Husain ibn Mansur Al-Hallaj

BERBAGAI KEAJAIBAN PADA DETIK-DETIK KEMATIAN AL-HALLAJ

Husain ibn Mansur al-Hallaj menjadi salah satu sufi paling terkenal dikarenakan ucapannya yang mengatakan “Ana AlHaq” (Akulah Kebenaran). Sebuah ucapan yang kemudian membuatnya dieksekusi di tiang gantungan. Bagi para ulama ortodoks, kemauan ini dijustifikasi dengan alasan bid’ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri.


Kaum sufi sezaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pemyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Illahi dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut.

Oleh karena pandangan-pandangannya tentang agama yang dinilai menyimpang, atas perintah Khalifah pada 923 M, al-Hallaj akhimya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Berbagai keanehan terjadi bahkan sejak ia mulai dimasukkan ke dalam penjara.

Pada malam pertama sewaktu ia dipenjara, para sipir penjara merasa kebingungan karena al-Hallaj tidak ada dalam sel. Pada malam kedua, bukan hanya al-Hallaj yang hilang, penjara itu sendiri pun hilang. Pada malam ketiga, barulah segala sesuatunya kembali normal.

Para sipir penjara itu bertanya kepada al­ Hallaj, kemana ia pada malam pertama dan kedua? Al-Hallaj menjawab, “Pada malam pertama aku ada di hadirat Allah. Karena itu aku tidak ada di sini. Pada malam kedua, Allah ada di sini, karenanya aku dan penjara ini tidak ada. Pada malam ketiga aku di suruh kembali.”

Al-Hallaj dipenjara selama hampir sembilan tahun. Beberapa hari sebelum

dieksekusi di tiang gantungan, ia berjumpa dengan sekitar tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dan semuanya dibelenggu. Ia berkata kepada para narapidana itu bahwa ia akan membebaskan mereka semua.

Para narapidana merasa heran, karena al-Hallaj berbicara hanya tentang kebebasan mereka dan bukan kebebasan dirinya sendiri. Al-Hallaj mengatakan kepada mereka, ” Kita semua dalam belenggu Allah di sini. Jika kita mau, kita bisa membuka semua belenggu ini” Kemudian ia menunjuk belenggu­-belenggu itu dengan jarinya dan semuanya pun terbuka. Namun para narapidana masih bingung, bagaimana mereka bisa melarikan diri karena semua pintu terkunci. Al-Hallaj . lalu menunjukkan jarinya ke tembok, dan tiba-tiba terbukalah tembok itu. “Engkau tidak ikut bersama kami?” tanya salah seorang dari narapidana.

“tidak”, jawab al-Hallaj ‘Ada sebuah rahasia yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan.”

Keesokan harinya, para sipir penjara panik melihat sel kosong dan hanya ada al-Hallaj di sana. Al-Hallaj mengatakan bahwa ia telah membebaskan mereka semua. “Mengapa engkau tidak sekalian pergi bersama mereka?” Tanya sipir penjara

“Dia mencela dan menyalahkanku. Karenanya aku harus tetap tinggal di sini untuk menerima hukuman,” jawabnya.

Sang khalifah yang mendengar percakapan ini berpikir bahwa al-Hallaj bakal menimbulkan kesulitan. Ia kemudian memerintahkan untuk mencambuk atau membunuh al-Hallaj sampai ia menarik kembali ucapannya.

Al-Hallaj dicambuk tiga ratus kali dengan rotan, namun ia tidak bergeming. Bahkan setiap kali cambukan mengenai tubuhnya, terdengar suara gaib berseru, “Jangan takut, putra Manshur.”

Sampai pada akhirnya. Husain ibn Mansur al-Hallaj digiring untuk dieksekusi. Banyak sekali orang berkumpul untuk menyaksikan eksekusi tersebut, dan al-Hallaj berseru lantang kepada mereka; “Haq, Haq, Ana al-Haq” (Kebenaran, Kebenaran, Akulah Kebenaran):

Al-Hallaj berjalan dengan begitu bangga menuju tempat eksekusi. Orang-orang bertanya kepadanya, mengapa ia begitu bangga menerima semua ini. Sang sufi menjawab, “aku bangga karena aku tengah berjalan menuju ke tempat pejagalanku” Ketika dekat dengan tiang gantungan, dengan suka rela ia menaiki tangga sendiri. Seseorang bertanya lagi kepadanya tentang keadaan emosi batinnya pada saat ini. Al ­hallaj menjawab, “Perjalanan spiritual para pahlawan justru dimulai di puncak tiang gantungan ” la kemudian berdoa dan berjalan menuju tiang gantungan.

Beberapa saat kemudian, sahabatnya Syibli, yang hadir di situ tiba-tiba bertanya epada al-Hallaj tentang apa itu tasawuf.

Al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan oleh Syibli saat itu adalah ingkatan tasawuf paling rendah.”Adakah yang lebih tinggi dari ini?” Tanya Syibli lagi. “Kurasa, engkau tidak akan
nengetahuinya,” Jawab al-Hallaj.

Kerumunan orang mulai melempari Al-Hallaj dengan batu, narnun Syibli. melemparinya dengan bunga. Tiba-tiba saja, Al-Hallaj untuk pertama kalinya merasa kesakitan. Seseorang bertanya, “Mengapa engkau tidak merasa kesakitan dilempari batu, tapi lembaran sekuntum bunga justru membuatmu kesakitan?”

Al-Hallaj menjawab, “Orang-orang yang jahil dan bodoh bisa dimaafkan. Sulit rasanya melihat Syibli melempar lantaran ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya”

Sang algojo kemudian memotong kedua tangan al-Hallaj, tetapi ia justru tertawa dan berkata, “Memang mudah memotong tangan seseorang yang terbelenggu. Akan tetapi, diperlukan seorang pahlawan untuk memotong tangan segenap sifat yang memisahkan seseorang dari Allah.” (Dengan kata lain, meninggalkan alam kemajemukan dan bersatu dengan Allah membutuhkan. usaha keras dan luar biasa).

Sang Algojo lantas memotong kedua kakinya. Al-Hallaj lagi-lagi hanya tersenyum dan berkata, “aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini, aku masih punya dua kaki lainnya untuk berjalan di kedua alam. Potonglah kalau kau memang bisa melakukannya.”

Al-Hallaj kemudian mengusapkan kedua lengannya yang buntung ke wajah sehingga wajahnya berdarah.

“Mengapa engkau mengusap wajahmu dengan darah?” Tanya orang-orang.

Ia menjawab bahwa karena ia sudah kehilangan darah sedemikian banyak dan wajahnya menjadi pucat, maka ia mengusap pipinya dengan darah agar orang jangan menyangka bahwa is takut mati.

Sang algojo kemudian mencungkil mata a1-Hallaj. Orang-orang histeris dan menangis, namun lainnya malah melontarkan sumpah serapah. Setelah itu, telinga dan hidungnya juga dipotong. Sang algojo hendak memotong lidahnya, namun al-Hallaj memohon waktu sebentar untuk mengatakan sesuatu, “Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaanMu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka lakukan karena keagunganMu.” Kemudian ia mengucapkan sebuah ayatAl-Qur’an:

Orang-orang yang mengingkari hari kiamat bersegera ingin mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman berhati-hati karena mereka tahu bahwa itu adalah benar.

Kata-kata terakhir al-Hallaj adalah: “Bagi mereka yang ada dalam ketidaksadaran diri, cukuplah sudah satu kekasih.”

Tubuhnya yang terpotong-potong tetapi masih.menunjukkan tanda-tanda kehidupan dibiarkan berada di atas tiang gantungan sebagai pelajaran bagi yang lainnya.

Esoknya, baru sang algojo memenggal kepalanya. Ketika kepalanya dipenggal, al-Hallaj tersenyum dan meninggal dunia. Orang-orang yang menyaksikan histeris tapi, al-Hallaj menunjukkan betapa berbahagia ia bersama dengan kehendak Allah. Dan tiba-tiba saja, secara ajaib setiap bahan tubuhnya berseru,’Akulah kebenaran”, dan setiap tetesan darahnya yang jatuh ke tanah membentuk nama Allah.

Hari berikutnya, mereka yang menentang al-Hallaj memutuskan untuk membakar tubuhnya, karena tubuh yang sudah terpotong-potong tersebut masih saja “menimbulkan masalah” . Setelah dibakar, abu jenazah al-Hallaj bahkan juga berseru, “Akulah Kebenaran.”

Jauh-jauh hari, sebenamya al-Hallaj telah meramalkan kematiannya sendiri dan memberitahu pembantunya bahwa ketika abu jenazahnya dibuang ke sungai Tigris, permukaan sungai akan naik sehingga seluruh Baghdad pun terancam tenggelam. Ia memerintahkan pembantunya menaruh jubahnya ke sungai untuk meredakan ancaman banjir tersebut.

Pada hari ketiga kematiannya, abu jenazahnya memang dibuang ke sungai Tigris. Dan tiba-tiba saja, air sungai naik. Si pembantu al-Hallaj kemudian menaruh jubah sang tuan ke sungai dan permukaan air pun segera surut.

Demikianlah keajaiban pada kematian seorang sufi Husain ibn Mansur al-Hallaj. Tak hanya sampai di situ. Pada suatu hari, seorang tokoh terkemuka mengatakan bahwa ia melakukan shalat sepanjang malam di bawah tiang gantungan al-Hallaj. Saat fajar menyingsing, terdengarlah suara gaib berseru, “Kami berikan salah satu rahasia kami dan ia tidak menjaganya. Sungguh, inilah hukuman bagi mereka yang mengungkapkan segenap rahasia kami.’

Sahabat al-Hallaj, Syibli, juga mengalami hal serupa. Pada suatu malam ia mimpi bertemu dengan al-Hallaj dan bertanya, “Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?”

Al-Hallaj menjawab bahwa mereka yang tahu bahwasanya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian, karena Allah semata. Sementara itu mereka

yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran.

Oleh sebab itu, mereka menginginkan kematiannya, kematiannya karena Allah semata. Allah merahmati kedua kelompok ini. Keduanya memperoleh berkah dan rahmat dari Allah.

Al-Hallaj terkenal tidak hanya karena kontroversinya, tetapi juga karena kezuhudannya. Pada usia lima puluh tahun ia mengatakan bahwa ia memilih untuk tidak mengikuti agama tertentu, melainkan mengambil dan mengamalkan praktek apa saja yang paling sulit bagi nafs (ego) nya dari setiap agama. Ia tidak pemah meninggalkan shalat wajib, karena dengan shalat wajib tersebut ia melakukan wudhu jasmani secara sempuma.

Ketika ia mulai menempuh jalan itu, ia hanya mempunyai sehelai jubah tua lusuh yang telah dikenakannya selama bertahun­-tahun. Suatu hari, jubah itu diambil secara paksa oleh seseorang dan diketahui bahwa ada banyak kutu dan serangga bersarang di dalamnya, yang salah satunya berbobot setengah ons.

Pada kesempatan lain, ketika ia memasuki sebuah desa, orang-orang melihat kalajengking besar yang mengikutinya. Mereka ingin membunuh kalajengking itu, namun ia menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa kalajengking itu telah bersahabat dengannya selama dua belas tahun.

Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi pada zaman itu, namun hampir semua sufi memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya,menyatakan, “Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (mengacu pada percakapan Allah dengan Nabi Musa as) yang

menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan Al-­Hallaj,’Akulah Kebenaran’, padahal itu kata­-kata Allah sendiri”.

Sementara di dalam syair epiknya, Matsnawi, Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kata-kata Akulah Kebenaran’ adalah pancaran cahaya di bibir Manshur (al-Hallaj), sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir’aun adalah kezaliman.”

Dengan caranya sendiri, al-Hallaj telah menunjukkan pada para pencari kebenaran langkah-langkah yang mesti ditempuh sang pecinta agar sampai pada kekasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: