Bahkan Hewan pun Membenarkannya

Mutiara Rasul

Bahkan Hewan pun Membenarkannya

“Tidak ada sesuatu di antara langit dan bumi yang tidak tahu bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali orang-orang yang ingkar dari golongan manusia dan jin.” (Mu­hammad SAW).

Muhammad SAW, penutup risalah kenabian dan agama-agama langit, rahmat bagi alam semesta. Kedatangannya telah dinantikan oleh setiap pencari kebenaran, pijakan langkahnya begitu dirindukan oleh butir demi butir pasir sahara, dan rengkuhan kasihnya sangat didambakan oleh segenap makhluk, termasuk hewan-hewan. Ada begitu banyak riwayat yang menceritakan betapa hewan pun seakan berlomba mendapatkan kasih sayang manusia utama ini, sekaligus mem­beri kesaksian akan kebenarannya.

Sahabat Umar bin Khaththab berkata, Rasulullah tengah bersama sekelompok sahabatnya ketika seorang Badui yang sedang menangkap seekor kadal men­datanginya. Badui itu bertanya, “Siapa dia?”

Para sahabat menjawab, “Utusan Allah.” Dia berkata, “Demi Latta dan `Uzza, aku

tidak percaya kepadamu, begitu pun kadal ini, tidak percaya kepadamu.”

Dia lalu melemparkan kadal itu ke hadapan Nabi, yang terkejut, sehingga nyaris berkata, “Kadal!” Dan tiba-tiba kadal itu menjawab dengan cukup jelas, sehingga bisa didengar oleh semua yang ada di situ, “Demi pengabdian terhadapmu, wahai perhiasan Zat yang mendatangkan kebang­kitan.”

Nabi bertanya kepadanya, “Siapa yang kamu sembah?”. “Aku menyembah Zat yang bertakhta di arasy, menguasai langit dan bumi, memiliki keajaiban di surga dan hukuman di neraka.”

“Siapakah aku?” tanya Nabi lagi.

“Utusan Allah di dunia dan penutup para nabi. Beruntunglah orang-orang yang membenarkan Tuan dan tersesatlah orang-­orang yang mendustakan Tuan.”

Tentu saja Badui itu terpana. la lalu masuk Islam.

Kisah lain yang cukup termasyhur ialah penuturan sahabat Abu Sa’id Al-Khudry dalam sebuah hadis yang sangat panjang. Ringkasnya, suatu ketika ada seseorang sedang menggembalakan biri-biri ketika tiba-­tiba seekor serigala menerkam salah seekor biri-birinya. Tentu saja penggembala itu berusaha mempertahankannya.

la dan serigala itu pun terlibat dalam sebuah perebutan yang dahsyat. Karena kesal buruannya lepas, serigala itu tiba-tiba menerjang penggembala, lalu duduk di pinggangnya sambil berkata, “Tidakkah kamu takut kepada Allah? Saat ini kamu telah berada di antara aku dan ketentuanku”

Melihat keanehan itu, penggembala itu melupakan rasa takutnya dan berseru, “Ajaib! Seekor serigala dapat berbicara seperti manusia:”

Serigala itu menjawab, “Haruskah kuberi­tahukan kepadamu sesuatu yang lebih luar biasa? Seorang utusan Allah saat ini tengah berada di antara dua tempat. Dia tengah

menyampaikan berita kepada orang-orang mengenai apa yang telah terjadi.”

Penggembala itu pun segera pergi untuk menemui Rasulullah SAW, dan menceritakan peristiwa ajaib tersebut.

Nabi kemudian bersabda, “Bangkitlah dan beritakan kepada semua orang”

Unta Galak

Dalam riwayat lain yang diceritakan oleh sahabat Abu Hurairah, serigala itu berkata kepada penggembala bernama Ihban bin Aus yang tengah keheranan, “Kamu yang lebih luar biasa. Kamu berada di sini dengan biri-birimu dan meninggalkan seorang nabi yang lebih utama dari seluruh nabi yang pernah diutus oleh Allah. Pintu-pintu surga dibuka untuk­nya, dan umatnya memandang para sahabat­nya untuk dijadikan teladan.”

Ihban bertanya, “Lalu siapa yang akan menjaga biri-biriku?”

“Pergilah, aku yang akan menjaga biri- birimu sampai kau kembali.”

Penggembala itu pun menyerahkan seluruh biri-birinya kepada serigala dan pergi menemui Nabi. Ketika berjumpa dengan Rasulullah SAW, beliau menegurnya, “Kem­balilah kepada biri-birimu. Kau akan mene­mukan semuanya di sana.”

Ihban pun segera kembali ke tempat ia menitipkan seluruh biri-birinya kepada serigala tadi, dan menjumpai semua hewan ternaknya itu ternyata masih utuh. Sebagai ungkapan terima kasih, ia menyembelih seekor biri-biri dan memberikannya kepada serigala tadi.

Cerita seperti itu pula yang melatarbelakangi masuk Islamnya Salmah bin `Amr Al-Aqwa. Kedua hadis itu diriwayatkan oleh Ibn Hanbal, Al-Bazzar, dan Al-Baihaqi, dengan sanad yang tepercaya.

Kisah lain diceritakan oleh Tsa’labah ibn Malik, Jabir bin Abdullah, Ya’la bin Murrah, dan Abdullah bin Ja’far. Di Medinah, ada sebidang kebun. Setiap kali ada orang yang berusaha masuk, pasti akan diserang seekor unta. Suatu ketika Nabi memasuki kebun itu dan memanggil unta galak itu.

Luar biasa, unta itu mendatangi beliau seraya menundukkan hidungnya sampai menyentuh tanah, kemudian berlutut di hadapan Nabi. Sambil meletakkan tali kekang di lehernya, Nabi berkata, “Tidak ada sesuatu di antara langit dan bumi yang tidak tahu bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali orang-orang yang ingkar dari golongan manusia dan jin”.

Ummu Salamah menceritakan, ketika Nabi sedang berada di padang pasir, seekor rusa memanggilnya, “Wahai Rasulullah!”. Beliau pun lalu bertanya, “Apa yang kamu butuhkan?”. Rusa itu menjawab, “Badui ini telah menangkap saya, padahal saya punya dua anak yang menanti di gunung. Bebaskanlah saya sebentar, agar saya dapat pulang dan menyusui mereka. Dan saya berjanji akan kembali lagi.”. Nabi bertanya kepada Badui itu, “Maukah kau melakukannya?”. Jawab Badui itu, “Ya.”

Lalu Badui itu pun melepas rusa tersebut, yang segera berlari pergi. Beberapa waktu kemudian, rusa itu kembali. Kagum dengan kejadian itu, si Badui lalu menemui Nabi kembali dan bertanya, “Ada­kah yang Tuan ingin aku lakukan?”

“Lepaskan rusa itu,” sabda Nabi. Maka dengan rasa lega rusa itu pun kembali dilepas. Sambil berlari ke padang pasir, rusa itu berkata, “Aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan engkau, Muhammad, adalah utusan Allah.” Hadis ini diriwayatkan oleh AI-Baihaqi.

Demikianlah, masih banyak hadis mu’­tamad, atau kuat, yang mengisahkan cerita­-cerita kesaksian semesta akan kebenaran Muhammad SAW. Meski demikian, masih saja banyak manusia dan jin yang mendusta­kan ajaran yang dibawanya.

Maha benar Allah SWT yang telah ber­firman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan kebanyakan isi neraka Jahanam itu dari golongan jin dan manusia. Mereka punya hati tapi tidak digunakan untuk memahami (ayat­-ayat Allah), mereka punya mata tapi tidak dipergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), mereka punya telinga tapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS AI-A’raf: 179)

(dari berbagai sumber)

%d bloggers like this: