Ibnu Hajar Al-Asqalani

IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Mutiara berserak di pintu Allah.

la bukan hanya dikenal sebagai salah seorang sufi dan ahli fikih yang masyhur. Tapi juga penyair dengan puisi ke tuhanan yang indah…

Sampai saat ini, para santri di Indonesia  sangat akrab dengan sebuah kitab fikih yang masyhur, Bulughl Maram. Pengarang kitab ini ialah seorang ulama dan sufi yang terkenal, Ibnu Hajar AI­-Asqalani. Tapi, sesungguhnya ia lebih dikenal sebagai ahli fikih ketimbang sufi atau ahli tasawuf. Sampai kini, pendapat-pendapatnya dalam ilmu fikih masih menjadi bahan telaah dan referensi para ulama, terutama ketika mereka menetapkan sebuah fatwa.

Meski kurang dikenal sebagai sufi, pan­dangan-pandangan sufistiknya terungkap dalam kumpulan puisinya, AI-Munabihat ‘ala al-Isti’dad li Yaum al-Ma’ad.

la lahir di Kairo pada 12 Syakban 773 H atau 18 Februari 1371M. Nama lengkap­nya, Syihabuddin Abu Fadl Ahmad bin Nu­ruddin Ali bin Muhammad bin Hajar AI-Asqalani. Tak jelas bagaimana asal-usul keluarganya. Adapun julukan A!-Asqa/ani merupakan bagian dari tradisi muslim saat itu. Ayahnya, Nuruddin Ali (wafat 777 Hijriah/1375 Masehi), dikenal sebagai ulama termasyhur yang menjabat mufti di Mesir. Adapun ibunya, Tujjar, berasal dari keluarga pedagang kaya. Namun, masa kecil Ibnu Hajar penuh dengan pengalaman sedih. Semenjak berusia empat tahun, ibunya meningal dunia. Maka ia pun diasuh Zakiuddin Abu Bakar AI ­Karrubi, seorang saudagar kaya. Di bawah bimbingan Zakiuddin, Ibnu Hajar mendapat pelajaran agama dan bimbingan spiritual, sehingga pada umur sembilan tahun ia sudah hafal AI-Quran. Belakangan, ia ber­guru kepada beberapa ulama masyhur, se­perti Syekh Jalaluddin al-Buqini (ilmu nahu); Syekh Ibnu al-Muan al-Fairuzabadi dan Syekh Muhibuddin bin Hisyam (ilmu saraf); At-Takhuni (qiraah); Syekh Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Qattam (sejarah).

Ibnu Hajar memang murid yang rajin dan cerdas. Dengan tekun, ia mencatat secara terperinci pelajaran sejarah, nama para gurunya, dan kitab-kitab yang di­bacanya. Kitab-kitab yang dibacanya, antara lain, AI-Mu jam al-Mufahras (kon­kordansi ayat AI-Quran), AI-Maqasid al­ Aliyat fi Fihris al-Marwiyat (indeks hadist), AI-Majma al-Mua’sas (pelengkap katalog ayat AI-Quran).

Seorang Penyair

Merasa belum cukup de­ngan itu, ia kemudian me­ngembara untuk menim­ba ilmu. la antara lain berkunjung ke pusat-pusat ilmu seperti Hejaz dan Yaman, lalu Suriah dan Pa­lestina. Dalam perjalanan ini, ia berjumpa dengan guru utamanya dalam ilmu hadis, Syekh Zainuddin al Iraqi. la juga mengaji kepada ulama ilmu hadis dan fikih, Syekh Izzuddin bin Jama’ah. Dari kedua gurunya yang masyhur itu, ia memperoleh ijazah untuk mengeluarkan fatwa.

Setelah puas berguru kepada sejumlah ulama besar, ia pun mengamalkan ilmunya sebagai pendidik. la pernah menjadi guru madrasah, dosen, hakim, mufti, khatib dan pustakawan. la mengajar ilmu hadis, tafsir, fikih. Kuliah-kuliahnya di Madrasah Syai­khuniyah dan Mankutimuriyah, Kairo, selalu mendapat sambutan hangat dari para mahasiswa.

Salah satu kariernya yang penting ialah ketika ia menjabat kepala bidang pendidikan dan administrasi selama 35 tahun di Per­guruan Baynarsyiyah, Kairo (dari tahun 1415 sampai 1445 M). Belakangan, ia pindah mengajar ke Darul Hadits al-Kamaliyah, masih di Kairo. Tapi, pada 1448 M ia kembali mengajar di Baynarsiyah selama beberapa bulan sebelum menderita sakit.

Pada 1423 M, is menjabat wakil hakim agung, sementara rekannya, Syekh Jala­luddin AI-Baqilani, sebagai hakim agung. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, ia dilengserkan gara-gara kebijakannya dinilai berseberangan dengan politik pemerintah. Namun, tak lama kemudian, ia ditunjuk pemerintah Mesir sebagai mufti, dan jabatan ini dapat ia pertahankan selama 20 tahun.

Sebagai ulama, Ibnu Hajar termasuk aktif menulis kitab, terutama dalam ilmu hadist. Kitabnya yang termasyhur berjudul Fath all-Bari bi Syarh al-Bukhari (1429 M), telaah dan komentar mengenai kitab Shahih Bukhari. Kitab itu tidak hanya beredar di Mesir, tapi juga di Parsi (Iran), dan Asia Tengah. Kitab-kitab karangannya yang lain: Al-Isabah fi Tamyiz al-Sabahah, Tahzib at-Tahzib, Lisan al Mizan, Anba al-Gumr bin Anba al-Umr dan Bulughul Maram min Adillat al-Ahkam. Dalam kitab-kitab tersebut, ia mengungkapkan alasannya tentang ilmu fikih, hadis, dan -ilmu agama yang lain.

Ibnu Hajar ternyata adalah juga sa­ng penyair. Puisinya terkumpul dalam kitab AI-Munabihat `ala al-Isti’dad li Yaum al-Ma’ad. Banyak mutiara hadis dan ungkapan para ulama terkenal yang ia sunting dalam sejumlah puisi. Berikut, sebait puisi sebagai kata pengantar kumpulan puisinya, Menuju Pintu Allah, Mutiara Berserak.

Bismillahirrahmanirrahim

Selaksa puji bagi Allah Sang Esa

di setiap waktu dan masa

Kesejahteraan abadi bagi Rasul-Nya Muhammad, Sang Mustafa

Dari kisi-kisi hati

ingin kusampaikan lewat karya ini

Bekal kewaspadaan

Untuk meniti perjalanan panjang

lewat untaian mutiara yang

terajut dua-dua tiga-tiga, empat-empat dan seterusnya

hingga untaian sepuluh mutiara kata

Semoga berguna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: