Patung Cendana Jadi Raja

PATUNG CENDANA JADI RAJA

Bagaimana mungkin sebuah patung bisa menjadi raja?,inilah kisah awal mula berdirinya kerajaan Dipa di ujung tanah Kalimantan Selatan, Percaya atau tidak…?


Tersebutlah sebuah legenda tentang asal mula. berdirinya sebuah negara di daerah Kalimantan Selatan yang tertuang dalam manuskrip-manuskrip tua, seperti: Hikayat Lambung Mangkurat, Hikayat Raja-raja Banjar dan Kota Waringin, Tutur Candi dan lain-lain.

Manuskrip-manuskrip tua tersebut tidak diketahui siapa penulisnya, karena memang ditulis tidak hanya oleh satu orang dan tidak dalam satu waktu Karena itu pula terdapat banyak koleksi Hikayat Banjar yang berbeda versi dan coraknya. Berikut ringkasan isinya:

BANGSAWAN MAJAPAHIT MENCARI TANAH BERBAU HARUM

Pada 1451-1453 Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Sri Rajasawardhana. Oleh Sri Rajasawardhana, pusat pemerintahan Majapahit dipindahkan ke Kediri Utara yang kemudian dikenal dengan sebutan Keling  Kahuripan. Pada waktu itu, di Keling Kahuripan terdapat seorang bangsawan yang kaya raya.

Pada suatu malam ketika sang bangsawan sedang melakukan olah batin, tiba-tiba dia mendapat wisik agar memerintahkan anaknya yang bemama Mpu Jatmika pergi ke luar pulau untuk menemukan suatu daerah yang tanahnya berbau harum seperti bau pudak (pandan wangi). Apabila Mpu Jatmika telah menemukan daerah tersebut, maka, dia diperintahkan untuk mendirikan kerajaan di sana.

Mendapat perintah dari orang tuanya seperti itu, Mpu jatmika pun segera mengumpulkan isteri dan kedua anaknya yang bernama Lambung Mangkurat dan Mpu Mandastana, serta para pengikutnya yang mempunyai keahlian di bidangnya masing­masing, misalnya raja nahkoda kapal dan ABK­-nya. Mereka ini bertugas membawa rombongan Mpu Jatmika berlayar dengan kapal Prabajaksa. Orang-orang yang ahli tata pemerintahan, ahli perang, ahli perkebunan dan pertanian, ahli membuat perkakas besi juga diikutsertakan dalam rombongan ini.

Dalam Hikayat Banjar disebutkan, setelah Mpu Jatmika berlayar dengan. kapal Prabajaksa mengarungi Laut Jawa akhirnya sampailah di Pulau Hujung Tanah, yaitu daerah pegunungan Meratus yang menjulur ke Laut Jawa, serta dikelilingi pula oleh laut pada tepi-tepi pantai barat dan timur.

Mpu Prapanca, penulis kitab Negara kertagama menyebutkan Nusa.Tanjung Nagara sebagai Pulau Hujung Tanah, yang tak lain dari barisan pegunungan Meratus yang menjorok ke laut Jawa.

Setelah mendarat di Pulau Hujung Tanah atau Nusa Tanjung Nagara, maka, mulailah Mpu Jatmika mencari daerah yang tanahnya harum seperti bau pudak. Akhirnya daerah yang dicari itu ditemukan di Amuntai, dekat Tabanas (Kabupaten Hulu Sungai Selatan sekarang-Pen).

Kemudian Mpu jatmika membabat alas serta mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Dipa, dengan ibukota bernama Kuripan. Mungkin nama Dipa diambil dari kata Dwipa dan Kuripan berasal dari Kahuripan. ini mengingat Mpu Jatmika berasal dari Jawa Dwipa tepatnya di Keling Kahuripan.

RAJA PERTAMA PATUNG CENDANA

Adapun yang dijadikan raja pertama di Kerajaan Nagara Dipa adalah sebuah Patung Cendana. Dalam Hikayat Banjar diceritakan bahwa Mpu Jatmika memerintahkan anak buahnya seorang seniman patung untuk membuat sebuah patung berhala terbuat dari sebatang pohon kayu cendana. Bentuk dan rupa patung ini menyerupai Mpu Jatmika:

Patung cendana yang dijadikan raja oleh Mpu Jatmika ini adalah visualisasi dirinya untuk mensiasati takdir agar terlepas dari kutukan yang akan menimpa dirinya dan Nagara Dipa sebab dia memang bukan keturunan raja. Hal ini mencerminkan bahwa Mpu Jatmika sadar akan takdirnya yang bukan untuk menjadi raja, meskipun dia seorang penemu bahkan sekaligus pendiri kerajaan Nagara Dipa. Apabila Mpu Jatmika memaksakan dirinya menjadi raja, ini berarti dia mengingkari takdir dan risikonya Negara Dipa akan mengalami kutukan lalu akan binasa.

Prinsip yang dipegang teguh oleh Mpu Jatmika itu tidak hanya berlaku untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kedua anaknya. Dalam Hikayat Banjar diceritakan, bahwa sebelum mangkat Mpu Jatmika mengeluarkan wasiat agar kedua orang anaknya yaitu Lambung Mangkurat dan Mpu Mandastana jangan bercita-cita menjadi raja, sebab mereka bukanlah keturunan raja. Bahkan dia berpesan kepada Lambung Mangkurat, kelak apabila dirinya sudah wafat agar pergi betapa untuk mencari raja yang sah.

Pada waktu Mpu Jatmika memegang kendali pemerintahan di Kerajaan Nagara Dipa, dia memerintahkan Panglima Perangnya yaitu Tumenggung Tatah Jiwa untuk memerluas wilayah kekuasaannya. Pada waktu itu di Pulau Hujung Tare (Kalimantan Selatan sekarang) telah ada negara-negara etnik atau kerajaan-kerajaan suku yang raja-rajanya adalah para kepala suku Dayak. Maka satu persatu kerajaan-kerajaan suku ini dapat ditundukkan. Wilayah-wilayah taklukan tersebut antara lain Batang Alai, Batang Amandit, Batang Balangan, Batang Tabalong, Batang Petak, serta bukit-bukit_yang ada di sekitar pegunungan Meratus.

Di setiap daerah yang ditaklukannya, Tumenggung Tatah Jiwa mengangkut 1000 orang penduduk untuk dibawa ke Kuripan Ibukota Kerajaan Nagara Dipa; hal ini dilakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia bagi kerajaan yang baru berdiri tersebut.

Sejak Mpu Jatmika mendirikan kerajaan Nagara Dipa, maka, negara ini banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari luar, seperti: China, Johor,lawa, Madura, Bugis, Sumba, Sumbawa, Bali, Banten dan lain-lain.

DEMI WASIAT KEMENAKAN DIKORBANKAN

Setelah wafatnya Mpu Jatmika, sesuai dengan pesan ayahandanya, Lambung Mangkurat melakukan tapa brata di tepi sebuah sungai dengan harapan memeroleh petunjuk akan datangnya seorang raja yang dinantikan. Ketika Lambung Mangkurat mencapai puncak meditasi, tiba-tiba di pusaran air muncul buih yang bersinar keemasan. Kemudian muncul seorang putri dengan pakaian serba kuning serta mahkota emas bertatahkan intan berlian yang gemerlapan. Seketika Lambung Mangkurat melakukan sembah bhakti kepada sang putri. Setelah itu sang putri dibawa ke Istana Kerajaan Dipa di Kuripan dan dimaklumatkan sebagai ratu yang sah di Kerajaan Nagara Dipa, serta diberi nama Putri Junjung Buih yang berarti “putri yang berasal dari buih”

Menurut Hikayat Banjar, pada waktu itu Mapu Mandastana, putera kedua Mpu Jatmika mempunyai dua orang anak remaja putera bernama Raden Bambang Sukmaraga dan Raden Bambang Patmaraga. Suatu ketika kedua anak remaja ini bermain-main di bawah istana kerajaan di Kalimantan Selatan yang kala itu berupa rumah panggung yang cukup tinggi sehingga orang bisa berjalan jalan di bawahnya. Ketika Puteri Junjung Buih melihat kedua remaja rupawan yang masih termasuk keponakan Lambung Mangkurat tersebut, sang puteri pun jatuh cinta kepada keduanya

Begitu jatuh cintanya, sehingga Putri Junjung Buih ingin selalu memandangi mereka. Dia tak cukup merasa puas dengan hanya memandang lewat kisi-kisi jendela. Sementara, Raden Bambang Sukmaraga dan Raden Bambang Patmaraga tak berani menatap sang puteri. Mereka hanya berani mencuri pandang.

Untuk menyatakan rasa cintanya, pada suatu kesempatan Puteri Junjung Buih melemparkan Kembang Nagasari kepada kedua pemuda rupawan yang dicintainya tersebut. Ternyata yang beruntung mendapatkannya adalah Raden Bambang Sukmaraga.

Hal ini diketahui.oleh Lambung Mangkurat yang memegang teguh wasiat ayahandanya, Mpu Jatmika, yang melarang anak cucunya menjadi raja di Kerajaan Nagara Dipa. Dia khawatir, jikalau percintaan antara Puteri Junjung Buih dengan Raden Bambang Sukmaraga dibiarkan terus berlanjut keperkawinan, maka, hal ini akan membawa bencana. Bukan hanya bagi keturunan Mpu Jatmika tetapi juga bagi. Kerajaan Nagara Dipa beserta rakyatnya. Karena itulah, untuk menghindari supaya Puteri Junjung Buih jangan sampai kawin dengan Raden Bambang Sukmaraga, maka; dengan sangat terpaksa dan dengan berat hati akhirnya Lambung Mangkurat mengambil keputusan untuk membunuh kedua orang keponakannya itu.

Rencanapun disusun dengan rapih. Sebelum melakukan niat pembunuhan itu, Lambung Mangkurat meminta izin kepada Mpu Mandastana dan istrinya untuk membawa Raden Bambang Sukmaaraga dan Raden Bambang Patmaraga pergi malunta (menjala ikan) dengan menumpangi perahu kecil ke Luhuk Badangsanak. Kedua orang tua anak itu pun menyetujuinya.

Maka, dilaksanakanlah rencana pembunuhan itu. Disebutkan, pada waktu Maha Patih Lambung Mangkurat melempar jala ke sungai, dia memerintahkan kedua orang keponakannya tersebut menyelam ke dasar sungai untuk mengambil jala yang tersangkut. Namun, ketika keduanya berada dalam sungai maka Lambung Mangkurat melepas dua anak panah; yang diarahkan kepada kedua anak itu. Seketika, tewaslah kedua kemenakannya tersebut.

Lambung Mangkurat pulang ke Kuripan seorang diri. Kepada Mpu Mandastana dan istrinya, Lambung Mangkurat melaporkan bahwa kedua anak mereka meninggal dunia karena tenggelam disungai sewaktu mengambil jala. Mpu Mandastana dan isterinya tidak percaya dengan berita tersebut. Karena saking sayangnya mereka kepada kedua orang anaknya tersebut, akhirnya mereka mengambil keputusan menyusul kedua puteranya. Mpu Mandastana bunuh diri dengan Keris Parang Sari, isterinya pun melakukan hal yang lama.

Kisah patung cendana dianggap sebagai raja di Kerajaan Nagara Dipa berakhir ketika Maha Patih Lambung Mangkurat melantik Raden Putera, keturunan Raja Majapahit, menjadi raja di Kerajaan ini karena dia berhasil memersunting Puteri Junjung Buih. Setelah menjadi raja Raden Putera berganti nama menjadi pangeran Surya Anata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: