Abu Ali Syaqiq

Abu Ali Syaqiq

Mendapat Pelajaran Dari Hamba Sahaya

Abu Ali Syaqiq pernah berguru kepada Ibrahim bin Adham. Menurut riwayat, dia belajar pada sekitar 1700 guru. Adalah seorang hamba sahaya yang mendorongnya menjadi seorang sufi…

Nama lengkapnya Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim AlAzdi. Dia berasal dari Balk, sebuah daerah di Iraq. Sebelum menjadi seorang sufi, dia menjadi seorang pedagang yang bepergian dari suatu negara ke negara lainnya. Karea itulah, sebagaimana halnya seorang.pedagang, maka, yang terlintas dalam pikiranya ialah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Hanya harta dunia yang kemudian menjadi dambaannya. Pada suatu waktu, Abu Ali mengadakan ekspedisi dagang ke Turkistan. Ketika itulah secara tidak sengaja dia mendapat pelajaran yang berharga dari orang yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya. Kejadian inilah yang kemudian menjadi awal dari kisah pertobatannya yang membawa dirinya ke dunia sufi

Kisahnya begini….

Ketika berada di Turkistan, dalam perjalanan itu Abu Ali dan kafilahnya berhenti Untuk melihat-lihat sebuah kuil. Kelihatan olehnya ada seorang yang sedang menyembah berhala dengan khusyuknya. Secara spontan Abu Ali berkata kepada si pemyembah berhala itu, “Seharusnya engkau malu dan jangan menyembah sebuah berhala yang sama sekali tidak mendatangkan kebajikan dan aniaya kepadamu. Karena yang menciptakan engkau adalah Yang Hidup, Yang Kuasa, Yang Berkehendak, dan Yang Maha Tahu. Oleh karena itulah, kau sembahlah Dia!” Mendengar perkataan tersebut si penyembah berhala menjawab, “jika benar kata-katamu itu, mengapa Dia tidak sanggup memberikan nafkahmu sehari-hari di kota kediamanmu sendiri? Mengapa engkau melakukan perjalanan sejauh ini?”.

Tidak disangka sama sekali, kata-kata si penyembah berhala itu menghujam ke dasar hati Abu Ali, sehingga terbukalah pintu hatinya oleh hidayahAllah SWT. Perjalanannya tidak dia teruskan, tapi dia malah memilih kembali lagi ke Balk. Saat perjalanan kembali ke Balk inilah, secara tidak sengaja pula di perjalanan Abu Ali bertemu dengan seorang penganut Zoroaster yang kebetulan sedang menuju kota yang sama. Orang itu bertanya kepada dirinya, “Apa usahamu wahai anak muda?”

“Saya seorang pedagang!” Jawab Abu Ali Syaqiq. “Ketahuilah, jika engkau mencari rezeki yang belum ditakdirkan untukmu, sampai kiamatpun engkau tidak akan memperolehnya, Tetapi jika engkau hendak mencari rezeki yang telah di takdirkan untukmu, engkau tidak perlu lagi ke mana-mana karena rezeki itu akan datang dengan sendirinya,” demikian kata penganut Zoroaster itu.

Mendengar perkataan ini, untuk kedua kalinya Ali Syaqiq merasa tersentuh hatinya. Jika yang pertama kali oleh seorang penyembah berhala, yang kedua dari penganut Zoroaster.

Dalam perjalanan pulang ke Balk itu dia terus menerus merenungkan ucapan dua orang tersebut. Hingga, tanpa disadarinya pernyataan kedua orang tersebut telah menyadarkan dirinya bahwa tidak seharusnya dia berlebih-lebihan dalam mencintai kekayaan duniawi. Bukankah masalah jodoh, mati, rezeki dan lahir merupakan rahasia Tuhan? Manusia tidak seorangpun yang tahu. Meskipun demikian, bukan berarti manusia harus menunggu takdir tanpa berusaha sedikitpun. Tidak! Manusia tetap diwajibkan ikhtiar, setelah itu menyerahkan diri kepada Tuhan.

Masalah rezeki itu tidak selalu rezeki lahir, tetapi juga rezeki batin. Menurut Rasullullah SAW yang dinamakan kekayaan itu tidak diukur dengan banyaknya harta yang dimiliki, karena tempat kekayaan yang sebenarnya itu hanya ada dalam hati. Jadi yang dinamakan kelapangan rezeki itu lebih banyak diukur dengan kayanya kesadaran di dalam relung hati yang paling dalam. Kebahagiaan pun sebenarnya tidak berada di luar, kebahagian itu berada di dalam diri kita sendiri.

“Rezeki yang berkah itu tempatnya di dalam negeri, tidak di luar negeri. Dengan demikian benarlah apa yang diucapkan oleh penyembah berhala itu. Mengapa harus mencari rezeki di luar negeri?” Renung Abu Ali

Akhimya dari kritikan dua orang tersebut terbukalah mata hati Abu Ali Syaqiq, sehingga kemudian mendorong dirinya ingin mencari kebenaran sejati dengan jalan mencari guru yang mursyid. Suatu ketika terjadi bencana kelaparan di kota Balk, Abu Ali Syaqiq melihat ada seorang hamba sahaya di pasar malah sedang tertawa-tawa di tengah rasa laparnya. Dia kelihatan sangat gembira, padahal semua orang sangat sedih karena musim paceklik begitu panjang sehingga kekurangan bahan makanan.

Melihat kelakuan aneh hamba sahaya tersebut, Abu Ali Syaqiq tidak habis pikir. Karena itulah dia lalu bertanya kepada si hamba sahaya, “Gerangan apakah yang membuatmu begitu gembira? Apakah engkau tidak melihat bahwa semua orang sekarang sedang susah karena bencana kelaparan?”

Hamba sahaya menjawab, “Apa peduliku? Bukankah majikanku memiliki sebuah desa dan mempunyai banyak persediaan gandum? Dia pasti tidak akan membiarkan aku kelaparan!”. Mendengar jawaban si hamba sahaya ini, tersentaklah hati Abu Ali Syaqiq sehingga tidak dapat menahan dirinya. Maka berserulah dia kepada Allah SWT, “Ya Allah, budak ini sangat gembiranya karena tuannya mempunyai banyak gandum. Engkau adalah Tuan dan Raja di antara sekian tuan dan raja. Engkau telah berjanji akan memberikan makanan kepada kami sehari-hari. Jika demikian:mengapa kami harus gelisah?”

Setelah peristiwa itu Abu Ali Syaqiq meninggalkan semua urusan duniawi. Lalu dia bertobat dengan sepenuh hati. Dia melangkah di atas jalan Allah dan memasrahkan diri secara mutlak kepada Nya. Abu Ali Syaqiq sering berkata, “Aku adalah murid dari seorang hamba sahaya. Karena dialah yang telah membukakan mata hatiku.”

Abu Ali Syaqiq pernah berguru kepada Ibrahim bin Adham. Menurut riwayat, dia belajar pada sekitar 1700 orang guru. Kehausan menimba ilmu pengetahuan yang ada pada diri Abu Ali Syaqiq tergolong luar biasa, sehingga tidak tanggung-tanggung dia memiliki kitab sebanyak beberapa pikulan unta.

Dalam riwayat, Abu Ali Syaqiq juga pemah memberi petuah kepada Sultan Harun Ar-Rasyid. Dikisahkan, ketika Abu Ali Syaqiq akan berziarah ke Tanah Suci Mekkah guna melaksanakan Ibadah Haji, dia singgah terlebih dahulu di kota Baghdad (Iraq) karena diundang oleh Sultan Harun Ar-Rasyid yang saat itu sangat ingin sekali mendengar petuahnya. Setelah berhadapan dengan Abu Ali, Sultan bertanya,”Engkaukah Syaqiq si pertapaitu?” “Benar, aku adalah Syaqiq, akan tetapi aku bukan seorang pertapa”. Jawab Abu Ali: “Berikanlah aku petuah!” Pinta Sultan. “Baik, jika demikian dengarkanlah!…

Syaqiq memulai pembicaraannya: “Allah Yang Maha Besar telah memberi kedudukan yang setia kepada Abu Bakar, begitu pula Dia menghendaki kesetiaan yang sama darimu. Allah telah memberi kedudukan kepada Utsman bin Affan sehingga memperoleh cahaya kesederhanaan dan kemuliaan. Begitu Pula Dia menghendaki agar engkau bersikap adil dan bijaksana pula.” Sultan mengangguk-angguk, “Teruskanlah wahai saudaraku” Pintanya pula.

“Allah mempunyai tempat yang dinamakan neraka, begitu pula Dia mengangkatmu menjadi penjaga pintu neraka dan mempersenjatai dirimu dengan tiga hal yaitu: kekayaan, pedang dan cameti. Dengan kekayaan, pedang dan cemeti itulah Allah memerintahkan agar engkau menjauhi umat manusia dari neraka. Jika ada orang mengharapkan pertolonganmu janganlah engkau bersikap kikir. Jika ada orang yang menentang perintah Allah, perbaikilah dirinya dengan cemeti ini. Jika ada orang yang membunuh saudaranya tuntutlah pembalasan yang adil dengan pedang ini. Jika tidak melaksanakan perintah itu niscaya engkau akan menjadi pemimpin orang orang yang masuk ke dalam neraka itu,” lanjut Abu Ali menyampaikan petuahnya.

“Lanjutkankan wahai saudaraku!” Pinta Sultan lagi seolah tak cukup merasa puas. “Kalau diambil perumpamaan, engkau adalah sebuah telaga Telaga itu bening niscaya, tidak akan tercemari karena keruhnya anak-anak sungai itu. Tapi jika air telaga itu keruh, mana mungkin anak-anak sungai itu akan bening!”

“Sekarang kita lanjutkan lagi,” Abu Ali menambahkan, “Apabila engkau sedang berada di tengah-tengah padang pasir serta engkau hampir mati kehausan, kemudian pada saat itu ada orang yang menawarkan seteguk air, berapakah yang akan engkau bayar?” Tanyanya.

Sultan merenung. Setelah terdiam sejenak barulah dia menjawab, “Berapapun yang dia minta akan aku bayar!”. “Seandainya harga air itu nilainya seharga setengah dari kerajaanmu, bagaimana?” Kejar Abu Ali Saqiq. “Akan kuterima tawaran itu!”.

“Kemudian andaikan air yang telah engkau minum itu tidak dapat keluar dari tubuhmu sehingga engkau terancam binasa, sesudah itu datang seseorang yang menawarkan pertolongan untuk menyembuhkanmu, tetapi upahnya meminta setengah dan kerajaanmu lagi, bagaimanakah jawabmu?”.”Akan kuterima juga tawarannya itu!”

Abu Ali Syaqiq tersenyum, “Kalau begitu mengapa engkau membanggakan diri dengan sebuah kerajaan yang harganya tidak lebih dari seteguk air minum yang kemudian engkau keluarkan kembali?”

Mendengar petuah yang sedemikian jitu dari Abu Ali Syaqiq, tak disangka Sultan Harun Ar-Rayid menangis tersedu-sedu. Syaqiq pun bangkit dari tempat duduknya kemudian pergi untuk keluar dari istana. Suasana hening sekali. Tatkala sampai ke pintu Sultan kelihatan masih menangis sedih, sehingga dia lupa dan membiarkan tamunya pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: