Atha bin Abi Rabah

Atha` bin Abi Rabah

Zuhud telah menyatu dalam kehidupannya. la hanya
mengenakan gamis yang harganya tak lebih dari
lima dirham….


Ketika duduk, lelaki asal Ethiopia itu tampak seperti seekor gagak hitam. Sepintas, orang melihat kulitnya hitam, rambutnya keriting, dan hidungnya pesek. Namun, ia dikerubungi Para tokoh terhormat, hartawan, bahkan penguasa sekaliber Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah ketujuh (97-99 H/715-717 M) Bani Umayyah, beserta kedua anak­nya. Saat itu tanggal 10 Zuihijah 77 Hijriyah.

Lelaki renta itu tiada lain Atha’ bin Abi Rabah, mufti Masjidil Haram, pewaris jabatan terhormat yang sebelumnya dipegang oleh Abdullah bin Abbas.

Meski berkulit hitam, Atha’ bin Abi Rabah sangat dihormati para bangsawan Quraisy, kabilah Arab paling terhormat, karena ilmu dan kezuhudannya.

Selesai shalat, Atha’ menoleh ke arah khalifah dan kedua anaknya. Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik memberi salam, dijawab olehnya dengan salam Pula. Khalifah bertanya tentang manasik haji, rukun demi rukun. Atha’ pun menjawab setiap pertanyaan dengan lancar dan jelas, sekaligus menyertakan sanad jawabannya kepada hadits Rasulullah.

Sebelum lstilah sufi dikenal, kaum muslimin menyebut orang yang mempunyai kecenderungan sufi sebagai ahli zuhud, wira’, ahli tawakkal atau pecinta Allah. Istilah sufi pertama kali dikenakan kepada Abu Hasyim Ash-Shufi, yang hidup sesudah Atha’ bin Rabah. Adapun Atha’ bin Abi Rabah termasuk ulama tabi’in yang mendapat predikat zahid (ahli zuhud), orang yang meninggalkan kesenangan du­niawi untuk mereguk kesenangan ukhrawi.

Zuhud telah menyatu dalam kehidup­annya. la hanya mengenakan gamis yang harganya tak lebih dari lima dirham.

Ia dihormati khalifah dan kalangan elite. Para khalifah juga suka mengundangnya untuk mendampingi mereka. Namun ia hamper tak pernah mengabulkan ajakan mereka, karena khawatir ternoda oleh dunia. Hanya sesekali ia mendatangi mereka jika sekiranya hal itu bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

Lusuh dan compang-camping

Utsman bin Atha’ Al-Khu rasani, salah seorang ulama asal Khurasan, pernah bertutur, “Aku dan ayahku pergi hendak menemui Hisyam bin Abdul Malik. Di dekat Damaskus kami bertemu seorang lelaki tua berbaju lusuh dan compang-camping sedang mengendarai keledai hitam. Jubahnya robek, pecinya yang lusuh telah lengket dengan kepalanya, dan sandalnya terbuat dari kayu.

Melihat pemandangan yang agak lucu itu, sambil berusaha menahan ketawaku, akupun bertanya, “siapakah dia gerangan?”

Tiba-tiba ayahku membentakku, “Diam! ,ia adalah penghulu para ahli fiqih di Hijaz, Atha` bin Abi Rabah.”

Ketika Atha` bin Abi Rabah mendekat, ayahku turun dari bighal (belasteran kuda dan keledai), dan Atha` pun turun pula dari keledainya. Mereka saling berangkulan dan menanyakan kabar masing-masing.

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di pintu gerbang istana Hisyam bin Abdul Malik, khalifah kesepuluh Bani Umayyah. Tak lama kemudian mereka diizinkan masuk.

Ketika keluar dari istana, aku bertanya kepada ayah, apa yang telah terjadi. Ayahku bercerita, ketika Khalifah Hisyam tahu bahwa Atha’ bin Abi Rabah berada di pintu gerbang, dia segera menyambut dan mengizinkannya masuk. “Demi Allah , kata ayahku,”kalau bukan karena dia, pasti aku tak diizinkan masuk.

Seorang Diri

Ketika tahu bahwa Atha’ sudah berada di hadapannya, Hisyam menyambut de­ngan takzim “Selamat datang, selamat datang. Kemarilah….”. kalimat itu tak putus-putusnya diucapkan hingga Hasyim mempersilahkannya duduk di atas balai-balai, sementara lututnya menyentuh lutu Atha` bin Abi Rabah. Duduk dengan posisi semacam ini menandakan bahwa khalifah sangat menghormati tamunya.

Mereka yang berada di majelis tentulah orang-orang terhormat. Tapi , demi mengetahui sikap hormat khalifah kepada tamunya, mereka langsung menghentikan pembicaraan, tak satupun berani bicara.

Dengan sangat hormat Hisyam bertanya kepada Atha`, “ada apa gerangan wahai Abu Muhammad?” (sapaan Atha` bin Abi Rabah).

Wahai Amirul Mu’minin, berikanlah ke­pada penduduk AI-Haramain (Makkah dan. Madinah) bagian rizqi dari sedekah,’ pinta Atha’.

“Wahai pelayan, tuliskan untuk pendu­duk Makkah dan Madinah jatah mereka selama setahun”, perintah Hisyam kepada juru tulisnya.

Hisyam melanjutkan, “Adakah keper­luan lain, wahai Abu Muhammad?”

‘Ya, Amirul Mu’minin, penduduk Hijaz dan Najd, kembalikanlah kepada mereka sisa sedekah mereka,” ujar Atha`

“Pelayan, tuliskanlah agar sedekah mereka yang tersisa dikembalikan.”

“Adakah keperluan lain selain itu, wahai Abu Muhammad?”

“Ada, ya, Amirul Mu’minin. Penduduk perbatasan yang berada di garis terdepan menghadapi musuh, memerangi musuh yang hendak menimpakan kejahatan ke­pada kaum.muslimin. Berikanlah kepada mereka jatah sedekah. Jika mereka gugur semua, batas negara akan hilang.

“Wahai pelayan, tuliskan agar dikirim jatah rizqi kepada mereka”.

“Adakah keperluan lainnya, wahai Abu Muhammad?”

“Masih, wahai Amirul Mu’minin. Ja­nganlah engkau bebani ahludz dzimmah (warga non-muslim) dengan beban yang tidak sanggup mereka pikul. Karena apa yang engkau.tarik dari mereka hanyalah untuk membantu menghadapi musuh.”

“Wahai pelayan, tuliskan agar ahludz dzimmah tidak dibebani dengan beban yang tak sanggup Mereka pikul.”

“Ada lagi?”

Ini yang terakhir. Waspadalah terhadap dirimu, karena engkau diciptakan seorang diri dan akan mati seorang diri pula. Engkau Akan dikumpulkan sendiri dan diperhitungkan seorang diri. Demi Allah, engkau tidak akan disertai siapapun yang kau lihat sekarang Ini:

Mendengar nasihat yang sangat da­lam itu, Hisyam menangis dan tak sadar­kan diri, Atha’ pun bangkit,pulang, dan aku mengikutinya.

Ketika sampai di pintu gerbang, kami dapati seorang lelaki menyusulnya dengan membawa sebuah kantung yang saya tak tahu apa isinya. la berkata, “Amirul Mu’minin mengirimkan ini untukmu.”

“Tidak, tidak mungkin aku tidak meminta upah dari kalian. Upahku hanya dari Allah, Rabb semesta alam,” Atha’ me­nolak.

Demi Allah, la menghadap khalifah tanpa minum setetes air pun hingga ia keluar dari istana.”

Atha’ bin Rabah dikaruniai Allah SWT umur cukup panjang. la lahir pada tahun 27 Hijriyah dan wafat pada tahun 114 Hijriyah..

Ketika hidup, ia tak memikul beban berat dunia. Sebaliknya setelah wafat, ia membawa banyak bekal akhirat, di antara­nya menunaikan haji 70 kali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: