Syeikh Muhammad Yusuf

Tokoh ini merupakan salah seorang penasihat spiritual Bung Karno. Makamnya beberapa kali coba dipindahkan. Namun, karomah Sang Wali menghalangi rencana pemindahan tersebut.

Syeikh Muhammad Yusuf atau KH. Muhammad Yusuf. Tokoh kharismatik ini juga dikenal dengan sebutan Engkong Usup. Dia adalah salah satu waliyullah yang pernah tinggal di Depok, Jawa Barat pada masa penjajahan Belanda.

Lahir pada tahun 1873. Syeikh Muhammad Yusuf keturunan dari Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran. Ibunya bernama Putri Kecil. Putri Kecil ini adalah Putri dari Pangeran Kuflu, yang merupakan putra dari Putri Deknor.

Silsilah selanjutnya menyebutkan bahwa Putri Deknor adalah putri dari Raden Saleh. Raden Saleh putra dari Pangeran Jayakarta Pangeran Jayakarta adalah Syarif Hidayatullah. Ibu Syarif Hidayatullah adalah seorang wanita pilihan bernama Endang Geulis Putri dari Prabu Kiansantang. Sedang Prabu Kiansantang adalah putra dari Prabu Siliwangi.

Masa kecil Syeikh Muhammad Yusuf dihabiskan di daerah Cikini, yang seperti diketahui sekarang masuk wilayah Jakarta Pusat. Dia belajar ilmu agama dan kanuragan kepada KH Muhiddin Parung Sapi Jasinga, Bogor,Jawa Barat.

Kalau melihat silsilah ilmu kanuragan dan ilmu agama KH. Muhiddin Parung Sapi Jasinga guru dari Syeikh Muhammad Yusuf ini berasal dari Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, seorang sufi besar di zamannya.

Ilmu  KH Muhiddin sendiriri jika dirunut sesungguhnya berasal dari Syeikh Abdul Muhy Pamijahan,Tasikmalaya,Jawa Barat. Ilmu Syeikh Muhy sendiri berasal dari Syeikh Abdul Rouf Al Baghdadi, Sedangkan Syeikh Abdul Rouf berguru pada Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani.

Syeikh Muhammad dan Si Pitung

Pada era 1890-an Syeikh Muhammad Yusuf hijrah ke Depok yang di masa itu masih hutan dan keadaan alamnya masih asri. Di Depok dia bertemu jodohnya dengan seorang wanita bernama Hj.Aisyah.

Syekh Muhammad Yusuf lalu menikah dengan Hj. Aisyah yang asli kelahiran Kampung Serap, Sukmajaya, Depok. Pernikahan mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Hj. Hapsah, Hj. Aminah dan H.Abdullah.

Di Depok Syeikh Muhammad Yusuf mendapatkan hibah tanah seluas 6,5 hektar dari masyarakat asli Depok. Di tempat inilah sang Kyai mendirikan tempat tinggal dan padepokan silat bernama Sinar Cikini.

Konon, Syeikh Muhammad Yusuf adalah salah satu guru dari pendekar Betawi yang sangat terkenal, Si Pitung. Dikisahkan, bila ingin menimba ilmu pada Syeikh Muhammad Yusuf,maka Si Pitung menyusuri sungai Ciliwung dari Batavia (Jakarta) menuju Depok dengan menggunakan getek (rakit dari bambu).

Kendati demikian, banyak kalangan yang meragukan bahwa Syeikh Muhammad Yusuf adalah salah satu guru dari Pitung; mengingat masa hidup pendekar Betawi ini dengan Syeikh Muhammad Yusuf yang berbeda cukup jauh. Menurut perhitungan, Si Pitung harus lebih tua dari Syeikh Muhammad Yusuf. Perjuangan Si Pitung dalam melawan Belanda sampai akhirnya mati ditembak Belanda diperkirakan terjadi pada sekitar tahun 1893, sedangkan Syeikh Muhanmad Yusuf lahir pada tahun 1873. Hal ini berarti, semasa Pitung ditembak, Syeikh Muhammad Yusuf masih muda, baru berusia sekitar 20 tahun.

Kuat dugaan, masyarakat menghubungkan Syeikh Muhammad Yusuf dengan Si Pitung dikarenakan dengan keberadaan makam pendekar ini yang memang ada di Sukmajaya, Depok. Walaupun begitu, ada yang mengatakan bahwa makam Si Pitung yang sebenamya tertetak di Marunda, dan ada pula yang menyebut di daerah Palmerah, Jakarta. Atau juga mungkin memang ada pendekar Betawi lainnya dari Batavia yang berguru pada Syeikh Muhammad Yusuf, seperti Si Ji`ih misalnya, rekan dari Si Pitung. Walahu A`lamu bi Showab

Kezuhudan dan Kedermawanan

Sebagai seorang wali Syekh Muhammad Yusuf memiliki kezuhudan dan kedermawanan yang tinggi. Dia selalu bepuasa Sunnah seperti puasa Senin dan Kamis. Dia tidak pernah meninggalkan Sholat Tahajjud. Ucapannya selalu mengandung petuah-petuah dan nasihat-nasihat yang berguna bagi dunia dan akhirat. Dia selalu tidak menolak bila ada orang yang meminta tolong kepadanya baik berupa doa agar hajatnya berhasil, ataupun permintaan materi.

Banyak juga masyarakat yang menyantri pada dirinya untuk belajar agama selain belajar ilmu silat. Kendati begitu hidupnya sangat sederhana.

Ketika hendak menunaikan ibadah haji maka dia menggunakan kendaraan biasa seperti kapal laut, kendati di kesempatan lain disebutkan kalau dia menggunakan karomahnya untuk pergi ke Tanah Suci. Hal semacam ini memang biasa di kalangan Sufi atau auliya yang memillki karomah seperti ilmu melipat bumi.

Syeikh Muhammad Yusuf dan Bung Karno

Syeikh Muhammad Yusuf adalah salah  satu penasihat spiritual Bung Karno, Presiden pertama RI. Menurut sebuah sumber, dia sering dijemput oleh supir pribadi Bung Karno atas perintah Bung Karno. Bahkan, saat Ibu Fatmawati melahirkan Guntur Soekarno Putra, Syeikh Muhammad Yusuf berada di rumah Bung Karno yang waktu itu sedang digelar rapat perjuangan untuk kemerdekaan RI.

Disebutkan pula bahwa Syeikh Muhammad Yusuf lah yang memberikan sebuah tongkat komando sakti pada Bung karno. Dan oleh Bung Karno tongkat tersebut sering di bawa kemana-mana. Walaupun demikian, disebutkan pula bahwa Bung Karno sendiri memiliki banyak tongkat komando yang mengandung kesaktian.

Pada masa itu Syeikh Muhammad Yusuf sangat membenci Belanda sebab telah membuat rakyat Indonesia menderita. Dalam kisah perjuangannya disebutkan, pada 1941 Syeikh Muhammad Yusuf menjadi ketua umum Hisbullah Dan dengan pasukan Hisbullahnya inilah Syeikh Muhammad Yusuf sering menyerang pasukan Belanda, di antaranya batalyon 10 lapangan Banteng, yang merupakan markas Belanda di Batavia. Penyerangan ini dibantu oleh pasukan Hisbullah pimpinan Darif dari Klender.

Dengan kesaktiannya, Belanda dibuat kewalahan. Disebutkan Syeikh Muhammad Yusuf tidak mempan ditembak dan tidak mempan dibom, bahkan dia bisa menghilang. Belanda sering mengalami kekalahan bila berhadapan dengan pasukan pimpinan Syeikh Muhammad Yusuf, meski pasukannya hanya bersenjatakan sangat sederhana, yaitu bambu runcing. Namun, bambu runcing ini telah diberi tuah dari doa-doa Syeikh Muhammad Yusuf.

Karena kelihaian Syeikh Muhammad Yusuf, akhirnya Belanda mengambil tindakan licik yaitu dengan menyandera kedua orang tua Syeikh Muhammad Yusuf yang bernama Engkong Senen dan Putri Kecil. Karena tindakan ini, Syeikh Muhammad Yusuf akhirnya menyerahkan diri ke pihak Belanda dengan syarat meminta kedua orang tuanya dibebaskan.

Dia ditawan Belanda. Namun, dengan ilmu kesaktiannya Syeikh. Muhammad Yusuf dapat meloloskan diri dari penjara.

Perjuangan melawan penjajah Belanda dilanjutkan sampai kemerdekaan RI terwujud. Syeikh Muhammad Yusuf dapat menikmati alam kemerdekan Indonesia hingga tahun 1971. Pada tanggal 5 Januari 1971 tokoh kharismatik ini wafat. Jenazahnya dimakamkan di kampung Sugutamu, Desa Sukmajaya, Kota Depok; Jawa Barat

Makamnya sempat akan dipindahkan beberapa kali dikarenakan terkena proyek Pembangunan Kota Depok. Sebagai catatan pada 1975 makam Syeikh Muhammad Yusuf hendak dipindah dikarenakan ada proyek pipa gas alam. Tetapi makam tersebut tidak bisa dipindahkan dikarenakan pengaruh gaibnya.

Pada 1997 makam ini pun terkena proyek perumahan real estate yang dibangun di sekitar makam. Namun, lagi-lagi makam tersebut tidak dapat dipindahkan.

Menurut pengamat spiritual, bahwa di makam Syeikh Muhammad Yusuf dijaga oleh sembilan puluh tentara gaib yang dipimpin oleh Prabu Sangkawang dan Prabu Galuh Wangi. Kemungkinan pasukan gaib ini adalah para pengawal gaib Prabu Siliwangi dan keturunannya.

Karena kekeramatannya, hingga saat ini masih tetap ada masyarakat yang mengunjungi makam Syeikh Muhammad Yusuf untuk berziarah. Makamnya berada disebelah mesjid jami yang diberi nama mesjid KH.Muhammad Yusuf. Persisnya berada didalam lingkungan Perumahan Real Estate Pesona Kahayangan, Kota Depok. Makamnya dikelilingi makam-makam lain yang merupakan makam keluarganya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: