Ibnu Khafif

Ibnu Khafif

Berpuasa Setiap Hari Berbuka dengan Kismis

ia wali besar dari Persia. Karamahnya banyak, ia tahu ada orang suuzan kepadanya, tapi juga iri pada orang yang sangat tabah dan sabar

Ada seorang waliullah yang kurang dikenal di Indonesia. Tapi, Abu Abdullah Muhammad bin Khafif bin Isfaksyad , begitulah namanya – adalah salah seorang tokoh suci yang sangat termasyhur di Persia (kini Iran). la lahir di sebuah kota indah dengan peradaban yang tinggi, Syiraz, pada 270 H/882 M. Seperti lazimnya para ulama besar, ia juga melanglang buana untuk belajar di Irak, Mesir, Asia Kecil. Setidak-tidaknya, ia telah enam kali menunaikan ibadah haji. la wafat dalam usia lanjut di kota kelahirannya pada 371H/982 M.

Masa mudanya selalu diisi dengan ibadah. Tak mengherankan jika di masa mudanya, ia sudah ingin menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan dari Shiraz ke Mekah, ia singgah di beberapa kota. Ketika sampai di Baghdad, ia tidak mengindahkan nasihat tokoh sufi Abul Qasim Al-Junaid untuk menunda perjalanannya.

Dengan membawa seutas tali dan timba, ia meneruskan perjalanan. Ketika berada nun jauh di tengah padang pasir, di bawah terik matahari nan menyengat, rasa dahaganya tidak ter­tahankan lagi. Tapi, ia tidak kunjung menemukan oase atau wadi. Dengan langkah gontai, ia meneruskan perjalanan, sambil berharap menemukan sebuah wadi biar sekecil apa pun.

Setelah cukup jauh berjalan, akhimya ia me­lihat sebuah wadi dan seekor rusa yang sedang minum di kejauhan. la pun mempercepat lang­kahnya.Tapi, ketika berada di tepi wadi, air telaga itu temyata sudah habis terserap bumi. “Ya Allah, apakah aku lebih hina dari seekor rusa? Rusa itu tidak membawa tali dan timba, sedangkan aku membawanya,” Ibnu Khafif meratap.

la pun tercenung. Dalam renungannya, samar-samar ia mendengar suara, “Wahai Abdullah, rusa itu berserah diri kepada Kami.” Dengan perasan lega, tapi kaget, ia segera membuang tali dan timba, kemudian me­lanjutkan perjalanan ke Madinah.

Tak lama berjalan, ia mendengar kembali suara yang tadi memanggilnya. “Wahai Ab­dullah, Kami hanya mengujimu. Ternyata engkau tabah. Kembalilah ke wadi tadi, dan minumlah.” Tanpa pikir panjang, ia pun lari ke wadi tadi. Kini, ia dapati penuh dengan air. la pun lantas bersuci dan minum. Barulah setelah itu, ia meneruskan perjalanan ke Madinah.

Ketika kembali ke Baghdad, pada hari Jumat, ia langsung menuju masjid dan bertemu dengan Junaid yang dengan tenang berkata, “Seandainya waktu itu engkau benar-benar bersabar, niscaya air wadi itu akan menyembur dari bawah kakimu.” Sebagai sufi dan wali, Junaid memang sudah tahu apa yang akan dialami sahabatnya itu. Bukankah sebelumnya iasudah minta agar Ibnu Khafif menunda perjalanan?

Sang Pengembara

Sesungguhnya, Ibnu Khafif masih keturunan bangsawan yang sangat berkecukupan. Ta­pi hal itu tidak membuatnya takabur dan kufur

nikmat. Malah sebaliknya, ia sangat taat beribadah dan berpuasa setiap hari. Setiap buka puasa tiba, ia hanya makan tujuh kismis. Pernah  pada suatu malam, pelayannya menyajikan delapan kismis. la tidak menyadarinya, dengan lahap ia menyantapnya. Ketika shalat, ia merasakan ada yang aneh pada dirinya. la tidak mendapatkan kepuasan dalam ibadah, tidak seperti yang dialaminya setiap malam. Maka

dipanggillah si pelayan. “Maaf Tuan, saya telah lancang meng­hidangkan delapan kismis. Karena saya lihat Tuan lemah lunglai. Saya tidak tega melihat keadaan Tuan,” ujar pelayan itu mengaku. “De­ngan berbuat demikian, engkau bukanlah sahabatku tapi musuh­ku. Jika engkau memang sahabat­ku, niscaya engkau akan mem­berikan enam kismis, bukan dela­pan;’ kata Abu Khafif.

Pada suatu hari, datanglah dua orang suci dari negeri yang jauh menemui Ibnu Khafif. Na­mun, mereka tidak dapat ber­temu. Salah seorang dari mereka bertanya tentang keberadaan Ibnu Khafif kepada tetangga wali itu. “la sedang berada di Istana Azud ad-Daulah,” kata si tetangga. Mereka pun memutuskan tidak jadi menemui Ibnu Khafif, karena menduga sang wali sudah berdekat-dekat dengan kekuasaan. Mereka pun lalu berjalan-jalan ke pasar, untuk menambal jubah yang robek. Tapi, belum sem­pat mereka mengutarakan keinginan kepada seorang tukang jahit, malah dituduh meng­ambil gunting. Tak lama kemudian, orang banyak mengerumuni, memaksa mereka mengaku mencuri gunting. Karena tidak mengaku, mereka digiring ke istana. “Potong­lah tangan mereka,” perintah Azud ad-Daulah.

“Tunggu! Mereka bukanlah pencuri, tapi mereka hendak menemuiku,” seru Ibnu Khafif, yang ketika itu berada di istana. Maka kedua

orang itu dibebaskan. Lalu Ibnu Khafif pun berkata kepada mereka, “Prasangka buruk kalian terhadap diriku memang wajar. Tapi, urusanku yang sebenamya di istana ialah untuk tujuan-tujuan seperti membebaskan orang yang tidak bersalah seperti kalian” Sejak itu, kedua­nya menjadi murid Ibnu Khafif.

Pernah suatu ketika, seorang penge­lana mengunjungi Ibnu Khafif. la menge­nakan pakaian serba-hitam; baju, jubah, syal, celana, semua serba-hitam. Setelah selesai salat sunah dua rakaat dan meng­ucapkan salam, Ibnu Khafif bertanya,

“Mengapa engkau berpakaian serba­ hitam?” Maka jawab si pengembara, “Karena tuhan-tuhanku telah mati.” Yang ia maksud dengan “tuhan” ialah hawa nafsu.

Mendengar itu, Ibnu Khafif memerin­tahkan kepada murid-muridnya, “Usir orang ini keluar!” Tapi, tak lama kemudian, Ibnu Khafif memerintahkan murid-muridnya untuk membawanya masuk. Hal itu berulang sampai 40 kali. Akhirnya,lbnu Khafif bangkit dari tempat duduknya, mencium kepala si pengelana dan memohon maaf. “Engkau memang berhak berpakaian serba-hitam. Karena telah 40 kali murid-muridku me­nyakiti hatimu, tapi engkau tetap tabah,” kata Ibnu Khafif yang merasa iri terhadap ke­tabahan sang pengelana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: