Imam Ghazali Bercerita

Sejak kecil, Imam Ghazali rajin mencatat berbagai pelajaran dari para guru-gurunya. Catatan-catatan itu dijilid menjadi sebuah buku. Karena memiliki catatan, ia tidak merasa perlu menghafal pelajarannya.

Suatu hari, dalam perjalanan ke kota kelahirannya, Thus, sekawan­an perampok menghadangnya. Semua perlengkapan, termasuk catatan tadi, dirampok. Dengan berani Imam Ghazali mengejarnya. Merasa dibuntuti, kepala perampok itu berhenti. “Hai! Kembalilah, atau kubunuh kau!” teriaknya.

Tapi, Ghazali tak gentar, bahkan berkata, “Dengan kebesaran Allah yang kepada-Nya engkau memo­hon keselamatan, tolong kembali­kan bukuku. la tidak bermanfaat bagi kalian ”

“Buku apa?” tanya kepala pe­rampok itu.

“Sebuah buku dalam tas kecil itu. Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk mendengarkan petuah para ulama, kemudian semua pelajaran mereka aku catat dalam buku itu,” jawab Ghazali.

Kepala perampok itu tertawa, sambil berkata, “Nah, sekarang kamu tidak mengetahui ilmu apa pun, karena bukumu ada bersama kami. Kamu tidak punya ilmu lagi ”

Meski begitu, kepala perampok kemudian memerintahkan anak buahnya menyerahkan buku itu. Peristiwa itu membuat Ghazali termotivasi untuk menghafal isi buku tersebut. Setiba di Thus, selama tiga tahun Ghazali menghafalkan catatannya, sehingga tidak ada lagi perampok yang dapat merampas ilmunya….

Namun Imam Ghazali tidak asing bagi dunia ilmu, khususnya Islam. Juga, di kalangan kaum muslimin seluruh dunia. Hampir sepanjang hidupnya ia mengembara untuk menun­tut ilmu hingga kemudian menjadi ulama besar yang berjiwa mulia.

Suatu hari, Ahmad, kakaknya bercerita, “menjelang subuh, hari Senin, adikku meng­ambil air wudhu lalu shalat. Setelah itu ia berkata, “ambilkan aku kain kafan”. Setelah menciumi kain kafan itu, ia meletakkannya di atas kedua matanya. Lalu katanya, “Aku siap menghadap Allah yang Maha Memiliki”.

Ia lalu menjulurkan kedua kakinya,berbaring menghadap kiblat, dan meninggalkan dunia yang fana ini menuju keridaan Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Semoga Allah menempatkannya di surga yang tinggi bersama para nabi, syuhada, dan salihin.”

Berikut beberapa kisah penuh hikmah yang diungkapkan oleh Imam Ghazali, nukilan dari buku Imam Ghazali Bercerita; Kisah-kisah dalam Ihya Ulumuddin, oleh Novel bin Muhammad Alaydrus, terbitan Taman Ilmu, solo

Nikmat Dzikir

Suatu hari Sahl bin Abdullah At-Tusturi berkisah. Sejak berusia tiga tahun, aku telah melakukan salat malam. Suatu hari kuperha­tikan bagaimana pamanku, Muhammad bin Sawwar, menunaikan salat.

Selepas salat, ia berkata, “Apakah engkau tak berdzikir kepada Allah, yang telah

Menciptakanmu?”

“Bagaimana cara berdzikir kepada-Nya?”. “Ketika engkau kenakan pakaianmu,

ucapkanlah kalimat di bawah ini dalam hatimu tanpa menggerakkan lisan, sebanyak tiga kali:

“Allah bersamaku, Allah memandangku, Allah menyaksikanku.”

Setelah beberapa hari kuamalkan dzikir itu, Paman berkata, “Bacalah dzikir itu tujuh kali setiap malam.” Anjuran ini pun aku laksana­kan.

Beberapa hari kemudian ia berkata, “Bacalah dzikir itu setiap malam sebanyak sebelas kali.”

Maka, setiap malam kubaca dzikir itu sebelas kali. Aku merasa tenteram. Setelah setahun berlalu, pamanku ber­kata, “Amalkan dan lakukan secara berkesi­nambungan apa yang telah kuajarkan kepa­damu sampai engkau meninggal nanti. dzikir itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.”

Bertahun-tahun dzikir itu kuamalkan, dan kutemukan kedamaian dan ketenteraman dalam hati.

Suatu hari pamanku berkata, “Wahai Sahl, barang siapa Allah bersamanya, memandang dan menyaksikannya, apakah dia akan ber­maksiat kepada-Nya? Berhati-hatilah, jangan sampai engkau bermaksiat kepada-Nya.”

Bayi dalam Kubur

Seorang lelaki beserta anaknya yang masih kecil mengunjungi Khalifah Umar bin Khatthab yang sedang membagi-bagikan hadiah kapada masyarakat. “Anak ini sa­ngat mirip denganmu,” kata Kha­lifah

“Wahai Amirul Mukminin, akan kuceritakan kisahku bersama anak ini. Suatu hari, aku akan keluar kota padahal istriku lagi hamil. Istriku bilang, “Apakah engkau akan me-meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini?”Jawabku, “Kutitipkan bayi yang kau kandung kepada Allah.”

Selang beberapa waktu aku kembali, dan ternyata istriku telah meninggal. Suatu malam, ketika aku tengah berbincang dengan orang sekampung, tiba-tiba kulihat cahaya bersinar menembus kuburan istriku.

Setiap malam kami melihat seberkas cahaya muncul dari dalam kubur istrimu tutur salah seorang di antara mereka, dan diiyakan oleh yang lainnya. “Demi Allah, sepanjang hidupnya Istriku rajin berpuasa sunah dan salat malam,” ujarku.

Kami lalu menuju ke makam membawa cangkul,_Ialu menggali makam istriku. Di dasar makam kami temukan sesosok bayi sehat sedang merangkak, ditemani lentera yang bersinar terang. “Bayi itu selamat berkat doamu dulu, yang meni­tipkannya kepada Allah. Andai kata ibunya juga engkau titipkan kepada Allah, pastilah dia tetap hidup’ ”

Maka kata Khalifah Umar, “Engkau sangat mirip dengan dia, bahkan melebihi kemiripan bu­rung gagak yang satu dengan yang lain”

Ibrahim dan Majusi

Suatu hari seorang majusi, pemuja api, meminta makan kepada Nabi Ibrahim. “Jika engkau bersedia memeluk Islam, aku akan memberimu makan.” Majusi itu lalu pergi. Saat itu juga Allah mewahyukan kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, engkau baru mau menjamu Jika ia berp­indah agama. Padahal selama 70 tahun, kendati ia kufur, aku tetap memberinya ma­kan. Andai engkau menjamunya semalam, rugikah engkau?”

Mendengar wahyu itu, Ibrahim segera mencari majusi tadi. la lalu mengajaknya ke rumah dan menjamunya. “Mengapa engkau berubah sikap?” tanya

si majusi. Ibrahim lalu menceritakan wahyu Allah tersebut.

“Demikiankah Dia memperlakukanku? Jelaskan kepadaku tentang Islam,” katanya. Nabi Ibrahim pun menjelaskan ajaran Islam, yang sangat indah dan manusiawi. Maka si majusi itu pun lalu masuk Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: