Abu Yazid Thoifur

KISAH SANG RAJA PARA MISTIK

Abu Yazid Thoifur bin Isa bin Surusyan al-Busthami, lahir di Bustham,sebuah daerah yg terletak dibagian timur laut Parsi. Kakek Abu Yazid adalah seorang penganut agama Zoroaster. Sedang ayahnya adalah salah satu orang2 terkemuka di Bustham.

Beliau adalah salah satu seorang Sulton Aulia dan merupakan salah satu Syech yang ada di silsilah dalam Thoriqoh Saziliyah,Thoriqoh Suhrowardiyah dan beberapa Thoriqoh lainnya.

Bermula, kehidupan Abu Yazid yang luar biasa itu sejak ia masih ada dalam kandungan.” Setiap kali aku menyuap makanan yang aku ragukan kehalalannya,maka engkau yang berada dalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu aku muntahkan kembali.” Demikian cerita sang ibu kepada Abu Yazid.

Setelah sampai waktunya, sang ibu pun mengirimkan Abu Yazid kesekolah. Dia mempelajari Al-Quran. Pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surat  Lukman yang berbunyi.”Berterimakasihlah kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu.”.

Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid.

“izinkanlah aku untuk pulang, ada yang ingin kukatakan pada ibuku.”

Kata Abu Yazid. Si guru pun memberi izin, Abu Yazid lalu pulang kerumahnya.

“Thoifur,mengapa engkau sudah pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah sesuatu kejadian istimewa?”.tanya sang ibu.

“tidak,Ibu! Pelajaranku sampai pada ayat dimana Allah memerintahkan agar aku berbakti kepadaNya dan kepadamu. Tetapi aku tak dapat mengurus dua rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Maka wahai Ibu. Mintalah diriku ini kepada Allah sehingga aku menjadi milikmu seorang, atau serahkanlah aku kepada Allah semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata.” Jawab Abu Yazid

“Anakku, aku serahkan engkau kepada Allah dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu kepadaku, pergilah engkau menjadi hamba Allah!”

Setelah si ibu memasrahkan anaknya pada Allah, Abu Yazid pun meninggalkan Bustham, merantau dari satu negeri ke negeri lain selama tiga puluh tahun dan melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa disiang hari dan bertirakat di malam hari. Dia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan.

Diantara guru Abu Yazid itu ada seorang yang bernama Shadiq. Suatu saat, ketika Abu Yazid sedang duduk dihadapannya,tiba-tiba Shadiq berkata kepadanya, “Abu Yazid ambilkan buku yang dijendela itu?”. “jendela ? Jendela mana ?” Tanya Abu Yazid. “Telah sekian lama engkau belajar disini dan tidak pernah melihat jendela itu?”,Tanya Shadiq. “Tidak !” ,jawab Abu Yazid.”Apakah peduliku dengan jendela. Ketika menghadapmu mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang kesini untuk melihat segala sesuatu yang ada disini”.

“Jika demikian, “kata si guru. “Kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai.”

Suatu saat Abu Yazid melakukan perjalanan ke kota Mekkah. Dan kali ini perjalanannya menuju Ka`bah memakan waktu dua belas tahun penuh. Hal ini karena setiap kali dia berdua dengan seorang pengkhotbah yang memberikan pengajaran didalam perjalanan itu, maka dia akan membentangkan sajadahnya dan melakukan sholat sunat dua rakaat. Mengenai hal ini abu Yazid mengatakan, “Ka`bah bukanlah serambi istana para raja,tetapi suatu tempat yang dapat dikunjungi setiap saat.”

Akhirnya sampailah ia di Ka`bah, tetapi dia tidak pergi ke Medinah pada tahun itu.” Tidaklah pantas perkunjungan ke Medinah hanya sebagai pelengkap. Karena saya akan mengenakan pakaian haji yang berbeda untuk mengunjungi Madinah.” Katanya.

Tahun berikutnya sekali lagi dia menunaikan ibadah haji. Dia mengenakan pakaian yang berbeda untuk setiap tahap perjalanannya sejak mulai menempuh padang pasir.

Dalam perjalanan tsb, suatu rombongan besar telah menjadi muridnya dan ketika ia meninggalkan tanah suci banyak orang yg mengikutinya. “Siapakah orang-orang itu? “ dia bertanya sambil melihat kebelakang. “Mereka ingin berjalan bersamamu,” terdengar sebuah jawaban. “Ya Allah ,janganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hamba-Mu karenaku,” mohonnya.

Untuk menghilangkan kecintaan mereka kepada dirinya, dan agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi mereka, maka setelah selesai melakukan sholoat subuh Abu Yazid berseru kepada orang-orang itu,” Ana Allah,Laa ilaha ana Fa`budni (sesungguhnya Aku adalah Allah.tidak ada Tuhan melainkan Aku,maka sembahlah Aku).”

“Abu Yazid sudah gila!” seru mereka kemudian meninggalkannya. Abu Yazid meneruskan perjalanannya. Ditengah perjalanan, dia menemukan sebuah tengkorak manusia yang bertuliskan: “Tuli,Bisu,Buta….mereka tidak memahami.” Sambil menangis abu Yazid memungut tengkorak itu lalu menciumnya. “Tampaknya ini adalah kepala seorang sufi”, gumamnya.

“Yang menjadi tauhid di dalam Allah…..dia tidak lagi mempunyai telinga untuk mendengar suara abadi,tidak lagi mempunyai mata untuk memandang keindahan abadi,tidak lagi mempunyai lidah untuk memuji kebesaran Allah, dan tidak lagi mempunyai akal walaupun untuk merenungi secuil pengetahuan Allah yang sejati. Tulisan ini adalah mengenai dirinya.”

Suatu ketika, didalam perjalanan Abu Yazid membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya.”Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!”. Seseorang berseru.

Setelah beberapa kali mendengar seruan itu, akhirnya Abu Yazid menjawab. “Wahai anak muda,sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban!”

Kemudian si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada diatas punggung unta tersebut atau tidak. Si pemuda tercengang setelah melihat beban itu mengambang satu jengkal diatas punggung unta,dan binatang itu sedikitpun tidak memikul beban. “Maha besar Allah,benar-benar menakjubkan!” seru si pemuda.

“Jika kusembunyikan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaka kepadaku,”kata Abu Yazid. “tetapi jika kujelaskan kenyataan-kenyataan itu kepadamu,engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku padamu?”.

PERANG TANDING DENGAN YAHYA BIN MU`ADZ

Yahya bin Mu`adz salah seorang tokoh sufi,aulia,waliyulloh, dizaman itu. Suatu ketika dia menulis surat kepada Abu Yazid: “Apakah katamu mengenai seseorang yang telah mereguk secawan arak dan menjadi mabuk tiada henti-hentinya?”

“Aku tidak tahu. Yang aku ketahui hanyalah bahwa disini ada seseorang yang sehari semalam telah mereguk isi samudra luas yang tiada bertepi namun masih merasa haus dan dahaga,” balas Abu Yazid

Yahya bin Mu`adz menyurati lagi:”Ada sebuah rahasia yang hendak kukatakan kepadamu tetapi tempat pertemuan kita adalah surga. Disana ,dibawah naungan pohon Tuba akan kukatakan rahasia itu kepadamu.”

Bersamaan surat itu dia kirimkan sepotong roti dengan pesan, “Syech harus memakan roti karena aku telah membuatnya dari air zamzam.”

Didalam jawabannya Abu Yazid berkata mengenai rahasia yang hendak disampaikan Yahya itu: “Mengenai tempat pertemuan yang engkau katakana, dengan hanya mengingat-Nya, pada saat itu juga aku dapat menikmati surga dan pohon Tuba.

Tetapi roti yang engkau kirimkan itu tak dapat kunikmati. Engkau memang telah mengatakan air apa yang telah engkau pergunakan untuk membuatnya, tetapi engkau tidak mengatakan bibit gandum apa yang telah engkau taburkan.”

Maka ,setelah mendapatkan balasan ini, Yahya bin Mu`adz ingin sekali mengunjungi Abu Yazid. Sampai akhirnya ia dating pada waktu sholat Isya.

Tentang pertemuan itu Yahya berkisah sebagai berikut:

“Aku tidak mau mengganggu Syech Abu Yazid. Tetapi akupun tidak dapat bersabar hingga pagi. Maka pergilah aku kesuatu tempat di padang pasir dimana aku dapat menemuinya pada saat itu seperti dikatakan orang-orang kepadaku. Sesampainya di tempat itu terlihat olehku Abu Yazid sedang sholat Isya. Kemudian ia berdiri diatas jari-jarinya sampai keesokan harinya. Aku tegak terpana menyaksikan hal ini. Sepanjang malam kudengar abu Yazid berkata didalam doanya: “aku berlindung kepada-Mu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan ini.”

Selanjutnya, inilah kisah pertemuan dua tokoh waliyullah itu…

Setelah sadar, Yahya mengucapkan salam kepada Abu Yazid dan bertanya apakah yang telah dialaminya pada malam tadi. Abu Yazid menjawab, “Lebih dari dua puluh kehormatan telah ditawarkan kepadaku. Tetapi tak satupun yang kuinginkan karena semuanya adalah kehormatan-kehormatan yang membutakan mataku.”

“Guru, mengapakah engkau tidak meminta pengetahuan mistik, karena bukankah Dia raja diantara raja yang pernah berkata, “Mintalah kepada-Ku segala sesuatu yang engaku kehendaki.” Mengapa engkau tidak memintanya?” Yahya bertanya.

“Diamlah!” sela Abu Yazid. “Aku cemburu pada diriku sendiri yang telah mengenal-Nya, karena aku ingin tiada sesuatupun kecuali Dia yang mengenal Diri-Nya. Mengenai pengetahuan-Nya, apakah peduliku. Sesungguhnya seperti itulah kehendak-Nya. Hanya Dia, dan bukan siapa-siapa yang akan mengenal Diri-Nya.”

“Demi keagungan Allah, berikanlah kepadaku sebagian dari karunia-karunia yang telah ditawarkan kepadamu tadi malam.” Yahya bermohon.

“Seandainya engkau memperoleh kemuliaan Adam, kesucian Jibril, kelapangan hati Ibrahim, kedambaan Musa kepada Allah, kekudusan Isa, dan kecintaan Muhammad, niscaya engkau masih merasa belum puas. Engkau akan mengharapkan hal-hal lain yang melampaui segala sesuatu,” jawab Yazid. Suatu hari Abu Yazid pun berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang mereka lalui sempit, dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir kepinggir untuk memberi jalan kepada binatang itu. Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid itu dan berkata, “Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia diatas segala makhluk-makhluk-Nya. Abu Yazid adalah raja diantara kaum mistik, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu pantas memberi jalan kepada seekor anjing?”

Abu Yazid menjawab,”anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku. Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja diantara para mistik? Begitulah yang sampai dalam pikiranku, dan karena itulah aku memberi jalan kepadanya.”

RAJA PARA MISTIK

Sedemikian khusyuknya Abu Yazid dalam berbakti kepada Allah, sehingga setiap hari apabila ditegur oleh muridnya, yang senantiasa menyertainya selama dua puluh tahun, dia akan bertanya, “Anakku siapakah namamu?”

Suatu ketika si murid berkata kepada Abu Yazid, “Guru,apakah engkau memperolok-olokku? Telah 20 tahun aku mengabdi kepadamu, tetapi setiap hari engkau menanyakan namaku?”

“Anakku, aku tidak memperolok-olokmu. Tetapi nama-Nya telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama yang lain. Setiap aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan olehku,” Abu Yazid menjawab

Abu Yazid mengisahkan :

Suatu hari ketika sedang duduk-duduk datanglah sebuah pikiran ke dalam bathinku bahwa aku adalah Syech dan tokoh suci zaman ini. Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku,aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Aku lalu bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persimpangan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum Allah mengutus seseorang untuk membukakan diriku.

Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang keempat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang seekor unta sedang datang ke tempat persinggahanku itu. Setelah mengamati dengan seksama, terlihat olehku tanda-tanda kebesaran Illahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya. Lelaki bermata satu itu memandangiku.

“Sejauh ini engkau memanggilku, hanya untuk membukakan mata yang tertutup dalam membukakan pintu yang terkunci serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?”kata orang itu padaku.

Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepadanya, “Darimanakah engkau datang?”.

“Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang kutempuh,” jawabnya. Kemudian dia menambahkan, “Berhati-hatilah Abu Yazid, jagalah hatimu!” . setalah berkata demikian dia berpaling dariku lalu meninggalkan tempat itu.

Diriwayatkan Abu Yazid telah tujuh puluh kali diterima Allah kehadirat-Nya. Setiap kali kembali dari perjumpaan dengan Allah, Abu Yazid mengenakan ikat pinggang yang lantas diputuskannya pula.

Menjelang akhir hayatnya Abu Yazid memasuki tempat sholat dan mengenakan ikat pinggang. Mantel dan topinya yang terbuat dari bulu domba itu dikenakannya secara terbalik. Kemudian dia berkata, “Ya Allah aku tidak membanggakan disiplin diri yang telah kulaksanakan seumur hidupku. Aku tidak membanggakan sholat yang kulakukan sepanjang malam. Aku tidak menyombongkan puasa yang telah kulakukan seumur hidupku. Aku tidak menonjolkan berapa kali aku menamatkan Al-Quran.

Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman spiritual khususku yang telah kualami, doa-doa yang telah kupanjatkan dan berapa akrab hubungan antara Engkau dan aku. Engkau pun mengetahui bahwa aku tidak menonjolkan segala sesuatu yang telah kulakukan itu.

Semua yang kukatan itu bukanlah untuk membanggakan diriku. Semua itu kukatakan kepada-Mu karena aku malu atas segala perbuatanku itu. Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri.

Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepada-Mu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena akupun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhi-Mu…”

Kemudian Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya dengan menyebut nama Allah. Beliau mangkat pada tahun 261 H/874 M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: