Abu Ayub Al-Anshari

Abu Ayub Al-Anshari

Makam nya dikeramatkan orang Romawi

Tatkala Nabi SAW mem­biarkan untanya “mencari tempat” untuk bermukim di Medinah, Abu Ayub “meniru” -sekian tahun kemudian dengan membiarkan jasadnya dibawa kudanya untuk diku­burkan di Konstantinopel, Turki


Sudah menjadi hal yang jamak,udara di Medinah terasa panas.Tak terkecuali siang itu, ketika ribuan manusia memadati kawas­an kota. Mereka bergeming, tak bergerak sedikit pun, meski teriknya menjadikan keringat mereka bercucuran.

Hari itu Nabi SAW memasuki kota Madinah untuk pertama kalinya. Beliau menempuh perjalanan jauh, selama tujuh hari, dimulai dari Mekah. Selama itu, di bawah panas matahari di siang hari dan dinginnya malam gurun pasir, Nabi beserta pengikutnya berhijrah ke kota itu.

Hijrahnya Nabi ke Medinah ditempuh setelah 13 tahun mengalami penindasan kaum Quraisy Mekah. Mereka tidak menyu­kai ajaran dakwah Nabi, agama Islam. Mereka bahkan memusuhi dan menjadikan Nabi Muhammad sebagai sasaran pembunuhan. Dengan demikian selesailah perjalanan hijrah itu dengan gemilang, dan tertorehlah sejarah perkembangan Islam dengan tinta emas.

Namun begitu, unta yang dikendarai­nya tidak serta merta berhenti. Binatang padang pasir ini tetap melangkahkan kakinya dengan mantap sementara Nabi juga tetap duduk di atasnya. Cuma, kali ini Nabi sengaja melepas tali kekang, dan tangannya menengadah ke atas mengiringi doa yang dipanjatkan, selaras dengan langkah sang unta yang bernama Qashwa, “Ya Allah, tunjuk­kanlah tempat tinggalku, pilihkan untukku.”

Beberapa orang terkemuka Madinah menawarkan diri supaya beliau tinggal

bersama mereka. Mereka ingin menghormati sang panutan. Mereka yakin, kedatangannya bakal memberikan kebahagiaan kepada penduduk Madinah.

Mereka ingin menjadi tuan rumah yang baik bagi utusan Tuhan itu. Apalagi bila beliau suka tinggal bersama di rumah-rumah mereka. Namun, Nabi minta maaf dan melanjutkan perjalanan dengan Qashwa, kesayangannya, sambil berkata kepada kerumunan orang Ansar, “Lapang­kan jalan, biarkan dia maju.”

Nabi memang sengaja melepas kekang unta agar binatang itu “berjalan semaunya sendiri”. Padahal dengan cara itu Nabi menyerahkan segalanya
pada kehendak Ilahi (kada) yang menuntun unta, mencari tempat tinggal baginya di Madinah. “Dia diperintah, maka berilah jalan baginya,” ucap Nabi berulang-ulang agar orang-orang itu minggir menjauhi sang unta.

Tetapi Nabi memang tidak ingin mere­potkan tuan rumahnya. Itu sebabnya beliau kemudian menyerahkan masalah itu kepada takdir Ilahi untuk memilihkan tempat bagi beliau sebagai pusat usaha­nya menegakkan ajaran Ilahi, agama Is­lam.

Cukup jauh juga kerumunan orang yang menyambut kedatangan Rasulullah. Dan selama itu pula Rasul selalu minta agar diberi jalan. Matahari di atas sana seakan-akan mengikuti peristiwa itu de­ngan saksama. Sama halnya dengan mata kaum Ansar yang berbinar-binar gembira, sambil menyimpan harapan agar unta itu berhenti tepat di rumahnya.

Rombongan Nabi mula-mula tiba di perkampungan Bani Salim bin Auf, kemu­dian Bani Bayadrah, lantas Bani Sa’idah, Bani Harits bin Khazraj, dan terakhir Bani Adi bin Najjar. Ketika sampai di tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail bin `Amr, dua anak yatim bersaudara, unta itu berhenti.

“Milik siapa tempat ini?” bertanya Nabi kepada Ma’adh bin Afra’, wali kedua anak yatim itu. Kemudian tanah tersebut dibeli sebagai tempat untuk membangun masjid. Tanah itu terletak di kampung Bani Malik bin Najjar, yang saat itu dipimpin oleh Abu Ayub, cucu Malik. Nabi beserta sahabat dan para pengikutnya segera membangun sebuah masjid dan beberapa rumah yang akan dijadikan tempat tinggal beliau. Sementara tempat itu dibangun, beliau tinggal bersama keluarga Abu Ayub Khalid bin Zaid AI-Anshari.

Bai`atul Aqabah

Abu Ayub adalah salah seorang dari 70 orang An­sar yang menghadiri acara Bai atul Aqabah // di Mekah

yang mengangkat sumpah setia kepada Rasulullah guna melakukan perang sampai titik darah penghabisan terhadap Quraisy, dan masuk Islam. Nabi tinggal di rumah Abu Ayub selama beliau membangun masjid dan rumah yang akan ditempatinya. Masjid itulah yang kini dikenal sebagai Masjid Nabawi.

Sejak itulah Nabi SAW memimpin pene­gakan agama Islam dari Madinah, dan Abu Ayub tak mau ketinggalan dalam semua kegiatan Rasul. Hampir semua pepe­rangan yang melibatkan umat Islam dialaminya, mulai dari Perang Badar, Perang Uhud, hingga Perang Parit (Khan­daq), dan sebagainya. Kebetulan beliau diberi umur panjang hingga masa pemerin­tahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, bahkan lebih.

Ketika terjadi pertikaian sengit antara Khalifah Ali dan Muawiyah, Abu Ayub tegas-tegas berdiri di belakang Khalifah Ali. Demikian teguh ia berpihak pada khalifah keempat itu, sehingga, ketika beliau wafat,

sebagai korban pembunuhan, Abu Ayub memilih mundur dari perjuangan fisik. Dia menyendiri dalam kezuhudan, bertawakal, dan bertakwa.

Dalam suatu peperangan yang terjadi di Konstantinopel, Abu Ayub mendapat musibah sehingga banyak luka pada dirinya. Sebagai orang yang sudah sepuh, beliau dikunjungi Yazid bin Muawiyah, yang menjadi komandan

Yazid konon menanyakan apa keinginan terakhirnya agar bisa mengakhiri hidupnya dengan baik. Di luar perkiraan Yazid, Abu Ayub ternyata mengatakan, keinginan terakhirnya bukan harta benda, melainkan tempat peristirahatan terakhir. la minta dikubur di tanah jajahan tentara Romawi itu.

“Bawalah jasadku di atas kuda dan biarkan dia lari sejauh jarak yang dapat dicapai mendekati musuh. Di situlah aku boleh dikuburkan,” katanya. Saat itu Abu Ayub memang sudah dalam keadaan sekarat, nyawa hendak berpisah dari tubuh, dan berharap segera bertemu dengan Khaliknya., Tak lama kemudian beliau mengembuskan napas terakhir.

Dengan kalimatnya itu, Abu Ayub seolah-olah ingin meniru perilaku Nabi Muhammad tatkala hendak mencari tem­pat tinggal di Medinah dengan membiar­kan untanya melangkah sendiri sampai menemukan tanah milik Sahl dan Suhail.

Wasiat itu dilaksanakan Yazid. Dan tempat terakhir bagi Abu Ayub adalah Konstantinopel, yang kini lebih dikenal sebagai Istambul, Turki. Makamnya dike­ramatkan orang Romawi dengan anggap­an bahwa Abu Ayub adalah seorang santo. Kawasan itu akhirnya direbut tentara muslimin, dan makamnya pun banyak dikunjungi penduduk setempat.

%d bloggers like this: