Mereka menganggap banyak sufi yang telah keluar dari jalur islam sesungguhnya dengan cara tidak sadar…..


AHLUL BAIT

Adalah suatu mazhab dalam Islam yang mengambil ilmu agama baik akidah, fiqih, hadist, doa-doa dan tafsir Al-Qur’an dari keluarga suci Nabi Muhammad SAW. Menurut mereka, belajar kepada ahlinya adalah lebih baik. Hal ini mereka yakini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi: “Bertanyalah kepada yang lebih mengetahui”

Kalangan Ahlul Bait menganggap Imam Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah (KWH) adalah orang yang paling ahli dalam semua ilmu di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW lainnya, terutama setelah Rasulullah SAW wafat. Hal ini juga sesuai hadist Nabi Muhammad SAW yang cukup populer baik dikalangan Ahlus Sunnah maupun Ahlul Bait yang berbunyi: “Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya, maka masuklah melalui pintunya”

Di kalangan Ahlul Bait istilah tasawwuf disebut juga dengan irfan, yang diambil dari kata Arafa yang berarti “mengetahui”. Oleh karena itu irfan adalah yang banyak mengetahui tentang Tuhan.

Ruh irfan sebenarnya adalah mata hati yang dikenal mukasyafah. Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali adalah yang paling tinggi dan paling besar kasyafnya. Maka kasyaf mereka menjadi ukuran bagi benar atau tidaknya para airifn.

Kalangan Ahlul Bait juga mempunyai pandangan berbeda mengenai seorang pesuluk. Mereka menganggap bahwa banyak pesuluk atau sufi yang telah keluar dari jalur Islam sesungguhnya dengan cara tidak sadar. Ahlul Bait memiliki kriteria tentang seorang pesuluk atau Sufi, yakni:

1.  Berilmu

Seorang pesuluk harus memiliki ilmu agama yang baik. Dia harus ahli dalam ilmu fiqih sehingga ibadah yang dilakukannya sesuai dengan fiqh. Dia harus ahli ilmu akidah sehingga tahu siapa yang disembahnya itu. Dia harus tahu dari mana ilmu agamanya diambil. Dia harus sudah mencapai taraf Mujtahid minimal untuk dirinya sendiri. Dia harus menguasai semua cabang-cabang dalam agama Islam, seperti ilmu kalam, ilmu filsafat, hadist, ilmu tafsir dan sebagainya. Dia harus ahli dalam ilmu irfan teoritis sebelum mengamalkan dalam hidupnya. Dia juga harus pandai membela hujjah agamanya dengan akal manusia. Dia harus mampu menjawab seluruh pertanyaan sekitar agama dengan benar. Benar di sini harus memiliki dasar Al-Qur’an, hadist dan akal..

2. Berkarya

Seorang pesuluk harus mempunyai karya terutama sebuah kitab yang dapat disumbangkan kepada umat Muslim baik isi kitab tersebut masalah sosial, ekonomi, akidah, dan lain sebagainya. Apalagi karyanya dapat dipergunakan untuk memajukan Islam dalam bidang pengetahuan, teknik, ekonomi dan sebagainya. Seperti Mulla Sadra, Allamah Thobaba’i, Ayatullah Khomenei dan lainnya. Mereka memiliki karya-karya yang bermanfaat bagi umat terutama dalam masalah fiqh dan peningkatan kualitas iman.

3. Zuhud

Tentunya seorang pesuluk harus seorang yang zuhud dan berusaha untuk lebih zuhud daripada para pesuluk lain tanpa diketahui oleh siapapun kecuali Allah SWT. Dan seorang pesuluk dia harus meneladani Ahlul Bait (keluarga suci) Nabi Muhammad SAW. Seorang pesuluk harus mengamalkan seluruh amalan-amalan yang dilakukan oleh seorang wali Allah seperti hidup sederhana, dermawan, suka menolong, berkorban untuk. orang lain, tawadhu dan sebagainya. Seorang pesuluk memakai pakaian layaknya seorang ulama dengan gamis dan sorban di kepalanya. Seorang sayyid memakai sorban berwarna hitam dan non sayyid memakai sorban putih.

4. Abid

Seorang pesuluk harus rajin beribadah baik ibadah fardhu maupun ibadah bafilah . atau sunnah. Dia harus menjalankan dengan ikhlas dan senang hati dan tidak pernah meninggalkan satupun ibadah fardhu dan sunnah itu. Jika tertinggal karena tertidur, pingsan atau sakit yang sangat amat, dia menggodhonya dengan perasaan sedih. lbadah sunnahnya tidak ingin dilihat orang lain apalagi sampai mendapat pujian dari orang lain maka hatinya akan merasa gelisah. Hatinya tidak pernah lepas dari zikir kepada Allah SWT dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan ahlul baitnya.

5. Bermasyarakat

Seorang pesuluk tidak menyendiri meninggalkan keluarganya dan masyarakatnya, tetapi dia bermasyarakat, mengajar ilmu agama, mengajak ke jalan yang benar dan menjadi panutan masyarakat.

6. Berkeluarga

Seorang pesuluk harus berkeluarga dan tidak boleh meninggalkan dengan penghalang bagi dirinya untuk mencintai dan mendekati kepada Allah SWT. Dia harus semaksimal mungkin mengajak keluarganya ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Membedakan mereka nafkah lahir dan batin dan bertanggungjawab penuh dalam membesarkan putra dan putri mereka. Seorang pesuluk tidak boleh menjadi seorang Rabbi atau sejenisnya yang dengan alasan berkeluarga dapat menghalangi mereka kepada kecintaan sejati kepada Allah SWT. Karena Nabi Muhammad SAW seorang penghulu dari segala Nabi dan Rosul saja berkeluarga dan mengurus mereka. Bahkan Nabi SAW berpesan bahwa barang siapa yang tidak mau menikah berarti bukan termasuk golongannya, dan juga Nabi SAW berpesan bahwa tidak ada kehidupan Rabbi di dalam Islam.

7. Meninggalkan karomah

Seorang pesuluk tidak boleh menyenangi karomah-karomah yang diberikan Allah SWT. Karomahnya tersebut hanya digunakan untuk membuktikan hujjah kebenaran Islam dan hal yang mendesak saja dan sebisa mungkin tidak mempraktikkan di depan umum, baik kalangan awam maupun pesuluk lain seperti berjalan di atas air, melipat bumi dan sebagainya. Walaupun terkadang para murid mereka ada yang bercerita karomah-karomah mereka dan ditulis dalam sebuah buku biografi guru mereka. Seperti Ayatulloh Syekh Behjat yang konon memiliki karomah dapat mengetahui 20 alam seperti alam tumbuhan sehingga dia bisa berbicara dengan tumbuhan, alam hewan, alam jin dan sebagainya. Atau Ayatulloh Khomenei yang konon di zaman revolusi Iran menebar pasir ke arah langit sehingga pesawat musuh jatuh dan hancur.

8. Berwilayah

Pesuluk di dalam mazhab Ahlul Bait harus berwilayah (mengakui kepemimpinan) kepada Imam Ali dan keluarga sucinya. Memusuhi para musuh Ahlul Bait dan tidak mengambil agama dari musuh-musuh Ahlul Bait. Mencintai Nabi SAW dan Ahlul Baitnya dengan hatinya. Berusaha untuk mengikuti kehidupan Nabi SAW dan Ahlul Baitnya hingga mencapai maqom tertinggi hingga maqom kenabian, tetapi bukan sebagai nabi atau rosul karena tidak ada nabi dan rosul sesudah Nabi Muhammad SAW. Mereka disebut Auliya atau wali-wali Allah:

9. Berjihad

Jika Negara atau agamanya sedang diperangi oleh kaum yang bathil atau sesat maka dia wajib mengangkat senjata untuk ikut perang.

Itulah sifat-sifat yang harus dimiliki pesuluk dalam melakukan perjalanannya di dunia tasawwuf atau irfan.

MENGENAI KETUHANAN

1. Mencintai Allah

Mengenai ketuhanan, dunia irfan berpandangan untuk mencintai Allah SWT harus sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui Ahlul Baitnya. Mencintai Allah SWT dengan menyiksa diri seperti tidak tidur baik pagi maupun malam, tidak menikah, berpuasa sepanjang masa, menari berputar-putar hingga mengalami trance yang tinggi adalah jalan yang salah, karena Nabi SAW tidak mengajarkan seperti itu. Barang siapa mencari amalan tidak sesuai dengan yang diajarkan Nabi SAW maka tidak diterima oleh Allah SWT ibadahnya. Untuk mencintai Allah SWT maka harus mencintai nabi  SAW dan Ahlul Baitnya

2. Wahdah Al Wujud

Hakikat ada hanya Allah SWT saja dan Dia tidak terbatas. Sedang mahluknya hakikatnya tidak ada dan hanya manisfestasi Allah SWT saja. Jadi kesaksian seorang pesuluk irfan adalah; “Aku bersaksi bahwa tiada kebenaran kecuali Allah” Bukan ” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah” Rujukan mereka akan Wahdah Al wujud adalah QS 28: 30 yang berbunyi: “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan (nya) pada tempat

yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu yaitu, “Ya Musa sesunggunya Aku adalah Allah,Tuhan semesta alam.”

Pada ayat tersebut pohon itu berseru bahwa Dialah Tuhan semesta alam. Pada ayat ini keberadaan pohon sirna yang ada hanya keberadaan Allah saja. Jadi semua alam ini beserta mahluknya keberadaan mereka hakikatnya tidak ada. Yang ada hanya Allah saja.

Allah tidak bertempat karena tempatnya adalah ciptaan-Nya dan dia tidak bergantung pada ciptaan-Nya karena Allah Maha Kaya dan Maha Sempurna. Allah bersemayam di Arsy, namun bukan berarti Allah tinggal di Arsy karena Arsy adalah tempat dan tinggal menunjukan tempat selain itu Arsy adalah ciptaan-Nya. Ayat Al Qur’an yang menceritakan bahwa Allah bersemayam diatas Arsy atau di atas langit harus ditafsir lebih dalam kembali. Karena langit apapun bentuknya atau arsy apapun bentuknya adalah ciptaan Allah SWT. Jadi tidak mungkin Allah tinggal di langit, lalu di mana Allah sebelum langit diciptakan.

Imam Ali pernah ditanya oleh seorang sahabatnya tentang di mana Allah. Imam Ali menjawab, “Tidak ada kata di mana Allah” Maksudnya Allah tidak bergantung dengan di mana atau tempat.

Itulah pemahaman tasawwuf dari Mazhab Ahlul Bait, saudara dari Mazhab Ahlus Sunnah yang mayoritas berada di Iran, Irak, Bahrein dan juga menyebar di Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Afganistan dan negara lainnya. Tetapi para sufi mereka paling banyak berada di Iran dan Irak.

(dari berbagai sumber)

%d bloggers like this: