Maitsam Al-Tamar

Maitsam Al-Tamar dan Pohon Kurma

Setiap selesai sholat Subuh, Maitsam menghampiri satu pohon kurma. Dia memercikkan air disekitarnya. Ketika matahari terbit, dia menjalankan sholat dua rakaat di dekat pohon tersebut


Maitsam Al Tamar lahir di Nehrawan, dekat Khufah. Dia berasal dari Persia. Seseorang wanita dari bani Asad membelinya sebagai budak. Sampai suatu hari Imam Ali ibn Abi Tholib membelinya, dan kemudian membebaskannya.

“Siapa namamu?”Tanya Imam Ali ketika bertemu pertama kali dengan Maitsam “Salim!”Jawab Maitsam singkat.

“Rasullullah SAW mengatakan padaku bahwa orang-orang Persia memanggilmu Maitsam,” ujar Ali. Maitsam sangat terkejut, karena menurut perasaannya di tempat dia kini tidak ada satupun orang yang tahu nama aslinya.

“Allah dan Rasul-Nya adalah benar!” Ucap Maitsam. Sejak pertemuan itu Maitsam tidak pernah meninggalkan Imam Ali RA. Setelah bebas, dia menjadi pedagang kurma di pasar Khufah. Kehidupannya sangat sederhana. Dua hal yang tumbuh didalam hatinya yaitu kesetiaannya pada Islam dan kecintaannya pada Imam Ali bin Abi Tholib.

Imam Ali kerap datang ke tempat Maitsam ketika berjualan. Di sana ImamAli  mengajarkannya berbagai ilmu tentang Islam.

Suatu saat ketika Imam Ali sedang berada di tempat dirinya berdagang kurma, Maitsam meminta izin kepada Imam Ali untuk membeli sesuatu. Maka, Imam Ali menggantikan Maitsam untuk berjualan kurma. Ketika itulah lalu datang seorang laki-laki yang ingin membeli kurma seharga empat dirham. Imam Ali pun melayani si pembeli ini.

Setelah laki-laki pembeli itu pergi, Maitsam yang baru kembali sangat terkejut, sebab uang yang diberikan laki-laki untuk membeli kurmanya adalah uang palsu. Imam Ali tersenyum dan berkata,”Pemilik uang itu akan kembali lagi!”

Maitsam pun bertanya, “Bagaimana dia akan kembali?” “Jika Allah menghendakinya, kenapa tidak?” Jawab Imam Ali.

Memang benar. Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu kembali dengan perasaan jengkel dan wajah memerah

“Aku tidak menginginkan kurma ini. Kurma ini pahit. Mengapa kurma ini pahit Katanya dengan bersungut-sungut

Imam Ali yang masih berada di situ langsung menjawabnya,”Ketahuilah, itu terjadi karena engkau membelinya dengan uang palsu!”

Karuan saja, laki-laki itu terkejut dan segera mengambil uangnya kembali sambil menyerahkan buah kurma yang dikatakannya pahit. Dia lalu segera pergi meninggalkan Imam Ali dan Maitsam.

Dikisahkan bahwa Maitsam adalah seorang yang sangat cerdas: Dia dapat menyerap ilmu yang diajarkan oleh Imam Ali. Diapun telah mendapat ilmu tentang tafsir Al-Quran. Bahkan, Ibnu Abbas pun belajar tentang tafsir AI Qur’an dari Maitsam.

Diceritakan pula, setiap selesai sholat subuh, Maitsam menghampiri satu pohon kurma. Dia memercikan air di sekitamya. Ketika matahari terbit, dia menjalankan sholat dua rakaat di dekat pohon tersebut. Kemudian dia menyapa pohon kurma itu.

“Allah telah menciptakanmu untukku dan menciptakan aku untukmu!” Begitulah yang selalu dikatakannya. Hal demikian ini dilakukannya selama lebih dari dua puluh tahun. Maitsam sangat mencintai pohon kurma tersebut. Hai inilah yang membuat heran orang-orang di sekitarnya, Namun,.siapa yang menyangka kalau sebenarnya pohon kurma itu kelak di kemudian hari nanti akan ada hubungannya dengan kesyahidan Maitsam.

Tahun demi tahun berganti. Penguasa Kota Kuffah silih berganti. Mereka memperlakukan rakyat dengan kejam. Kemudian Ziyad menjadi penguasa Kuffah. Dia ditugaskan oleh seorang pemimpin kaum munafik, Muawiyah bin Abi Sofyan untuk membunuh sahabat-sahabat Imam Ali dan memerintahkan rakyat agar mencaci Imam Ali. Bila menolak, maka, mereka akan mendapatkan siksaan yang sangat kejam dari Muawiyah

Habib bin Mazhahir adalah sahabat dekat Imam Ali. Suatu ketika, Maitsam yang tengah menunggang kuda dan bertemu dengan Habib bin Mazhahir yang juga tengah menunggang kuda. Mereka sama-sama berada di tempat Bani Asad. Mereka pun berbincang sejenak dan pembicaraan mereka di dengar oleh salah seorang Bani Asad.

Habib berkata sambil tersenyum, “Aku meramalkan bahwa seorang laki-laki (maksudnya Maitsam) dengan berkepala botak, berperut gendut, akan menjual semangka di Dar Al Rizik. Laki-laki itu akan terbunuh dikarenakan demi cintanya kepada keluarga nabinya (Nabi Muhammad SAW).”

Maitsam pun membalas pernyataan Habib, “Aku tahu bahwa seorang laki-laki (maksudnya Habib) dengan rambut merah akan muncul. Dia akan mendukung anak putri nabinya (maksudnya Imam Husain bin Ali bin Abi Tholib), kepalanya akan dipenggal dan kepalanya akan dibawa keliling di jalan-jalan Kufah”

Kemudian kedua sahabat imam Ali itu berpisah. Setelah mereka pergi, salah seorang Bani Asad berkata,”Mereka semua adalah pembohong!”

Lalu, datanglah Rasyid Al Hajri ke tempat Bani Asad untuk mencari Maitsam dan Habib. Bani Asad menceritakan pertemuan Maitsam dengan Habib dan ramalannya. Rasyid pun tersenyum sambil berkata, “Semoga Allah mengasihi Maitsam. Dia mungkin lupa mengatakan bahwa orang yang membawa kepala Habib mendapatkan upah ratusan dirham. Rasyid pun pergi untuk mengejar Habib, dan Bani Asad pun berteriak”Rasyid juga pembohong!”

Pada tahun 61 Hijriah bulan Muharrom, Bani Asad melihat kepala Habib terikat pada sebuah tombak milik pengawal Ibnu Ziyad yang diarak keliling ke jalan jalan kota Kufah

Muawiyah bin Abu Sofyan menemui ajalnya. Lalu kekhalifahan digantikan oleh putranya, Yazid bin Muawiyah. Yazid adalah seorang pemuda berusia tiga puluh tahun. Dia adalah seorang pemabuk (peminum khamar). Dia menghibur dirinya dengan anjing dan monyet.

Sementara itu, Maitsam tetap menjadi pendukung setia Imam Husain. Dia dipenjara di Kufah oleh Ibnu Ziyad, bersama dua tokoh Islam lainnya.yang merupakan pengikut setia Imam Husain, yaitu Muchtar dan Abdullah bin Harits.

Setelah kesyahidan Imam Husain, Muchtar berkata kepada kedua kawan satu selnya. “Bersiaplah kalian untuk syahid. Setelah Imam Husain Syahid, maka Ubaidiliah bin Ziyad (Ibnu Ziyad) akan membunuh kita semuanya.”

“Tidak! Engkau tidak akan terbunuh saat ini. Imam Ali berkata kepadaku bahwa engkau akan membunuh pembunuh-pembunuh Imam Husain. Engkau akan menendang kepala lbnu Ziyad dengan kakimu,” balas Maitsam “Dan engkau Abdullah akan menjadi penguasa di Bashrah!” Tambah Maitsam pula meramaikan nasib kedua orang teman satu selnya.

Pada suatu hari, Ibnu Ziyad meminta Maitsam untuk dihadapkan kepada dirinya

Maitsam pun dihadapkan kepada Ibnu Ziyad.

“Aku dengar engkau adalah sahabat Ali. Apakah itu benar?”Tanya Ibnu Ziyad

“Ya, benar” Jawab Maitsam singkat.”Apakah engkau mau mengingkarinya?” “Tidak!”

“Kalau begitu aku akan membunuhmu!” Ancam ibnu Ziyad.

“Demi Allah! Imam Ali berkata kepadaku bahwa engkau akan membunuhku. Engkau akan memotong tangan, kaki dan lidahku”

“Imammu adalah pembohong!”Teriak ibnu Ziyad

Kemudian Maitsam mencemooh Ibnu Ziyad sehingga membuatnya marah. Ibnu Ziyad pun akhimya memerintahkan pengawainya untuk mengikat Maitsam ke pohon kurma yang tumbuh di dekat rumah Amru bin Harits. Siapa menyangka kalau pohon kurma yang satu ini adalah pohon yang selalu dirawat oleh Maitsam. Setiap subuh dia selalu mendirikan sholat dua rakaat di dekatnya dan menyapa pohon itu selama lebih dari dua puluh tahun sebelumnya.

Ketika diseret serdadu, Maitsam bertemu dengan Amru bin Harits. Amru adalah seorang pejabat di Kufah pada zamannya. Maitsam berkata kepada Arnru,”Aku akan menjadi tetanggamu, maka perlakukan aku dengan baik”

“Apa maksudmu wahai Maitsam? Apakah engkau akan kembali ke rumah ibnu Mas`ud atau Ibnu Al Hakim?”Tanya Amru.Tetapi, Maitsam hanya terdiam saja sehingga membuat bingung Amru.

Maitsam diikat di pohon kurma yang tumbuh di dekat rumah Amru. Amru melihat Maitsam dalam keadaan terikat di pohon kurma dekat rumahnya dan teringat akan ungkapan Maitsam dimasa lampau yang membuat dia bingung, sekarang terjawab. Amru memerintahkan putrinya untuk memperlakukan Maitsam dan pohon kurma tersebut dengan baik.

Sambil terikat di pohon kurma, Maitsam mengumpulkan orang-orang untuk mengajar ilmu islam yang benar. Dia mengajar dalam keadaan terikat dengan tangan dan kaki sudah dalam keadaan terpotong. Seorang pengikut Ibnu Ziyad melaporkan kepada Ibnu Ziyad Akan kegiatan Maitsam. Ibnu Ziyad rnernerintahkan pengawainya untuk memotong lidah dan menikam Maitsam.

Akhimya, Maitsam Syahid di tangan .orang­-orang yang durhaka kepada Allah SWT dan Nabinya.Rakyat sangat menyukai Maitsam dan hendak menguburkan jenazah Maitsam dengan layak. Tetapi hal ini dicegah oleh prajurit-prajurit Ibnu Ziyad. Namun, ketika pengawal-pengawal tersebut sibuk menyalakan api unggun, sejumlah orang menggergaji pohon kurma dan membawa pergi jasad Maitsam keluar Kufah untuk dimakamkan.

Hingga sekarang makamnya berada di kota Najaf, di salah satu jalan di bawah kubah yang indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: