Bisyir Al-Kahfi

BISYIR AL-KAHFI

Ketika tokoh sufi ini masih hidup, tidak ada keledai yang berani membuang kotorannya dijalan-jalan kota Baghdad. Konon ,hal itu karena keledai-keledai tersebut menghormati Bisyir yang berjalan dengan bertelanjang kaki……

Lahir di Marwi atau Merv, Irak, pada 767M. Sejak kecil dia hidup dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai agama. Menjelang dewasa dia mempelajari ilmu agama, baik pokok-pokok ilmu agama (ushul) maupun cabang-cabangnya (furu). Belakangan ia sangat piawai dalam ilmu hadist.

Dalam kitab Tadzkirul Awliya, Fariduddin Athar menulis, setelah dewasa Bisyir meninggalkan kehidupan berfoya-foya untuk mempelajari ilmu hadist di Baghdad. Dan belakangan hidup sebagai sufi dengan berpenampilan sebagai pengemis yang terlunta-lunta. Dia memang berusaha konsekuen  menjalani kehidupan zuhud, meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi, dan hanya berpikir tentang Allah.

Sebagai sufi yang tak berpamrih, banyak nasehatnya yang bisa menjadi bahan renungan bermutu. Menurutnya , tasawuf adalah kebersihan dan kebeningan hati dalam mendekati Allah SWT. Dalam hal ini ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama , jangan sampai irfan atau hikmah seseorang mamadamkan cahaya hidup warak atau zuhudnya. Kedua, janganlah pemikiran yang dianggap hakiki bertentangan dengan Al-Quran dan sunah. Dan ketiga, jangan sampai kehidupan seseorang yang penuh rahmat justru menjadi jalan untuk melakukan hal-hal yang diharamkan Allah SWT.

Bagi Bisyir, tasawuf dimulai dari ilmu dan amal yang kemudian membentuk makrifat. Dari makrifat inilah akan lahir nur atau cahaya hidup kesufian. Jadi , ilmu dan amal menjadi syarat mutlak dalam kehidupan sufistik. Dan dalam menjalankan sufistik itu, zuhud dan kebersihan bathin merupakan muara bagi semuanya. Konsekuensinya , seseorang harus hidup seadanya, kaya dengan amal saleh, dan menolak kelezatan syahwat.

Mengenai kehidupan sebagai fakir, yang memang lazim dijalani para sufi, bagi Bisyir dibagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama, orang miskin tapi tidak pernah meminta-minta. Kalaupun diberi sesuatu, mereka menolaknya. Orang seperti ini adalah para spiritualis. Seandainya mereka meminta kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.

Golongan kedua ialah orang yang miskin yang tak pernah meminta-minta tapi jika diberi sesuatu mereka menerimanya. Golongan ini berada di tengah-tengah, dan termasuk orang yang teguh dalam kepasrahan kepada Allah SWT. Kelak mereka akan dijamu Allah SWT disurga.

Golongan ketiga adalah orang miskin yang duduk dengan sabar menanti pemberian orang sesuai kesanggupan mereka , tetapi menolak godaan hawa nafsu. Dalam kepasrahannya itu, mereka akan mendapatkan rezeki dari Allah.

Seperti halnya Sunan Kalijaga di Jawa, masa muda Bisyir juga berandalan dan suka mabuk-mabukan. Suatu hari, ketika sedang mabuk dan berjalan terhuyung-huyung, tiba-tiba ditemukannya secarik kertas yang bertuliskan kalimat Basmallah. Dia lalu membeli minyak mawar untuk memerciki kertas tersebut dan menyimpannya di dalam rumah.

Malam harinya, seorang sufi bermimpi mendengar suara yang harus dikatakannya kepada Bisyir: “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka akupun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Aku pun telah memuliakan dirimu. Engkau telah menyucikan nama-Ku, maka Aku pun telah menyucikanmu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Aku harumkan namamu, baik didunia maupun di akhirat nanti.”

Maka keesokan harinya dia pun pergi menuju rumah seseorang yang sedang berpesta. “Apakah Bisyir ada?” tanyanya.

“Ada, tapi dia sedang mabuk dan lemah tak berdaya,”jawab penyelenggara pesta itu. “Katakanlah pada Bisyir, ada pesan yang hendak kusampaikan kepadanya.”

Maka panitia pesta itu mendatangi Bisyir, yang segera menemui orang suci tersebut.”Pesan dari siapa?” tanyanya kepada orang suci tsb. “Dari Allah SWT,” jawab orang suci tersebut.

“Aduhai , “kata Bisyir sambil berurai airmata, “Apakah pesan itu untuk mencela atau menghukum diriku? Tapi, tunggulah sebentar, aku akan menemui sahabat-sahabatku.”

Maka Bisyir pun menemui sahabat-sahabatnya dan berkata, “Para sahabat, aku telah dipanggil, dan oleh karena itu aku akan meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan seperti ini!”

Sejak itu Bisyir berubah menjadi orang yang sangat saleh.

Sedemikian asyik Bisyir “berdekat-dekat” dengan Allah SWT, sehingga dia lupa memelihara tubuh, bahkan tak sempat mengenakan alas kaki, sampai saat wafatnya. Itulah sebabnya dia dijuluki “Si kaki telanjang”. Setiap kali ditanya mengapa bertelanjang kaki, dia menjawab. “Ketika berdamai dengan Allah SWT aku sedang bertelanjang kaki. Sejak itu aku malu mengenakan alas kaki. Apalagi bukankah Allah SWT telah berkata, “Telah kuciptakan bumi sebagai permadani untukmui. Dan bukankah kita tidak pantas berjalan di atas permadani raja dengan mengenakan alas kaki?”

Dalam kisah lainnya diceritakan, Bisyir mempunyai koleksi kitab hadist sebanyak tujuh lemari. Tapi, kemudian kitab-kitab itu dia kubur dan tidak diajarkannya kepada siapapun. Katanya, “Aku tidak mau mengajarkan hadist-hadist itu karena merasa didalam diriku ada hasrat untuk melakukannya. Seandainya aku punya hasrat berdiam diri  niscaya hadist-hadist itu kuajarkan.”

Selama 40 tahun dia sangat menginginkan daging panggang, tapi tak punya uang sepeserpun untuk membelinya. Bertahun-tahun dia menginginkan makan kacang buncis, namun tak sempat memakannya sedikit pun. Dia juga tak pernah minum dari saluran air milik umum.

Yang menarik ialah menjelang dia wafat. Suatu hari , ketika Bisyir sedang sakit keras menantikan ajal, datanglah seseorang mengeluh tentang nasibnya yang malang. Mendengar itu, Bisyir segera melepaskan dan memberikan pakaiannya kepada lelaki tersebut, kemudian mengenakan pakaian yang dipinjam dari seorang sahabat. Dengan mengenakan pakaian pinjaman itulah dia wafat.

Dalam cerita lain dikisahkan, ketika Bisyir masih hidup tidak ada keledai yang berani membuang kotorannya dijalanan kota Baghdad. Konon, hal itu karena keledai-keledai tersebut menghormati Bisyir yang berjalan dengan bertelanjang kaki.

Pada suatu malam seekor keledai membuang kotoran dijalan. Pertanda apakah itu? Apakah Bisyir telah tiada?

Ternyata benar, Bisyir Al-Khafi telah wafat di Baghdad pada 841 M.

Banyak ulama yang mengakuinya sebagai sufi besar. Diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal. Dia sering memohon kepada Bisyir, “Ceritakan kepadaku perihal Tuhanku. “Maksudnya, fukaha yang juga salah seorang dari iamam mahzab fikih termahsyur itu ingin mengkaji ilmu ketuhanan kepada Bisyir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: