Mencari Wujud Mutlak Sang Pencipta Menurut Cara Pandang Sufi

Para sufi melihat Al-Quran sebagai sebuah semesta makna yang tidak terbatas tetapi saling berhubungan. Mereka juga meyakini prinsip kesatuan makna dan pesan Al-Quran sebenarnya selaras dengan prinsip Wahdah Al-Wujud


Dalam pandangan kaum sufi, Al-Qur’an adalah firman Illahi yang terbuka dan tak terbatas. Tiap-tiap huruf, kata dan kalimat yang terkandung di dalamnya memiliki makna yang bertingkat­tingkat dan berlapis-lapis. Menurut mereka, Al-Qur’an adalah kumpulan ayat, yakni tanda­-tanda yang menggambarkan hakikat yang sesungguhnya.

Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib pernah berkata: ”Sesungguhnya Al-Qur’an turun dalam empat bentuk, yakni: lbarah (ungkapan tekstual) untuk orang awam; Isyarah (pemisalan) untuk orang khusus; Latha`if (makna-makna yang lembut) untuk para wali, dan Hakikat untuk para Nabi.”

Oleh karena itulah para sufi melihat Al-Qur’an sebagai cakrawala yang luas tak terbatas, sebagaimana ilmuwan melihat alam semesta. Hal demikian ini dikarenakan Al-Qur’an merupakan representasi dari Lauhul Mahfuzd yang melembari seluruh penciptaaNya.

Para Sufi melihat Al-Qur’an sebagai sebuah semesta makna yang tidak terbatas tetapi saling berhubungan. Sebagian besar kaum Sufi meyakini prinsip kesatuan makna dan pesan Al-Qur’an ini sebenarnya selaras dengan prinsip kesatuan wujud (Wahdah al-Wujud). Inti prinsip ini adalah hubungan yang mengikatkan segala sesuatu pada SATU PUSAT. Segala sesuatu selain Wujud Mutlak tidak lain daripada pantulan dan bayangan-Nya semata. Tiap-tiap bayangan merupakan ‘nama’ yang merepresentasikan Sang Wujud Mutlak tersebut dalam bentuk parsial.

Manusia tidak bisa mengenal Sang Wujud tanpa melalui Nama-Nama yang tersusun secara bertingkat sedemikian ini, sehingga Nama di bawah memahami Nama di atasnya. Demikian terus terjadi secara bertahap, hingga sampai pada Nama Tertinggi (Al-Ism al-A’zham).

Nama tertinggi tersebut hanya bisa dipahami oleh Manusia Sempuma (al-lnsan al­Kamil), yakni Nabi Muhammad Rasullullah SAW. Dan Manusia Sempurna, hanya dapat dipahami oleh manusia-manusia suci yang dalam mazhab Syaiah dipercayai sebagai Fatimah, Ali bin Abi Thalib, dan sebelas imam keturunan beliau `Alaihlm as-Salam.

Untuk memahami Al-Qur’an, para Sufi berpegang pada makna yang ingin disampaikan Al Qur’an dan bukan pada ragam makna yang mungkin dipahami darinya. Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai Metode Ta’wil, yaitu upaya untuk kembali kepada makna asal suatu kata yang digunakan akan menghantarkan pada pemahaman yang tepat.

Tentang wujud, dari bahasa Arab wajada (menemukan), sedang wijdan adalah turunannya, kata yang berarti intuisi. Dari makna kata itu, dipahami bahwa: “Setiap yang ber­wujud pastilah menemukan dirinya sendiri, dalam derajat kesadaran yang berbeda-beda.”

Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib As dalam doanya di Padang Arafah melantunkan kalimat ini:”…Apa yang ditemukan oleh seseorang yang tidak menemukan-MU dan apa yang tidak ditemukan oleh seseorang yang telah menemukan-MU….”

Wujud sama dengan segala sesuatu. Wujud adalah keberadaan, wujud adalah tema paling inklusif yang mencakup segala sesuatu, wujud pasti dapat ditemukan dan menemukan, wujud (kewujudan) sama dengan kesatuan, sesuatu pasti dikehendaki oleh Pewujudnya, wujud bersifat tunggal dan sederhana, wujud tak terhingga.

Semua wujud partikular pasti memiliki Mahiyah. Mahiyah berasal dari definisi dan analisis terhadap sesuatu, yang hanya mungkin terjadi pada bagian tertentu dari keseluruhan wujud. Sedang Wujud Mutlak tidak memiliki Mahiyah, karena Wujud Mutlak adalah keseluruhan wujud itu sendiri.

Pengetahuan tentang Wujud Mutlak hadir dalam diri setiap Maujud secara langsung, mengingat pengetahuan ini tak lain daripada pengetahuan manusia tentang hakikat darinya sendiri. Yang dimaksud manusia di sini adalah AKU dan EGO yang sadar, yang dengan penyaksian batinnya menyadari wujudnya sendiri, tanpa sarana penginderaan.

Dalam pengetahuan dengan ketidakhadiran, subjek dan objek pengetahuan menyatu dan tidak bisa dipisah-pisahkan, sehingga jenis pengetahuan ini meleburkan dimensi epistemelogis subjek dengan dimensi ontologisnya. Di sinilah mengada dan mengetahui menjadi satu.

Wujud kadang digambarkan sebagai sesuatu yang tidak tampak dalam dirinya sendiri, tapi menampakan segala sesuatu selainnya. Karena itu, wujud pada umumnya diibaratkan dengan ‘Cahaya’ yang tidak tampak dalam dirinya sendiri tetapi menampakan dan memungkinkan kita melihat hal-hal lainnya.

Filosofi hikmah, Mulla Shadra menyatakan :”Wujud adalah sesuatu yang secara primer nyata dalam segala sesuatu, dan itulah hakikat. Sebaliknya semua selainnya (yakni, Mahiyah) adalah seperti pantulan, bayangan dan santiran”.

Wujud Mutlak mustahil untuk dibeda-bedakan, dibanding-bandingkan, didefinisikan dan dianalisis, karena Dia bersifat elementer (mendasar) dan sederhana, tidak memiliki bagian, tidak memiliki bandingan dan tidak memiliki batasan. Maujud (eksistensi), alam semesta dan apa yang kita saksikan hanyalah pantulan dari Cahaya Mutlak ini. Wujud Mutlak dalam teks-teks agama disebut Tuhan (Rabb),

Wujud dalam pandangan para pemikir Muslim adalah suatu pengalaman transenden dalam menemukan dan menyaksikan segala sesuatu. Setiap subjek menemukan wujud dalam tingkat yang berbeda-beda. Pada tingkat tertinggi, Wujud Mutlak menemukan segala sesuatu dalam Diri-Nya secara Iangsung.Tetapi, tingkat-tingkat di bawahnya, setiap maujud menemukan dirinya sebagai bayangan dan refleksi dari pancaran Wujud Mutlak, dan merasakan kehadiran-Nya dalam suasana yang remang-remang.

Allah SWT berfirman “Maka kemana pun engkau menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (Maha Meliputi) dan Maha Mengetahui.” (QS AI-Baqarah 115)

Menurut ungkapan orang Arab apa yang disebut Wajah adalah pusat atau bagian yang paling mulia dari sesuatu (Abu AI-gadim ar-Raghib al-Isfahani : al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an).

Wujud Mutlak dalam bahasa para Ahli Hikmah disebut dengan Wajib Al-Wujud (Wujud niscaya Mewujud), yaitu apabila kita membayangkan semua wujud selain Wujud Mutlak, dengan pasti kita akan menemukan bahwa semua selain DIA hanyalah pancaran dan penampakan-Nya. Karen semua maujud bergantungan secara esensial pada wujud yang mandiri dan bergantung sepenuhnya pada diri sendiri. Bila tidak demikian, maka rantai kemaujudan akan menjadi ketiadaan mutlak.

Hubungan Wujud Mutlak dan semua maujud selain-Nya biasanya diistilahkan dengan hubungan ‘sebab’ dan ‘akibat atau hubungan ciptaan dan pencipta. Para Ahli Hikmah menyebut seluruh maujud selain Wujud Mutlak sebagai bayangan (Syabah), penampakan (Tajalli), nama (Ism), tanda (Ayah) atau perumpamaan(Matsal). Dari sini dapat disimpulkan sebagaimana mustahil ada ciptaan tanpa ada pencipta.

Ciptaan tiada lain daripada hubungan, sisi, nama dan sifat dari Sang Wujud Mutlak. Firman Allah SWT: “Wahai manusia, kalian semua faqir (bergantung) kepada Allah, dan Allah adalah

Maha Kaya lagi Maha Teruji” (QS Faathir; 15)

Dalam kaitan dengan Faqir, Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib AS dalam doanya di Padang Arafah juga mengatakan ini: “Ya Allah, akulah faqir ketika aku (merasa) kaya, sebagaimana aku tidak benar-benar faqir dalam (kenyataan) ke-faqir-anku: Ya Allah, akulah yang bodoh (ketika aku merasa) mengetahui, bagaimana aku tidak benar-benar bodoh dalam  (kenyataan) kebodohanku.

Ada suatu riwayat yang mengisahkan, bahwa suatu ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as pemah ditanya :”Dimana wajah Allah, Sebelum menjawabnya, beliau meminta si penanya untuk membakar api unggun. Ketika api sedang menyala dengan hebat, Amirul Mukminin Ali AS bertanya : “Tunjukkan padaku di mana wajah bara api ini?

Si penanya mejawab, “Seluruh sudut api ini adalah wajahnya”. Mendengar jawaban ini kemudian Amirul Mukminin Ali AS menimpali, “Kalau benda ciptaan dan buatan seperti api saja engkau sudah tidak bisa mengetahui wajahnya, bagaimana dengan Dzat Pencipta yang sama sekali tidak serupa dengan ciptaan ini?”

Oleh sebab itu, cara paling mungkin untuk mengenal Wujud Mutlak ialah dengan meminta kepada-Nya memperkenalkan Diri-Nya. Dan agama adalah wilayah pengungkapan Illahi.            Dalam kalam dan wahyu Illahi, Wujud Mutlak (Allah) itu memperkenalkan Diri-Nya dalam bahasa perumpamaan (matsal atau mitsal) dan tanda (ayah) yang bisa dipahami oleh pikiran manusia. Hanya dengan cara demikian Sang Mutlak dapat kita kenali dan kita sapa, kita seru dan kita ingat, kita hadirkan dalam kalbu dan kita cintai.

Sayid Haidar Amuli menulis, “Ketika manusia mencoba mendeteksi wujud melalui daya nalarnya yang lemah dan pikirannya yang goyah, kebutaan dan kebingungannya Akan semakin bertambah.”

Cahaya Wujud memancar kepada segenap maujud secara bertingkat-tingkat, sesuai dengan prinsip kebijakan (hikmah), kekuasaan (qudrah), dan keadilan (‘adl).Tingkat dan derajat kesempurnaan setiap maujud (Meratib al-Kamaiat al-Wujudiyyah) sesuai dengan kemampuan tiap-tiap maujud sendiri. Derajat kesempurnaan ini harus dimengerti sebagai kelemahan dan kekurangan maujud untuk menyerap pancaran cahaya Wujud Pencipta, bukan sebagai kelemahan dan kekurangan dalam pancaran cahaya penciptaan atau pewujudan Illahi.

Untuk mengenal Wujud Mutlak, dalam sebuah doanya, Imam Muhammad bin hasan al Mahdi Ajjalallah Farajahu bermunajat: “Ya Allah, perkenalkanlah daku pada Diri-Mu, sesungguhnya bila Engkau tidak memperkenalkanku kepada Diri-Mu, maka aku takkan mengenal utusan-Mu. Ya Allah, perkenalkanlah daku kepada utusanMu, maka apa bila tidak, aku takkan pernah mengenal hujjah-Mu, sesunggunya bila Engkau tidak memperkenalkanku kepada hujjah-Mu, maka aku takkanmengenal agama Mu”….(dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: